
Tanggal pernikahan sudah di tentukan. persiapan demi persiapan juga sudah mulai di lakukan. Mulai dari dekorasi, gaun pengantin dan katering bahkan undangan pun juga sudah tersebar.
kedua belah pihak keluarga terlihat tengah sibuk mempersiapkan hari bahagia untuk anak anaknya.
satu hari sebelum pernikahan kedua orang tua Reynando yang tengah berada di Paris juga ikut menyusul putranya setelah mendengar kabar bahwa kakeknya berhasil membujuk putranya untuk menikah.
"mama papa" ucap Reynando yang baru menuruni tangga pagi itu ketika menyadari papa dan mamanya tengah duduk di sofa ruang keluarga dengan kakeknya
"Anak nakal.. kau baru bangun jam segini?" mama Reynando, Jena lin setengah berteriak ketika melihat putra kesayangannya itu.
Reynando tak menjawab namun terus melangkah mendekati ketiga orang tersebut. Rey tidak menghiraukan tatapan mamanya yang kesal karna pertanyaannya tak di gubris oleh putranya sendiri.
"Mam. apa kabar?" Rey memeluk tubuh wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.
Rey memang dingin pada setiap wanita, bahkan suka mempermainkan wanita ketika sudah teringat masa lalunya. tapi tidak mengubah sikapnya pada Mamanya. penuh kasih sayang dan hangat. bahkan sangat penurut padanya namun tidak untuk pernikahan. sudah beberapa kali dia mencobanya, namun selalu gagal
"kau memang pandai membuat ku tidak marah lagi pada mu" ucap mamanya dan menerima pelukan putranya.
"kabar Mama baik, Rey bagaimana?" lanjutnya
Rey hanya mengangkat kedua tangannya se bahu seperti mengatakan. yah seperti inilah kabar Rey. begitulah yang terbaca oleh mamanya.
"Hai jagoan..." sapa papanya. Rey paling tidak suka dengan panggilan itu.
Rey melewati papanya dan duduk di dekat kakeknya
"Lihatlah Ayah, dia bahkan tidak mau menyapa Ayahnya sendiri" memasang wajah melasnya
"Kau memang payah" ucap Abraham pada putranya itu
"Ayah... bukannya menasehati cucu mu yang tidak berbakti itu.. kau malah menghinaku"
ya... keluarga Abraham memang terkenal dengan kekejamannya di dunia bisnis, keluarga dingin menurut publik. tapi ketika dengan keluarga, mereka selalu bisa menciptakan suasana yang tidak membosankan. bahkan sering kali membuat satu sama lain tertawa.
"Rey .. seperti apa calon istri Mu?" tanya Will Ayahnya
__ADS_1
"Apa dia Cantik. sampai bisa membuat Mu setuju untuk menikahinya?" lanjutnya penasaran dengan jawaban putranya
"Biasa saja" jawabnya singkat sambil menikmati kopi yang di berikan pelayan di Mansion itu
"Oiya papa lupa.." ucapnya berhenti
"kita kesini kan untuk menghadiri pernikahan Jhon, bukannya Rey" Aktingnya yang mampu membuat Rey tersedak yang tengah menikmati teh paginya
"Kau tidak apa apa sayang?" tanya jena
"tidak Apa mam" jawab Rey dengan melototkan matanya ketika melihat Jhon yang tengah melintasi ruang tamu.
dengan senyum ketakutan Jhon membungkukkan badannya dan segera berlalu dari hadapan mereka sebelum menjadi sasaran dari tuan mudanya itu. Namun belum beberapa langkah, Jhon sudah di panggil oleh Will
"Tunggu Jhon" ucapnya
sial. batin Jhon.
Jhon berbalik menghadap kembali pada tuan tuannya.
Will menarik Jhon untuk duduk di sebelahnya.
Jhon hanya tersenyum dan melirik pada tuan mudanya. tatapan mata Reynando seperti akan mengiris iris tubuh Jhonatan.
oh Tuhan, tatapan tuan muda sangat mengerikan. Jhon bergidik ngeri dan memalingkan pandangannya. Will tersenyum
sepertinya berhasil. batinnya
"oiya... seperti apa calon pengantin mu?" lanjut Will
Jhon terlihat tengah berpikir, mengingat ingat kembali gadis yang di temuinya seminggu yg lalu
"dia cantik" ucap Jhon tanpa sadar. dan senyum di bibirnya benar benar mengembang
Reynando yang melihat tingkah ke dua orang yang tidak jauh darinya merasa sangat jengkel. karena secara tidak sadar Jhonatan mengiyakan perkataan Willbert bahwa besok dia yang akan menikah.
__ADS_1
Will terkejut, dia juga tau bahwa tangan kanan Putranya begitu pendiam dan tak banyak bicara. gadis seperti Apa yang membuat Jhon terpesona? seperti apa menantu ku yang sebenarnya. Batin Will masih dengan rasa penasarannya. bukan hanya dirinya begitupun dengan Jena istrinya. sedangkan Abraham merasa bangga pada calon menantunya yang membuat dua pria anti wanita ini benar benar terpikat padanya.
"sudah lah, kalian akan tau seperti apa calon Jhonatan besok" Abraham membuyarkan lamunan semua orang di sana.
"Jhon.. selamat ya" ucap Jena ikut memprovokasi putranya
Reynando masih dengan sabar menahan amarahnya. meskipun jauh di dalam dirinya dia sudah hampir meledak.
"terimakasih nyonya besar" jawab Jhonatan yang juga bergabung dalam drama mereka
"Aku akan memberimu waktu berlibur untuk bulan madu" Will
"Aku juga akan memberimu tiket keluar negeri berdua dengan calon istrimu" jena
"kakek juga akan menyiapkan jet pribadi untuk kalian keliling dunia saat bulan madu"
BRAAAKK....
untung saja meja kaca itu tidak pecah ketika Reynando menaruh gelas tehnya yang habis secara kasar di meja tersebut.
semuanya ternganga saat melihat Reynando sudah berdiri dengan wajah yang penuh keamarahan, membuat semua orang disana tertekan
"jika pernikahan ini untuk Jhonatan" ucap Rey memandang penuh emosi pada semua orang disana.
"Maka jangan berharap, kalian bisa membujuk ku kembali untuk menikah" lanjutnya dan meninggal semua orang disana yang masih menelan ludah mereka sendiri melihat Reynando yang sangat marah. tidak biasanya dia marah hanya karena di goda oleh keluarganya, apalagi tentang menikah. yang bahkan dia tidak pernah memikirkan dan membicarakannya sebelumnya.
"Luar biasa" Will
"dia benar benar marah? hanya karena terprovokasi seperti itu?" ucap jena
"aku benar benar penasaran seperti apa gadis yang akan menjadi menantuku besok" lanjutnya
"Dia benar benar gadis yang baik, bukan hanya cantik wajahnya, namun perilaku dan akhlaknya yabg membuat ku yakin...." Abraham menghentikan ucapannya dan tersenyum
"dia akan bisa merubah Rey kita seperti dulu"
__ADS_1
semuanya terdiam dan tersenyum karena Abraham berhasil menemukan wanita yang tepat untuk penerus mereka.
matilah aku... sepertinya selepas ini hidupku tidak akan mudah. batin Jhon yang baru menyadari bahwa dirinya membuat Tuannya marah.