My Possesive CEO

My Possesive CEO
Pernikahan (1)


__ADS_3

"Rey... kau sudah siap sayang?" teriak mamanya


"Sialan. mereka sengaja mempermainkan ku selama seminggu ini" Rey masih malu dengan keisengan keluarganya itu.


Falshback on


Beberapa jam yang lalu


saat masih tidur, pagi itu Reynando merasa seperti ada yang mengguncang tubuhnya


"Rey bangun.." ternyata Jena sudah menyelinap masuk ke kamar putranya.


"Ma... masih jam berapa ini?" Rey malah membenarkan selimutnya


"yang lain sudah siap tinggal kau seorang, jika kau tidak juga bangun. Jhonatan yang akan menggantikan kamu menikah"


Tentu saja hal itu membuat Rey bangun dan bergegas menuju kamar mandi.


"Mam... dimana handuk Rey"


bukannya menjawab mamanya hanya cekikikan melihat putranya mondar mandir mencari handuknya, yang ternyata sudah ada di tangannya sendiri.


Rey kesal sendiri melihat mamanya yang hanya mengejeknya dengan tawanya itu


"Di tangan mu itu apa nak" jawab mamanya setelah puas tertawa


"kenapa mama tidak membangunkan Rey dari tadi ha" setelah menyadari handuknya ada pada dirinya sendiri.


"Mama pikir Rey ingat kalau hari ini, hari pernikahan kamu"

__ADS_1


"aagggh sudahlah.. mama keluar dulu , Rey mau mandi" Rey mendorong tubuh ibunya keluar dari kamarnya.


Setelah selesai mandi, Rey memakai jas yang di siapkan oleh mamanya. dengan setelan jas berwarna Grey, Rey benar benar terlihat sangat tampan.


Setelah merasa sempurna Rey keluar dari kamar. menemui keluarganya di ruang tamu.


"kalian belum siap?" Rey terkejut melihat keluarganya yang bahkan baru bangun tidur. tidak hanya Rey saja yang terkejut. begitu juga dengan keluarganya, Abraham, Will, Indra dan Jhonatan yang juga ikut berkumpul disana. tapi tidak dengan Jena, dia malah menahan tawa melihat putranya yang sudah siap seperti pangeran pagi hari. ya... karena dirinya lah yang mengerjai putranya tersebut.


"Wah wah wah... sepertinya jagoan ku benar benar tidak sabar untuk menikah" goda Will, yang di ikuti senyuman liciknya


"Kau pasti merindukan calon istri mu ya sayang" Jena ikut menggoda putranya, padahal dia sendiri kan yang menempatkan putranya di situasi seperti itu.


Rey terheran dengan tingkah mereka. benarkan ini hari pernikahannya, tapi kenapa keluarganya malah belum apa apa. tanyanya pada dirinya sendiri


Jhon menahan tawanya dan menghampiri tuannya yang masih mematung tak mengerti.


Rey langsung saja melihat ke arah Hp yang disodorkan padanya. ternyata benar saja dirinya telah di permainkan oleh mamanya.


ya ini juga termasuk kesalahannya sendiri, sudah tau mamanya memang selalu iseng, masih tidak melihat jam terlebih dahulu sebelum memastikan ucapan mamanya itu. dan karena kesalahannya itu sendiri membuat dirinya kesal sendiri.


Abraham menghampiri cucunya yang terlihat kesal.


"Kakek tau... kamu sudah tidak sabar ingin bertemu calon pengantin Mu" Abraham menepuk bahu cucunya


"tapi ini masih terlalu pagi... apa kau mau menyuruh kami menunggu berjamjam disana?" tanyanya kemudian. sontak saja membuat yang ada disana tidak bisa menahan tawa merekam Jhon pun ikut tertawa. namun berhenti ketika di pelototi oleh Reynando


Rey beralih memandang ke arah mamanya. terlihat Jena mengatupkan tangannya meminta maaf dengan senyum lebar di bibirnya. lagi lagi Rey mengabaikan mereka dan berlalu pergi ke kamarnya kembali.


Flashback Off

__ADS_1


Rey membuka pintu kamarnya. Mamanya tersenyum melihat putra tampannya itu. tapi tidak dengan Rey. belum menikah saja sudah di kerjai habis habisan. bagaimana setelah menikah nantinya. pikir Reynando yang masih memasang wajah kesalnya


"Masih marah?" tanya mamanya


Reynando tak menjawab dan terus berjalan menuju ruang tamu dimana sudah di tunggu oleh keluarganya yang lain.


"ini nih pengantin yang sudah tidak sabar" goda Will


"sudah... jangan membuat putramu marah" jawab Jena dan mendekat pada suaminya


"terlambat" ucap Reynando dan bejalan lebih dulu menuju mobil yang sudah di siapkan.


Jhon membukakan pintu mobil itu untuk tuannya. Rey lebih memlih membawa mobilnya sendiri menuju ke tempat acara pernikahannya dari pada satu mobil dengan keluarganya yang bar bar tersebut .


Mobil sudah melaju meninggalkan mansion yang hanya membutuhkan waktu 40 menit dari Mansion ke tempat Acara. saat telah sampai, sudah banyak sekali para tamu undangan dari kedua belah pihak yang sudah sampai di sana.


setelah keluar dari mobil. Rey merasa jantungnya berdegup kencang. tidak seperti biasanya, dia tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya.


ini hanya pernikahan. kenapa aku bisa gugup sekali. Batinnya


Rey mencoba mengatur nafasnya yang sesak. setelah merasa agak tenang Rey menghampiri keluarganya.


"Kau gugup?" tanya Jena saat melihat kegelisahan di raut wajah putranya


"tidak" elaknya dan terus berjalan masuk ke tempat acara itu. terlihat keluarga Fahmi yang sudah menunggu kedatangan mereka. dengan batik yang seragam mereka menyambut kedatangan besan mereka.


Banyak bisik bisik para tamu, yang mengatakan betapa beruntungnya keluarga Fahmi bisa menikahkan putrinya dengan pria sehebat Reynando.


sedangkan pemeran utama hari itu masih memasang wajah dingin tak berekspresinya. pandangannya menyapu seluruh ruangan, mencari wajah yang selama satu minggu terakhir menghantuinya. namun nihil, Kinan sama sekali tidak ada disana.

__ADS_1


__ADS_2