My Secret Alora

My Secret Alora
Kusut


__ADS_3

Semua orang hidup di atas masalah mereka masing-masing. Apa ada kehidupan yang sempurna? Dari semua obat yang paling ampuh adalah air mata yang terus menemani di setiap tetesnya.


Beberapa waktu lalu, aku menemukan fakta bahwa "jangan pernah bermain-main dengan rasa sakit orang lain" karena kita tidak pernah tau arti dibalik bibir yang tersenyum namun mata yang berusaha keras menyembunyikan lukanya.


...


.


.


Andre hanya berjalan menuju kelas setelah meninggalkan UKS. Pikirannya bercampur aduk antara bagaimana caranya supaya ia tau apa yang sebenarnya terjadi pada Alora, dan ia juga penasaran bagaimana Beni bisa dekat dengan Alora.


Dalam perjalanannya Andre mendapati Beni yang berdiri seolah menunggu dirinya di depan kelas itu.


"Tunggu dulu!" Ucap Beni pada Andre lalu berdiri di depannya.


Andre hanya menatap kosong pemuda yang lebih tinggi 1 cm darinya itu.


"Alora kenapa bisa sakit?" Tanya Beni setelah beberapa saat terdiam melawan gengsinya.


"Huh? Kenapa loe mau tau?" Andre kembali bertanya namun sedikit terkejut dengan pertanyaan acak si psyco.


"Bokap gua nyuruh gua cari tau kenapa tu cewe sakit, tapi gua gak mungkin nanya langsung orangnya, makanya..."  kata Beni terpotong


"Bokap loe?? Sebenarnya apa hubungan loe sama All?" Andre agak meninggikan suaranya karena merasa kesal.


"Loe penasaran? Kenapa gak nanya langsung aja ke cewe loe itu?" Kebiasaan Beni menjawab dengan memprovokasi lawan bicaranya memang tidak bisa dihentikan.

__ADS_1


"Jawab pertanyaan gua! Apa hubungan kalian? Sampe bokap loe.." Andre tidak ingin melanjutkan katanya.


"Gua juga gak tau! Dari mana bokap dapat kabar tu cewe sakit, gua yang ada di sekolah aja gak tau" entah kenapa kali ini pemuda itu memberikan jawaban, biasanya ia hanya meninggalkan lawannya dengan rasa penasaran.


"Oya! Jagain cewe loe! Bilangin! Stop gangguin bokap gua! Gua gak butuh mama muda" Beni membalikkan tubuhnya usai berkata lalu pergi.


Andre ditinggal dengan sejuta pertanyaan masih memenuhi otaknya.


Sepulang sekolah, Andre kembali ke UKS tapi Alora ternyata sudah pulang lebih awal.


***


Di depan rumah Alora, Andre yang masih mengenakan seragam sekolah itu sudah mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Ia mencoba meraih gagang pintu lalu menekannya dan "klek" suara pintu terbuka. Ternyata pintunya tidak terkunci.


Andre memasuki rumah perlahan hingga menemukan sosok yang duduk di belakang meja makan sedang menatap pohon besar dibalik kaca jendela dapur.


Pemuda itu terus mendekati wanita yang duduk itu untuk memastikan bahwa ia adalah Alora. Memang benar wanita itu Alora yang sedang larut dalam pikirannya dengan tetes bening yang berjatuhan dari pipi tirusnya.


Tatap Andre berubah sendu, lalu mengarahkan tangannya menyentuh lengan gadis itu agar tersadar. Tindakan pemuda itu membuat kedua manik lembab kecoklatan mengarah padanya. Andre memutuskan memeluk Alora yang tampak menahan tangisnya. Alora membalas pelukan itu dan hanyut di dalamnya.


Andre dapat merasakan tetes hangat membasahi seragam sekolahnya. Iapun menepuk-nepuk pelan punggung Alora untuk menenangkan gadis itu hingga beberapa menit.


Setelah kisaran 3 menit hening setelah saling melepas peluk, Andre masih menahan dirinya agar tidak bertanya. Pemuda bergelar pacar palsu itu ingin Alora sendiri yang memberitahunya saat gadis itu siap, tanpa harus bertanya dan mengungkit rasa sakit yang ingin dipendam.


"Ternyata mereka bukan orang tua kandungku!" Kata Alora yang membuat Andre fokus padanya.


"Ibuku sudah meninggal, dan aku tidak tau siapa dan dimana ayahku".

__ADS_1


"Alasan aku tidak punya love language, karena aku tidak menerima kasih sayang, makanya aku tidak tau cara mencintai dengan benar dan tidak peduli dengan orang lain dan hidup seolah semuanya bukan apa-apa."


"Tidak punya tujuan ataupun cita-cita, terus berpura-pura kuat, seolah semua bukan apa-apa"


"Tapi aku.. tidak bisa terus terlihat baik-baik aja, saat aku marah dan ingin mengakhiri hidupku."


"Tembok besar yang menghalangi jalanku masih sangat tinggi, aku tidak kuat menghancurkannya ataupun memanjatnya. Haruskah aku menyerah aja?"


Andre hanya mendengarkan kata demi kata dengan bola mata yang telah berkaca.


"Iya! Menyerahlah!" Jawab Andre dari pertanyaan terakhir gadis itu.


"Nggak apa menyerahlah, gak ada salahnya istirahat sebentar, setelah itu ayo bangkit lagi! Coba cari lagi! Baik itu tujuan, harapan ataupun cita-cita. Kalau gagal lagi istirahat lagi! Nanti kita coba cari hal yang baru lagi!"


"Hidup ini punya banyak hal untuk dilakukan, percayakan saja semua pada yang di atas, semua akan berlalu dan luka juga akan memudar" Andre mengakhiri katanya, lalu kembali hening.


"Untuk memulai hal yang baru kita harus terlebih dulu melepas masa lalu kan?" Tanya Alora pelan.


"Iya" jawab Andre tanpa melepas tatapnya dari Alora yang kembali menatap keluar jendela.


Sorot mata Alora kembali menemukan sepasang lainnya milik Andre, keduanya larut dalam tatap satu sama lain.


"Kalau gitu... ayo kita putus!" Ucap Alora


...


Tbc

__ADS_1


__ADS_2