
Mira nampak terus cemberut hingga tiba di ruangan nya.
Bahkan terus mengabaikan kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir tipis Yeon.
"Eheum ... kamu marah ya sayang?" ucap Yeon dengan memeluk tubuh Mira dari arah belakang.
"Enggak," jawab Mira asal dan kemudian melepaskan diri dari pelukan Yeon.
Mira pun berpindah tempat, duduk di singgasana dengan masih mengabaikan kehadiran suaminya tersebut.
"Heum ... marah kan? Buktinya menghindar dari aku bahkan pelukan ku di tepis begitu saja," ujar Yeon lagi dengan duduk di hadapan Mira.
"Jee Yeon ... kembali lah sana ke kantor kamu sendiri. Nanti di rumah baru peluk-peluk lagi boleh. Aku sedang malas meladeni kamu. Nanti ujung-ujungnya yang ada kamu merkosaa aku diruangan ini lagi kalau aku baikin dikit," ucap Mira dengan membuka lembar demi lembar dokumen.
"Merkosaa gimana sih sayang? Kita kan sudah sah jadi pasangan suami istri. Jangan mengada-ada deh, atau kamu pengen nya aku perkossa disini beneran nih? Boleh juga kantormu, yuk sayang?" ajak Yeon dengan bersiap melepas dasinya serta memberikan kedipan genit kepada sang istri.
"Ck! Tuhkan! Jangan lepas dasimu atupun pakaian kamu yang manapun lagi! Jangan berbuat seenaknya jika berada di kantorku," jawab Mira dengan mendelik galak ke arah sang suami.
Bukan nya Yeon takut dengan pelototan mata Mira namun Yeon nampak tertawa renyah melihat wajah gemas sang istri ketika marah.
"Ppfffhhh ... istriku menggemaskan. Kalau melepaskan pakaian ku tidak boleh maka sebagai gantinya melepaskan pakaian kamu boleh kan sayang? Atasan nya saja, aku hanya ingin mengintip nya sebentar," goda Yeon dengan pura-pura melangjah ke arah Mira.
"Yakkkk! Jangan mendekat! Oh astaga Yeon," pekik Mira segera berdiri dan menghindar dari sang suami.
"Aish, lari lagi ... padahal aku hanya bercanda lho sayang. Maaf ya tadi ku gendong cepat-cepat begitu. Kamu pasti sudah bisa menebak lah apa yang ada di dalam fikiran aku saat itu," ucap Yeon dengan mendudukkan pantatnya di atas sofa.
__ADS_1
Mendengar ucapan sang suami pun membuat Mira menaikkan satu alisnya karena tidak mengerti dengan alasan sang suami.
"Kenapa?" tanya Mira dengan wajah bingung.
"Jerome, tadi aku melihat nya seperti hendak terburu-buru mendekatimu. Aku tidak rela saja jika dia berani terus mendekatimu sekalipun itu berbicara soal bisnis," terang Yeon yang membuat Mira tersenyum tipis.
"Pppfff. Mana ada Jerome seperti itu. Itu hanya pemikiran jelekmu saja. Tubuhku yabg sudah melar dan perut sudah terlihat besar masa iya Jerome mau mendekati orang hamil. Kamu lucu sekali," ucap Mira dengan tertawa kecil.
"Loh jangan menganggap remeh hal itu sayang. Sekarang ini banyak pebinor seperti itu. Bahkan mereka cenderung mau menerima wanita yang di taksirnya tersebut walaupun sudah jelas tengah hamil lho," ungkap Yeon dengan sangat serius kali ini.
Melihat raut wajah serius suaminya pun membuat Mira pada akhirnya duduk berdampingan di sofa dengan suaminya tersebut.
"Aku bukan wanita murahan seperti itu, sayang. Aku hanya mencintaimu, hilangkan segala persepsi buruk itu. Percayalah padaku," ucap Mira dengan meraih tangan suaminya.
"Aku percaya dengan mu, namun—" ucapan Yeon pun terpotong oleh ciuman bibir yang Mira berikan.
"Sudah cukup, kembali lah sayang. Di rumah nanti kita lakukan sepuasnya," ucap Mira mengakhiri ciuman panas keduanya.
Yeon yang sudah turn on pun hanya mampu mengangguk pasrah dan merapikan bajunya kembali.
"Baiklah sayang, aku kembali dulu. Ingat jaga diri dan hati," ucap Yeon dengan mengecup kening Mira dengan lembut.
Mira pun mengangguk dan segera mengantar kepergian sang suami dari depan pintu ruangan nya.
"Hati-hati," ucap Mira dengan melambaikan tangan nya sembari tersenyum.
__ADS_1
Yeon pun membalas nya dengan anggukan kecil serta lambaian tangan.
Segera Yeon masuk ke dalam lift khusus dan menekan tombol lantai paling bawah dimana lantai dasar tempat basemen mobil berada.
Ketika keluar dari lift pun Yeon nampak terkejut karena wajah Jerome yang sudah sangat jelas terlihat menunggunya.
"Kamu menungguku disini? Untuk apa menunggu ku?" tanya Yeon dengan wajah datarnya.
"Aku sudah tahu jika kalian berdua menikah karena terpaksa. Jika kamu melukai Mira ku kembali, maka sudah aku pastikan akan merebut Mira dari genggaman tanganmu," ucap Jerome dengan sama datarnya.
"Kamu buta ya? Lihatlah perut Mira yang kian hari kian membesar, didalam perut itu ada buah cinta ku dengan Mira. Mana mungkin aku menyakiti wanita yang tengah mengandung buah hatiku," jawab Yeon dengan wajah menahan rasa amarah yang sudah di ujung.
"Aku tidak peduli. Yang pasti jika kamu berani menyakiti Mira sekecil apa pun, maka aku tidak akan segan membawa Mira ke dalam genggamanku. Sekalipun dia mengandung janin biologismu, aku sanggup menerima anak yang ada di dalam kandungan Mira seratus persen," jawab Jerome yang kemudian meninggalkan Yeon begitu saja serta tak lupa mengangkat jari tengahnya tinggi-tinggi ke arah Yeon sambil berlalu.
"Cecenguk sialan!" umpat Yeon dengan sangat keras.
"Berani sekali dia denganku," omel Yeon lagi.
"Jelaslah aku berani padamu, kita rival bro. Perusahaan ku sanggup untuk membuat perusahaan kamu bergeser posisi kejurang kenistaan jika kamu berani merani menyakiti Mira Lee," ucap Jerome yang kini sudah berada di dalam mobil Rolls Roys limited edition nya tersebut sembari membleyer kendaraan mewahnya tersebut tepat di samping Yeon yang hendak menuju dimana mobilnya berada.
"Vroommm!! Vrooommm!!"
Yeon pun semakin di buat panas oleh tingkah sombong rivalnya tersebut.
Mau membalas perbuatan Jerome pun segera Yeon urungkan.
__ADS_1
"Untuk apa membalas kelakuan lelaki jomblo itu. Bukan sainganku," gumam Yeon sambil membuka mobil nya tersebut dan melajukan dengan kecepatan sedang menuju kembali ke perusahaan nya.