My Secret Alora

My Secret Alora
Kembali Lagi Seperti Semula


__ADS_3

"Saya di sini cuman untuk mengajak Fathia bersama saya!" Ucap Herman Lagi yang membuat kedua oknum lain di sana melebarkan bola matanya.


"Maksud kamu apa Herman?" Tanya Dwita lagi yang tampak khawatir.


"Saya ingin Fathia tinggal bersama saya dan Beni!"


"Apa?" Fathia tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Saya sudah kehilangan Fathia selama 15 tahun lamanya, selama ini saya menrindukan anak saya, saya coba mencari namun tidak ada yang dapat saya hubungi, pencarian saya sia-sia. Di saat saya sudah menyerah, ternyata Beni yang menemukan adiknya!" Jelas Herman panjang kali lebar.


"Tapi Fathi nggak bisa meninggalkan mamah untuk tinggal bersama bapak! Fathi nggak bisa! Siapa yang akan jagain mamah kalo Fathi pergi?" Gadis itu menolak keras.


"Nak! Fathia... kamu ikut ayah kamu ya!" Ucap Dwita.


"Mamah apaan sih? Fathia nggak mau!" Gadis itu terus menolak apapun yang terjadi.


"Kamu nggak rindu kasih sayang ayah kandung kamu! Bersama Herman hidup kamu akan lebih baik dari lada bersama mama di sini! Coba lihat koper itu!" Dwita menunjuk ke sebuah koper berisi baju gadis itu yang tampak berantakan.


"Kita nggak punya rumah! Mama nggak punya tempat tinggal selain di sini nak! Kamu nggak bisa terus tinggal di rumah sakit, lama-lama kamu juga bisa ikut sakit di sini! Kamu ikut ayah kamu, kamu juga bisa jenguk mamah kapanpun kamu mau ya!" Jelas Dwita mengingat nasibnya yang begitu menyedihkan.


"Tapi mamah akan tidur sendirian kalo nggak ada Fathi mah! Fathi tetap mau tinggal bareng mamah di sini!" Gadis itu masih ngotot.


Herman yang menahan cairan bening yang akan mengalir dengan berkedib berkali-kali. Pria ini tidak menyangka anaknya begitu tidak menginginkan dirinya.


"Nggak apa kok! Saya ditolak maka saya akan pergi saja!" Herman tampak sedih lalu membalikkan tubuhnya untuk pergi.


"Tunggu mas! Fathia akan ikut kamu!" Dwita tidak bisa membiarkan anaknya melewati kesempatan besar ini.


"Fathia! Dengerin kata mamah! Mamah nggak apa di sini, lagian besoknya kamu akan datang juga kan? Mamah nggak akan kesepian, lagian kapan kamu pernah ada di sini? Kamu malah sibuk kerja siang malam! Dengan tinggal bersama ayah kandung mu, Fathi nggak perlu kerja lagi! Paginya Fathi bisa sekolah yang bener, siang ke sini dan malamnya Fathi bisa tidur dengan nyaman. Kesehatan Fathi yang paling penting bagi mama nak, tolong ikut ayah Fathi yaa!" Cairan bening sudah beberapa kali mengalir begitu saja di wajah wanita yang tampak pucat dan infus di tangannya itu.


Wanita itu bangkit dari duduknya lalu membereskan koper anaknya, lalu memberikan koper itu lada Herman. Sedangkan Fathia diam saja karna merasa kesal.


"Tolong jaga Fathia ya mas!" Ucap Dwita lalu ia menghampiri Fathia.


"Nak, ini yang terbaik buat kamu! Pergilah ya!" Ucap Dwita dengan lembut.


Fathia langsung keluar ruangan itu dengan sedikit amarah yang ia tahan.


"Kalau aja kamu juga sebaik itu sama Beni dulu! Dia nggak akan hidup seperti itu!" Kata Herman lalu keluar dari ruangan itu dan tentu saja Fathia juga mendengar kalimat terakhir ayahnya.


...


Fathia akhirnya sampai di rumah ayahnya yang besar dan mewah dan segala fasilitas yang dibutuhkan ada.


"Bibiii! Kamu di mana?" Panggil Herman yang tak lama Wanita yang agak tua itu menghampiri tuannya.


"Bik, udah siapin kan kamar buat Fathia?" Tanya sang tuan.


"Iya tuan, semua sudah beres sesuai perintah tuan!" Sahut Bibi.


"Yaudah ayo kita ke kamar kamu! Papah akan antar kamu!" Ucap Herman lalu menuju ke kamar itu.


"Ini kamar kamu! Bersebelahan sama kamarnya Beni, yang itu kamarnya Beni! Ayo kita masuk!" Ucap Pria paruh baya itu saat berada di depan daun pintu itu, sedangkan Fathia hanya diam saja dan mengikuti sambil melirik kanan kiri karena dialihkan oleh kemewahan rumah itu.

__ADS_1


"Semoga kamu betah ya di sini! Simpan barang kamu dulu ya, kamu bisa keliling ditemani bibi, papah harus ke kantor dulu sekarang!" Herman keluar dari kamar itu begitupun Fathia yang juga ikut keluar.


Bersamaan pula Beni yang baru bangun keluar dari kamarnya.


"Bik, gausah buatin sarapan aku nggak akan makan... apanih? Kita ada tamu?" Ucap Beni ketika melihat bibi dan tiba saja melihat Fathia ada di rumahnya.


"Dia adik kamu Ben!" Sahut Herman dengan lembut.


"Good luck deh! Gua nggak peduli! Oya bik, jangan buat sarapan, mubazir aja kalo nggak ada yang makan!" Ucap Beni lagi.


"Makanya nak Beni makan dong! Udah bibik buatin tuh! Semalam juga nggak makan kan? Kalo gitu terus kamu bisa sakit loh!" Ucap Bibik yang khawatir.


"Tenang aja, bik! Nanti aku makan di luar aman ya bik! Oh bentar, kasih ke dia aja kalo udah terlanjur buat ya bik!" Ucap Beni lalu kembali ke kamarnya.


Begitupun Herman yang sudah dari tadi pergi. Fathia kini masuk ke kamarnya yang besar dan nyaman itu. Ia mendapati Fotonya saat bayi bersama ayahnya dan Beni.


"Si Beni memang dari dulu nggak bisa senyum keknya!" Ucap Fathia saat melirik Beni di foto masa kecilnya.


"Tapi apa yang terjadi sama Beni dulu ya? Apa separah itu?" Gumam Fathia yang bertanya pada angin.


Usai di kamar, Fathia keluar lalu mendapati Beni yang sedang memakai sepatunya. Lalu pemuda itu mengambil kunci mobil dan pergi.


Gadis itu melihat sekelilingnya penuh dengan barang mewah dan nyaman. Tak lama ia menghela nafas berat lalu duduk di sofa empuk ruang tamu.


"S*al! Kenapa di sini nyaman banget?" Batin Fathia lalu menyenderkan tubuhnya pada sandaran Sofa dan terdiam.


Tak lama, Bibi kembali datang dan menawarkan sarapan. "Non! Makan dulu yuk! Sayang makanannya terbuang!"


"Bik, kenapa Beni nggak mau sarapan?" Tanya Fathia usai mengunyah lalu meminum air putih di depannya.


"Nak Beni benci diperhatikan, dia suka menyendiri sejak kecil dan menolak perhatian apapun, tapi dia kadang-kadang menerima perhatian itu makanya bibi tetap buat sarapan. Dulu katanya makanan rumahan mengingatkan dia pada wanita itu, bibik nggak atau apa yang terjadi tapi semua yang berhubungan dengan sebutan wanita itu membuat dia jadi pemberontak dan pemarah, tapi dia baik kok!" Jelas Bibik lalu kembali ke dapur karena pekerjaan.


"Wanita itu? Apa maksudnya adalah mamah ya?" Batin Fathia.


"Eh tapi! Gua masih kesal mamah maksa gua buat tinggal di sini!"


***


.


.


Cuaca cerah membuat siapa saja ingin berpergian, namun tidak dengan para mahasiswa, walaupun ingin pergi, tugas mereka yang dikejar deadline menumpuk meminta dikerjakan. Kehidupan kampus yang terasa menyenangkan sudah mulai memudar bagi mahasiswa semester tiga yang dijatuhkan tanggungjawab yang lebih banyak dari sebelumnya. Yang benar cara menjalaninya adalah jalanin saja semua akan berakhir sendirinya, bagaimanapun sulitnya proses itu nikmati saja.


Mahasiswa kelas akuntansi, selalu disibukkan dengan jurnal debet kredit (anak akuntansi akan paham ribetnya) yang membuat mereka harus memahami buku lagi dan lagi agar jurnal transaksi yang akan diinput dalam setiap kasus yang diberikan sesuai. Apalagi kalau tidak balance maka bukannya dapat nilai buat neraca, tapi malah neraka. Jokes yang membuat darah panas dingin itu agak ngeri memang.


Alora keluar dari perpustakaan lalu menemukan Andre yang sudah berdiri di depan sana untuk menunggunya. Tentu saja ia langsung melarikan diri bersama pacarnya dan bersikap manis manja di depan mata Beni yang juga berdiri di sana.


"Ben! Kami duluan ya!" Ucap Andre menoleh ke arah Beni. Alora melambaikan tangannya ke arah Beni sambil tersenyum. Namun, Andre menarik tangan Alora dan menjepit pipi Alora dengan kedua tangannya hingga bibir Alora jadi manyun.


"Kenapa?" Alora membelalakan matanya yang terlihat imut dengan ekspresi itu.


"Jangan melambai ke cowo lain apalagi sambil senyum!" Ternyata Andre mode cemburu on xixi.

__ADS_1


"Udah nggak usah pamer mesra di depan gua! Pergi sana!" Ucap Beni lalu menuju meja batu dekat perpustakaan. Lagipun ia sedang malas pulang ke rumah.


Beni tampak duduk sendirian di meja batu dekat perpustakaan itu sambil memperhatikan sekitarnya. Dia aman dan tenang sendirian, seakan dunianya sempurna. Namun tiba saja seorang gadis duduk di sisinya mengacaukan zona nyamannya.


"Tanggung jawab loe!" Desak Lia yang baru datang.


"Apaan?" Beni melepas earphone dari telinganya menatap Lia yang tampak marah.


"Tanggung jawab loe! Gara-gara ngikutin saran loe dan nyaranin saran loe ke kak Andi gua jadi nggak jelas gini!" Oceh Lia yang sangat merasa dirugikan.


"Apaan sih? Nggak jelas loe!" Beni hendak memakai kembali earphone-nya namun ditahan Lia dengan tangannya.


"Loe harus bantuin gua! Kak Andi nembak gua tapi gua bukannya langsung jawab iya, gua malah merasa belum siap pacaran sama kak Andi, seolah dunia kami itu beda! Ini gara-gara ngikutin saran loe!" Lia yang ngotot.


"Duh ni cewe ribet banget! Loe tinggal temuin kak Andi loe! Dan bilang iya! Muda banget tau!" Saran lagi dari Beni si bijak.


"Tapi gua bukan loe! Bagi gua nggak semudah itu!" Lia kini memasang raut cemberut.


Gadis itu menatap Beni yang kini bermain game di hpnya. Jika dilihat-lihat Beni terlihat keren dengan wajah tampan itu, namun sifatnya yang tertutup membuatnya sangat sulit di dekati oleh siapapun kecuali orang yang dipilihnya sendiri.


"Apaan loe liatin gua gitu? Awas jatuh cinta loe!" Ucap Beni yang masih sibuk dengan hp nya.


"Dih! Cewe mana yang suka setelah tau sikap loe gitu!" Sahut Lia.


"Itu! Di dekat perpustakaan banyak cewe yang lirik-lirik ke sini, mungkin mereka lagi iri sama loe, karena bisa dekat sama gua!" Ucap Beni yang tidak dihiraukan Lia.


"Eh bentar! Kapan loe sama gau dekat? Perasaan yang gua dekatin nya Alora, kok malah dekat sama loe sih?" Ucap pemuda itu.


"Itu cuman perasaan bukan kenyataan makanya sadar! Alora tuh pacar orang!" Ucap Lia yang kesal setiap mendengar Beni mengejeknya.


Tiba saja Beni mengarahkan tubuhnya ke arah Lia sangat dekat, sehingga gadis itu ikut reflek menghindar dengan menjatuhkan tubuhnya ke belakang hingga hampir benar-benar terjatuh. Untung pemuda di delannya itu meraih pinggangnya hingga punggung selamat dari terjungkal ke belakang.


Namun, menatap Beni yang berjarak 5 cm dari wajahnya membuat jantungnya berdebar kencang. Walau hanya seorang dengan sebutan psyco, Beni sebenarnya seorang Hero berkedok psyco. Pemuda itu selalu menolong dengan caranya yang unik.


"Kenapa? Loe jadi nyaman? Kalo gitu jadian sama gua aja yuk!" Beni melempar senyum tampannya lalu menyeringai dengan nakal.


Lia dengan segera bangkit dan membuang tatapnya dari Beni lalu merqpikan pakaiannya.


"Jadian sana! Jangan gangguin gua!bukannya kabar bagus Andi akhirnya nembak loe? Yang loe harapin jadi kenyataan, sekarang udah selesai! Tinggal jadian dan loe udah nggak butuh saran lagi!" Ucap Beni sembari memainkan hp nya.


"Yang dikatakan Beni semua benar! Terus apa yang menahan gua ya?" Batin Lia laku mengambil tasnya dan pergi.


Saat Lia pergi, Beni mengangkat kepalanya dan meletakkan hp nya, ia menatap punggung Lia yang menjauh darinya.


"Akhirnya gua berakhir sendirian seperti semula!"


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2