My Impotent Husband

My Impotent Husband
Bab 23. Drama Dipagi Hari


__ADS_3

Pagi harinya, Tyas dan Mira berada di ruang dapur secara bersamaan.


"Pagi, Mira," sapa Tyas dengan menguncir rambutnya tinggi-tinggi.


Tujuan Tyas menguncir rambut di depan Mira sudah tentu dan jelas untuk memamerkan bekas cupangan merah yang ada di leher sebagai tanda yang telah di buat oleh Yeon.


"Pagi juga, Tyas. Sepagi ini sudah bangun? Apa tidak kelelahan semalam?" tanya Mira dengan ucapan sarkas yang di gunakan untuk menyindir Tyas yang telah memamerkan bekas kemerahan yang ada di lehernya.


"Ups, maaf ya, Mira. Kamu jadi terpaksa melihat bekas percintaan kami semalam. Maaf kan kami ya, maklum sama-sama saling mencintai," jawab Tyas dengan ucapan yang seolah Yeon dan dirinya tidak bisa terpisahkan.


"Tak masalah, biar pagi ini aku yang memasak saja," ucap Mira dengan segera mengambil bahan-bahan yang akan di gunakan untuk memasak.


"Baiklah, kalau begitu biar aku yang menyeduh teh hangat untuk Yeon," ucap Tyas dengan seringai liciknya.


Mira pun nampak menganggukkan kepala dan kemudian fokus kembali kepada masakan nya.


Hingga aroma masakan pun tercium begitu harum. Ya, soup iga buatan Mira sebentar lagi akan segera matang.


Yeon yang mencium harum masakan pun segera terbangun.


Namun alangkah terkejutnya ketika dirinya sampai di depan cermin yang melihat seluruh tubuhnya penuh warna kemerahan seperti macan tutul yang terkena cacar air pun membuat Yeon mengumpat pelan.


"Ini pasti ulah Tyas! Bagaimana nanti aku menghadapi banyak orang di kantor jika leherku di penuhi oleh tanda merah, astaga!" pekik Yeon di dalam kamar.


Yeon pun segera membersihkan diri dan telah memakai setelan kantor.


Kaki Yeon pun melangkah ke dapur.


Alangkah terkejutnya ketika Yeon melihat secara langsung lengan tangan Mira yang jelas terguyur tumpahan teh panas.

__ADS_1


"Awww ... sakit ... ini panas sekali, huhuhu," lirih Mira dengan menangis lirih menahan perih di lengan tangan nya yang terkena tumpahan seduhan teh yang Tyas buat.


"Tyas ... kenapa kamu tega melakukan hal ini kepadaku. Aku paham jika kamu sangat sakit hati denganku karena kini aku lah yang telah menjadi istri sah Yeon dan kamu hanya sebagai simpanan nya saja. Namun tindakan kamu itu terlalu kejam hingga dengan sengaja menumpahkan seluruh teh panas itu di lenganku. Hiks ..." ucap Mira sambil terus menangis.


"Heh, kurang ajar sekali mulut kamu itu Mira! Ak—" ucapan Tyas pun terpotong oleh suara berat khas Yeon.


"Tyas! Sudah aku bilang untuk jangan pernah melukai Mira di kala kita masih tinggal bersama dalam satu atap. Minta maaf, cepat!" bentak Yeon kepada Tyas.


Tyas yang mendapat kan bentakan dari Yeon pun terkejut setengah mati. Apalagi dirinya pun disuruh meminta maaf yang akan membuat harga dirinya menjadi turun.


"Sayang, aku tidak sengaja tersandung kaki Mira! Aku tidak berbohong sayang. Kaki Mira tadi yang di buat sengaja menghalangi jalan ku sehingga teh pun tumpah ke arah, Mira," ucap Tyas dengan wajah yang tengah di selimuti yang terlihat nyalang menatap wajah Mira.


"Tidak usah, Yeon. Mungkin kehadiran ku disini tidak di inginkan oleh kekasihmu. Aku sadar posisi jika pernikahan kita hanyalah sebuah kecelakaan. Ak—aku pun tidak ingin terus di celakai jika masih berada di sini. Lebih baik aku kembali tinggal di apartemen ku lagi saja. Kalian hiduplah berdua disini," ucap Mira dengan nada di buat sesedih mungkin dan kembali ke dalam kamar tamu serta mengemasi seluruh pakaiannya ke dalam kopernya kembali.


"Astaga, Tyas! Jika Mira benar-benar pergi dari sini lantas apa kata kedua orang tua ku nantinya! Jika Mira pergi dari sini maka kamu pun juga harus pergi dari sini!" bentak Yeon dengan menatap galak ke arah kekasihnya tersebut.


Entah mengapa akhir-akhir ini pun Yeon menjadi agak muak dengan Tyas.


Apalagi tagihan di kartu kredit yang diberikan kepada Tyas pun akhir-akhir ini menjadi membengkak lebih banyak tagihan dari pada bulan-bulan sebelumnya.


"Sayang? Kamu mengusirku? Aku menyimpan rahasia kamu loh, yang?" ucap Tyas dengan sengaja menekan kan kata rahasiamu.


"Berani kamu mengancamku?" tutur Yeon dengan mencengkeram wajah Tyas hingga nampak memerah.


"Dan satu lagi, kamu gunakan untuk apa saja kartu kredit yang aku berikan kepadamu hingga tagihan nya membengkak lebih banyak? Kamu dalam sebulan ini membeli properti apa sih hingga menghabiskan uang puluhan milyar??" tanya Yeon wajah yang terlihat sangat geram.


"Ak—ak ..." Tyas pun mampu untuk menjelaskan rincian nya.


Karena uangnya telah dirinya gunakan untuk berpesta pora dengan para simpanan nya.

__ADS_1


Sedangkan Mira yang melihat pertengkaran di antara dua pasangan kekasih tersebut pun menjadi tersenyum tipis dan meninggalkan penthouse milik suaminya tersebut dengan lega.


"Dasar orang bodoh. Jangan harap kamu bisa menindasku, Tyas. Memangnya siapa yang ingin tinggal satu atap dengan kalian. Menjijikkan," gumam Mira dengan meninggalkan tempat tersebut dengan wajah riang gembira.


Namun, langkah Mira baru sampai di lobby pintu keluar pun sudah terlihat di cekal oleh Yeon.


"Mira, jangan pergi ya? Kan kamu sendiri sudah sepakat untuk kita bisa tinggal bertiga. Kenapa kamu pergi tanpa seijin ku?" tanya Yeon dengan menahan langkah Mira.


"Lepas, Yeon. Tangan ku yang kamu pegang ini masih terasa sangat perih. Sudah ku katakan dari awal untuk jangan mengusik ketenangan ku,"


"Namun sepertinya Tyas tidak menginginkan aku berada disana. Aku tidak ingin terluka lagi dan aku tidak bodoh. Lebih baik aku kembali ke apartemen ku. Kita bisa pura-pura tinggal di satu atap kembali ketika Mommy dan Daddy kamu ingin berkunjung menemui kita. Taksiku sudah sampai jangan halangi langkahku," ucap Mira dengan wajah yang dibuat sesendu mungkin.


Melihat wajah muram Mira pun membuat Yeon merasa khawatir. Apalagi luka di tangan Mira yang belum sempat di obati.


Dengan cepat Yeon pun mengendarai mobilnya mengejar taksi yang sedang ditumpangi oleh Mira.


Hingga taksi sampai di depan lobby apartemen Mira begitu juga dengan mobil Yeon.


Mira menuju ke dalam lobby apartemen dengan di ikuti oleh Yeon.


"Mira!" panggil Yeon dengan setengah berlari.


'Astaga, kenapa dia mengikuti hingga kemari,' batin Mira dengan menoleh malas ke arah Yeon.


"Aku ingin mengobati luka di tangan kamu," ucap Yeon dengan menenteng kotak p3k.


"Tidak usah repot-repot, kita hanya pasangan suami istri diatas kertas. Luka seperti ini bukanlah masalah yang besar untuk kita. Kamu jangan selalu membuntutiku seperti ini. Takutnya nanti jadi kebiasaan kamu. Jika begini terus menerus, maka lambat laun perasaan kamu itu pun akan berubah yang dari awalnya benci menjadi bucin akut kepadaku. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Karena aku hanya menginginkan hubungan kita berhenti sampai bayi yang aku kandung lahir," ucap Mira panjang dan lebar.


Namun seolah Yeon menulikan telinga nya dan pura-pura tidak mendengarkan apa yang tengah Mira katakan dengan menarik tangan Mira dengan cepat agar segera sampai ke dalam apartemen.

__ADS_1


"Jangan banyak protes. Sudah sedari kecil kan aku sungguh tidak tega jika melihat tubuhmu terluka sekecil apa pun itu. Maaf ya Mira, aku tidak mengenali dirimu yang telah tumbuh sedewasa ini. Aku tidak akan tahu dengan perasaan ku ke depan nya seperti apa terhadap mu. Jadi jangan lagi membahas soal perpisahan atau pun yang lain dulu. Aku biar kan kamu kembali tinggal di apartemen kamu. Jika nanti kedua orang tua ku ingin datang melihat kita, aku akan menjemputmu kembali pulang," jawab Yeon dengan telaten mengobati luka di tangan Mira.


Sedangkan Mira entah mengapa hanya mampu menurut dengan instruksi yang diberikan oleh Yeon dengan perasaan yang lebih nyaman dari pada sebelumnya.


__ADS_2