
Kinan baru saja keluar dari dalam kamar mandi tepat pada saat waktunya sholat. setelah melewati Reynando di sofa yang masih menunggunya dengan marah Kinan mengambil mukena yang di bawanya.
"sayang sholat?" ajaknya setelah selesai memakai mukenanya.
"Kamu saja"
Bukannya tidak mau beribadah hanya saja hatinya belum siap, karena sudah sangat lama Rey tidak melakukannya. mungkin dia masih perlu belajar semua dari awal.
disisi lain Kinan mengerjakan sholat tepat di sebelah tempat tidur. dengan sepenuh hati, khusyuk menghadap sang ilahi Kinan mengerjakannya.
tidak lupa bersyukur atas apa yang di dapatnya hari ini. seorang suami dan keluarga yang mencintainya. adalah hal yang paling indah. Batinnya.
Hati Rey luluh, ada perasaan hangat saat melihat istrinya yang begitu taat. namun lamunannya pecah saat Kinan sudah mendekat ketika sholatnya sudah selesai.
"kemarilah" menjentikkan jarinya menyuruh Kinan mendekat padanya. saat Kinan berdiri tepat di depannya Reynando menarik tangan Kinan dan membuatnya duduk di pangkuannya.
Rey melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, membenamkan wajah tampannya di bahu Kinan.
"jangan pernah mencoba memancing amarahku lagi" ucapnya namun masih di posisinya. Kinan tak menjawab, merasakan setiap kecupan di lehernya yang memberikan bercak merah di sana. itu pertama kali bagi dirinya. antara gelisah bercampur takut
Rey sudah benar benar tak bisa menahan diri, aroma tubuh Kinan membuat dirinya bergairah.
"Kakak... apa yang kakak lakukan" suaranya gemetar, tangan Rey sudah mulai masuk ke dalam baju Kinan. menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya.
"panggil aku sayang! apa kau lupa?" masih tidak berhenti memberikan beberapa tanda di tubuh Kinan.
"Apa kamu takut?" tanya Rey ketika menyadari tubuh istrinya gemetar. Kinan mengangguk
__ADS_1
"aku menginginkan mu" lanjutnya
"tapi... tapi Kinan belum siap" ucapnya terbata
"tidak apa, aku akan menunggumu sampai kamu siap" Rey menghentikan aktivitasnya. membenarkan rambut Kinan yang masih basah berantakan
"apa... kamu tidak apa apa?" terbata Kinan khawatir suaminya itu akan marah. namun sepertinya tidak
"tidak... aku tidak akan pernah memaksamu" membelai lembut kepalanya.
"Terimakasih, sudah mau menungguku hingga aku siap" Kinan berhambur dalam pelukan Reynando, merasa beruntung karena suaminya masih bersedia menunggu dirinya.
"Apa kamu benar benar mencintaiku" pertanyaan yang terlontar setelah cukup lama mereka membisu
"kenapa masih di pertanyakan? apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Kinan, mencoba melepaskan pelukannya dan menghadap Reynando. namun Rey semakin mempereratnya, tak membiarkan Kinan beranjak satu sentipun dari dirinya.
"apa perlu alasan bagi seorang istri untuk mencintai suaminya sendiri?" jawab Kinan. membuat Rey tak bisa berkata apa apa lagi.
"Aku tidak mencintai mu karena alasan apapun, cinta yang tulus tidak pernah mempunyai alasan. Jika masih memiliki alasan itu berarti bukanlah cinta yang tulus, misalnya.. kamu mencintai ku karena kebaikan ku atau kelembutan ku. itu berarti kamu hanya mencintai ku dari itunya saja. tapi tidak sepenuhnya" jelas Kinan. Rey masih diam mendengarkan menghayati setiap penjelasan yang di berikan istrinya
"namun ketika kamu mencintai ku sepenuhnya dari hati" menunjuk bagian terletaknya hati di tubuh Reynando
"itu berarti kamu mencintaiku apa adanya, semua tentang diriku, entah itu kelebihan atau kekurangan ku, semua kau terima dengan tulus" Rey tercengang. yang di katakan istrinya semua benar. tidak butuh alasan untuk sebuah cinta.
"Apa yang kau butuhkan untuk mempertahankan cinta"
"kepercayaan. semua hubungan juga tidak akan bertahan lama jika tidak di landasi dengan sebuah kepercayaan pada pasangan mereka masing masing. begitu pula dengan cinta. kepercayaan adalah pondasi yang paling kuat di dalam segala hal" senyumnya terpancar cerah.
__ADS_1
"sepertinya aku harus belajar banyak hal tentang cinta pada mu" membelai kembali kepala Kinan
"apa kamu pernah mencintai, sehingga membuat mu begitu paham tentang cinta" Rey penasaran. perasaannya mulai gusar.
"pernah, bahkan sampai sekarang cinta itu tak pernah pudar" ucap Kinan
"Apa!!! kau masih mencintai orang lain ketika kau sudah bersuami" Rey sudah mendorong tubuh Kinan agar menjauh dari dirinya
"Sayang kamu apa apaan sih, baru saja aku katakan untuk saling percaya dan kamu malah menuduhku?" tanya Kinan
"lagian aku pernah mengatakan bahwa yang aku cintai orang lain?" lanjutnya
"Lalu siapa?" masih kesal
"dia tuhan ku, nabi ku dan orang tuaku" senyumnya mengembang di bibirnya
"tidak ada cinta yang paling tulus di dalam hidup ini kecuali Cinta Allah dan Rosulku juga Cinta orang tuaku"
"kenapa aku tidak ada di dalam bagian itu?" tanya Rey
"Apa kakak mencintaiku dengan tulus?" Kinan memperhatikan Suaminya yang masih diam seperti berpikir tentang pertanyaannya
"tidak perlu di jawab sekarang, aku yakin masih butuh waktu untuk benar benar menerimaku" Kinan memberikan senyuman pada Reynando yang terlihat seperti memiliki keraguan dalam dirinya
Rey benar benar terharu, pandangan hangat Kinan dan kelembutannya membuat dirinya sedikit semi sedikit mulai sadar. ternyata masih banyak hal yang tidak dia ketahui, terutama masalah yang sudah di jelaskan panjang lebar tadi oleh istrinya.
"Aku benar benar salah menilai mu" Rey meraih kembali tubuh istrinya, mendekapnya kuat dalam pelukannya
__ADS_1
"Maafkan aku, aku akan berusaha merubah diriku menjadi seseorang yang pantas untuk mu" Kini dia sadar ternyata ada seseorang setulus istrinya, bersyukur karena dirinya yang telah mendapatkan mutiara berharga tersebut.