
Andre menggerakkan wajahnya mendekati wajah Alora yang lebih pendek darinya lalu menatap serius.
"Itu karena gua.."
"Loraa siapa sih yang datang?" Teriak Lia sembari menuju pintu.
Andre memiringkan kepalanya untuk menyapa Lia dengan melambaikan tangannya.
"Loe kesini lagi?" Tanya Lia karena bosan melihat Andre yang terus bertemu tanpa sengaja di rumah Alora.
"Lagi?" Alora membalikkan tubuhnya bertanya pada sahabatnya itu.
Ketika Lia hendak membuka mulut menjawab, bola matanya melirik pemuda di luar pintu itu menempelkan jari telunjuk di bibirnya dengan kepala yang menggeleng kecil.
"Bukan apa-apa kok, ayo lanjut sarapan" sahut Lia santai.
"Gua boleh ikut kan?" Bola mata Andre memberi kode dengan bibir tersenyum lebar.
Alora dan Lia mengisyaratkan dengan kepala yang agak terayun memasang ekspresi swag secara bersamaan. Artinya Andre boleh ikut tapi jangan mengganggu.
...
Setelah makan, Andre yang datang seolah numpang makan itu mengajukan diri untuk mencuci piring. Tentu saja kedua rekannya itu meng-iya-kan dengan senang hati. Sambil mencuci piring, Andre dengan keingintahuan-nya tampak mengintip-intip apa yang dibicarakan kedua gadis di ruang tamu.
Dengan cepat piring dan gelas telah mengkilap rapi. Pemuda itu menuju ruang tamu membuat keempat bola mata yang tadinya fokus satu sama lain mengarah padanya. Tiba-tiba Andre berkata
"Gua nggak setuju kita putus!" Dengan tatap serius.
"Ini keputusan sebelah pihak, dari awal perjanjiannya ada di gua, jadi yang berhak mengakhiri adalah gua!" Tegasnya.
"Jadi mau loe apa? Gua mau memulai awal baru seperti yang lo bilang" sahut Alora.
"Gua mau kita tetap pacaran! Lia sebagai saksi.. Ayo pacaran beneran!" Ucap Andre santai.
Mulut Lia otomatis terbuka lebar, lalu mengalihkan padangan yang tadinya menatap Andre sekarang menuju Alora untuk menunggu jawaban.
"Loe segitunya butuh pacar?" Sahut gadis tidak peka itu dengan nada agak marah, namun gerak-gerik Andre juga aneh menyatakan sesantai itu seakan ada niat terselubung.
Mata Lia kembali menatap Andre, menunggu balasan.
"Iya! Tepatnya gua butuh loe jadi pacar gua!" Balasan Andre seketika kembali serius dan tulus? Lia tidak yakin yang ia lihat, lalu kembali melirik Alora.
__ADS_1
"Oke ayo pacaran, bukan pacar palsu tapi pacar beneran? Syaratnya adalah nggak boleh ikut campur dengan kegiatan satu sama lain, deal?" Ucap Alora yang tadinya agak marah anehnya berubah jadi santai.
Lia menghela berat lalu membatin "ini dua orang pada kenapa sih? Pengakuan berujung tragis mah ini"
"Kalian lagi drama apaan sih? Comedy? Garing banget tau nggak? Gitu mah sama aja hubungan bisnis! Romance kek! biar asik gitu uwuu uwuan biar gua bisa bilang aaa so sweet" oceh Lia kesal.
"Thriller aja bole nggak?" Tanya Alora mencoba menggoda bestie nya itu.
"Yaudah karna kita balikan, ayo ke bioskop nonton film thriller!" Ucap Andre.
"Gak bisa, gua harus kerja! Gua butuh duit! Anterin gua ya, gua siap-siap dulu" Sahut Alora.
Lia menggeleng kepala melihat kelakuan kedua manusia itu.
"Pacaran apaan yang genrenya thriller" Batin gadis cantik itu.
***
Kedua remaja yang baru resmi pacaran real itu baru sampai di Kafe tempat Alora kerja. Keduanya masuk lalu duduk di meja sudut.
Setelah meneguk caramel latte miliknya, Alora tiba saja bertanya pada pemuda yang duduk di depannya itu.
"Kenapa loe milih gua?"
"Kenapa loe bilang gua beda dari yang lain? Padahal sama-sama manfaatin loe, bahkan sekarang gua bakalan manfaatin loe lagi"
"Karna loe tenang, gak berisik, loe buat gua nyaman spend time bareng loe, soal uang loe gak minta tapi gua yang kasih, loe punya hati nurani, gua juga bisa lihat sebenarnya loe juga butuh gua, karna kita saling membutuhkan dan mengcover satu sama lain"
"Gua memang butuh dan loe sangat berguna buat gua, tapi pernah nggak gua berguna buat loe?" Tanya Alora lagi.
"Kehadiran loe aja cukup buat gua" sahut Andre dengan tatap tulus lalu membatin "sebenarnya gua hanya bahagia di dekat loe All".
Alora menatap jam, lalu bangkit dari kursi itu.
"30 menit lagi jam kerja gua, gua siap-siap dulu ya" usai katanya gadis itu berjalan menuju ruang staff.
...
Usai kerja, Alora sudah siap pulang dan baru saja keluar dari Kafe bersama rekan kerjanya.
"Loe udah nggak apa Lora?" Tanya Dita.
__ADS_1
"Iya gua nggak apa kok, lagian semua juga udah berlalu" sahut Alora yang memaksakan senyum di wajah itu.
"Saran gua, jangan berhenti sekolah ya, setidaknya loe punya ijazah SMA walaupun gak kuliah, sekarang cari kerja susah, ada ijazah aja susah apalagi gak ada kan"
"Makasih ya"
Alora berjalan pelan menuju halte bis, lalu tangannya di tarik seorang pemuda yang memakai jaket tudung hitam. Tubuh kecil gadis lemah itu dengan mudah terhempas ke dalam peluk pemuda itu.
Alora melepaskan diri dan menemukan bahwa ternyata itu adalah Beni yang masih saja semena-mena padanya. Gadis itu lelah berdebat dan memilih diam dengan tatap lesu.
"Loe.. " kata pemuda psyco itu tak kunjung terdengar lanjutannya.
"Apaan? Lama banget gua mau pulang" Alora kehilangan kesabaran.
"Mau gua anterin?"
"Huh? Salah minum obat loe?"
"Gua tau loe nggak akan baik-baik aja setelah orang tua loe pisah, karena gua tau rasanya" kata Beni terdengar lembut sangat berbeda dari biasanya mengundang tatap Alora.
"Apapun keadaan gua, gua harap loe nggak perlu ikut campur" jawab Alora.
"Okey, tapi gua akan anterin loe malam ini" Beni menuju mobilnya.
"Gua punya pacar, gua gak mau salah paham yang bikin repot, mending gua pulang sendiri"
"Gua tau kalian cuman pura-pura.. cih gua juga kaya, gua juga bisa bayar loe jadi pacar gua" sifat asli Beni langsung keluar lagi.
"Cewe murahan yang bisa dibeli pake uang? Image gua sehina itu di mata loe kan?" Ucap Alora dengan raut datar.
"Mereka yang kaya cuma sok tau tapi nggak peduli, gak akan pernah tau rasa sakitnya, loe memang psyco!" Cairan bening membendung di kedua ujung mata gadis itu lalu pergi.
Tatap Beni terlihat sedih lalu tiba saja mengacak kasar rambutnya sendiri dengan kedua tangannya sambil menggerutu
"Aaaargh.. Gua memang br*ng**k"
.
.
.
__ADS_1
Tbc