My Secret Alora

My Secret Alora
Siblings


__ADS_3

Jalanan ketika siang hari memang dilanda kemacetan, tak dipungkiri Beni yang sedang menuju tujuannya setelah meninggalkan Lia yang berujung naik bus. Namun kelihaian yang ia miliki kerap ia gunakan walau melanggar lalu lintas (tidak patut ditiru), dengan membelokkan mobilnya sana-sini, kiri-kanan, dan ia berhasil sampai di tempat tujuannya dengan cepat.


Iyap, tujuan Beni adalah rumah sakit. Pemuda itu benci tapi ia masih memiliki nurani, di mana wanita yang ia benci tetaplah ibu kandungnya. Dengan sisi gelap terang yang ia miliki, ia selalu menjenguk ibunya dengan metode berada di pintu lalu mengamati apa yang terjadi di dalam ruangan layaknya seorang spy (mata-mata). Bukan karena dirinya tidak memiliki keberanian menemui ibunya, tapi rasa luka yang ia miliki lebih besar dari kasih sayang yang ia punya.


Saat bersama ibunya Lia, Beni merasa seolah ia membutuhkan sosok ibu yang hangat. Namun, ia belum bisa membuka hatinya untuk menerima ibu kandungnya kembali, walau sikap wanita itu saat ini sudah penuh kasih sayang.


Terdengar suara gesekan lantai dengan sepatu, Beni sontak tergerak kakinya lalu bersembunyi. Ternyata itu Fathia yang baru tiba, gadis itu melirik kanan kiri saat merasa ada yang janggal. Walau sebenarnya ia tau bahwa Beni yang tadi berada di sana.


Namun pemandangan mengejutkan lainnya yang Fathia temukan membuat dirinya ikut bersembunyi bersama Beni. Tanpa ragu gadis itu berlari ke balik tempok di mana Beni juga di sana. Kedua oknum itu saling lirik tajam sesaat, lalu sibuk memonitor apa yang terjadi di dalam ruangan yang mereka targetkan, di mana hanya tampak kepala Beni di atas dan kepala Fathia di bawah.


Orang yang mereka intai itu adalah Nugroho, suami Dwita saat ini dan masih belum resmi bercerai. Sebenarnya Nugroho hanya menghilang tanpa kabar dengan amarah yang ia tinggal membuat semua orang berpikir ke arah sana.


"Masuk sana!" Ucap Beni mendorong adiknya itu.


"Lah napa gua?" Sahut gadis itu.


"Loe kan anaknya! Kalo dari sini nggak tau mereka ngomong apa! Ke sana loe buka pintu jabgan di tutup cepet!" Perintah Beni.


Dan dengan polosnya, kali ini gadis itu menuruti kakaknya tanpa perlawanan. Melakukan seperti kata Beni, Fathia masuk lalu bertanya.


"Ada apa nih?"


"Kami akan rujuk kembali!" Ucap Dwita yang berhasil membuat dua pasang bola mata membulat dengan kabar tak terduga.


"Fathia... papi nggak maksud ninggalin kalian, papi cuman stress waktu itu dan sekarang papi udah bawa uang kok buat lunasin biaya rumah sakit, jadi kamu nggak perlu kerja lagi ya!" Ucap pria itu.


Fathia langsung menoleh ke arah persembunyian Beni, namun pemuda itu sudah tidak ada di tempat. Gadis itu tampak bingung harus menjawab apa lalu ia hanya menghela berat.


"Terserah deh!" Ucap gadis itu lalu pergi.


"Fathia!" Panggil Dwita.


...

__ADS_1


Gadis belia itu mencari oknum bergelar kakaknya itu, namun ketika ia menemukan pemuda itu sudah di dalam mobilnya untyk pergi. Fathia hanya menatap dengan perasaan sendu yang ia miliki. Ia jadi paham bagaimana rasa harus memaafkan orang yang meninggalkan ketika tiba-tiba kembali. Bahkan dirinya yang tidak se-terluka Beni menyimpan amarah besar yang ingin ia amukkan saat ini.


***


Hari sudah sore, Beni pulang ke rumah dengan rasa kesal yang ia pendam dan tengah simulasikan agar pikirannya teralihkan ke hal lain. Tepat setelah berpikir hal lain pun terlihat.


"Cih! Dasar! Katanya kesepian tapi udah peluk-peluk aja di pinggir jalan lagi!" Ucap Beni saat menemukan sesosok pasangan yang ia kenal di luar minimarket lingkungan mereka.


"But wait! Itu bukan Lia! Trus Andi bareng siapa dong?" Batin Beni saat menemukan fakta itu sembari terus melewati pelan tempat itu dengan mobilnya.


"Mantan Andi?" Mulut Beni agak terbuka dengan ekspresi tak percaya. Sebagian amarah yang ia pendam di tambah percikan api yang sebenarnya malas ia ladeni, membuat pemuda itu melepas hrlaan berat.


...


Begitu sampai di rumah, pemuda itu langsung ke kamar lalu melemparkan tubuhnya ke kasurnya dan memejamkan matanya. Helaan berat jelas terdengar dari dirinya. Mata itu tiba saja terbelalak.


"Kenapa harus gua? Kenapa gua selalu ada di saat yang tepat sih? Gua nggak harus lihat semua yang nggak perlu itu! Lagian gua ini jahat untuk apa?" Pemuda itu mulai mengoceh sembari membangunkan tubuhhnya menjadib posisi duduk di kasur itu.


Malam akhirnya menyapa, Fathia pun akhirnya pulang, namun ia menemukan Beni dengan keringat mengaliri seluruh wajahnya dan rambutnya yang basah layaknya baru dibasuh. Pemuda itu duduk di bangku meja makan sembari menyeruput mie instan dalam cupnya.


"Loe ke mana tadi? Kok ilang?" Tanya Fathia.


"Bukan urusan loe!" Jawaban Beni terdengar jelas walau sedang mengunyah makanannya.


"Oh anak papah udah pulang?" Herman yang baru saja keluar dari kamarnya menyapa.


"Iya pah!" Sahut gadis itu.


"Udah makan nak?" Tanya pria itu lagi.


Fathia mengangguk lalu menambahkan, "Fathi udah makan di rumah sakit tadi pah!"


"Oya pah! Mama rujuk sama suaminya, jadi papah nggak perlu bayar rumah sakit mamah lagi!" Ucap Fathia.

__ADS_1


"Tapi Fathi tetap tinggal sama papah kan? Nggak balik ke sana kan?" Tanya Herman tampak khawatir kehilangan anaknya lagi.


Gadis itu terdiam sejenak lalu melirik Beni yang tak acuh, hanya sibuk menyeruput mie-nya.


"Sepertinya begitu pah! Fathi masuk kamar dulu ya papah!" Sahut Fathia.


Herman mengangguk lalu menuju ke arah Beni.


"Mana mie buat papah?" Tanya Herman pada Beni.


"Itu yang dekat kompor!" Sahut Beni cuek.


Herman mengambil cup mie itu lalu duduk di samping kanan anaknya itu.


"Wah rasanya paling pas emang!" Seru Herman, lalu ia menepuk pelan punggung pemuda itu, namun ia malah meraba gumpalan keras yang di sebut otot di lengan Beni.


"Waaaah!" Seru Herman lagi yang takjup dengan komposisi otot yang tebal itu, "dengan otot sekuat ini loe pasti mampu lindungin papah sama adikmu!"


"Apaan sih pah? Narsis banget! Lagi makan nih!" Sahut Beni menepis pelan tangan ayahnya darinya karena ingin memasukkan mie di sendok itu ke dalam mulutnya.


Tanpa sadar, Fathia memperhatikan hubungan itu yang terlihat manis. Namun dia tidak bisa masuk ke dalamnya, walau ia juga bagian dari keluarga itu.


"Beni adalah kakak gua! Tapi gua nggak tau kehidupan seperti apa yang dia jalanin!" Batin Fathia lalu membuka pintu kamarnya lalu masuk.


.


.


.


Tbc


Sorry partnya Beni kepanjangan:)

__ADS_1


__ADS_2