My Secret Alora

My Secret Alora
Skinship


__ADS_3

Rasa bersalah mendalam menaklukkan seorang Andre. Sejak semalam ia gelisah bahkan tidak bisa menikmati tidurnya. Pagi-pagi sekali pemuda itu sudah siap dengan seragam sekolahnya.


Keluar dari kamar melewati meja makan yang bahkan belum tertata oleh makanan.


"Ndre kamu mau kemana sepagi ini?" Tanya Jeni yang baru keluar dari dapur.


Namun, pemuda itu mengabaikan ibunya.


Andi yang baru keluar dari kamarnya juga ikut menegur adiknya saat pemuda itu sudah membuka pintu dan keluar rumah.


"Loe mau kemana? Nggak sarapan dulu?"


Kalimat tanya yang diajukan Andi pun sia-sia. Andre sudah mengambil motornya lalu dihidupkan dan bruum.. berangkat setelah meminta satpam membuka gerbang.


...


Perjalanannya dihentikan, di depan rumah Alora pemuda itu turun dari motornya menuju pintu. Ia menghela berat nafasnya lalu mengangkat tinjunya untuk mengetuk pintu itu beberapa kali.


Alora yang baru bangun bangkit dari kasurnya lalu membuka pintu dengan rambut yang agak berantakan dan wajah yang bahkan belum ia basuh. Ia tampak biasa saja mendapati Andre berdiri di depannya.


"Apaan nih? Gua mimpi lagi?" Ucap Alora dan kembali menarik untuk menutup pintu.


"Gua nyata!" Sahut Andre yang menghentikan pintu itu.


Alora memajukan wajahnya mendekati wajah pemuda itu untuk memastikan, lalu ia menampar pelan wajah Andre yang membuat Andre tersenyum gemas dengan tingkah gadis itu.


"Sakit nggak? Ini bukan mimpi kan?" Tanya Alora yang kewarasannya belum sepenuhnya kembali.


"Ini mimpi kok! Nggak apa yaa kamu mimpiin aku.." Andre sedang memainkan peran entah apa yang ia pikirkan.


Alora semakin mendekati pemuda itu dengan tatap penuh harap. Andre hanya diam saja mengamati yang dilakukan gadis itu.


Karena masih terlalu pagi, matahari belum menampakkan dirinya dan tempatnya masih sunyi. Gadis itu menyentuh bahu lebar pemuda yang tersenyum padanya itu. Ketidakwarasan itu mengelabuinya hingga ia melingkarkan tangannya di pinggang pemuda itu lalu menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu dan berkata.


"Jangan pergi..! Aku udah terlalu lama sendirian.." Suara gadis itu terdengar sedih.

__ADS_1


Andre terlihat tidak percaya dengan apa yang dilakukan Alora, namun ia menyadari sesuatu.


"Al suhu badan loe kok panas banget? Apa gua yang dingin karena barusan habis bawa motor?" Ucap Andre saat merasakan kepala gadis itu hangat di dadanya, ia pun memastikan dengan meletakkan telapak tangan di dahi Alora.


"Ya ampun, loe demam!" Andre mencoba melepas peluk Alora untuk membuatnya masuk kedalam rumah.


"Di sini dingin! Jangan di lepas aku kedinginan" tingkah gadis itu layaknya anak kecil memeluk ibunya.


Andre melepas jaketnya lalu memakainya ke Alora "sekarang udah mendingan, ayo masuk dulu di luar masih dingin".


Alora melepas peluknya, namun tubuhnya melemah. Ia berjalan agak sempoyongan dan hampir terjatuh. Setelah menutup pintu, Andre membantu Alora berjalan lalu mendudukkannya di sofa.


Alora merebahkan tubuhnya di sofa kecil itu dengan jaket yang ia tarik sebagai selimut. Di sisi lain Andre inisiatif mengambil selimut lalu menyelimuti gadis yang sudah menutup matanya itu.


"Mama.. di mana?? Jangan pergi.." gumam Alora dengan suara bercampur tangis.


Andre kembali teringat akan rasa bersalahnya, seakan jika bisa ia ingin mengembalikan orang tua Alora biar dia saja yang menghilang. Namun, ia tidak berlarut dalam pikirannya, ia harus mengobati Alora terlebih dahulu.


Pemuda itu menghidupkan kompor lalu meletakkan panci dengan air di dalamnya untuk menyiapkan air hangat. Ia mencari handuk kecil untuk mengompres lalu menemukannya di hanger untuk menjemur di samping kamar mandi.


Jam sudah menunjukkan jam 6.45 pm, satu jam telah lewat sejak ia datang.  Alora membuka matanya dan bangun, ia terkejut saat mendapati seseorang ada di sana saat ia masih bingung "kenapa gua tidur di sofa?"


Kemudian ia menemukan jaket Andre yang masih di pundakknya, seketika seluruh hal yang terjadi satu jam lalu terputar ulang di ingatannya.


"Ya ampun, kok bisa gini sih kejadiannya?" Batin Alora lalu bangkit perlahan dari sofa agar tidak membangunkan Andre, kemudian masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap ke sekolah.


Beberapa menit kemudian, Alora sudah rapi dengan seragamnya, begitupun Andre yang terbangun dan sontak berdiri saat mendapati Alora yang baru keluar dari kamarnya.


"Loe udah nggak apa? Udah mendingan?" Andre masih mengkhawatirkan keadaan gadis bergelar pacar itu.


"Gua nggak apa kok!" Sahut Alora yang canggung mengingat ketidakwarasan yang ia lakukan di bawah sadarnya.


"Ayo kita sarapan dulu sebelum ke sekolah!" Andre meraih lalu genggam tangan Alora dan membawanya keluar dari rumah.


Matahari sudah terbit sebagaimana biasanya, kedua remaja itu sedang memakai sepatu masing-masing dengan duduk bersebelahan di teras itu. Saat keduanya siap, merekapun berangkat menggunakan motor yang sudah terparkir di sana.

__ADS_1


Setelah hampir satu bulan mereka akhirnya berangkat sekolah sama-sama lagi. Walaupun motif sebenarnya Andre menjemput Alora hari ini belum berhasil ia jalankan. Setidaknya ia mulai mengobati hubungan yang retak akibat hantaman luka masa lalu.


...


Setelah sarapan di salah satu warung sesuai permintaan Alora, mereka langsung menuju sekolah. Terlihat akur walau hanya berjalan dalam diam, tentu saja membakar jiwa lain yang panas melihat pasangan itu kembali bersama. Tentu saja Gebi dan juga Mila yang melirik dari kelas masing-masing dengan dendam terselubung terhadap Alora.


...


Jam istirahat, langkah Alora dihentikan Andre dengan meraih tangan gadis itu saat hendak keluar kelas menuju perpustakaan.


"Besok wekend kita jalan ya! Ada yang mau gua sampaikan sama loe!" Ucap Andre.


Alora hanya mengangguk lalu menatapa tangan yang di genggam Andre sebagai kode agar pemuda itu melepasnya. Namun, Andre masih menggenggamnya dan kembali berkata


"Gua boleh kan ikut loe? Dan biarin gini (genggaman tangan) sebentar!" Ucap Andre penuh harap.


Alora hanya diam saja lalu melangkah yang juga diikuti Andre di sisinya. Rasanya moment itu agak langka, selama ini walau mereka jalan bersama namun tidak pernah berpegangan tangan. Andre terus saja menatap gadis di sisinya itu tanpa berkedip.


"Al, apa ini akan jadi terakhir kalinya gua bisa gini sama ke elloe? Gua nggak ingin kita pisah!" Batin Andre menggerutu dalam diamnya.


Sesampainya di perpus, Alora mengambil lapaknya yang biasa dan Andre duduk di sampingnya. Kali ini Andre duluan yang merebahkan kepalanya, sisi kanan pipinya menempel di meja itu dengan mata yang tertutup. Kemudian Alora ikut merebahkan kepalanya dengan wajah menghadap Andre.


"Ndre! Tolong jangan nyerah sama gua ya! Seberapa marahpun gua sama loe, tolong bertahan.. gua nggak bisa sendirian lagi! Gua udah terbiasa ada loe di hidup gua. Gua tau gua egois, tapi tolong terima keegoisan gua kali ini aja!"  Batin Alora masih menatap wajah tampan Andre.


"Al, apa gua udah sayang beneran ya sama loe? Kenapa hati gua sakit banget!" Batin Andre namun tubuhnya masih dalam posisi yang sama.


"Maaf Ndre! Gua belum bisa maafin loe! Luka gua masih belum kering sepenuhnya. Semua masih terlalu jelas di ingatan gua" Batin Alora dan masih posisi yang sama dan masih menatap Andre.


Alora akhirnya menutup matanya dan keduanya terlihat tertidur dalam kata hati masing-masing.


.


.


.

__ADS_1


tbc


__ADS_2