
Beni dengan kasih sayang terpendam jauh dari lubuk hatinya, pemuda itu hanya memasang topeng angkuh yang ia jadikan tameng untuk bertahan hingga membentuk karakter psyconya. Kali ini pemuda tampan itu menjalankan misi sebagai anak berbakti lagi, dengan membayar biaya rumah sakit ibunya yang bagaimanapun dia masih membencinya tapi hati kecilnya menolak melihat wanita itu menderita.
"Tagihan atas nama Dwita sudah dibayar sampai minggu depan!" Ucap petugas administrasi rumah sakit yang membuat kedua oknum di depannya tercengang.
"Apa?" Tanya mereka bersamaan.
"Siapa yang bayar?" Tanya Fathia yang takut akan mengalami masalah lainnya.
"Saya yang bayar!" Suara itu terdengar dari arah belakang mereka membuat keduanya berbalik untuk menatap orang itu.
"Papah?" Beni dengan nada kesal yang ia keluarkan.
"Apa? Papah?" Tampak wajah polos Fathia yang belum mengenal wajah ayah kandungnya sejak kecil, yang ia tau ayahnya adalah ayah tirinya.
"Jadi ini bos besar? Bapak adalah ayahnya Beni?" Tanya Fathia yang mencoba bersikap sopan karena merasa dia sedang berhadapan dengan bos Kafe tempat ia bekerja.
"Iya saya ayahnya Beni!" Sahut Herman lembut dengan nada agak sendu.
"Tapi kenapa bapak bayarin biaya rumah sakit ibu saya? Saya tau ibu saya adalah mantan istri bapak, tapi kan bapak dan ibu saya sudah bercerai sejak lama..." kalimat gadis itu terhenti saat fakta itu menyerang masuk ke telinganya.
"Karna saya ayah kamu juga! Kamu anak saya! Fathi.. apa kamu nggak ingat sama papah?" Kata Herman terdengar sendu.
Di sisi lain, gadis itu masih tidak bisa menerima kenyataan yang baru saja ia dengar.
"Apa? Nggak! Nggak mungkin! Papah saya adalah papa nugroho, bukan bapak! Saya nggak percaya!" Gadis itu menyangkal dengan segala fakta yang ia punya dan anggap benar.
"Tapi kamu memang anak saya! Dwita dan saya bercerai saat dia meninggalkan saya dan saat itu usia kamu dua tahun nak! Wajar memang jika kamu menganggap suami baru ibumu sebagai ayahmu, tapi kamu anak saya!" Herman mencoba meyakinkan anak gadis nya itu.
"Apaan sih? Loe sengaja jebak gua ya Ben? Kalian berdua sengaja mau jebak aku? Jadi ini tujuan awal loe kasih kerjaan buat gua Ben?" Fathia juga tampak emosi dan masih menyangkal dengan segenap tenaganya.
"Apaan sih loe? Gausah nuduh-nuduh! papah juga apaan sih? Maksa banget! Kalo dia nggak mau jadi anak papah yaa biarin aja! Lagian ngurus satu anak kayak aku aja udah susah kan pah? Apalagi dua orang!" Ucap Beni dengan sedikit fakta dan tau bahwa dirinya menyusahkan.
"Diam kamu! Atau papah blokir lagi kartu kredit kamu sama atm juga! Kamu nggak akan mengerti karna belum jadi orang tua!" Sahut Herman.
"Yaudah!" Beni pergi menjauh untuk mengamankan asetnya yang sewaktu-waktu menghilang lagi darinya jika terlalu ikut campur.
__ADS_1
"Fathi... kamu anak papah nak!" Kalinat Herman lembut lalu membuka tangannya untuk memeluk anaknya itu.
Namun, Fathia yang terus menyangkal malah menggelengkan kecil kepalanya lalu berlari pergi. Karena gadis itu pasti syok belum bisa menerima apa yang barusan ia dengar, Herman menghentikan tindakannya agar gadis itu dapat menenangkan diri dan menjernihkan pikirannya.
...
Di sisi lain, Fathia berlari ke ruangan inap ibunya lalu memeluk erat ibunya yang sedang duduk termenung di ranjang rumah sakit itu.
"Fathi.. kenapa nak? Ada apa? Kok anak mamah nangis?" Tanya Dwita pada anaknya.
Gadis itu melepas peluk mamahnya lalu menatap wanita paruh baya yang terlihat pucat dan mengenakan seragam rumah sakit itu. Awalnya Fathia tampak ragu bertanya, namun bukankah setiap keraguan harus ditanyakan agar tau kebenarannya?
"Mah, papah Fathi..di mana?" Tanya gadis itu dengan pertanyaan umum.
"Mamah nggak tau nak, dia ada di mana! Sepertinya ini karma, dia ninggalin mamah seperti mamah ninggalin papah kam... maksud mama seperti mama ninggalin suami mama yang dulu papahnya Beni!" Kalimat wanita itu sempat tersentak namun tetap melanjutkan kalimatnya yang sendu itu.
"Ayah aku adalah...om Herman mah?" Fathia memperjelas pertanyaan nya.
Dwita tampak tercengang, selama ini dia tidak pernah memberitahu kan apapun pada anak gadisnya itu.
"Bukan kan mah? Aku anaknya papah Nugroho kan?" Fathia masih memberikan sedikit penyangkalan bahwa harapannya lah yang benar.
"Kamu anaknya Herman, memang benar nak! Dulu mamah bawa kamu pergi saat usia kamu dua tahun! Maafin mamah ya Fathi.. dulu mamah adalah istri orang tua yang buruk, mamah ninggalin ayah kamu karena dia jatuh miskin dan memperlakukan kakak kamu dengan buruk. Beni... nggak pernah aku sayang.. yang ia terima cuman tatap amarah dariku! Itulah kenapa dia benci sama mamah! Mamah menyesali semua perbuatan mamah sekarang!" Dwita menjatuhkan tiap aliran carian bening dari matanya membasahi selimut yang menutupi kakinya.
"Tapi udah terlambat mah! Kenapa mamah tega? Mamah nutupin semuanya dari Fathi.. dan.. " gadis itu sangat terpukul memilih bangkit dan pergi dari ruangan itu.
"Sudah saatnya kamu tau nak! Mamah bukanlah orang yang baik!" Dwita masih melanjutkan monolognya dengan cairan bening itu terus mengalir.
Di sisi lain, Beni yang suka mencari fakta dengan menguping tentu saja mendengar semua perkataan ibunya. Pemuda itu menatap tajam dari balik daun pintu ruangan itu lalu pergi. Tampaknya lukanya masih terlalu dalam untum menghapus kebenciannya.
***
Keesokan paginya, Lia turun dari bus di depan gerbang kampus mereka. Tanpa sengaja bola matanya menemukan Beni yang bari turun dari mobilnya di parkiran fakultas mereka saat Lia sedang berjalan menuju fakultasnya sendiri.
"Tuh cowo rajin juga! Tapi kenapa mukanya kusut banget gitu?" Lia menghampiri Beni dengan Berlari ke arah Beni hingga menghentikan langkah pemuda itu.
__ADS_1
Saat ada yang menghentikan langkahnya tentu sorot tajam yang pertama kali Beni pasang. Lia menatap Beni yang terlihat menakutkan itu.
"Omg! Jantung gua! (Lia Mengelus dadanya karena terkejut)" gadis itu tampak menyesal sudah datang menyapa.
"Ada apa?" Tanya Beni dengan wajah yang masih cemberut itu.
"Kemarin loe ada lihat kotak pensil gua nggak? Yang isinya pulpen sama atk lainnya gitu! Barang kali kebawa bareng buku loe kemaren? Ada nggak?" Tanya Lia.
Pemuda itu merogoh tasnya lalu mengambil barang yang di maksud Lia dan menyerahkannya ke gadis itu.
"Kan benar! Pasti kebawa sama loe! Thanks ya! Capek banget gua cariin satu rumah..." kalimat Lia terhenti saat Beni langsung pergi dengan berkata,
"Gua masuk dulu!" Melangkahkan kakinya lalu terhenti lagi saat Lia menghentikannya.
"Eh tunggu! Btw Alora masih hidup dan dia baik-baik aja! Kemaren loe nyuruh gua cari tau!" Lia mengatakan apa yang membuatnya agak terganggu sambil hanya menatap punggung Beni yang berdiri di depannya.
"Dan satu lagi! Jangan mengatakan hal buruk seperti itu lagi? Jangan menanyakan pertanyaan menakutkan itu lagi! Apalagi tentang Alora!" Ucap Lia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi.
Beni berbalik menatap gadis itu yang berjalan menjauh darinya. Tiba saja ia menemukan Alora dan Andre yang baru tiba.
"Hai bestie! Liaaaa!" Panggil Alora ketika melihat sahabatnya itu.
"Omooo Loraa!" Lia memeluk Alora beberapa detik lalu melepasnya.
"Loe kok bisa di sini?" Tanya Alora di mana Andre berdiri di sampingnya.
"Tadi gua mau ambil kotak pensil gua ketinggalan sama Beni pas jadi mentor!" Lia menunjuk ke arah Beni yang menatap mereka, sehingga Alora dan Andre juga ikut menatap pemuda itu.
"Mereka akhirnya bisa tersenyum saat Alora kembali memilih hidup, tapi kapan gua juga bisa tersenyum karena memilih hidup?" Batin Beni sembari menatap ketiga oknum di depannya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc