My Possesive CEO

My Possesive CEO
Perubahan Sikap (1)


__ADS_3

"Istri? dengan penampilan seperti itu mengaku istri dari presedir Rey"


"Apa nona tau? Istri presedir yang sesungguhnya ada di dalam"


Perkataan itu selalu terngiang di telinga Kinan. apa benar, kak Rey memiliki istri yang lain di luar?. Secara tidak sadar air matanya mengalir. dia mengira Reynando telah membohonginya.


seharusnya aku tidak menangis. aku tidak mau terus terusan menjadi lemah


Kinan segera mengelap air mata di pipinya, mencoba mengatur nafas dan emosinya.


"pak, antarkan saja saya ke apartemen Kak Rey"


"Baik nona"


_________


Disisi lain, Rey tengah menuju Mansion orang tuanya. Dalam perjalanan tidak henti hentinya Rey memikirkan Kinan. Wanita rapuh itu pastinya tengah menangis pikir Reynando.


"loh Rey... Kamu kesini?" Tanya Jena ketika melihat Rey tengah terburu buru masuk ke dalam Mansion yang diikuti Jhonatan


"Kinan dimana ma?"


"Tadi sih bilangnya mau balik ke apartemen kamu"


" Bukannya tadi dia pergi ke perusahaan kamu"


Tanpa menjawab pertanyaan ibunya Rey segera keluar dari Mansion, memasuki mobil dan kembali melaju memecah panjangnya jalan raya dengan di temani Jhonatan yang selalu setia padanya.


tidak membutuhkan waktu lama, Rey sudah berada di parkiran gedung yang mencakar langit.


"Kinan"

__ADS_1


Dengan tergesa gesa Reynando memasuki apartemennya. Mencari keberadaan Kinan di segala ruangan. Namun tidak menemukan keberadaannya. Hanya satu ruangan yang tersisa, yaitu kamar yang dulu di tempati Kinan saat hubungan mereka masih tidak terlalu baik.


"Kinan"


Saat membuka pintu kamar, Reynando mendapati Kinan yang sudah terlelap di atas ranjang.


"Ku pikir kamu akan bersedih" Rey tersenyum, membelai lembut kepala yang masih tertutup oleh hijab.


Cup...


Rey mengecup kening Kinan. Dan berlalu meninggalkan kamar.


"Nona muda baik baik saja tuan?"


Jhonatan baru saja masuk bertepatan dengan Reynando yang sedang menutup pintu kamar.


"Dia sudah tertidur, mungkin aku yang terlalu banyak berpikir"


"Tidak" Rey duduk di sofa


"Kamu pulanglah, Aku akan mengerjakannya disini" lanjutnya


"Baik tuan"


Tinggallah Reynando seorang saat itu. Setelah berdiam cukup lama, karena saat itu sudah hampir sore, Rey memutuskan untuk membersihkan badannya di dalam bathup yang sudah penuh dengan air dan aroma terapi. Setelah selesai dengan mandinya, Rey masuk ke ruang kerjanya.


Tepat jam 16.00 Kinan sudah terbangun, mendapati jam yang sudah hampir malam. Setelah mandi dan mengerjakan sholat Kinan memasak untuk makan malam, dan dia masih tidak menyadari bahwa Reynando sudah datang.


Makanan sudah selesai Kinan masak, saat sedang mencuci piring. Rey baru saja keluar dari kamarnya dan melihat keberadaan Kinan. Langsung saja Rey menghampiri dan memeluk pinggangnya dari belakang.


"Kamu sudah bangun?" Tanya Reynando

__ADS_1


"Heemmmm"


"Kenapa pulang kesini tidak memberi kabar terlebih dahulu padaku?" Masih memperhatikan wajah Kinan yang tengah fokus mencuci piring


"Tidak sempat"


"Kamu tadi ke kantor ku kan?"


"hemmm"


"Kenapa tidak menemuiku"


"Tidak sempat"


jawaban yang sama seperti sebelumnya membuat Rey mengerutkan dahi mendengar jawaban jawaban Kinan yang terdengar seperti malas menanggapi pertanyaan Reynando. Wajah yang biasanya memancarkan senyuman termanis, kini wajah tersebut tidak memancarkan ekspresi apapun.


"Yasudah kamu makan malam dulu"


Kinan melepaskan pelukan Reynando yang masih menerka nerka perubahan istrinya.


"Kamu tidak ikut makan?" Tanya Reynando saat melihat Kinan berjalan menjauh.


"Sudah"


"Temenin aku makan ya"


"Aku masih ada tugas dari kampus, kamu makan sendiri saja" Kinan berlalu meninggalkan Reynando dengan seribu pertanyaan.


Sejak kapan dia memanggilku dengan panggilan yang sangat jauh. Aku? Kamu?. Rey menggeleng


Dia yang sudah duduk di depan meja makan, teringat kembali dengan saat saat dia baru saja menikahi Kinan. Dimana dia tidak mau melihat Kinan bahkan saat makan sekalipun dia tidak mau melihat keberadaannya. Namun saat ini suasananya berbeda, saat ini Kinan lah yang tidak mau menemani Reynando. Bahkan sangat dingin padanya. Makanan di meja saja yang hanya satu porsi, seperti sangat niat tidak mau makan satu meja dengannya. Perubahan sikapnya sudah dapat Rey tebak, pasti karena kejadian di kantor. Pikir Reynando

__ADS_1


Dengan terpaksa Rey memakan makanan yang istrinya itu siapkan, meskipun banyak kegundahan dan rasa tidak nyaman di dalam batinnya. Mau tidak mau dia tetap menelan semua yang telah tersaji di atas meja.


__ADS_2