
Jiwa posesif Yeon kepada sang istri pun semakin hari semakin terlihat jelas.
Dari mulai selalu mengantar sang istri bekerja hingga tiba di dalam ruang kerja nya, hingga menjemput sang istrinya kembali ketika jam kerja telah usai.
Makan siang pun selalu Yeon lakukan di perusahaan milik Mira.
Kenapa demikian? Jawabnya sudah jelas, Yeon sangat takut jika kedua rival nya Yakni Jerome atau pun Adolfo tiba-tiba mengajak sang istri pergi untuk makan siang bersama tanpa sepengetahuan nya.
Meeting yang di lakukan oleh Mira bersama rekan bisnisnya pun selalu Yeon pantau dari cctv yang telah di sadapnya diam-diam.
Yeon akan merasa sangat kesal jika sang istri melakukan meeting di luar perusahaan, karena Yeon tidak bisa memantau sang istri melalui cctv.
__ADS_1
Jadi untuk mengurangi rasa khawatirnya, diam-diam Yeon pun menjadi kan Araa sang sekretaris pribadi Mira untuk di jadikan mata-mata nya jika sang istri tengah melakukan kegiatan di luar perusahaan.
"Meeting Bu Presdir hari ini aman, Tuan. Klien nya sudah beristri semua, walaupun mereka memandang Bu Presdir dengan tatapan kagum namun mereka semua masih memiliki batasan," ucap Araa melalui sambungan ponsel.
"Baik lah kerja bagus, terus jaga istriku di mana pun tempatnya. Apalagi perut istriku sudah terlihat sangat buncit. Bujuklah Bu Presdir mu agar segera mengambil cuti," ucap Yeon kepada sekertaris sekaligus asisten pribadi sang istri.
"Baik Tuan. Akan saya usahakan," balas Araa yang tak lama kemudian sambungan pun segera di putus sepihak oleh suami boss nya tersebut.
Itu semua karena kawalan dari asisten sekaligus sekertaris pribadi Araa yang terus berusaha menghindarkan Bu Presdirnya dari pebinor yang berusaha mengambil hati atasan nya tersebut.
"Ada saja gangguan nya jika mau mengobrol dengan Mira setelah waktu luang. Asisten pribadi nya Mira seperti nya sengaja menjauhkan ku dari Mira. Makan siang bersama di halangi, mengobrol baru sebentar saja pasti si Araa itu datang dan menginformasikan ini dan itu lah agar Mira segera kembali ke ruangan nya," keluh Jerome di sela kembali menuju ke perusahaan nya.
__ADS_1
"Makanya Tuan, jangan mengejar-ngejar wanita yang telah beristri. Kejarlah wanita yang masih single agar tidak ada yang mengamuk dan mengklaim Tuan sebagai pebinor," ucap sang sekertaris Park Shin Hye sembari menyetir mobil mewah milik sang boss.
"Aku tidak tertarik dengan wanita manapun selain Mira. Apalagi usulan kamu tadi untuk mendekati wanita single? Siapa yang harus aku dekati? Kamu begitu? Kamu bukan seleraku tahu," ucap Jerome dengan melirik sinis sang sekretaris.
"Anda juga bukan seleraku Tuan Presdir. Siapa juga yang mau dengan lelaki seperti Tuan Presdir, wajah datar, jarang tersenyum, suka menyuruh, pebinor lagi," balas Park Shin Hye tanpa memfilter ucapan nya tersebut sama sekali.
"Heii, kalau ngomong sukanya ngasal kamu ya. Kamu tidak melihat dengan jelas apa jika wajah buleku ini sangat di gilai banyak wanita di luar sana. Memangnya kamu sekertaris yang terkenal cantik karena oplas," balas Jerome tak kalah sengit.
"Yakkk!! Apa Tuan bilang? Oplas?? Ini wajah asli ku Tuan! Diriku ini memang sekertaris cantik Park Shin Hye! Lebih baik aku mengundurkan diri menjadi sekretaris pribadi mu saja mulai dari saat ini Tuan. Mulut anda terlalu pedas!" bentak Park Shin Hye dengan segera menepikan mobil Tuan nya.
"Saya resign dari perusahaan Tuan!" pekik Park Shin Hye dengan melempar kunci mobil Presdir nya tersebut dan segera keluar dari mobil mewah tersebut dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Heii!! Sekertaris Park?! Siapa yang mengizinkan kamu keluar dari perusahaan ku sesukamu?!" teriak Jerome mengejar langkah Park Shin Hye yang telah memasuki sebuah taksi dan melaju begitu saja melewati dirinya.