
Sebuah pohon yang kekeringan dan hampir tumbang berhasil bertahan hidup saat ada manusia yang peduli di sekitarnya yang sering menyiraminya dengan kasih sayang, dan pada akhirnya ia tumbuh lebih kokoh dari pohon yang lain. Begitupun gadis bernama Alora yang memilih untuk hidup karena cinta kasih dari orang sekitarnya yang mampu membuat dirinya terbius dari luka lama yang terlalu dalam itu.
New Era,
Iyap, semua orang akan berubah bila waktunya tiba, sekecil apapun perubahan itu akan berdampak pada orang sekitarnya. Bukannya karena terlalu terluka, tapi karena terlalu lama membiarkan luka itu menguasai diri. Apapun masalahnya manusia hanya memerlukan support dan cinta (dalam berbagai makna).
...
Alora yang baru pulang dari rumah sakit itu hanya diam saja, memang bukan hal baru gadis itu memang seorang pendiam. Mereka semua pulang bersama menggunakan mobil Andre. Di mana Alora duduk di belakang yang dirangkuk oleh ayahnya dan Ali yang juga diam saja duduk di sisi pak sopir (Andre).
Sesampainya di rumah mereka turun dan masuk ke dalam rumah setelah kuncinya di buka oleh Ayah.
"Om! Andre pamit yaa! Ini udah malam juga kan," ucap Andre dengan sopan.
"Makasih banyak ya Andre udah nyelamatin Alora! Om..." Hilman kehilangan kata-kata lalu memeluk Andre lalu menepuk punggungnya tiga kali.
"Kamu hati-hati ya!" Ucap pria paruh baya itu.
"Iya om!" Sahut Andre lalu keluar dari rumah itu dan pulang dengan mobilnya.
Alora masuk ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur lalu menarik selimut dan menutup matanya. Di sisi lain, Ali juga terdiam lalu masuk ke kamarnya.
"Anak-anak! Jangan tidur dulu, papah akan siapin makan malam, keluar dalam tiga puluh menit ya!" Teriak Hilman dari dapur, sejak istrinya tidak ada pria itu juga berperan sebagai bapak rumah tangga kapanpun ia sempat.
Pria itu hanya menyiapkan nasi dengan lauk mie instan dan telur goreng. Setelah tiga puluh menit, Hilman memanggil anak-anaknya sembari menyiapkan meja makan. Kedua anak itu pun keluqr kamar lalu duduk di bangku mereka yang saling berhadapan dan Hilman duduk di tengah sebagai kepqla keluarga.
"Kalian makan yang banyak ya! Malam ini kita makan ini dulu, besok malam papah bakal pesan makanan enak buat kita!" Ucap Hilman dan kedua anaknya melahap dengan baik makanan mereka.
Sebagai seorang ayah, Hilman tampak sedih melihat anaknya yang penuh masalah, hanya karena keuangannya yang tidak stabil.
Uang memang bukan segalanya, tapi manusia butuh uang untuk bertahan hidup. Dan masalah selalu timbul karena satu benda itu, "Uang!"
"Pah,... Lora udah sehat sekarang dan kondisi Lora juga udah baik-baik aja, jadi..." kalimat gadis itu dihentikan ayahnya karena tau arahnya akan ke mana.
"Papah akan tetap tinggal di sini! Begitupun Ali! Bukankah lebih baik seperti ini? Keluarga kita tampak lengkap dan kita bisa saling sharing masalah masing-masing dan hidup dengan baik!" Pria bergelar ayah itu mengatakan hal yang benar.
__ADS_1
"Ali mau minta maaf kak! Seharusnya Ali nggak berkata kasar kayak gitu ke kakak, Ali sadar Ali cuman kurang bersyukur." Pemuda itu tertunduk karena tidak bisa menatap wajah kakaknya.
"Aku maafin kok! Lagian aku juga salah, harusnya aku pakek kepala dingin jangan ikutan panas, dan aku terlalu gegabah mengambil keputusan. Maafin aku juga ya!" Jelas Alora yang menatap wajah Adiknya yang masih tertunduk.
"Gini kan bagus lihat nya! Kalian jangan sering-sering berantem, papah jadi sedih!" Sambung Hilman yang tersenyum haru.
"Oya Lora! Papah udah transfer balik uang yang kamu kirim buat papah! Itu uang beasiswa kamu, kamu kuliah aja yang bener papah udah seneng lihatnya, urusan kerja dan cari duit biar jadi tugas ayah!" Lanjut Hilman.
Gadis itu sedikit terkejut, lalu menatap Ali yang akhirnya menegakkan kepalanya.
"Iya kak! Ali juga udah transfer balik! Itu hak kakak bukan hak Ali! Lagian spp Ali udah dibayarin sama papah." Sahut Ali yang membuat Alora mematung dengan bola mata yang melirik kanan kiri.
"Sekarang masalah kita selesai kan? Karna kita tim? Kita harus hidup bersama dengan baik! Okey!" Hilman tampak sumbringah melihat kedua anaknya kembali normal.
"Mari mulai Era baru!"
***
.
.
Lia tampak lesu di Kafe sore ini, di temani Beni yang berusaha memahami teori rumit matematika. Fathia mengantar makanan mereka dengan tatap sinis dan tidak peduli lalu langsung kembali ke dapur.
Di sisi lain, sebenarnya kedua insan itu tidak bisa fokus dengan apa yang mereka kerjakan.
"Gimana ya keadaan Lora? Kok belakangan gak ada kabar? Kak Andi juga nggak jelas banget," batin Lia sembari duduk melamun.
"Alora gimana ya keadaannya? Apa dia udah mati? Kenapa kemarin gua nggak bisa nemuin dia di mana pun? Gua bodoh banget sih!" Batin Beni lalu mengacak rambutnya karena kesal, hingga Lia ikut terkejut karena Beni mengeluarkan suara,
"Aarrrghhh! Bodoh!" Suara berat yang terdengar kuat membuat beberapa pelanggan ikut melirik pemuda itu.
"Loe apaan sih?" Tanya Lia yang terkejut itu.
"Nggak ada!" Sahut Beni dengan agak kasar.
__ADS_1
"Penyakit psyco loe kambuh? Kita batalin aja belajar hari ini, kan gua udah bilang jangan bawa si psyco Beni kalo lagi belajar sama gua! Gua takut!" Ucap Lia yang membereskan tasnya.
"Loe pasti nggak tau apa-apa kan? Apa salah perpisahan dari Alora?" Tanya Beni yang membuat Lia semakin bingung.
"Apa? Apaan sih Ben? Loe nggak jelas banget hari ini, gua pulang aja!" Sahut Lia lalu bangkit dari kursinya.
Namun Andre meraih tangan Lia, namun ia meminimalisir sikap kasarnya.
"Mungkin loe lebih baik nggak tau! Cari Alora sana gih! Kabarin gua kalo dia masih hidup! Pergi sana!" Beni mengakhiri kalimatnya dengan melepas pelan tangan gadis itu.
"Maksud loe apa? Kok gua merasa ada yang nggak beres?" Tanya Lia lagi.
"Pergi sana!" Beni mengusir kali ini, lalu ia pergi ke dapur mencari oknum lainnya.
"Fathia! Sini loe ikut gua!" Ucap Beni lalu keluar dari Kafe itu. Begitupun Fathia yang mengekor di belakang wqlau dengan wajah masam tanpa kebahagiaan sedikitpun. Di sisi lain, Lia masih menatap mereka dan ikut keluar setelah mereka keluar.
Beni membawa Fathia pergi bersamanya menuju rumah sakit. Lia yang melihat mereka berbisik dalam hatinya.
"Kok mereka bisa dekat gitu ya? Semua orang bisa dekat dengan mudah, kenapa gua susah banget dekat sama orang? Apa gua lupain aja kak Andi?"
...
Seperti biasa Beni menjalankan misi sebagai anak berbakti membayar biaya rumah sakit ibunya yang bagaimanapun dia masih membencinya.
"Tagihan atas nama Dwita sudah dibayar sampai minggu depan!" Ucap petugas administrasi rumah sakit yang membuat kedua oknum di depannya tercengang.
"Apa?" Tanya mereka bersamaan.
"Siapa yang bayar?" Tanya Fathia yang takut akan mengalami masalah lainnya.
"Saya yang bayar!" Suara itu terdengar dari arah belakang mereka membuat keduanya berbalik untuk menatap orang itu.
.
.
__ADS_1
.
Tbc