
"Hai jeng! Makasih banyak loh udah mau jengukin anak saya, cuman Andre-nya lagi di luar katanya mau cari udara segar" kata Jeni pada temannya itu aliyas ibunya Mila.
"Ah nggak apa kok jeng, Mila juga ikut ada di luar tadi kayaknya dia ketemu Andre deh" sahut wanita lainnya di ruangan itu.
"Tuh mereka datang!" Ucap ibunya Mila sambil menunjuk ke arah pintu.
Saat melihat wajah Mila, Jeni masih kesal mengingat pernyataan Andre tentang Mila menindas Alora. Wanita itu masih setengah tidak percaya juga, selain itu ia sangat ingin mengetahui alasan dibalik penindasan itu.
"Jeng, kayaknya ini waktu yang tepat untuk selesain masalah!" Ucap Jeni sambil menatap Mila yang juga menatap Wanita bergelar ibu Andre itu curiga.
"Maaf ya sebelumnya, tapi aku harus kasih tau kamu, Mila ini menindas teman sekolahnya dan kebetulan gadis yang dia tindas juga ada di rumah sakit ini, jadi saya mau tau kebenaran dari semua itu"
"Maksud jeng apa? Nggak mungkin lah! Anak saya itu anak baik-baik" Ibunya Mila tampak tidak percaya mendengar kebenaran tentang anaknya itu.
Mila langsung berlari ke belakang ibunya dan mencoba sedikit bersandiwara seolah dirinya korban.
"Ayo kita buktikan sendiri! Andre juga tidak mungkin membohongi saya!" Ucap Jeni lalu keluar menuju ruang Alora.
Dalam ruangan Alora, hanya ada nenek dan tante Ina. Saat ini, semua orang dari ruang Andre sudah berada di kamar inap Alora. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, Jeni dan semua orang menunggu Alora kembali dari luar.
Tentu saja, karena Alora tersesat di lingkungan rumah sakit itu membuatnya tidak bisa kembali dengan cepat.
...
Alora akhirnya kembali, namun bersama Beni. Tatap Andre sedikit tergerak lalu menghela berat nafasnya.
Di sisi lain, Jeni langsung to the point pada tujuannya. Setelah beberapa kali bertanya dan masih belum mendapat jawaban yang benar, wanita paruh baya itu masih tidak menyerah dan tetap bertanya.
"Apa sebenarnya alasan Mila menindas Alora? Nggak ada diantara kalian yang mau jawab? Lora?" Jeni masih memaksakan rasa penasarannya, saat semua orang di ruangan itu menonton.
"Saya tidak suka ikut campur tentang perasaan atau alasan orang lain, tante! Jadi..." kata Alora tiba saja terpotong oleh Andre yang tidak tahan lagi ingin menjawab.
"Karena Alora itu pacar aku mah! Jadi dia mengancam Al untuk jauhin aku!" Sahut Andre yang membuat beberapa orang dalam ruangan itu terkejut.
"Nggak bener itu tante! Maah percaya sama aku! Aku cuman nggak sengaja nyenggol Alora gitu aja kok!" Mila mencoba membela dirinya dengan sikap memohon pada ibunya.
"Apa benar Alora?" Tegas Jeni.
"Jawaban seperti apa yang tante ingin dengar? Jika saya jawab 'iya' maka saya seolah menjerumuskan Mila. Tapi jika saya jawab 'bukan' maka Andre berbohong" sahut Alora yang sebenarnya malas mengurusi hal yang semacam ini.
"Gini aja tante, Mila minta maaf ke saya jadi saya akan lupakan semua masalah itu. Tapi syaratnya Mila nggak boleh ngulangin lagi perbuatannya untuk alasan apapun" sambung Alora yang ingin semua cepat berakhir.
"Loe apaan sih? Lebai banget! Cuma kesenggol doang kayak gitu pake baper segala!" Ucap Mila yang enggan meminta maaf.
"Kalo gitu loe mau gua buka kelaku.." kata Alora dengan cepat di hentikan Mila.
__ADS_1
"Gua minta maaf!" Ucap Mila yang tampak tidak ikhlas.
"Minta maaf yang ikhlas dong! Atau gua ..." lagi-lagi Mila merasa harus menuruti kata Alora karena seorang Alora akan random mengatakan apapun yang dia inginkan.
"Maafiin gua ya! Gua nggak akan ngulangin perbuatan gua ke elloe!" Ucap Mila pelan penuh sandiwara lalu keluar begitu saja dari ruangan itu.
Jeni hanya terdiam, namun ia masih ragu melihat sikap kedua remaja yang terlibat konflik itu.
...
Semua tamu yang tidak diundang tadi sedah pergi. Namun, tante Ina dan nenek tampak menahan tetes bening jatuh dari mata mereka saat menatap Alora yang berusaha terlihat tegar.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang sama nenek kalo kamu di tindas?" Nenek mendekati Alora yang duduk di ranjang lalu mengelus rambut gadis itu.
"Alora nggak ditindas kok nek, buktinya sekarang Alora baik-baik aja kan?" Alora mencoba menenangkan neneknya.
"Kenapa kamu yang malah mencoba menghibur orang lain saat mereka sedih karena sayang sama kamu Lora?" Tante Ina bisa melihat Alora hanya berpura-pura tegar, namun sebenarnya juga ingin menangis walau bukan karena masalah Mila.
"Iya! Kamu harusnya jujur bahwa itu adalah kali ketiga Mila coba nyakitin kamu!" Sahut Beni tiba-tiba.
"Apa? Coba jelaskan ke tante!" Tante Ina merasa kesal mendengarnya.
"Pertama kali dengan sedikit sentuhan kekerasan, kedua kali mencoba meracuni makanan, ketiga ingin mencelakai.. sampai kapan loe akan diam Al? Dan semua itu Andre penyebabnya!" Beni dengan tatap seriusnya.
"Kenapa Lora? Kalo memang Andre merugikan hidup kamu, kenapa kamu bahkan nyelamatin dia?" Tante Ina tampak tidak terima.
"Ibu kandung aku meninggal karena nyelamatin Andre juga tante!" Kata Alora yang berhasil membuat semua orang dalam ruangan itu tampak shock.
"Apa?"
"Begitupun ayah yang juga meninggal dalam rangkaian peristiwa yang sama. Aku bisa mengingat semua itu berkat kejadian kemarin"
"Aku juga sangat ingin membenci Andre tapi nggak bisa! Karena aku tau dia nggak sepenuhnya salah tante" bola mata Alora tampak berkaca.
Ina memutuskan untuk langsung keluar karena tidak sanggup lagi menahan tangisnya. Terlepas ada Beni di kamar itu, Ina tidak ingin dirinya tampak lemah di depan Alora. Bagaimanapun ia ingin gadis malang itu bisa mengandalkan dirinya dalam perjalanan hidup yang sulit ini.
Nenek akhirnya ikut bangkit lalu keluar dari kamar juga, karena beliau tahu betul anaknya akan menangis jika pergi seperti itu. Walau Ina suda mengetahui cerita kematian kakaknya, tapi wanita itu tidak tahu hal yang sedetail ini yang akan mengguncang pikirannya.
Tinggallah Alora dan Beni, kedua remaja itu hanya senyap sejak beberapa saat.
"Mau gua ajarin cara membenci?" Kata Beni hingga Alora mengarahkan sepasang manik padanya.
"Nggak perlu! Dari mana loe tau Mila ngelakuin semua itu ke gua?"
__ADS_1
Senyum sinis Beni terlintas begitu saja "gua lihat sendiri"
"Dan nggak hanya itu! Gua juga tau unsur utamanya" sambung Beni masih menerbitkan senyum sinis itu.
"Apa maksud loe?"
"Fakta loe cuma pura-pura pacaran sama Andre! Dan dia bayarin loe jadi pacar, semua masalahnya berawal dari situ!"
"Tapi sekarang udah beda!"
"Beda? Apa karna loe udah suka beneran sama dia?" Pertanyaan pemuda itu membuat Alora tampak terkejut, gadis itu tidak menduganya ataupun berharap mendengarkannya.
Gadis itu hanya terdiam dan merenung.
"Karena itu juga loe nggak bisa benci sama dia?"
Apa aku jatuh cinta?
.
.
.
Tbc
Epilog
Lia yang baru pulang sekolah tampak gembira ia tidak perlu pergi les lagi dan mengunjungi Alora. Sesampainya rumah sakit, entah mengapa bola matanya selalu menemukan pemuda itu. Gadis itu langsung mengalihkan pandangannya.
"Duh! Kenapa coba? Kenapa? Gua bakalan sedih nggak jelas lagi nih karena nggak berani nyapa" gerutu Lia sendirian dan kesal sambil meninju-ninju udara.
Tak ia sadari, Andi sudah di depannya "Loe kenapa? Lia?"
Gadis itu terkejut parah lalu menenangkan dirinya dengan mengelus dada. Ia juga mengusap dan mecoba merapikan rambutnya yang agak berantakan itu lalu tersenyum canggung karena malu.
"Mau jenguk Alora kan? Ayo bareng!" Ucap Andi lalu tersenyum. Pemuda itu juga diam-diam menertawakan Lia yang terlihat gemas di matanya.
Di depan kamar Alora, mereka melihat empat orang keluar dari sana dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Keduanya pun mendekat lalu tanpa sengaja mendengar perkacapan Alora dengan nenek dan tantenya.
Lia juga ikut shock mendengar semua pembicaraan itu. Mengetahui Alora menyembunyikan semuanya darinya juga membuatknya agak kesal.
Satu-persatu juga ikut meninggalkan ruangan itu. Sisalah Beni yang juga ikut menambahkan kenyataan lainnya yang belum Lia dengar.
Lia tidak mampu menahan air matanya juga ikut meninggalkan tempat itu. Tinggallah Andi, pemuda itu tampak lelah lalu menghela berat nafasnya dan kembali ke kamar Andre.
__ADS_1