My Secret Alora

My Secret Alora
Old Story


__ADS_3

12 tahun yang lalu


Di sebuah aula gedung hotel mewah, tampak para pegawai Event Organizer sibuk menyiapkan makanan dan mengantarkan birhtday cake untuk seorang anak berusia 6 tahun saat 10 menit sebelum acara di mulai.


Tamu undangan satu-persatu masuk, begitupun dengan pemilik acara sudah sampai dan menunggu seluruh tamu datang. Anak yang berulang tahun itu adalah Andre yang saat ini sedang excited berdiri di balik birthday cake-nya bersama Andi yang berusia 10 tahun saat itu.


Lagu "happy birthday" pun terlantunkan secara suka ria. Andre meniup lilinnya dengan senyum cerah di wajahnya, ditambah pujian dari seluruh tamu undangan. Andre memang sudah terlihat tampan sejak dia kecil, jadi seolah pujian adalah makanan sehari-harinya, semakin dilihat semakin tampan apalagi ditambah senyuman manis itu.


Setelah acara puncak, pesta itu masih berlangsung. Bunyi nada dering ponselnya membuat Jeni keluar sebentar dari ruang itu untuk mengangkat telpon. Andi yang selalu bersama adik kesayangannya itu tiba saja harus ke kamar mandi.


"Wah Andre memang sangat tampan ya, mirip ayahnya" ucap seorang wanita muda lalu mencubit pipi mungil anak itu.


"Iya, tapi pak Erland mana ya? Kok nggak kelihatan di pesta ultah anaknya sendiri?" Sahut wanita lainnya.


"Sibuk mungkin, kan hari ini bukan hari libur"


"Jeni sama pak Erland buat acara semewah ini, tapi dua-duanya sibuk" kedua wanita tadi melangkah menjauh dari Andre agar anak itu tidak mendengar kata berikutnya dari mereka.


Namun, anak itu sangat tau dan sadar bahwa hidupnya memang beruntung namun dia kekurangan kasih sayang. Orang-orang yang datang padanya hanya datang memuji pesona wajahnya lalu pergi.


Tiba saja lampu seluruh ruangan itu mati sekitar 3 detik, sehingga seluruh gedung riuh. Setelah lampu hidup kembali, keriuhan yang disebabkan sebelumya masih belum usai, hingga tidak seorang pun yang menyadari bahwa listrik korslet yang perlahan mengeluarkan percikan api.


Saat api mulai membakar kain dekorasi dekat panggung utama yang tidak digunakan dalam acara itu, akhirnya alarm pendeteksi kebakaran berbunyi. Namun Api menyebar sangat cepat saat menemukan benda yang mudah terbakar.


Keriuhan memuncak, semua orang meraih tangan anaknya masing-masing untuk melarikan diri. Di balik kerumunan itu ada seorang anak yang ditinggal sendirian, dan tidak mengerti apa yang terjadi.


Andre mencoba berlari namun langsung terjatuh saat menabrak kerumunan itu. Jeni yang akhirnya menyadari keributan, wanita itu ikut panik mengingat kedua putranya ada di dalam.


Api semakin menyebar pintu masuk itu perlahan kosong, namun anak itu kakinya terluka karena saat menabrak tadi ia terjatuh lalu sebuah meja lain juga jatuh ke atas kakinya.


"Mamaaaaa..." teriakan itu terdengar hingga keluar ruangan, namun tidak terdengar hingga keluar hotel.


Andi yang habis dari kamar mandi di luar aula, langsung mencari-cari adiknya, namun tidak kunjung ia temukan.


Annira bersama seorang anak berambut pendek yang mengenakan setelan trainingnya, baru saja turun dari lantai 2 setelah mendengar bunyi alarm kebakaran dari kamarnya.


Teriakan seorang anak terdengar saat ia hendak keluar dari Lobby hotel itu.


"Lora lari ya nak! Keluar dari pintu itu" ucapnya lalu melangkah ke arah aula.


"Maaaah Lora takuut..!" Panggil anak itu, lalu mengikuti ibunya dari belakang.

__ADS_1


Annira langsung memasuki Aula, di dalam kepungan asap dan sebagian aula sudah terbakar, akhirnya ia menemukan anak kecil yang terus berteriak memanggil ibunya.


Gadis kecil berambut pendek itu tiba di pintu aula lalu mendapati api yang menyebar membuatnya semakin takut lalu berbalik berlari tanpa arah.


"Lora cepetan keluar dari pintu di sana!" Teriak Annira sembari berlari menggendong Andre yang menangis ketakutan.


Api dari atas mulai berjatuhan, asap pula semakin menjadi. Seolah pandangannya di tutup, wanita baik itu tetap berlari mengikuti Alora yang akhirnya menemukan pintu keluar. Namun karena kondisi paru-paru lemah, Annira merasa sesak dalam pelarian itu hingga akhirnya jatuh saat hampir berhasil keluar.


Alora yang sudah di luar berbalik saat mendengar suara terjatuh, namun ayahnya menariknya agar tidak masuk lagi.


"Paah.. mama paah!!" Rengek Alora yang pandangannya bulai buram di balut batuk-batuk karena terlalu banyak menghirup asap.


"Kamu tunggu di luar, biar papah yang masuk yaa!" Ucap pria itu lalu menemukan istrinya tergeletak pingsan bersama seorang anak yang sedang menagis sembari berteriak meminta tolong.


Pria itu menaikkan segera istrinya ke punggungnya lalu menggendong anak itu di delannya.


"Nak pegangan yang kuat yaa, om gak bisa pegangin kamu, jadi kamu harus rangkul kuat om ya!" Pria itu bangkit lalu mencoba berjalan secepat mungkin untuk keluar saat api itu hampir mencapai pintu keluar hotel.


Andi yang tadinya sudah ditarik ibunya keluar, masih merengek meminta masuk untuk menyelamatkan adiknya.


Mobil pemadam satu-persatu tiba, lalu dengan segera menyemprotkan fire extinguisher sementara beberapa petugas menyiapkan penyemprot air yang lebih besar.


Petugas yang bertugas menyelamatkan, akhirnya menemukan pria itu dan membantunya. Andre langsung dilarikan ke mobil ambulance. Sementara Alora berlari ke arah ayahnya sambil menagis.


Andi yang sangat bersyukur karena seseorang menyelamatkan adiknya pun mendekati mobil keluarga Alora. Namun mobil itu langsung berangkat walau ia mengejarnya dari belakang, tidak ada yang melihatnya.


Ketika takdir berkata lain, sebuah truk ugal-ugalan menabrak mobil keluarga Alora. Di tengah semua itu, Andi menyaksikan dua tragedi dalam waktu singkat.


Ambulance langsung tiba, yang harusnya ke hotel, namun langsung menyelamat kecelakaan itu.


...


Kedua orang tua Alora meninggal di tempat, hanya gadis kecil itu yang selamat dan koma selama 2 hari, namun kehilangan seluruh ingatannya. Sementara Andi juga berada di rumah sakit yang sama selalu menjenguk gadis itu di balik kaca pintu.


Sedangkan Andre juga menderita trauma saat mentalnya terguncang dalam ketakutan itu. Kondisinya juga buruk dan harus di rawat selama seminggu.


Sejak saat itu pula Andi terus mencari tau tentang Alora, dan selalu berusaha membantunya dari kejauhan.


*****


.

__ADS_1


.


Masa Kini


Dalam ruangan yang sama kedua remaja itu terbaring di ranjang yang berbeda. Lia yang terlihat sangat khawatir terlihat sangat panik menunggu di luar ruangan itu.


Andi akhirnya tiba sambil berlari karena sangat mengkhawatirkan kedua remaja di dalam sana. Pemuda bergelar abang itu langsung bergegas meninggalkan meetingnya, setelah menerima telpon dari Lia.


Lia yang sedang berusaha keras menahan tangisnya itu langsung memeluk Andi saat pemuda itu datang. Di sisi lain, tatap Beni juga terlihat khawatir walau ia hanya diam saja.


Tante Ina juga akhirnya sampai dan langsung bertanya "ada apa sebebarnya?"


"Tadi.. ke..ba..karan, Lora Andre di dalam..tolong.. Lia enggak.." gadis itu tidak bisa menyusun kata-kata dengan benar sehingga Beni harus turun tangan menjelaskan.


"Tadi bagian dapur Kafe terbakar akibat ketumpahan minyak gas yang dikira minyak goreng, jadi Alora dan Andre terjebak di dalam, akhirnya bisa keluar, tapi karena terlalu banyak menghirup asap mereka pingsan. Beruntung Kafe tidak terbakar seutuhnya karena pemadam cepat sampai" Jelas Beni.


"Kenapa mereka bisa terjebak di dalam? Padahal semua orang langsung lari saat melihat api" gumam Beni yang terdengar oleh Andi.


"Mereka punya trauma masing-masing terhadap api" sahut Andi dalam tatap sendu itu.


"Maksud kamu?" Tanya tante Ina.


Andi akhirnya menceritakan kisah menyedihkan itu, hingga satu-persatu bola mata meneteskan cairannya, kecuali Beni si es batu itu.


"Ya ampun, Aloraa.." tante Ina tidak mampu menahan tangisnya.


"Jadi saya yakin serangan trauma itu yang membuat mereka seolah terjebak dalam lingkarang masa lalu itu" sambung Andi.


...


"Asap yang terhirup dapat menyebabkan peradangan saluran napas dan menyebabkan kondisi paru-paru seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik, tapi kalian tidak usah khawatir perlahan kondisi pernafasan mereka membaik" Jelas dokter yang baru keluar dari ruangan itu.


Sementara itu, Andre perlahan membuka matanya, pandangannya yang kabur perlahan jelas. Ia mendapati ruangan putih yang tidak asing lalu menatap infus dan alat pembantu pernafasan yang terpasang padanya.


Pemuda itu akhirnya menemukan seseorang yang terbaring di ranjang lainnya ruang itu.


"Terimakasih Alora.." batin Andre lalu menutup matanya


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2