My Secret Alora

My Secret Alora
Detik


__ADS_3

Andi yang baru tiba di rumahnya menutup pintu depan lalu menuju kamar lalu membuka pintu dan menutupnya kembali. Pemuda itu memandangi kasur di balik daun pintu itu lalu melempar tubuhnya terbaring di kasur itu. Pemuda itu menghela berat nafasnya.


"Loe ngapain ngungsi kemari lagi sih? Balik ke kamar loe sana!" Andre membuka selimut yang tadinya menutupi wajahnya menunjukkan ekspresi kesal ke arah abangnya itu.


"Biarin aja napa? Gua habis dari cari informasi di balik kecelakaan loe kemaren!" Andi menguap setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Oya gua baru nganterin Lia pulang! Tapi kenapa dia kayak coba hindarin gua gitu ya? Komuknya juga jadi ketus banget beda sama Lia yang ceria gitu!" Sambung Andi sembari menatap langit-langit atap kamar.


"Loe bod*h? Berhenti php-in anak orang! Lia tuh ngerti dan sadar, dia anak baik yang nggak mau gangguin hubungan loe sama pacar loe!" Sahut Andre yang terdengar malas.


"Pacar? Gua udah putus kali!" Sahut Andi.


"What? Lagi? Kali ini kenapa? Beberapa bulan lalu karena terlalu perhatian, dan bulan lalunya karena cewenya terlalu cuek sekarang apa?" Andre bangkit dari tidurnya menatap serius abangnya.


"Nggak cocok aja! Terlalu posesif! Masa dia marah cuman karena gua nolongin Lia pas di taman, yah.. walaupun gua lupa nganterin dia pulang karna itu."


"Yaiyalah! Cewe mana yang suka cowonya perhatian sama cewe lain?" Andre menepuk dahinya frustasi, lalu melirik Andi.


"Gua juga belakangan ini ngerasa Alora nggak seperti dirinya, terasa palsu? Senyumnya... dia tulus tapi tatapnya janggal. Apa dia pura-pura terlihat baik-baik aja ya bang?" Andre tampak merenung.


"Dia kan baru sembuh! Nggak usah khawatir pak Hilman bakalan rawat Alora dengan baik seperti dulu!" Sahut Andi menenangkan namun ia juga tampak merenung dalam batinnya berbisik.


"Lebih baik loe nggak tau Ndre! Alora selalu ingin menamatkan ceritanya, tapi sebuah keajaiban dia selalu berhasil kembali.. gua ingat hari itu bukan karena lampunya tiba-tiba hijau sampe gua nabrak dia, tapi dia sengaja lompat ke jalan saat ada mobil lewat untuk mengakhiri hidupnya!"


...


"Lora ayah pulang!" Ucap Hilman memanggil anaknya. Pria itu menuju daun pintu kamar gadis itu lalu mengetuknya  beberapa kali tapi tidak ada jawaban, lalu pria itu menemukan Ali sedang belajar di kamarnya.


"Ali, kakakmu mana?" Tanya Hilman.


"Tadi katanya pergi cari udara segar!" Sahut Ali santai melanjutkan belajarnya.


"Malam begini? Kenapa kamu biarin kakakmu pergi keluar? Kalo dia kenapa-kenapa gimana?" Hilman agak membentak.

__ADS_1


"Apaan sih pah? Berlebihan deh! Kak Lora udah dewasa bukan anak kecil!" Sahut Ali terdengar kesal.


"Iya sih pah! Lora baik-baik aja! Dan Lora udah dewasa jangan berlebihan gitu." Alora baru datang lalu Hilman reflek memeluk anaknya karena khawatir.


"Lora udah biasa sendirian jadi, Lora masih perlu penyesuaian dengan suasana baru di rumah ini!" Ucap gadis itu lalu melepas peluk ayahnya dan masuk ke kamarnya.


***


Gadis manis itu baru saja turun dari bus lalu menapaki jalan masuk ke kampusnya. Gadis yang berjalan sendirian tampak menarik perhatian seorang pemuda. Tidak perlu lama Steve langsung menghampiri gadis itu ketika menemukan kesempatan. Langkah Alora terhenti ketika pemuda itu melompat ke depannya.


"Hai Alora! Loe udah sembuh?" Tanya pemuda itu dengan lambaian tangan dan tidak lupa memasang tampang ejek untuk membuat target kesal.


"Kenapa? Sayang banget kan? Harusnya gua mati aja atau koma lalu mati, ya kan?" Sahut Alora tampak santai. Namun Steve agak kebingungan mendengar kalimat random Alora.


"Hey! Kenapa loe harus mati? Loe masih belum bisa nikmatin indahnya hidup ini!" Senyum canggung dari Steve yang agak kepikiran saat mendengar kata "mati" dari mulut Alora tadi.


"Iya kan? Tapi gua nggak punya waktu! Bahkan loe sita waktu gua buat kerja dan lunasin hutang loe! ... oya hutang bentar ya!" Gadis itu mengeluarkan ponselnya lalu menekan beberapa tombol dan melanjutkan kalimatnya.


"Hey Lora! Akhirnya sisi sebenarnya loe keluar juga! Gua lebih suka yang ini! Si psyco Alora!" Steve masih mencoba memancing amarah Alora.


"Loe tau gua tipe yang pegang kata-kata gua kan?"


"Lora! Jangan loe pikir gua bodoh! Apapun yang loe bilang orang-orang nggak akan percaya! Loe kira ini senetron?" Steve tampak percaya diri.


Sebelah bibir Alora langsung tergerak naik saat mendengar kalimat terakhir pemuda itu.


"Selama ini karna gua diam aja, loe nggak mikir gua nggak nyimpan bukti kan? Nggak usah ngelawak nggak lucu!" Alora melangkahkan kakinya dengan percaya diri dan senyum sinis yang terlihat puas layaknya senyuman psyco setelah mematahkan targetnya. Di sisi lain Steve mematung di tempatnya, seperti kata-kata Alora masih terngiang di ingatannya.


...


Di kelas, Key yang baru datang langsung duduk di samping Alora. Gadis kepo itu langsung bertanya banyak hal yang enggan dijawab Alora.


"Oya! Gua lihat loe bareng Steve tadi loe omongin apa?" Pertanyaan ke sekian dan masih diabaikan Alora.

__ADS_1


"Yang itu kasih tau dong! Gua panasaran banget!" Rengek Key sembari menarik-narik lengan Alora. Alora akhirnya menoleh dengan malas.


"Masalah hidup gua! Loe nggak perlu tau! Loe cukup nikmatin hidup loe dan jalanin apa yang loe suka!" Kata Alora terdengar dengan nada sindiran. Gadis itu akhirnya terdiam.


Di sisi lain Beni akhirnya masuk kelas, ia juga menarik bangku di sisi lain Alora dan duduk tenang. Memang Alora tidak lepas dari kebiasaan tidurnya, selama jam mata kuliah ia hanya tertidur di saat-saat dosen yang menerangkan materi lengah.


Dua jam lebih sudah berlalu, mahasiswa lain sudah meninggalkan kelas, termasuk Key yang terlihat kesal karena kalimat Alora sebelumnya. Di kelas itu hanya tertinggal Beni dan Alora yang masih tidur. Kesempatan lainnya, Beni diam saja sambil menatap wajah Alora yang disinari cahaya yang merambat dari balik tirai jendela kaca itu.


Tatap Beni semakin dalam, semakin dilihat semakin besar pula rasa ingin memiliki, walau kenyataan berkata sebaliknya.  Tanpa sadar Beni mendekatkan wajahnya ke arah wajah Alora dengan mata  tertutup itu.


Paa saat itu, seseorang dengan riang berteriak memanggil nama Alora hingga Beni tersadar dan menoleh. Tentu jarak antara wajahnya dan Alora hanya terpaut 10 cm.


Dua oknum sedang mematung di pintu kelas itu, yang satu dengan sorot mata serius ke arah Beni, dan yang satu lagi dengan bola mata linglung panik dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Beni mengangkat kepalanya menjauh saat menemukan Lia dan Andre menaruh tatap padanya namun ia masih santai dan tidak merasa melakukan kesalahan.


Di sisi lain, Alora mulai mengernyitkan dahi hampir terbangun.


"Andre!" Teriakan itu berhasil membangunkan Alora yang perlahan mulai membuka matanya walau kepalanya masih di meja.


Suara itu berasal dari Ziva yang sedang berlari menyusul Andre, namun tubuhnya terhempas saat seseorang menabraknya yang membuat ia sedikit berputar dan tepat saat Andre menoleh mendengar namanya di sebut, gadis itu jatuh di atas pemuda itu di mana keduanya ikut jatuh di lantai depan papan tulis dalam kelas itu. Hal itu bersamaan saat Alora mengangkat kepalanya terbangun, menyaksikan pacarnya dengan posisi itu bersama gadis lain membuat tatap Alora semakin sendu.


Ziva yang tampak terkejut sambil menatap Andre yang masih mengernyit karena kesakitan tubuhnya menghantam lantai, gadis genit itu tampak menikmati lalu berpura-pura terjatuh lagi agar menyentuh Andre saat hendak bangkit. Lia yang kepanikan sudah dikali dua, langsung bergegas menarik Ziva agar Andre bisa bangun.


Alora bangkit dari kursinya dengan amarah jelas terpancar dari matanya.


"Apaan nih? Mau pamer kemesraan?" Tanya Alora.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2