My Secret Alora

My Secret Alora
Aneh


__ADS_3

Gemerincing suara pintu Kafe terbuka saat gantungan lonceng di pintu itu tersentuh. Langkah kaki yang tampak berat dengan nafas terengah kelelahan. Gadis dengan setelan training di lapisi hoodie bertudung untuk menutupi kepalanya. Alora yang datang ke kafe karena mencari Andre.


Gadis itu tau dari Beni bahwa Andre ada Kafe itu.


Alora menuju ke arah Andre lalu memeluk pacarnya itu. Sikap aneh Alora yang terlihat janggal seperti bukan dirinya.


"Gua kangen sama loe!" Ucap Alora lalu melepas peluk itu.


Andre dengan ekspresi tidak percayanya agak tercengang.


"Ben gua pesan es cappucino..." ucap Alora agar beni pergi dari meja itu.


Alora kembali bersikap aneh dengan memeluk lengan Andre dan bersandar di bahu pemuda tampan itu, seolah ia ingin memberitahu ke semua orang "dia milik gua!"


Semua tatap yang mengarah padanya di pelototi satu-satu, entah apa yang merasukinya.


"Loe kemana aja sih gua cariin?" Tanya Alora usai Beni pergi dari meja itu.


"Loe cariin gua kenapa?" Andre denga  nada lembutnya.


"Kenapa loe nggak angkat telpon gua?" Alora memasang wajah cemberut lalu Andre mengecek hpnya.


"Sorry sayang! Hpnya mode hening karena kemaren gua ada kelas jadi lupa setting balik! Maafin ya!"


Mood Alora tiba saja berubah, yang tadinya ceria, saat ini kembali ke dirinya yang dulu.


"Okedeh!"


Beni kembali ke meja itu bersama pesanan Alora. Ketiga oknum itu dilanda keheningan karena larut pada pikiran masing-masing.


"Gua nggak cocok ya?" Pertanyaan yang terlontar tiba-tiba dari balik bibir Alora.


"Apanya?" Tanya Beni. Andre juga ikut menunggu jawaban.


"Alora mode ceria! Yang barusan gua praktekin! Kok Lia bisa tahan ya? Capek banget! Menguras banyak energi!"


"Apaan sih loe nggak jelas tau nggak?" Sahut Beni lalu kembali memainkan hpnya.


"Emangnya ada apa? Kenapa loe mau mencoba mengubah diri loe?" Tanya Andre.


"Gua takut loe bakal bosan lama-lama sama gua! Coba jawab jujur loe betah nggak sama gua yang diam seharian?" Pertanyaan kembali muncul dari mulut gadis itu.


Memantapkan tatapnya pada gadis di sisinya itu lalu menjawab.

__ADS_1


"Gua suka loe apa adanya! Kalo loe diam terlalu lama, gua bakal cari topik buat kita ngobrol! Atau kita bisa saling diam-diaman sambil terus sama-sama kayak gini! (Merangkul bahu Alora) Aku suka!" Andre memiringkan kepalanya ke arah kepala Alora yang ditutupi hoodie itu karena gemas.


Beni dengan tatap tajam dan menyesal berada di sana.


"Ekhem... gua nggak minat drakor unyu-unyu, tolong kondisikan!" Suara berat itu keluar dari mulut Beni yang terlihat agak kesal.


"Yaudah kita pulang yuk!" Ajak Andre lalu merekapun pulang sambil jalan kaki menikmati pemandangan di area lingkungan tempat tinggal mereka.


...


Quality time yang menyenangkan bersama orang yang di sayang walau hanya berjalan pelan menyusuri jalan, yang tanpa sadar sudah sampai tujuan.


Di depan pagar rumah Alora, Andre tampak enggan melepas genggamannya di sela-sela jari gadis itu walau sebenarnya ia harus segera pulang.


"Mau masuk dulu?" Tanya Alora sambil menatap penuh pacarnya.


"Gua harus pulang soalnya bg Andi..." kalimat Andre terhenti saat kecupan berdurasi 3 detik mendarat di pipinya.


Andre yang mematung di tempatnya dan Alora yang bergegas melepas tangannya dari genggaman Andre untuk masuk kerumahnya karena merasa malu.


"Bye! Be careful baby!" Ucap Alora sembari tersenyum lalu berlari ke dalam rumahnya.


Andre akhirnya tersenyum sambil menyentuh pipinya lalu pulang.


Andre masih belum menyerah, pemuda tampan itu masih mencari jawaban mengapa Alora tidak bergantung padanya. Pemuda itu duduk di bangku meja belajarnya sambil termenung. Namun, tentu saja ia tidak akan dapat jawaban jika hanya duduk diam. Pemuda itu .emutuskan untuk berkunjung ke kamar abangnya malam ini.


Kamar gelap yang baru ia buka pintunya itu tampak terlalu rapi untuk menjadi kamar yang ditempati. Andre mencari tombol lampu lalu menyalakannya. Terdengar suara air dari kamar mandi kamar itu, menandakan Andi sedang mandi.


Andre mendaratkan pinggulnya di kasur itu lalu menatap sekelilingnya. Kamar ini terlihat sangat kosong hanya ada meja, bangku dan lemari serta kasur.


Andi akhirnya keluar dari kamar mandi, namun dikejutkan oleh Andre yang tiba saja berada di kamarnya.


"Loe nagapin ke sini?" Tanya Andi.


"Emang nggak boleh? Loe yang tiap hari numpang di kamar gua boleh?" Sahut Andre.


"Hehe! Itu mah lain!" Andi yang cengingisan lalu membuka lemarinya untuk mengambil bajunya.


"Kok kamar loe kosong banget sih? Kek nggak ada tanda-tanda kehidupan!" Tanya Andre.


"Gua terlalu sibuk, nggak sempat menata kamar! Lagian gua harus selesaikan masalah loe kecelakaan kemarin!" Sahut Andi sambil melanjutkan aktivitasnya setelah mandi.


"Steve bakalan di tangkap kan?" Andre mencoba memastikan.

__ADS_1


"Nggak lah! Emang Alora nggak bilang sama loe? Dia bakal nyelesaiin semua kekeluargaan tanpa merusak reputasi siapapun!" Sahut Andi.


"Iya!" Andre mengiyakan supaya Andi meneruskan bercerita tentang Alora. Walau ia tiba saja teringat momen Andi meluk Alora dalam mobil hari itu.


"Loe pasti juga udah tau kan? Kalo Steve sebenarnya mantan Alora! Dan berakibat Alora berhutang sama cowo itu hanya karena ingin semua pemberiannya dulu dikembalikan!"


"Iya!" Andre masih melalukan trik yang sama walau ia merasa sangat kesal ia harus tau hal itu dengan cara seperti ini.


"Gua pengen loe terus di sisi Alora supaya dia merasa aman dalam hidupnya!"


"Iya!" Lagi-lagi jawaban itu dari mulut Andre.


"Iya-iya! Aja terus! Loe sebenarnya sayang nggak sih sama cewe loe?" Tanya Andi dengan mode serius lalu melirik Andre di kasurnya.


"Kok loe bilang gitu?" Andre menahan rasa kesalnya.


"Gua lihat Alora malah sering bareng Beni belakangan ini!" Sahut Andi.


"Loe urus aja cewe loe yang penguntit!" Sahut Andre yang sudah sangat kesal lalu keluar dari sari sana setelah menghantamkan pintu itu dengan kasar.


...


Keesikan harinya, Andre tampak mencari seseorang, bola matanya yang menerawang ke setiap sudut begitupun kepalanya yang mengikuti arah pandangannya. Pemuda dengan pakaian serba hitam hari ini disertai topi hitam yang sedikit menutupi wajah tampannya.


Oknum yang dicari akhirnya terlihat, seorang pemuda dengan alis tebal tampak berjalan santai pagi itu menuju kelasnya. Tentu saja Andre tidak tinggal diam di tempatnya ia langsung mendekati pemuda itu lalu berkata


"Ikut gua!" Andre menuju belakang gedung fakultas agar terhindar dari keramaian.


Sesampainya di sana,


"Apaan nih? Siapa loe? Berani banget perintahin gua buat ngikutin loe!" Steve yang memprovokasi kesabaran Andre yang hampir tidak ada.


Bhuk! Dubraaak!


Steve terjatuh ke lantai, akibat kesabaran Andre terkuras habis.


...


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2