My Secret Alora

My Secret Alora
Be There For You


__ADS_3

Yang kuat berkuasa, yang lemah hanya bertahan dengan tangisan.


-@bomy-


.


.


Dua anak laki-laki saling berpelukan jika dilihat dari jauh, tapi jika dilihat dari dekat mereka sedang berebut mainan. Anak yang lebih besar tertawa dengan puasnya dan anak yang lebih kecil merengek dengan tangisan kesal meminta mainannya dikembalikan. Hubungan persaudaraan yang kuat dimulai dari hal kecil demikian.


Bayangan itu terlintas di benak Andre saat ia perlahan meneguk kopi hangat di meja belajarnya yang dekat jendela. Percikan hujan yang mengembun di kaca jendela itu mulai memenuhi permukaan kaca. Tampak buku yang terbuka berserakan di mejanya. Helaan berat pun keluar begitu saja lalu pemuda itu menyandarkan punggungnya di sandaran belakang kursi yang empuk itu.


"Kenapa loe?" Suara itu menusuk ke telinga Andre mengejutkannya. Seluruh tubuhnya tersontak dan reflek menoleh ke arah kasurnya.


Entah bagaimana Andi sudah duduk di kasur itu, tanpa suara buka pintu ataupun detak kaki melangkah layaknya hantu.


"Bilang ke gua! Apa yang membuat loe menarik nafas panjang gitu?" Kalimat tanya lainnya terlontar dari bibir sang abang yang kepo.


"Nggak ada!" Sahut Andre lalu kembali membalikkan tubuhnya semula menghadap buku-bukunya.


"Hari libur kacau!" Kata Andi melirik keluar jendela.


"Kenapa loe?" Tanya Andre yang sedang membuka laptopnya.


"Ini kan hari sabtu! Gua pengen liburan ke mana kek, eh.. hujan.." kata Andi terhenti sembari menatap punggung adiknya itu.


"Gua jadi ingat pas kita main hujan dulu! Loe selalu endingnya nangis padahal nggak gua apa-apain haha" Sambung Andi lalu menertawakan adiknya.


"Gua kedinginan! Loe tau gua rentan dingin!" Sahut Andre terdengar malas.


"Eh loe nggak ajak Lora makan atau apa gitu, dia pasti sendirian di rumahnya. Lagi hujan gini" Tanya Beni bersemangat.


"Kalo hujan gini, dia pasti lagi makan mie rebus, padahal udah gua bilangin itu nggak sehat!" Sahut Andre terdengar malas.


"Loe kenapa? Lesu banget suara loe!"


"Gua lagi pubertas! Jauh-jauh sana emosi nggak stabil nih!"


"Lora kenapa lagi? Loe selalu gini kalo Lora lagi punya masalah. Masalahnya apa?"


"Masalahnya gua nggak tau masalah Alora apa! Gimana gua bisa bantu?" Andre agak kesal menjawab.


Andi sedikit merenung saat mendengar Andre menggerutu di tempatnya.

__ADS_1


Beberapa hari yang lalu, Alora berjalan pulang dengan wajah lesu.


"Eh Lora!" Sapa Andi yang sedang bersepeda lalu menghentikan kayuhan sepedanya dan menekan rem untuk berhenti.


Alora membalas dengan senyum kecil di wajahnya.


"Loe lesu banget, capek ya kuliah?" Tanya Andi lagi.


"Kak Andi... nggak jadi deh! Lora pulang dulu ya!" Ucap Alora lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Kamu kenapa?" Andi mendorong sepedanya dan menyamakan langkahnya dengan gadis itu.


Walau sudah mencoba, Andi juga gagal menemukan unsur permasalahan gadis itu. Namun, ia menemukan sesuatu yang janggal, seorang penguntit serba hitam itu terlihat lagi. Andi khawatir penguntit itu bisa saja berbahaya dan menargetkan Alora menjadi korbannya.


"Oiya kak Andi! Ini rahasia sih sebenarnya.. tapi.. Sebenarnya Lia suka sama kak Andi! Tolong kak Andi jaga perasaan dia, jangan buat Lia berharap kalo kak Andi nggak bisa membalas rasa sukanya. Lia sudah cukup menderita" ucap Alora saat tiba di deoan rumahnya.


Bola mata Andi melebar mendengar pernyataan yang baru pertama kali ia dengar.


"Kalo gitu Lora masuk dulu!"


***


Hari cerah lainnya menyapa, sisa air hujan bekas kemarin masih menggenang di beberapa tempat. Alora pergi ke panti asuhan bersama tante Ina. Wanita itu memberi santunan kepada anak sebatangkara dengan membawakan makanan ataupun buku-buku tiap punya waktu luang. Sedangkan tugas Alora adalah membantu meringankan bawaan tantenya.


Satu persatu makanan dibagikan, tampak anak-anak bersemangat dengan apa yang mereka terima. Setelah membagikan, Alora pergi berkeliling menyusuri halaman panti yang tenang itu. Namun ia menemukan sosok yang tidak asing baginya.


"Wah tuh cowo bisa senyum juga?" Gumam Alora lalu mendekati pemuda itu.


Alora datang dan duduk di bangku taman di sisi pemuda itu yang menghadap arah lain. Beni tidak menyadari Alora duduk di sisinya, ia sibuk mengobrol dengan gadis kecil itu.


"Akila.. gua.. ah bukan maksud kakak.. bersikap baik sama orang lain itu sulit, apa kakak harus melakukannya?" Tanya Beni pada gadis cantik berusia 5 tahun itu.


"Om harus dong!" Sahut suara imut itu.


Bibir Alora tergerak naik saat mendengar gadis itu memanggi Beni dengan panggilan Om.


"Om? Panggil kakak aja jangan om!" Beni bersikeras.


"Tapi om kelihatan tua! Pasti om sering marah-marah!" Akila menyaut sesuka hatinya.


"Udahlah! Yaudah aku mau nanyak lagi!" Beni masih mencoba sabar karna itu anak kecil.


"Kalo kakak baik sama Akila apa Akila bakalan suka sama kakak?" Tanya Beni sangat menantikan jawaban gadis kecil itu.

__ADS_1


"Tergantung om! Akila nggak akan jatuh cinta semudah itu!" Sahut gadis kecil itu.


"Kalo emang om pengen di sukai om harus nyatain cinta om, Kila sering lihat adengannya di tivi" sambung suara imut itu membuat semua pendengarnya tertawa.


"Wuuuuu Kila ngomong apaan?" Sahut bocah laki-laki yang baru datang dan lewat.


"Kila nggak akan suka sama om ini, Dino tenang aja! Kila sukanya sama Dinoo!" Sahut Kila lalu berlari mengikuti Dino yang tadi hanya lewat.


"Dasar bocah! Di tanya ini jawabnya itu!" Oceh Beni yang terlihat kesal setelah bertanya.


"Loe sih aneh!" Suara Alora yang tiba saja terdengar.


"Kok gua denger suara tu cewe? Gua pasti udah gila!" Pemuda itu mengacak rambutnya dan masih belum berbalik.


"Gua beneran di sini keles! Loe pikir gua hantu?" Suara Alora terdengar dari belakangnya hingga pemuda itu menoleh memastikan.


"Loe ngapain di sini?" Pertanyaan yang muncul karena ia tidak menduga adegan ini akan terjadi.


"Itu pertanyaan gua! Ngapain loe tiba-tiba di sini? Tempat ini nggak cocok sama loe!" Alora tampak menarik nafas panjang.


"Gua minta maaf!" Kata Alora yang berhasil membuat tatap Beni tidak bisa berpaling darinya.


Gadis itu hanya menatap jemarinya lalu melanjutkan kalimatnya "dua hari yang lalu gua terlalu kasar bahkan nggak ngucapin makasih padahal loe nganterin gua pulang"


Beni hanya diam saja dengan mata yang tidak berkedip sama sekali. Sungguh wajah alami Alora terlihat menyegarkan saat di tatap dari samping.


"Loe..." Beni belum menyelesaikan kalimatnya, Alora menoleh dengan rambut panjang itu terurai dibiarkan angin meniupnya. Mata Beni berbinar seluruh tubuhnya merasakan getaran yang sama lagi.


Alora kembali menghela berat, nampaknya ia sedang memikirkan hal lain setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Gua ngomong sama siapa? Batu? Atau es? Atau es batu? Ben gua.. kayaknya pengen nyerah deh! Gua nggak bisa lanjutin bimbing loe! Gua nggak punya gelar ataupun kemampuan. Gua akan jujur sama om Herman dan bakalan nyerah! Gua.. nggak peduli beasiswa di cabut, gua akan kembali kerja aja!" Ucap Alora lalu kembali mengalihkan pandangannya dari Beni.


Beni mendekatkan bibirnya ke telinga Alora dan berbisik "bisa enggak? Loe lihat ke belakang sesekali dan lihat siapa yang ada di sana!"


"Kenapa? Loe ada di sana? Ngapain? Mustahil!" Tanya Alora menatap Beni yang sangat dekat dengan wajahnya.


"Iya! Gua selalu disana!" Sahut Beni pelan. "Gua di sana buat loe!"


.


.


.

__ADS_1


tbc


jangan lupa tekan jempol:)


__ADS_2