My Possesive CEO

My Possesive CEO
Makan Malam


__ADS_3

Semua keluarga Abraham sudah berkumpul. Jena, Abraham, dan Jhonatan. mereka tidak membeda bedakan bawahannya. apalagi seperti Jhon yang sudah bertahun tahun mengikuti Reynando, tentu saja keluarga Abraham menganggapnya sebagai bagian dari keluarga mereka.


Rey baru saja turun dan langsung bergabung dengan mereka.


"Oiya mama dengar Lambung Rey kambuh ya?" Tanya Jena setelah ke dua anaknya duduk di sampingnya.


"Iya ma" Kinan yang menjawab, karena sepertinya Rey menghindari pertanyaan itu.


"Kata Jhonatan sampai seminggu? bener Kinan?" tanya Jena lagi. bukannya khawatir dengan putranya, namun seperti sedang ingin memojokkan Reynando. Yang di omongin tidak menghiraukan ucapan Jena, dan malah menikmati makanan yang di ambilkan istrinya.


"Iya ma... bahkan Kak Rey sampai tidak ke kantor seminggu ini" Jelas Kinan, begitu jelas di wajahnya ada banyak rasa khawatir yang terpancar


"Benarkah, separah itu?"


"Iya Nyonya, tuan menyerahkan urusan kantor pada saya selama seminggu ini" Jhonatan ikut memojokkan


"Sejak kapan cucuku sampai selemah itu, dimana sikap sok kuatnya itu?"


"iya Tumben sekali ya yah, Biasanya separah apapun lambungnya kambuh, paling lama kan dua hari" Kinan tidak mengerti dengan pembicaraan tiga orang di depannya. Kenapa dia merasa sedang di bodohi disana.


uhuk uhuk....


"Kakak tidak apa apa?" Kinan panik dan langsung memberikan segelas air putih pada suaminya.


Rey hanya menggeleng dan menghabiskan air yang di beri oleh Istrinya.

__ADS_1


"kamu tidak apa apa nak?" Tanya Jena. saat memandangnya, Reynando merasakan bahwa ibunya sedang mengejek dirinya.


Rey beralih pada Jhonatan, memandangnya seakan akan dia akan melahapnya saat itu juga.


"Kenapa kalian cerewet sekali sih. makan saja tidak tenang" Protes Reynando, dan ketiga orang di depannya itu hanya tersenyum geli melihat Reynando yang takut ketahuan oleh istrinya.


"Kinan ayo cepat makannya, nanti kakak bawa kamu ke taman belakang" ucap Reynando ingin segera membawa pergi istrinya dari tempat itu


"Kenapa harus buru buru sih sayang, Inikan pertama kalinya Kinan kesini" mamanya mencoba menahan Kinan bersamanya. Rasanya Jena sangat senang menggoda putranya, sudah sangat lama dia tidak melakukan hal itu.


"tidak, dia istriku jadi dia harus menemaniku" Protesnya lagi.


"Kakak, sudah sudah... habiskan dulu makannya ya. biarkan nanti aku nemenin mama dulu ya sebentar saaaja" Pinta Kinan.


"Tidak"


Kenapa dengan suamiku ini. kenapa harus berebut dengan mama.


"sudah Kinan tidak apa apa, besok saja nemenin mama ya" Ucap Jena


"Tidak bisa, besok aku akan keluar dengan Kinan" Lagi dan lagi Rey menentang keras permintaan mamanya. semua mata tertuju padanya, seolah olah tidak menghiraukan tatapan penuh tanda tanya padanya.


"kakak...."


"Pokoknya tidak, kamu masih ingatkan kita besok mau kemana?" masih tetap dengan pendiriannya. dan mengingatkan Kinan akan janjinya padanya. semua yang ada disana penasaran, ada apa dengan besok. namun tidak ada yang berani menanyakan sesuatu saat Reynando sedang marah

__ADS_1


"Ya sudah karena besok tidak bisa nanti saja Kinan temenin mama ya" masih membujuk Reynando yang masih keras kepala.


"kalau kataku tidak ya tidak. Kinan kamu jangan memaksa ku" wajahnya Reynando sudah terlihat kesal


"Yasudah kalau tidak boleh. nanti malam Kinan mau tidur sama mama saja ya ma, mau nemenin mama"


"APAAA?" Sangkin kagetnya Rey Langsung menggebrak meja makan. dan lagi semua orang di meja makan itu terkejut dan menoleh lagi pada Reynando


Wajah Rey merah padam, bisa bisanya istrinya itu mengatakan mau tidur dengan mamanya, lalu bagaimana dengannya. yang sudah candu akan keberadaan istrinya ketika dia tidur. akan tidak bisa tidur semalaman kalau tidak ada Kinan di sisinya.


"Mau tidur sama mama? ok baiklah terserah kamu" Rey langsung meninggalkan meja makan dan menaiki tangga berlalu dari tempat itu.


Kinan menelan ludahnya, tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. bisa bisanya Reynando sampai semarah itu. padahal aku kan hanya becanda saja, kenapa kak Rey semarah itu. Batin Kinan


semua orang hanya bisa bertukar pandang, tidak percaya dengan apa yang telah mereka lihat.


"Kamu kejar suamimu gih?" pinta Jena


"Bawakan makanan untuknya, dan bujuk dia" ucap Jena


"Lihat, bahkan dia tidak memakan habis makanannya" ucapnya sekali lagi


Benar bahkan makanannya masih banyak namun Rey sudah keburu pergi.


"Bawa makanan mu juga ke sana" Kata Abraham

__ADS_1


"Baik kek" jawab Kinan. Kinan membawa makanannya dan makanan suaminya dan berlalu mengejar suaminya yang lagi marah.


__ADS_2