My Secret Alora

My Secret Alora
New semester


__ADS_3

1 tahun kemudian,


Keadaan menjadi normal, masa kuliah berlanjut dan umur 20-an pun mulai menyapa satu-persatu tokoh dalam kisah ini. Saat ini para remaja yang beranjak dewasa itu telah menginjak semester 4 masa kuliah. Di mana tantangan perkuliahan semakin terasa. Namun berkat keseimbangan kehidupan yang membuat semua mengalir normal semestinya. Kisah seru tetap ada meski kadang luka tetap muncul tak dapat dihindari.


Alora, gadis itu entah bagaimana terpilih menjadi komisaris kelas. Saat ini ia bertanggung jawab membagikan tugas analisa laporan keuangan yang telah ia ambil dari ruang dosen. Membagikan adalah tugas mudah, namun ada saja yang membuatnya rumit. Ada satu orang yang membuatnya kelelahan, iyap Beni.


Saat ini Alora mencari Beni sembari membawa Laporan keuangan tebal yang telah dijilid, gadis itu mencari ke lapangan basket. Sejak ditinggal menjadi jomblo sendirian, pemuda itu mulai menekuni basket dan aktif dalam club Basket kampus. Tentu saja berkat hal itu, dirinya semakin populer di kampus apalagi dengan wajah tampannya itu.


Alora akhirnya sampai, dan ia menemukan Beni yang sedang latihan bersama temannya yang lain, dikelilingi para penonton yang di dominasi para gadis. Begitu tiba, Alora langsung berteriak,


"Ben! Nih tugas loe! Gua tarok di mana? Tebal banget lagi!"


Beni mengalihkan pandangannya ke arah Alora setelah mencetak satu angka.


"Loe buang aja!" Sahutnya santai lalu melanjutkan permainan.


"Apaan loe? Nggak menghargai banget sih? Capek ke sini bawanya tau!" Sahut Alora kesal.


"Siapa suruh loe bawa?" Ucap Beni lalu menghentikan permainannya dan menghampiri gadis itu sembari mendrible bolanya.


"Heh! Loe sadar diri dong! Ini tuh disuruh simpan sama dosennya, makanya Al bawa buat loe!" Sahut Andre yang sudah muncul entah dari mana ia berasal.


"Cih!" Beni menyeringai dengan tampan.


"Kalo gitu lawan gua tanding basket! Kalo loe menang gua akui gua salah!" Ucap Beni yang sepertinya ingin mencari sensasi sekaligus memamerkan keahliannya.


"Nggak perlu tanding aja loe udah jelas salah! Pakek nggak mau ngaku lagi loe!" Sahut Andre dan Alora hanya menyimak lalu menjatuhkan laporan milik Beni di lantai itu.


"Ayo sayang kita pergi aja!" Ucap Alora lalu berbalik setelah meraih tangan pacarnya.


"Jadi loe takut kalah dari gua? Dan secara teknis loe juga mengakui kalo gua nggak salah, Alora aja yang kerajinan hahah!" Beni memprovokasi dan dengan mudah Andre menyetujui tawaran tadi.


"Jaga mulut loe ya! Okeh kita tanding!" Ucap Andre lalu menarik lengan bajunya menuju ke lapangan. Di sisi lain, Alora hanya mampu menghela berat dengan wajah kesal menatap dua pria yang harusnya sudah dewasa itu masih bersikap kekanak-kanakan.

__ADS_1


Pertandingan berlangsung sengit, walau jarang memainkannya Andre tampak lihai menggunakan tubuhnya. Tak heran Andre juga beberapa kali mencetak angka dan terus diimvangi oleh Beni sang lawan. Namun setelah beberapa menit, Beni ingin segera mengakhiri pertandingan, jadi ia menggunakan keahliannya menembak bola dari jauh ke ring, semua orang terpana menatap ke arah bola yang melaju cepat itu, namun sayangnya ia agak meleset dan kabar buruknya bola itu memantul menargetkan mangsanya.


Gadis yang bahkan tidak menonton, ia hanya duduk di sana karena menunggu permainan usai malah menjadi korban. Bola itu memantul mengenai kepala Alora dan tentu saja gadis itupun pingsan di tempat.


Di Klinik Kampus,


Tampak Lia yang berlari lalu langsung membuka pintu saat tiba di sana.


"Lora gimana?" Tanya gadis itu pada dua pemuda yang berdiri di sana, pemuda satu di sudut dan satu lagi di depan ranjang Alora terbaring.


Alora tampak menunjukkan kemajuan, dahinya mulai mengkerut, keningnya sedikit terangkat saat matanya perlahan terbuka.


"Duh kepala gua kok sakit ya?" Ucap Alora yang seolah kehilangan ingatannya sembari menopang kepala dengan sebelah tangannya.


"Tadi loe kena bola bas..." kalimat Lia yang ingin menjelaskan tiba saja terhenti saat yang tidak pernah terbayang itu terjadi.


Beni tiba saja mendekat lalu memeluk Alora yang duduk di ranjang itu.


"Maafin gua Al! Gua..." kalimat Beni belum sempat ia selesaikan.


"Sorry!" Ucap Beni seolah tadi kehilangan kendali dirinya. Pemuda itupun pergi keluar dari ruangan itu.


"Lora loe gimana?" Tanya Lia yang masih khawatir.


"Gua udah mendingan nggak apa kok!"


...


Setelah beberapa lama, Lia keluar dari ruang Klinik lalu menuju gerbang kampus. Tanpa sengaja ia melihat Beni yang menuju tempat parkir, gadis itupun menghampiri pemuda itu.


"Hey Ben! Loe kenapa gitu tadi?" Tanya Lia.


"Apaan?" Sahut Beni yang terlihat malas.

__ADS_1


"Loe belum move on dari Lora?  Yaah walaupun gitu loe nggak boleh langsung meluk gitu aja apalagi di depan Andre! Yaah pasti dia bakal marah..." Kalimat Lia langsung terpotong.


"Jadi kalo gua meluk di belakang cowonya boleh? Kalo gitu gua juga boleh meluk loe sekarang?" Tanya Beni dengan tampang menyebalkan itu.


"Apa sih loe? Nggak gitu juga maksud gua!" Ucap Lia yang kesal mendengar sahutan itu.


"Pergi sana! Urus aja pacar loe!" Ucap Beni lalu pergi.


Lia yang ditinggal dengan mulut terbuka karena kesal itu masih tak habis pikir dengan pemuda yang baru ia hadapi itu.


"Itu orang makin lama makin bukan kayak Beni yang gua kenal!" Ucap Lia lalu menemukan mobil Andi yang datang menjemputnya.


...


Di dalam Mobil Andi, di mana pemuda itu sibuk menyetir lalu menyadari gadis di sisinya tampak termenung.


"Sayang kenapa?" Tanya Andi.


"Lagi kesel aja sama Beni! Dia tuh makin lama makin ngeselin yaah walaupun dulu dia gitu juga sih!" Sahut Lia.


"Emang dia ngapain?" Tanya Andi lagi.


"Dia masih belum move on dari Alora!" Sahut Lia.


"Hmm.. biarin aja dia! Melupakan kan tidak semudah itu, mungkin dia masib mencoba dengan caranya sendiri!" Sahut Andi yang masih fokus menyetir.


Lia hanya terdiam dan tampak larut dalam pikirannya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2