My Impotent Husband

My Impotent Husband
Bab 57. Joreme


__ADS_3

Mira dan Yeon pun berjalanan bersama menuju ke ruang CEO dimana ruang Yeon berada.


Namun langkah Mira pun terhenti begitu saja karena mendadak dirinya merasa ingin buang air kecil.


"Kenapa, sayang?" tanya Yeon dengan wajah bingung melihat Mira berhenti melangkah.


"Aku ingin pipiss dulu. Kamu masuklah dulu nanti aku susul," ucap Mira dengan cepat.


"Pipiss di kamar mandi di ruanganku saja sayang. Jangan di kamar mandi untuk karyawan," pinta Yeon dengan menarik tangan Mira kembali.


"Jangan, tidak keburu. Nanti aku susul," ucap Mira dengan cepat melepaskan genggaman tangan Yeon.


"Susul aku di ruang meeting saja sayang setelah itu!" ucap Yeon dengan setengah berteriak agar Mira mendengarkan ucapan nya.


"Iya, sayang!" jawab Mira dengan setengah berlari ke arah kamar mandi.


Yeon pun nampak ngilu begitu melihat istrinya yang melangkah begitu cepat tanpa takut jika terjatuh dan membahayakan janin serta dirinya sendiri.


Sedangkan Mira pun telah berhasil mengeluarkan seluruh urine dan bernafas dengan sangat lega.


"Ahh ... lega nya," gumam Mira yang kemudian mencuci tangan nya ke wastafel.


"Aku harus segera ke ruang meeting. Bayiku ingin melihat wajah tampan Daddy nya yang tengah bekerja. Hehehe," gumam Mira dengan tersenyum seorang diri.


Mira pun segera melangkah cepat keluar dari kamar mandi tersebut dan melewati lorong-lorong perusahaan dengan sangat cepat tanpa melihat jalan di depan nya.


"Awww ..." pekik Mira begitu tubuhnya nampak bertumbukan dengan seseorang.


Mira pun reflek memegangi perutnya karena takut terjadi apa-apa dengan janin yang ada di dalam kandungan nya itu.


Tubuh Mira pun segera di tangkap oleh seseorang yang menabraknya.

__ADS_1


"Are you okay? Maaf aku sedang terburu-buru jadi tidak melihat and—" ucapan orang tersebut pun terpotong begitu saja tatkala pandangan mata keduanya bertemu.


"Jerome!"


"Mira!"


Pekik keduanya dengan mata membola serta senyum yang mengembang begitu sempurna.


"Aku tidak menyangka jika kita bertemu disini!" pekik Jerome dengan raut wajah yang begitu bahagia.


Mengacak rambut Mira serta memencet hidung mungil nya seperti yang sering Jerome lakukan di kala masa sekolah SMA dulu.


"Aku juga juga tidak menyangka jika kita bisa bertemu disini," jawab Mira dengan menggeplak tangan Jerome yang masih berbetah memencet hidungnya.


"Ternyata kita benar-benar pasangan serasi. Pasangan bule Korea memang berjodoh dan benar-benar di pertemukan di negara ini!" pekik Jerome masih dengan tersenyum senang bak mendapatkan harta karun tak ternilai.


Dulu semasa di sekolah SMA keduanya memang mendapat kan julukan pasangan bule Korea. Karena wajah tampan khas wajah Korea pun terlihat jelas di kedua nya.


"Tapi Jerom, aku sudah men—" ucapan Mira pun terpotong begitu oleh ucapan Jerome.


"Nanti ngobrolnya di sambung lagi ya. Aku sebentar lagi ada meeting dengan pemilik perusahaan ini," ucap Jerome dengan menyodorkan kartu namanya kepada Mira.


"Aku juga mau ke ruang meeting Jerome. Akhh! Gara-gara ngobrol dengan mu aku jadi melupakan arah tujuanku kan!" ucap Mira dengan hendak berjalan mendahului Jerome menuju ke ruang meeting.


"Ayo kita jalan bersama saja! Kita satu arah!" ajak Jerome dengan semangat serta menarik tangan Mira menuju ke ruang meeting.


Mira yang terus di tarik Jerome pun berusaha menarik tangan nya kembali. Namun selalu gagal.


"Sudah! Kita masuk bersama saja. Jika boss kamu mengamuk dan memecat kamu maka aku dengan siap menjadikan kamu sekertaris pribadi aku," jawab Jerome dengan enteng nya.


Jerome yang belum menyadari Mira tengah berbadan dua serta telah menikah dengan pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan nya pun dengan percaya diri sekali menggandeng tangan Mira hingga memasuki ruang meeting.

__ADS_1


Seluruh pandangan yang ada di ruang tersebut pun nampak tertuju pada Jerome yang tengah menggandeng tangan Mira.


Begitu juga Yeon yang melihat istrinya di gandeng oleh lelaki lain yang akan menjadi kolega bisnisnya pun mengepalkan tangannya dengan sangat erat.


"Mira, kamu duduk disini saja. Di sebelahku," ucap Jerome dengan menarikkan kursi untuk Mira.


Mira pun menggeleng begitu cepat menyadari aura wajah suaminya yang mendadak berubah menjadi menyeramkan.


"Tidak Jerome, aku harus duduk bersama suam—" ucapan Mira pun kembali terpotong begitu saja karena tubuhnya nampak di tarik dan dudukkan di kursi yang telah Jerome berikan.


Yeon yang melihat kejadian tersebut pun semakin murka. Emosi serta rasa cemburu menguasai hatinya.


Hingga melupakan untuk segera memulai meeting mereka dengan segera.


"Ehem Tuan Yeon, bisakah kita memulai meeting nya dengan segera?" tanya Jerome begitu melihat suasana di ruangan tersebut nampak mencekam dan saling berdiam diri.


"Ingin memulai meeting? Kembalikan istriku kemari, atau tidak usah melanjutkan kerjasama kita ini!" ucap Yeon dengan menatap tajam ke arah Jerome.


"Is—istri?" tanya Jerome dengan terbata karena tidak paham istri mana yang mana yang harus dia kembalikan ke rekan bisnisnya tersebut.


"Pindah dan duduk lah di sampingku Mira Jee!" titah Yeon kepada istrinya tersebut dengan memanggil nama istrinya di sertai nama belakang miliknya agar lelaki di samping Mira menyadari jika Mira telah menjadi miliknya.


"Mi—Mira??" ucap Jerome dengan wajah syok melihat Mira segera meninggalkan kursinya dan beralih duduk di samping Yeon.


"Sebelum kita mulai meeting nya. Ku perkenalkan lagi kepada semuanya, jika wanita yang ada di sampingku ini adalah istriku yang tengah mengandung buah hati kami," ucap Yeon dengan lantang sembari mengusap perut istrinya yang terlihat buncit tersebut.


Jerome yang mendengar salam pembuka dari rekan bisnisnya yang memperkenalkan Mira sebagai istrinya pun membuat Jerome kecewa.


Sedangkan Mira pun nampak tersipu malu begitu sang suami merangkul dirinya serta terus mengusap perutnya di depan rekan bisnisnya.


'Apa pertemuan kita tidak ditakdirkan untuk menjadikan kita pasangan hidup, Mira? Ini semua seperti mimpi untuk ku,' batin Jerome dengan terus menghembus nafas perlahan.

__ADS_1


__ADS_2