
"Dari mana saja kamu?"
Kinan terkejut bukan Main, ketika melihat Reynando duduk di sofa seperti sedang ingin menginterogasinya. ini masih jam 15.00, kenapa Reynando sudah pulang. tanya Kinan di dalam hatinya
"aku tanya kamu dari mana?" Intonasinya sudah meninggi. pasalnya Rey memang paling tidak suka seseorang mengabaikannya.
"anu kak... baru datang kuliah" Kinan tersenyum meyakinkan
heh.. kuliah, berani juga berbohong.
"Kuliah?"
Kinan mengangguk
Braaakkk...
Rey melemparkan Hpnya tepat pada Kinan.
"Kencan dengan seorang pria yang kau sebut Kuliah?" teriak Rey
"bu .. bukan kak, aku bisa jelasin"
"Jelasin?" Gumam Rey dengan senyum sinis yang tersungging di bibirnya. Rey mendekat pada Kinan yang menunduk takut pada Rey. meskipun dia tau, dia tidak melakukan kesalahan apa pun, namun suaminya ini tidak pernah mempercayainya.
"aku lebih percaya apa yang aku lihat dari pada apa yang kamu katakan" ucap Reynando penuh tekanan.
"sebegitunya kah kamu membutuhkan seorang pria, sampai kesana kemari mencari lelaki?" bentaknya.
deg....
__ADS_1
apa sehina itu aku di mata mu kak?. tidak terasa air matanya mengalir begitu saja.
"jangan kamu pikir akan tertipu dengan air mata mu ini" Rey meremas dagu Kinan
"tidak kak, bukan seperti yang kakak pikirkan" Kinan mencoba membela dirinya
"dia teman ku, teman masa kecil ku dulu" masih tersedu sedu
teman masa kecil? kenapa membuat ku menjadi semakin marah, ketika mengetahui bahwa laki laki itu telah bersama dengannya dalam masa pertumbuhannya. Sial
Rey menghempas wajah Kinan. wajah yang tadinya masih sangat cantik dengan hijabnya, sekarang sudah terlihat lusuh.
"Aku tidak peduli apa hubungan mu dengan dia. ingat!! kamu adalah menantu keluarga Abraham" kembali meremas dagu Kinan
"istri dari Reynando Abraham jangan coba coba untuk bermain dengan lelaki lain di luar sana, atau lihat saja apa yang akan aku lakukan pada mu" muncul senyum licik di wajahnya. "dan pada keluarga kecil mu itu" Rey berbisik tepat di telinga Kinan.
Kinan hanya diam membatu ketika nama keluarganya di sebut oleh suaminya.
apakah ini ancaman. apakah aku harus bahagia atau bersedih. aku bahagia akhirnya bisa mendengar kakak mengakui ku sebagai istrinya. dan disisi lain aku sedih dia tidak percaya sama sekali padaku bahkan mengancam keluargaku
Kinan terduduk di lantai. hati dan pikirannya lelah, lelah menghadapi suaminya. Namun apa daya dia, Kinan tidak bisa berbuat apa apa. dan menunggu terbukanya mata dan hati Reynando. sampai saat itu, Kinan harus bersabar menunggunya.
kriiiinngg....
dengan secepat kilat Kinan mengucap air matanya, mengatur nafas agar terdengar lebih normal.
"Halo ummi"
Kinan sangat senang akhirnya di saat seperti itu dia bisa mendengar suara wanita yang mampu menghapus semua kesedihannya.
__ADS_1
"Hallo anak ummi" ucap suara di seberang. benar saja, bagai sulap bagi Kinan. sapaan lembut itu mampu membuat Kinan kembali tersenyum.
"Ummi apa kabar?"
"kabar ummi baik, kabar Kinan bagaimana?"
Kinan diam tidak menjawab, dia harus menjawab apa? melihat keadaan Kinan yang menyedihkan, Kinan bangkit dan berpindah ke kamarnya.
"Hallo sayang?"
"ah.. iya ummi?"
"Kinan kamu kenapa?"
"tidak apa apa ummi, kabar Kinan juga baik baik saja kok" otomatis senyumnya terukir kembali
"Nak Rey memperlakukan mu dengan baik kan?"
"i.. iya ummi. kak Rey baik banget sama Kinan"
"Kinan.. kamu tidak berbohong kan sama ummi?"
"eemm tidak kok ummi" suaranya sudah terdengar gugup.
"Syukurlah kalau begitu. ya sudah sayang sampai disini dulu ya, Nanti ummi telfon lagi"
"Baik ummi"
tut ....
__ADS_1
maafkan Kinan Ummi, Kinan tidak mau mengeluh atas sikap kak Rey. Cukup Kinan saja yang memendamnya.