
4 tahun yang lalu:
Saat semua orang sibuk menggumamkan kebangkrutan Ayah Alora yang membuatnya jatuh miskin hingga harus pindah sekolah. Gadis yang menjadi tokoh utama itu ditinggalkan, satu-persatu temannya pergi hingga ia benar-benar sendirian. Namun tidak ada yang bisa mematahkan semangatnya, ia tetap berjuang dan bertahan dengan tidak peduli pada apapun yang ia dengar ataupun lihat ataupun perlakuan buruk orang-orang padanya.
Alora baru berusia 15 tahun saat itu, namun ia susah bekerja mulai dari pulang sekolah hingga malam menyapa. Ditengah semua itu, satu-satunya orang yang ada bersamanya hanyalah Kiya yang mencoba mencerahkan kehidupan gadis itu dari gelapnya masa depan yang tak terlihat itu.
Suatu hari Steve dengan semua kelebihannya, pemuda itu datang memberi harapan pada Alora. Bertransformasi menjadi pemuda baik yang selalu membantu dan meringankan beban gadis itu. Selain itu, tidak perdah diduga alasan Steve mendekati Alora hingga menjadikannya pacar hanyalah karena taruhan semata. Mereka menjadikan Alora lelucon yang bisa dipermainkan dan ditinggalkan sesukanya hanya karena ia miskin.
Suatu hari, Alora sedang berjalan di lorong sekolah bersama Lia tanpa sengaja mendengar semua kebohongan itu dari balik dinding salah satu kelas.
"Guys bentar lagi melodrama bakal dimulai! Pasti seru lihat Steve sama cewe miskin itu putus! Hahah!" Suara seorang pemuda menggema di kelas itu.
Lia sontak menghentikan langkahnya ketika kalimat itu menusuk ke dalam telinganya. Tentu Alora ikut terhenti karena tangannya di gandeng Lia.
"Iya loe bener! Gua nggak nyangka cewe batu itu berhasil ditaklukkan Steve! Steve hebat juga bisa menang banyak dia! Taruhannya 2x lipat kan? Pasti banyak tuh Alora porotin Steve!" Suara lainnya yang saling menyaut.
"Pastilah! Namanya anak miskin pasti bakal langsung diterima cowo kaya yang datang! Ahhahah!" Semua ikut tertawa.
Lia yang memerah dan terlihat sangat marah langsung melangkahkan cepat kakinya mencari Steve.
"Lia loe mau kemana?" Teriak Alora yang hendak melangkah namun langkahnya terhenti saat kalimat lainnya terdengar.
"Tapi semua nggak bakal seru! Steve bilang dia bakal mundur dari taruhan itu karena udah suka beneran sama Alora! Gila banget nggak sih? Bisa-bisanya..."
Alora yang juga mendengar kalimat itu tetap memutuskan untuk berhenti berhubungan dengan Steve. Alora mengambil langkah berat dan tentu saja ia dengan mudah menemukan pacarnya itu.
"Hai sayang! Kamu udah makan?" Ucap Steve yang menunggu di lapangan sekolah sembari menunggu jam pelajaran olahraga tiba.
Alora datang ke hadapan Steve, tanpa ragu berkata,
"Gua mau kita putus!"
"Apa?" Pemuda itu tampak syok dengan bola mata yang melebar.
"Gua tau loe deketin gua cuman karena pengen menang taruhan! Ambil hadiah taruhan loe, dan anggap aja loe yang mutusin gua! Hubungan kita sampai sini aja!" Alora dengan sikap tegasnya.
"Lora! Gua bisa jelasin semuanya! Gua beneran suka sama loe!" Steve mencoba mengklarifikasi.
"Udah cukup! Dan makasih udah buat gua nggak akan bisa percaya sama orang lain lagi!" Gadis itu langsung meninggalkan pemuda yang terlihat frustasi itu.
"Dasar cewe miskin! Udah miskin sombong lagi! Nggak tau diri!" Teriak Steve yang tentu saja Alora masih mendengarnya.
Sejak saat itu, Steve berubah menjadi lebih kejam karena tidak terima dengan apa yang ia alami. Pemuda itu merasa harga dirinya hancur karena dicampakkan Alora yang miskin, walau yang orang lain tau adalah sebaliknya.
***
.
.
__ADS_1
Masa Kini:
Andi baru saja pulang dan seperti biasa ia menuju kamar adiknya, membuka pintu kamar itu lalu menuju kasur dan melempar tubuhnya ke ranjang dengan kasur empuk itu. Sedangkan Andre sedang memainkan jemarinya di atas keyboard laptopnya di meja belajarnya. Andre menghela berat nafasnya lalu berkata,
"Ke kamar loe sana! Ngapain sih loe ke sini ganggu aja!" Dahi Andre mengkerut namun masih menatap laptopnya.
"Sensi banget sih? Udah kayak cewe aja loe! Asal loe tau aja kamar loe nyaman banget, makanya gua aman di sini!" Sahut Andi.
"Kalo gitu kita tukaran kamar aja gimana?" Andre menoleh dengan wajah serius.
"Loe kenapa sih? Biasanya juga gua kemari nggak apa-apa!" Andi bangkit lalu hanya duduk di kasur itu.
"Gua pengen sendiri malam ini! Keluar sana!"
Andi keluar dari kamar itu dengan lesu. Di sisi lain Andre tampak menyimpan rasa kesalnya.
"Kenapa loe peluk Alora? Apa tujuan loe sebenarnya?" Batin Andre.
...
Keesokan harinya, Andre duduk di kursi di teras rumahnya sambil merenung. Tidak lama Andi keluar dan ikut duduk bersama adiknya dengan secangkir kopi hangat yang ia teguk lalu diletakkan di meja itu.
Weekend terasa sepi dan sendu dibalut beberapa kebenaran yang masih menjadi misteri.
"Loe nggak jalan bareng Lora?" Tanya Andi lalu kembali meneguk kopinya.
"Untuk apa loe nanyak?" Andre membalas pertanyaan lainnya dengan ketus.
"Kenapa? Biar nggak ada orang ketiga?" Andre bangkit dari kursi lalu menuju mobilnya dan berangkat pergi.
Andi hanya melirik adiknya lalu menghela berat nafasnya.
"Loe harus terus bersama Alora supaya dia punya alasan untuk tetap tinggal. Kalo dia benar-benar menyerah dalam hidupnya, gua juga nggak sanggup lihat loe larut dalam kesedihan."
...
Tujuan Andre tak lain hanyalah ia ingin menemui sang pacar, karena ia sangat ingin mengetahui semuanya dari Alora langsung. Namun, keanehan lainnya terjadi. Terlihat Alora bersama Beni dalam mobil itu menuju ke suatu tempat.
Untuk mencari tahu apa yang terjadi, Andre memutuskan mengikuti mobil mereka. Batin pemuda tampan itu semakin bertanya-tanya, "apa yang sebenarnya terjadi?" Namun, ia hanya bisa mengikuti alurnya seraya mencari titik temu yang benar.
Tibalah di sebuah gedung yang terdengar suara musik keras terputar. Sepertinya ini adalah tempat party. Alora turun dari mobil yang sudah diparkir oleh Beni. Begitupun Beni turun menyusul Alora lalu masuk ke gedung itu.
Andre juga memarkirkan mobilnya, lalu mengikuti kedua oknum yang menjadi targetnya. Memang benar sebuah party sedang berlangsung di sini. Alora dan Beni terlihat sudah punya tujuan yang mereka cari, karena keduanya tidak menikmati party, namun seolah mencari keberadaan seseorang.
"Akhirnya loe datang juga!" Suara itu mengalihkan perhatian tiga oknum asing dari pesta yang baru masuk itu.
"Hai Steve!" Sapa Alora santai dengan wajah datar. Beni yang tadinya di belakang Alora, kini mendekati Alora lalu berdiri di samping gadis itu.
"Wah loe bawa pengawal kali ini? Loe takut akan berakhir di kolam lagi kayak dulu? Loe tenang aja semua akan baik-baik aja!" Senyum sinis pemuda di depan mereka tergores begitu saja.
__ADS_1
Beni menatap dengan sorot tajam ke arah Steve.
"Kali ini apa?" Tanya Alora.
"Gua senang loe akhirnya datang di party birthday gua! Loe nggak mau ucapin selamat ke gua?" Steve dengan ocehannya yang tampak seperti seseorang yang sangat menginginkan perhatian.
"Happy birthday!" Suara serak basah terdengar dari balik bibir Beni dengan tatap tajam dan wajah datar itu layaknya robot yang telah terprogram.
"Bukan dari loe! Gua pengen dengar dari Alora!" Steve tampak tersenyum penuh harap. Namun Alora masih terdiam di tempatnya.
"Sesusah itu cuman buat ngucapin selamat?" Steve menaikkan suaranya hingga perhatian semua orang teralih padanya.
"Guys! Ini dia satu-satunya mantan gua yang paling miskin tapi songong! Apa yang bisa loe sombongin? Harga diri?"
"Happy birthday!" Ucap Alora masih tanpa ekspresi apapun.
Mata steve terbuka lebar, ia tidak menyangka apa yang ia dengar.
"Gua tau semuanya tapi tidak menyadari satu hal! Loe cuma butuh pengakuan! Dari semua sikap loe, akhirnya gua mengerti. Pesta mewah ini hanya karena loe ingin mengatakan gua bukan tandingan loe kan?"
"Steve, gua akui dulu gua salah.. dan loe memang kaya dan gua miskin. Tapi menginjak orang lain lebih salah apapun kastanya. Jadi tolong hentikan semua ini! Gua akan berusaha maafin loe!"
Kelopak mata Steve tampak beberapa kali berkedip agar tidak meneteskan cairan bening yang membendung.
Alora membalikkan tubuhnya lalu pergi begitu saja, begitupun Beni yang mengikuti di belakangnya. Sesampainya di mobil keduanya langsung menaiki mobil itu lalu melaju pergi
"Jadi loe datang cuman buat itu doang? Happy birthday?" Tanya Beni yang sedang mengendalikan setir mobilnya.
"Steve dari dulu kesepian! Dia punya harta tapi tidak dapat kasih sayang kedua orang tuanya yang hanya menyayangi abangnya. Gua tau rasanya sendirian, dan gua bisa mengerti rasanya," jelas Alora yang terdengar sendu.
"Tapi setidaknya dia punya harta!" Sahut Beni ketus.
"Iya sama kayak loe! Walaupun kesepian loe punya harta untuk dihamburkan! Jujur gua iri!" Alora menarik nafas panjang lalu menghelanya.
Beni melirik Alora sebentar, ternyata Alora memerhatikannya walau tidak pernah mengungkapkannya.
"Trus kenapa loe ajak gua bukan pacar loe?" Tanya Beni lagi.
"Itu..."
Di sisi lain, Andre masih mengikuti kedua oknum itu dengan mobilnya.
"Alora! Kenapa loe ajak dia? bukan gua! Sebenarnya apa arti gua bagi loe Al?" Ucap Andre terdengar sendu.
.
.
.
__ADS_1
Tbc