My Secret Alora

My Secret Alora
Rainy Day


__ADS_3

Walau langit agak mendung dan tetes bening perlahan mulai menyapa satu-persatu, namun tidak menjadi alasan untuk absen di hari pertama semester berikutnya baik dari segi akademik maupun kehidupan. Mayoritas mahasiswa tampak antusias meski harus menggunakan payung atau jas hujan.


Belajar sambil sesekali menatap keluar menikmati percikan hujan ditambah dinginnya AC yang serasa masuk kulkas adalah momen indah tersendiri, apalagi saat saling melirik sesama teman sekelas tanpa sepatah katapun namun tetap tertawa bersama. Ikatan yang hadir itu mempererat hubungan satu sama lain.


Kali ini Alora agak terlambat masuk kelas, bangku yang kosong hanyalah di barisan kedua di depan AC, bangku yang dihindari semua orang di saat jam pagi, apalagi saat ini semesta sedang meneteskan tangisnya. Gadis itu melirik teman sekelas yang tidak asing dengan senyuman di wajahnya.


"Alora! Apa kabar? Gimana liburan loe ke mana aja?" Tanya Key yang membawa kursinya ke dekat meja Alora karena mereka duduk bersebelahan.


"Gua cuman rebahan di rumah!" Sahut Alora sambil membuka tasnya untuk mengeluarkan perlengkapan belajarnya.


"Loe nggak jalan bareng pacar loe?" Tanya Key lagi.


"Kepo deh loe! Itu dosenya datang.. cepetan balik ke meja loe!" Ucap Alira yang malas dihantui banyak pertanyaan.


Kelas berlangsung seperti biasanya, sesi perkenalan dengan dosen di mata kuliah baru, kemudian dibahas outline yang akan dipelajari serta sistem belajar dan penilaian. Terasa membosankan hingga Alora bahkan menguap beberapa kali hingga kelas usai.


Si psyco young and rich, siapa lagi kalau bukan Beni, pemuda ini baru datang saat jam mata kuliah kedua. Dia dengan sisi angkuh dan tidak peduli sekitar dengan santai datang lalu duduk di bangku yang tersisa di belakang. Penampilannya sangat casual dengan headseat di kedua telinganya, tentu saja para gadis tidak ingin melewatkan kesempatan melirik pemuda tampan itu.


Kelas untuk mata kuliah keduapun dimulai begitu dosen masuk.


...


Kelas lainnya juga mengawalinya dengan kisah yang sama, suasana hujan hari itu membuat suasana dingin dan tenang. Andre sebagai cowo young and rich juga menarik perhatian para gadis dengan visual dan style-nya yang boyfriend material, tentu saja karena dia pacarnya Alora.


Mereka tadinya juga berangkat bersama dengan mobilnya, dan sama seperti Alora pemuda itu juga agak terlambat masuk kelas. Dan satu orang yang selalu memanfaatkan keadaan, gadis bertubuh montok dengan setelan minimnya, Ziva. Gadis itu langsung pindah dari bangkunya untuk duduk di dekat Andre.


"Hai Andre! Gimana liburan loe?" Tanya gadis itu.


"Seru dong! Gua jalan bareng cewe gua! Kita quality time bareng, pokoknya seru deh!" Sahut Andre yang sengaja agar Ziva tidak berharap padanya. Bukannya tidak peka, Andre tau maksud cewe-cewe yang selalu mendekatinya dengan niat yang sama.


Begitu kelas usai, Ziva masih saja terus menempel di dekat pemuda itu. Andre keluar dari kelasnya lalu berjalan menuju kelas pacarnya, tiba dua orang gadis lain menghentikan langkah pemuda itu.


"Loe Andre kan?" Ucap salah satu gadis manis itu.


Andre mengangguk dengan wajah datar, lalu Ziva yang dua langkah di belakang Andre langsung berdiri di samping Andre.


"Ni buat loe!" Ucap gadis itu malu-malu sembari menyerahkan kemasan coklat dalam paper bag-nya.

__ADS_1


"Andre udah punya pacar tau!" Ucap Ziva.


"Oh ya?" Gadis itu tampak syok dengan tangan menutup mulutnya, padahal ia sudah menyiapkan mentalnya khusus untuk memberikan hadiahnya hari ini.


"Yaudah sini gua terima! Dan seperti yang kalian dengar barusan, itu pacar gua!" Andre mengambil hadiahnya lalu melirik Alora yang baru keluar juga dari kelasnya.


"Thankyou! Hadiah loe bakal gua makan kok bareng pacar gua!" Andre langsung melangkahkan kakinya menuju arah Alora.


"Oppaaa!!" Panggil Alora sembari bersikap imut.


Andre tersenyum melihat tingkah gadis itu lalu merangkulnya. Tangan keduanya menyatu mereka terlihat bersemangat hari ini.


"Itu pacar Andre?" Tanya gadis yang memberi hadiah tadi.


"Iya!" Sahut Ziva dengan wajah datar sembari melibat tangannya di pinggang.


"Kok kayak nggak cocok gitu ya? Ada yang aneh gitu.. cewenya terlalu biasa.." lanjut gadis lainnya tadi.


"Ya iyalah! Cewe itu miskin!" Ucap Ziva lalu pergi.


...


Gadis itu hanya berjalan sendirian dengan pandangan yang tidak fokus. Ia tidak menyadari ada pemuda tinggi yang berdiri di depannya layaknya tiang, gadis itu malah menabraknya hingga terpleset. Namun tangan sigap itu menangkap pinggang Lia agar ia tidak terjatuh.


Posisi yang layaknya sedang berdansa, Lia akhirnya menemukan sepasang tatap lainnya. Pemuda itu hanya menggunakan wajah datar, namun tanpa sadar terbesit dalam hati Lia, "apakah gua lagi mimpi?" Hal yang terbentang di depan matanya sangat tidak nyata.


Pemuda itu adalah Beni, yang terlihat menawan dengan penampilan casual, layaknya pengusaha muda kaya (memang benar dia kaya sih wkwk).


Lia menegakkan tubuhnya untuk kembali berdiri, begitupun Beni yang langsung melepas Lia tanpa ada modus atau apapun.


"Ekhem..! Gua mau ngomong bentar sama loe ikut gua!" Ucap Beni lalu melangkah pergi.


"Ngomong apa?" Tanya Lia sembari mengikuti pemuda itu.


Tiba saja Beni menghentikan langkahnya lagi, untung saja kali ini Lia fokus dan tidak menabrak walau jaraknya sangat rentan.


"Loe kenapa sih? Mau ngomong apa?" Tanya Lia, lalu meyadari beberapa gadis yang tak segan melempar pandangannya ke arah Beni, karena mereka hanya tidak tau Beni berkedok sebagai psyco.

__ADS_1


"Kalo Andi nggak serius, datang ke gua! Gua bakal buat loe bahagia apapun yang loe ingin kan!" Kalimat itu terdengar sangat tiba-tiba, sehingga Lia masih tidak bisa mencerna apa yang ia dengar.


"Apa? Loe kenapa? Sakit loe?" Lia yang dilimpahkan rasa bingung.


"Karna loe guru privat gua pas SMA, gua mau belajar lagi sama loe!


"What?" Lia semakin tercengang dengan kalimat selanjutnya.


"Jadi, ajarin gua!" Kalimat yang terdengar agak memaksa dari mulut pemuda itu.


Lia hanya menanggapi dengan mulut terbuka laku tangannya reflek menutup gambar lingkaran dengan pinggir berwarna merah itu.


"Gua terancam kehilangan fasilitas lagi! Jadi gua butuh loe!" Tambah Beni dengan suara berat itu.


"Tapi jurusan kita beda! Gimana gua ngajarin loe? Gua kan nggak paham teori jurusan loe!" Sahut Lia sembari mengernyitkan dahinya.


"Tapi.. bukannya itu tugasnya Lora buat ngajarin loe? Dia kan dapat beasiswa untuk tugas itu!" Sambung Lia.


"Ajarin gua matematika aja! Gua maksa!" Beni mulai meninggikan suaranya.


"Apaan sih nih cowo, makin lama makin aneh!" Batin Lia dengan wajah yang menciut dan agak kesal, namun dia dihadapkan di kondisi sulit untuk menolaknya.


"Yaudah deh! Matematika aja ya! Kapan loe butuh hubungin gua!" Ucap Lia lalu melangkahkan kakinya.


Namun, Beni malah meraih lalu menarik tangan Lia hingga gadis itu terseret ke dalam peluk Beni. Di sisi lain, pemuda itu tampak sedang memainkan suatu peran sembari melirik ke seseorang yang menatapnya agak jauh darinya. Tiba saja lemparan seringai psyco meluncur dati wajah tampan itu.


Di sisi lainnya juga, Lia yang menjadi bahan percobaan masih syok dengan yang terjadi.


"Kenapa jantung gua detaknya cepet banget gini ya?" Batin Lia dengan mulut agak terbuka dan mata yang tidak fokus.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2