
Malam, aku paling takut kegelapan tapi dunia tidak memberiku peluang dan terus menyerang memaksaku menghadapi kegelapan yang lebih parah. Hal paling kuinginkan? Bolehkah aku menyerah saja?
...
.
.
.
Alora sedang mengernyit dalam tidurnya, seluruh tubuhnya panas dan juga menggigil di waktu bersamaan. Demam menyerangnya lagi, setiap mimpi buruk itu datang selalu disusul oleh rekannya. Gadis itu terbangun dengan nafas terengah-engah.
"Mimpi itu lagi? Kenapa aku terus memimpikan kecelakaan itu?" Batin Alora lalu berusaha bangkit dengan tubuh lemah itu. Tubuh kurus itu saat ini terasa lebih berat dari biasanya.
Gadis itu menuju jendela lalu membuka tirai memberi ruang agar cahaya matahari pagi masuk. Helaan berat nafas berkali-kali ia lakukan. Wajah pucat dan langkah berat, ia mengambil uang dan ponselnya di masukkan ke dalam saku kardigan yang telah ia pakai. Kemudian ia mengambil kunci rumah dan keluar untuk membeli obat. Karena sudah terbiasa sendirian, gadis itu melupakan cara termudah yaitu meminta bantuan orang terdekatnya untuk membeli obat.
Tenti saja, ia menuju apotik terdekat lalu membeli obat deman agar panasnya turun. Setelah dari Apotik, ia menuju minimarket membeli air mineral dan langsung meminum obatnya di tempat itu. Kelapanya agak terayun, pandangannya juga mulai buram bahkan setelah ia mencoba mengedipkan matanya beberapa kali tetap dunia terlihat masih buram baginya.
Gadis dengan seragam training itu memaksakan diri untuk pulang walau dengan berjalan agak sempoyongan, namun menahannya. Menurutnya ia hanya perlu sampai rumah lalu pingsan. Namun rencana hanyalah khayalan, ia jatuh terkapar di jalan itu.
Seorang pejalan kaki muncul dari arah depan, terlihat siluet seorang pria yang berjalan pelan mendekatinya. Tampak tak acuh, pria itu sepertinya bukanlah harapan. Kelopak mata Alora yang sedikit terbuka menilik sebisa mungkin untuk meminta tolong walau suaranya tetap tidak keluar.
Saat ini sepasang sepatu berdiri di depannya.
"Ini cewe menyedihkan lagi!" Suara itu masuk ke telinga Alora. Setelah itu ia merasakan tubuhnya di angkat dan masih berusaha menilik siapa yang menbawanya walau pandangannya buram.
Alora di bawa masuk ke sebuah rumah, lalu seorang pria paruh baya bertanya "siapa yang kamu bawa ini Ben?"
"Alora!" Beni meletakkan Alora di atas sofa rumahnya, walau menggendong Alora cukup jauh namun Beni masih menahan nafas ngos-ngosan untuk menjaga imagenya di depan ayahnya itu.
"Kenapa dia? Kok bisa pingsan kamu apakan?" Herman yang panik langsung mendekati Alora dan mengecek suhu tubuh gadis itu.
"Ya ampun, suhu badan anak ini panas banget! Bibik tolong bawain kompres buat demam!" Herman langsung memanggil Asisten rumah tangga untuk menangani.
"Di mana kamu temukan Alora sampe bawa kemari?" Tanya Herman pada anak semata wayangnya itu.
"Dia pingsan di jalanan!" Sahut Beni seadanya dengan wajah dingin namun khawatir.
Bibi langsung mengompres Alora dengan meletakkan handuk hangat di dahi gadis itu.
"Tuan Beni, tolong kalo kainnya kering basuh lagi pake air biar dia cepat siuman, bibi harus kembali ke dapur." ucap Bibi lalu meninggalkan Alora berdua dengan Beni.
Walau tampak cuek, secara tak langsung Beni selalu mengkhawatirkan Alora. Pemuda itu mengikuti kata-kata Bibi dan menjadi pria hangat hanya untuk limited edition.
Setelah 20 menit berlalu, Beni masih di samping gadis yang tertidur itu. Herman muncul dari kamarnya sudah lengkap dengan setelan jas untuk berangkat ke kantor.
"Gimana demamnya udah turun?" Tanya Herman.
Beni bangkit dari duduknya lalu menjawab "periksa sendiri!" Pemuda itu melangkah menuju kamarnya.
Herman menyentuh dahi Alora lalu mendapati panas sudah mereda.
__ADS_1
"Sudah turun demamnya bik!" Ucap Herman pada bibi yang baru tiba.
"Syukurlah! Tapi gadis ini siapa tuan?"
"Dia Alora! Anak dari mendiang teman saya!"
"Saya baru pertama kali lihat, nak Beni seperhatian itu sama orang lain!"
"Alora memang sesuatu bik! Karena itu saya membuat mereka terus bersama!" Sahut Herman.
Perlahan Alora membuka matanya dan mendapati tempat asing yang baru ia lihat.
"Alora? Sudah sadar?" Herman mendekati gadis itu lalu membantunya bangun.
"Om Herman? Kok Lora bisa di sini?" Tanya gadis itu sembari menyentuh kepalanya.
"Tadi kamu pingsan di jalan, Beni bawa kamu kemari" sahut Pria yang duduk di sisi Alora itu.
"Beni? Tapi kenapa dia ada di lingkungan rumah Lora?"
"Kami udah pindah ke sini sejak Beni masuk kuliah! Rumah kamu jaraknya 300 meter dari rumah om! Ayo sarapan dulu yok!"
Di meja makan, Alora tidak pernah menduga akan berakhir di rumah ini. Beni yang sudah siap dengan setelah ke kampus keluar dari kamar lalu duduk di kursi meja makan depan Alora. Pemuda itu tak acuh langsung menikmati sarapannya.
"Kamu mau pulang bareng Om atau dianterin Beni?" Tanya Herman setelah menyelesaikan makannya.
Alora melirik Beni sebentar, pemuda itu terlihat sama sekali tidak peduli.
"Sebenarnya ada yang mau saya sampaikan sama Om Herman!" Kata Alora setelah memantapkan pikirannya.
...
"Jadi.. kamu mau mengakhiri kesepakatan kita tentang membimbing Beni?" Tanya Hean pada Alora yang telah menjelaskan sebelumnya.
"Iya om!" Jawab Alora dengan sedikit rasa bersalah.
"Hm.. kamu bersedia melepas beasiswa dari saya dan kamu meminta bantuan agar saya kembali menerima kamu kerja di Kafe saya?" Herman kembali memastikan keputusan alora agar ia juga bisa memberikan keputusan terbaiknya.
"Iya Om!"
Herman menghela berat lalu kembali bertanya "Kamu akan putus kuliah kalo beasiswanya saya cabut?"
"Kemungkinan iya Om!"
"Alasan kamu pengen kembali kerja di Kafe apa?"
"Saya harus melunasi hutang saya om! Jadi saya butuh pekerjaan!"
"Hutang?" Herman sedikit berpikir, gadis ini tidak akan menerima jika diberi mentah-mentah.
"Okeh kalo gitu, Saya menyetujui keputusan kamu! Tapi saya tidak akan mencabut beasiswa nya, bagaimanapun kamu harus kuliah dan kamu juga boleh kerja lagi di Kafe, namun akibat dari batalnya kesepakatan kita, kamu tidak akan mendapat jaminan pekerjaan lagi!"
__ADS_1
"Baik om! Terimakasih banyak Om!" Alora terdiam sebentar lalu melanjutkan kalimatnya "tapi Om, saya mau di bayar per jam saya kerja, karna kemungkinan perbedaan jam kuliah bisa aja jam kerja saya lebih sedikit dari yang lain, jadi saya tidak ingin di sama kan!"
...
Tampaknya Beni masih menunggu gadis itu di depan rumah, ia baru menghidupkan mobil saat Alora keluar. Namun Alora mengabaikan apa yang ia lihat, gadis itu berjalan keluar pagar dan memilih pulang jalan kaki.
***
Setelah semua yang terjadi, Lia dan Andre sudah berkali-kali menelpon ponsel Alora yang sudah mati itu. Alora malah cuti kuliah dan pergi ke Kafe untuk memantau situasi.
Usai menyapa semua rekan kerjanya, Alora keluar dari dapur. Key terlihat bersama seorang pemuda di Kafe itu, Alora hanya melihat punggung pemuda itu dan Key terlihat sedang berbincang serius. Karena bukan urusannya, Alora melewatkan mereka dan langsung pulang agar tidak mengganggu, menurutnya bisa saja pemuda itu pacarnya Key.
"Loe jangan gegabah! Kita tunggu sampai situasinya pas! Dan pastikan semuanya sempurna!" Ucap Key pada pemuda itu.
"Loe mau pesta meriah rupanya! Loe memang pinter!" Sahut pemuda itu dengan ujung bibir di naikkan.
"Eh itu Alora! Temen gua, gua harus nyapa dia dulu! Bye!" Key bangkit dari kursinya dengan senyum di wajahnya.
Setelah keluar dari Kafe, Key menghentikan langkahnya mendekati Alora saat melihat seseorang bersamanya. Gadis itu tanpa sengaja bertemu Andi yang baru turun mobil untuk meeting bersama klien di Kafe itu.
"Alora? Kamu nggak ngampus hari ini? Tadi Andre sibuk nyariin kamu sampe nelpon aku. Kamu kemana aja?" Tanya Andi.
"Aku.." bola mata Alora linglung ke kanan kiri mencari alasan lainnya.
"Jujur sama aku!" Andi menegaskan katanya.
"Lora akan kerja lagi di Kafe itu kak! Lora nggak bisa terus bergantung pada orang lain, itu bukan style Lora kak Andi kan yang paling tau!" Alasan realistis terdengar masuk akal bagi Andi yang sangat mengetahui sifat gadis yang selalu berusaha ia jaga dari kejauhan.
"Andre udah tau?" Tanya Andi lagi.
"Lora bakalan kasih tau dia nanti!" Senyum yang terpaksa ia suguhkan agar meminimalisir kecurigaan, Alora hanya tidak ingin merepotkan orang lain, apalagi orang-orang yang ia sayangi.
...
Setelah Andi meninggalkan Alora yang banyak pikiran itu, Key menghampiri temannya.
"Itu siapa Ra? Ganteng banget lagi!" Tanya Key sembari melirik Andi yang masuk ke Kafe.
"Itu abangnya Andre!" Sahut Alora lalu melanjutkan langkahnya.
"Andre? Andre siapa lagi?"
"Andre pacar gua!"
"Oooh cowo yang sering bareng loe ya? Trus Beni apa dong? Loe beruntung banget ya, banyak cowo ganteng di sekitar loe!"
"Nggak seburuntung itu kok! Banyak konsekuensi yang harus gua terima dari apa yang gua peroleh!" Kata Alora.
.
.
__ADS_1
.
Tbc