
14 tahun yang lalu
Pertama kali Alora bertemu dengan keluarga baru, seorang gadis kecil yang merindukan ibu dan ayahnya yang sering terbayang dalam tatap kosongnya. Gadis pendiam yang penurut, namun kehidupannya kosong tanpa aktivitas, ia hanya duduk atau tidur bahkan tidak berkomunikasi dengan siapapun.
Suatu hari setelah beberapa bulan merawat Alora, pria yang berjulukan ayah itu membawa anaknya berjalan-jalan keluar rumah, bahkan menunjukkan taman bermain yang penuh anak-anak, namun gadis kecil itu tidak merespon.
Namun sebuah kebisingan membuatnya bereaksi, ketika terdengar suara benturan sebuah kayu yang jatuh dari para pekerja bangun di sebelah taman bermain itu. Seolah tersadar dari hipnotisnya, gadis itu melepas tangan ayahnya lalu menuju ke seorang anak laki-laki yang menyendiri di sudut taman bermain dan duduk sendirian. Alora menghampiri anak itu lalu duduk di sampingnya. Tatap polos itu terus mengarah ke anak itu.
"Ngapain kamu ke sini?" Ucap anak laki-laki itu ketus.
Alora tersenyum lalu berkata, "namaku..." kalimatnya terhenti lalu kehilangan senyumnya.
"Nama kamu Alora!" Sahut ayah lalu menekuk lututnya berjongkok.
"Om siapa?" Tanya Alora.
Ayah langsung memeluk Alora dengan senyum merekah di wajahnya, "anak ayah akhirnya bicara! Loraa.. ini ayah!" Pria itu melepas peluknya lalu menggendong Alora yang berusia 5 tahun itu.
***
.
.
.
Gadis itu hanya terjebak dalam bayangan kejadian itu, ia tidak bisa berpaling sebelum seseorang menyadarkannya. Saat ini Alora sudah kembali normal namun dia menjadi lebih pendiam dari sebelumnya. Ayahnya kembali tinggal bersamanya untuk proses penyembuhannya, diperlukan orang merawatnya.
Alora duduk di teras dengan tatap kosong, jelas Ayah mengetahui pasti anak gadis sedang larut dalam masalahnya. Dengan teh hangat di tangan pria itu membawanya untuk anak angkatnya itu.
"Lagi mikirin apa anak ayah?" Tanya pria itu lalu duduk di samping Alora.
"Lora harus lunasin hutang sama teman Lora!" Sahut Alora.
"Loh? Bukannya Lora benci kalo harus berhutang? Kok bisa Lora punya hutang?"
"Sebenarnya, Cowo itu minta ganti rugi karena dulu dia biayain les Alora dan banyak bantuin kita pas kita kekurangan. Ternyata dia pura-pura baik! Semua dia lakuin cuman untuk menang taruhan kalo dia berhasil jadi pacar Alora maka dia dapat uang dua kali lipat dari yang dia keluarkan!"
"Jumlahnya berapa?"
"Sisanya 42 juta lagi!"
Pria paruh baya itu menutup mulut tidak percaya jumlah yang sangat besar bagi mereka.
"Lora tenang aja! Ayah yang akan bayarin semuanya!"
"Tapi dapat uang dari mana Yah?"
__ADS_1
"Kamu tenang aja! Ini tanggung jawab ayah!"
...
Matahari bersinar cerah, bahkan langit sore terlihat sangat menawan, dihiasi burung yang berterbangan kembali ke sarangnya. Alora keluar dari rumah untuk berkeliling mencari udara segar. Bersamaan dengan Andre yang berangkat dengan motornya, tentu Andre berhenti saat mendapati Alora di jalan itu.
"Sayang ayo naik! Loe mau kemana biar gua anterin!" Ucap Andre yang kepalanya masih ditempelkan perban.
"Sayang?" Alora tampak bingung namun mengangguk lalu naik ke motor itu. Mereka hanya menyusuri jalan tanpa tujuan dan tanpa sepatah katapun.
Kemudian Andre berhenti di sebuah taman yang dekat dengan danau. Mereka duduk berdua di sana hanya memandangi pemandangan indah itu.
"Al, loe marah sama gua ya?" Tanya Andre.
"Iya!" Sahut Alora yang membuat Andre otomatis menatap Alora.
"Kenapa?" Andre membuka lebar mata dan telinganya menunggu jawaban.
"Karna tiap lihat loe gua selalu teringat orangtua gua yang udah meninggal. Kayaknya gua butuh menjauh dari loe dulu sampai pikiran gua benar-benar tenang."
"Kalo gitu boleh nggak gua peluk loe sekali aja!" Andre mendekatkan tubuhnya ke arah Alora lalu memeluk gadis itu. Rangkulan hangat itu kembali terasa, Alora selalu merasa nyaman dalam peluk itu.
Peluk itu lepas, namun Alora mendapati perban di kepala Andre yang tidak ia sadari sebelumnya. Tangannya terangkat ke arah dahi pemuda itu lalu menyentuh wajah Andre, dan Ia berkata,
"Ndre! Ini kamu kenapa? Masih sakit ya?" Tanya Alora yang khawatir.
"Nggak apa kok! Bentar lagi juga sembuh!" Andre dengan senyuman di wajahnya.
...
Keesokan harinya, setelah lebih dari seminggu absen, Andre menjemput Alora untuk berangkat ke kampus. Namun, kali ini Alora diantar ayahnya. Sesampai di kampus, Andre terlihat lesu seolah dicampakkan.
"Loe kenapa? Dari tadi gua perhatiin loe bengong aja!" Tanya Ziva lalu duduk di samping meja Andre.
"Emang kelihatannya kenapa?" Andre versi Alora si banyak nanya.
"Loe kayak habis putus dari pacar loe!"
"Oya? Emangnya kenapa kalo gua kelihatan gitu?"
"Gua mau ngajak loe pacaran! Gua akan jadi pengganti pacar loe! Lagian gua lebih baik kok dari Alora!" Ziva dengan senyuman memikat itu ditambah kepercayaan diri penuh.
Andre hanya melirik malas, gadis ini sudah lebih terang-terangan sekarang.
"Gimana menurut loe kalo kita pacaran? Pasti seru banget kan?" Ziva semakin memanfaatkan moment.
Tiba saja sebuah suara panggilan, "Sayang!" Gadis dengan tampilan barunya ia memotong pendek rambutnya dengan gaya classic long bob.
__ADS_1
Andre menoleh dan mendapati pacarnya datang, senyum itu seketika hadir hanya untuk kekasihnya. Alora melirik Ziva sebentar dengan tatap sinis lalu berkata,
"Sayang ke kantin yok!"
"Iya ayok!" Andre bergegas mengambil tasnya lalu meraih tangan Alora lalu keduanya pergi. Andre bersemangat karena ini moment langka, biasanya Andre yang mencari Alora tapi kali ini sebaliknya.
"Gua kangen banget sama loe!" Ucap Andre sambil berjalan menatap Alora dengan rambut pendeknya.
Pemuda itu menyeka rambut pacarnya yang berterbangan ditiup angin agar dapat melihat wajahnya tanpa tertutupi rambut. Namun, gadis itu hanya sedikit menaikkan sudut bibirnya.
...
Di sisi lain, Lia baru saja keluar dari kelas lalu keluar dari gedung jurusannya. Dian mengikuti dari belakangnya. Tanpa sengaja Lia mendapati Beni yang berjalan lurus di depannya. Gadis itu berlari ke arah Beni lalu berusaha menyamakan langkah dengan langkah besar pemuda itu dan cepat pula. Tentu saja Lia kewalahan, lalu meraih tangan Beni sambil berkata,
"Tungguin gua! Loe buru-buru amat mau ke mana?" Lia agak terengah-engah. Beni menghentikan langkahnya.
"Loe kalo punya gangguan pernafasan jangan ngikutin gua! Mau loe apa?" Sahut Beni dengan sikap es-nya.
"Idih dasar es batu! Gua mau nanya pendapat loe!" Sahut Lia yang memasang wajah dingin juga.
"Tanyak sama bestie loe sana! Gua sibuk!" Sahut Beni lalu melanjutkan langkahnya. Namun, Lia tetap mengikuti di belakang Beni yang sedang berjalan cepat itu.
Di sisi lain, Dian juga mengikuti Lia dan pemuda ini sangat penasaran kenapa Lia mengikuti Beni.
"Apa Lia mulai tertarik sama Beni ya? Trus gua gimana?" Gumamnya.
Lia terus mengikuti Beni, walau nafasnya sudah tidak teratur. Tiba saja dubrak! Lia menabrak Beni yang sudah berhenti dan berbalik. Lia kehilangan keseimbangan, namun Beni meraih tangan gadis itu lalu menariknya dan tangan kanannya meraih pinggang gadis itu agar tidak terjatuh. Terlihat canggung posisi mereka terlihat seperti posisi awal pasangan berdansa.
Lia bergegas melepas tangan Beni darinya.
"Loe mau nanya tentang apa?" Tanya Beni yang agak menutup kekhawatirannya jika Lia terus mengikutinya bisa aja gadis itu sesak nafas lalu penyakitnya kambuh.
"Kak Andi, menurut loe apa mungkin kalo gua tetap lanjut... kak Andi bakalan suka sama gua?" Lia bertanya dalam nafas yang tidak teratur.
"Coba loe ungkapin perasaan loe! Siapa tau ada jawaban yang loe harapkan!"
"Kalo gagal gimana?"
"Loe coba dulu! Kalo berhasil ya lanjut, kalo gagal loe harus lupain dia! Cinta sendirian itu lebih sakit, mending loe ungkapin!" Kata-kata bijak yang terdengar dari wajah dan nada datar.
"Kalo akhirnya gua beneran gagal dan nggak bisa move on gimana? Gua tipe yang overthingking dan butuh waktu lama buat lupain! Gimana kalo gua nggak pernah bisa lupain kak Andi?"
"Kalo gitu pacaran sama gua! Kita balas dia! Mengerti?" Beni menaikkan suaranya karena kesal.
.
.
__ADS_1
.
tbc