
Semuanya sudah berkumpul di ruang tamu. masih dengan perbincangan hangat mengenai pernikahan putra putrinya dengan menikmati hidangan yang di sajikan oleh keluarga Fahmi.
"kakak.. itu calon suami kakak ya?" ucap Raina Nadira Adik dari Kinan yang mengintip di baik pintu penghubung antara dapur dan ruang taku
Kinan hanya mengangguk Malu ketika melihat calon suaminya.
"Tampan sekali" dengan melotot dan tak melepaskan pandangannya dari wajah datar yang tetap terlihat tampan itu
"Adik.. jaga penglihatan Mu, dosa tau.. " Kinan menutupi penglihatan adiknya sedangkan dia merasa takjub dengan ciptaan Tuhan di penglihatannya tersebut.
"kakak.. lepaskan" Raina menyingkirkan tangan kakaknya.
"apa kamu mau?" tanya Kinan.
"apa kakak akan memberikannya"
"tentu saja tidak" jawabnya enteng
rasanya Kinan telah jatuh hati pada pandangan pertamanya.
Tuhan, Maafkan hamba.. yang telah jatuh cinta pada selain Mu. Batin kinan
"Pelit" rengek adiknya
"Kamu masih mecil.. nanti setelah kamu dewasa. akan bertemu dengan orang seperti dirinya" mencoba memberi pengertian pada adiknya
"tapi kak... sepertinya dia pria yang dingin"
Kinan memperhatikan Rey
"apa kakak bisa hidup dengan pria dingin tak berekspresi seperti itu?" kata kata yang terlontar begitu saja, membuat hati kecil Kinan tak percaya diri.
Benar.. apakah aku bisa hidup dengannya, jika di lihat, sepertinya dia tidak bahagia dengan perjodohan ini. wajah cantiknya berubah menjadi sendu
"Oiya.. dimana cucu menantuku?" tanya Abraham
"masih di dalam tuan. biar saya panggilkan" inisiatif Aini. yang langsung berlalu memanggil putrinya
"Hei.. kalian ngapain disini" saat melihat kedua putrinya kepergok lagi ngintipin sesuatu
"eh ummi..." Raina senyum senyum
__ADS_1
"kalian ngapain ngintip ngintip disini?"
"mau liat calon suami kak kinan.. abis ganteng banget siii" Raina yang masih berumur 15 tahun tetap terlihat imut dengan sikapnya
"Raina juga mau dong ummi" lanjutnya
"huuss.. masih kecil, sudah sana masuk ke kamar mu, jangan lupa belajar ok!" Aini mengusap kepala anaknya lembut
"Baiklah" Raina berlalu dari hadapan mereka
"Sayang, tuan Ham ingin melihat mu" memegang tangan putrinya
"apa kamu siap?" lanjutnya
Kinan menarik nafas panjang kemudian di hembuskannya secara perlahan. setelah merasa siap Kinan mengangguk kan kepalanya dan tersenyum manis. Kinan dan Aini pergi keruang tamu beriringan
"oh tuhan.. cantiknya" Gumam Jhonatan yang jelas masih terdengar walaupun samar oleh Reynando.
Hal apa yeng membuay Jhon yang biasanya tidak banyak bicara. membuatnya membuka suara. dilihatnya Jhon yang tengah melihat lurus ke depan dan Rey mengikuti arah penglihatan Jhonatan.
Sama saja, kehadiran Kinan membuat kedua pria dingin itu terpesona. tidak hanya Cantik, bahkan saat berjalan pun tak mengurangi keanggunan dalam dirinya. senyumnya yang membuat banyak pria candu tentu saja tak mudah untuk di lupakan.
setelah beberapa lama terkesima. Rey dan Jhonatan tak henti hentinya menatap Kinan bahkan sampai dia duduk di dekat Abi dan Umminya.
eehheemm...
saat kode pertama di abaikan oleh kedua orang pria di sampingnya. Abraham sekali lagi membunyikan kodenya.
sontak saja membuat dua pria itu memalingkan bola matanya. melihat ke arah berbeda agar tidak terjebak dalam senyuman manis milik Kinan.
Abraham tersenyum puas dengan Sikap Rey merespon kedatangan Kinan.
sepertinya Rey akan menerimanya. baguslah. Batinnya
"Rey.. apa kau menyukai pilihan kakek" bisik Abraham pada cucunya
"Biasa saja" jawab Rey sekenanya. jika kamu tidak mau, kakek masih bisa membatalkannya sekarang. mumpung masih sempat" goda Abraham. tentu saja membuat Rey melotot
"Kakek jangan main main" Rey malas meladeni
"Baiklah kamu memang tidak suka gadis ini.." menghentikan kalimatnya
__ADS_1
"Tapi kakek rasa Jhon menyukai gadis ini.." Rey memperhatikan Jhon membenarkan ucapan kakeknya. ternyata betul saja, Jhon masih saja menatap dan tersenyum pada perempuan yang akan menjadi istrinya.
"bagaimana kalau pengantin prianya kita ganti dengan dia" kembali menghentikan kalimatnya menunggu reaksi dari cucunya tersebut. dan benar saja Rey benar benar terperanjat dengan omong kosong kakeknya itu
"kasian dia selalu merasa kesepian" imbuhnya
Rey menginjak kaki Jhon dengan sangat hati hati namun dengan tenaga yang kuat. supaya tidak ada yang menyadari tindakannya.
"Jhon... jaga mata mu" ancam Rey dengan melototkan matanya. jangan coba coba menatapnya. sepertu itulah arti tatapan yang Jhon artikan
eeeh... kenapa? bukannya tuan tidak suka dengan gadis ini?
"Baik tuan" jawabnya terpaksa menuruti kemauan tuannya.
Abraham tertawa dalam diam
sepertinya... jatuh cinta pada pandangan pertama.
Akhirnya berlanjut lah obrolan obrolan mereka.
"kedatangan kami kesini ingin segera menetapkan hari pernikahannya" ucap Abraham kemudian
"Karena cucu saya harus segera kembali ke Paris... jadi keluarga saya memutuskan untuk melaksanakan upacara pernikahan pada Minggu depan" tambahnya
secepat itu kah. serentak Batin Rey dan Kinan secara tidak sengaja bersamaan.
"Apakah dari pihak perempuan keberatan?" tanya Abraham
"saya setuju dengan permintaan tuan Ham, karena lebih cepat juga lebih baik" jawaban Fahmi membuat semua orang tertawa setuju
Tapi tidak dengan Rey, meskipun dengan kecantikan Kinan yang secara tidak sadar membuat hati Rey tergerak. tapi tidak menghilangkan pikiran buruknya mengenai keluarga tersebut.
cih.. ingin segera menjadi besan keluarga kaya, begitukan maksudmu. batin Rey, memandang remeh pada keluarga Fahmi. lalu beralih pada Kinan yang tertunduk malu.
lihat saja, apa yang akan aku lakukan nanti pada putri mu ini. tambahnya dan kembali memutar bola matanya
"Baiklah.. semua persiapan biar saya yang melakukannya" ucap Abraham
"Kalian hanya harus mempersiapkan putri kalian untuk ikut bersama kami" tambahnya dan di angguki oleh Fahmi.
Setelah selesai makan malam bersama Abraham dan Reynando pamit untuk pulang. setelah malam itu dari dua keluarga tersebut tengah sibuk melakukan persiapan untuk pernikahan putra putrinya.
__ADS_1