My Secret Alora

My Secret Alora
Not Enough


__ADS_3

Walaupun berada di dunia yang sama tapi tempat kita berbeda.


-bomy-


Orang-orang hanya mempercayai yang mereka lihat, tapi tidak peduli cerita dibaliknya, iyap benar! Manusia itu egois.


.


.


.


Andre menghampiri Alora yang sedang kedinginan itu lalu berkata


"Al, ayo kita pulang! Loe harus ganti pakaian loe, kalo nggak loe bisa jatuh sakit" Andre mengulurkan tangannya.


"Nih! Ganti baju sana!" Pemuda lainnya yang tiba saja sudah di sana menjinjing sebuah paper bag berisi pakaian kasual wanita di dalamnya. Tentu saja, pemuda itu adalah Beni si paling tau tentang Alora.


Gadis itu menatap paper bag di depannya, begitupun dengan pemuda peminjam payung tadi keduanya saling melirik lalu kembali menatap kedua pemuda lainnya yang baru tiba itu.


Tanpa sepatah katapun, Alora mengambil bawaan Beni lalu menuju toilet untuk mengganti pakaiannya. Tak lama, gadis itu kembali dengan jeans scuba dan kemeja putih yang agak kebesaran. Bagaimana tidak, pasti Beni membeli dengan ukuran seadanya.


"Thanks ya Ben!" Ucap Alora dengan wajah datar, lalu menuju pemuda payung tadi.


"Nama kamu siapa? Tadi kita ngomong panjang lebar tapi belum kenalan. Aku Alora!" Alora menjulurkan tangannya.


Pemuda itu menjabat tangan Alora dengan wajah tersenyum "aku Dian!"


"Baju loe akan gua kembalikan lusa ya, setelah gua cuci"


"Gak apa! Sini!" Dian mengambil hoodinya dari tangan Alora lalu melanjutkan katanya "bajunya nggak kotor kok! Lagian nggak seberapa basah juga. Lain kali kita ketemu lagi! See you!" Dian meninggalkan Alora bersama kedua rekan SMA nya itu.


Alora langsung masuk ke ruang klinik tanpa memperdulikan kedua pemuda itu. Andre melirik tas Alora yang ditinggal begitu saja dan hpnya tergeletak di kursi tunggu itu. Sebagai pacar yang baik, Andre memungut barang Alora untuk di simpan.


"Kali ini gua menang!" Ucap Beni lalu tersenyum sinis. Namun, Andre hanya melirik tidak ingin merespon.


"Gua menang untuk kedua kalinya! Dan akan begitu seterusnya! Loe akan kalah!" Sambung Beni dengan senyuman kebanggaannya.


"Loe kurang kerjaan? Tapi bentar.. siapa yang kasih tau loe Alora di sini? Dan dari mana loe dapat baju yang loe bawa tadi?" Tanya Andre.


"Gua beli lah! Kan gua udah bilang gua tau segalanya tentang Alora! Budeg loe!" Sahut Beni dengan nada yang tidak bisa santai.


"Kalo gitu berapa? Gua bakalan bayar baju itu!" Sahut Andre.


"Nggak usah!" Beni dengan tegas menolak.

__ADS_1


"Bentar...Loe tau segalanya, jangan-jangan loe penguntit pacar gua?" Andre mengkerutkan alisnya.


Beni tidak dapat menahan senyum sinisnya "Heh! Jaga pacar loe!" Tatap Beni tiba saja jadi serius "jangan cuman nge-klaim dia pacar loe tapi loe nggak becus sebagai pacar!"


"Jaga omongan loe ya!" Andre mulai emosi.


"Itu peringatan pertama!" Ucap Beni lalu dengan sombong meninggalkan tempat itu.


Andre mengantar kedua gadis itu pulang ke rumah Lia.


"Makasih ya Ndre!" Ucap Lia lalu masuk ke rumahnya bersama Alora.


Sang pacar kembali keluar setelah membawa Lia masuk.


"Loe pulang aja! Gua akan tetap di sini malam ini" ucap Alora lalu kembali masuk ke rumah setelah mengambil barangnya dari pacarnya itu.


...


Keesokan harinya, Andre menjemput Alora di rumah Lia, namun siapa sangka ternyata pagi-pagi sekali Alora sudah pulang ke rumahnya sendiri. Namun, Andre tidak menyerah begitu saja, ia kembali ke rumah Alora untuk menjemput gadis itu. Tapi sayangnya, Alora sudah menaiki mobil lain saat hendak berangkat, ia ditawari tumpangan oleh Andi karena searah dengan kantornya.


"Gimana kabar kuliah loe?" Tanya Andi yang sedang menyupiri mobil itu.


"Baik kok kak!" Sahut Alora tapi wajahnya menunjukkan kebalikannya.


"Tapi kayaknya loe lagi nggak baik, kenapa? Cerita dong!"


"Lia? PTSD? Serangan panik maksud kamu?" Andi tampak shock mendengar cerita Alora.


"Iya kak"


"Kok bisa?" Andi terlihat sangat khawatir "sekarang dia gimana?"


"Sekarang dia udah baik-baik aja kok!"


"Syukurlah! Tapi penyebabnya apa?"


...


Kehidupan kampus berlangsung dengan semestinya. Karena tidak masuk mata kuliah kemarin, Alora jadi tertinggal dan tidak mengerjakan tugas dari Mata kuliah yang sama hari ini.


"Nih!" Seorang gadis berpenampilan tomboy itu meletakkan buku catatan Alora sekaligus buku tugasnya di depan Alora. Namun, gadis yang kebingungan itu hanya menatap Key sambil bingung.


"Loe bisa salin jawabannya dari gua nggak usah sungkan gitu! Anggap aja balas budi gua karna loe minjamin catatan loe dan biarin gua bisa masuk mk ini tahun ini" ucap Key lalu tersenyum.


Alora juga ikut tersenyum lalu membuka buku dan menyalinnya.

__ADS_1


"Temen loe gimana udah baikan?" Tanya Key dan Alora hanya membalas dengan anggukan sembari menulis.


"Gua lihat loe lari ke gedung fakultas lain, ternyata seseorang butuh bantuan. Gua iseng ikutin loe karna kepo! Ternyata loe se-setia itu! Gua terharu!"  Key menatap lembut gadis yang terburu-buru menulis itu.


"Loe bela-belain basah demi sahabat loe! Untung gua bawa baju lebih di bagasi motor gua! Btw muat nggak sama loe?" Tanya Key lagi.


"Yang di kasih Beni itu baju loe?" Alora menghentikan tangannya menggores di kertas putih itu.


"Iya! Gua titip sama Beni soalnya gua buru-buru harus kerja" sahut Key santai. "Eh tapi kalian dekat kan? Gua lihat dia selalu ngikutin loe, gua kira kalian dekat makanya gua nitip ke dia"


"Gua sama dia nggak sedekat itu! Sesuai dugaan gua cowo itu memang nggak akan seperhatian itu!"


"Siapa? Beni?" Tanya Key yang penasaran.


"Iya! Gua sempat kepikiran semalam, dari mana dia tau dan ngasih baju ke gua tiba-tiba pas banget waktu gua bener-bener nggak tahan lagi kedinginan. Gua bahkan udah mulai tersentuh sama kebaikan dia... lah ternyata behind the scene nya itu karna loe!" Alora melanjutkan menggores angka yang di setai titik di lembaran tugas itu.


"Tapi dia nganterin ke elloe! Artinya dia (Beni) peduli dong!" Sahut Key.


"Dia cuman suka lihat gua menderita, makanya dia datang! Dari dulu juga gitu! Tempramen nya nggak bisa di ubah!" Sahut Alora lalu melirik oknum yang dibicarakan itu baru datang dan memasuki kelas.


...


Jam 2 siang setelah aktivitas akademis nya selesai, Alora sedang duduk di kantin bersama pemuda yang baru dikenalnya kemarin. Iyap itu Dian yang sedang menikmati makanannya, mengingat makanan gratis yang ditraktir Alora sebagai balas budi.


"Setelah dari sini, balasan dari sebuah payung usai dong! Kita masih bisa ketemu kan sesekali?" Ucap Dian.


"Mm" Alora mengangguk sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Hidup kamu terlalu menarik untuk dilewatkan. Dua orang pemuda dengan kepribadian berbeda, aku rasa cukup mengesankan"


Alora hanya mendengarkan.


"Kamu akan balas budi juga sama cowo yang ngasih baju itu?" Tanya Dian lagi.


"Hmm.. bisa jadi! Tapi gua nggak merasa hutang budi sama dia" sahut Alora lalu menyeruput minuman dari gelasnya.


"Kenapa? Mengharukan loh tiba-tiba dia bawa pakaian di saat paling dibutuhkan"


"Di sisi lain, cukup mengharukan juga dengan the other story yang sangat ingin di lupakan" sahut Alora lalu tersenyum.


"Beni? Itu belum cukup untuk memaafkan perlakuan buruknya dulu! Karna luka gua tidak bisa sembuh sepenuhnya.." Bantin Alora sembari tersenyum itu.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2