
Lapangan yang tampak indah di bawah terik matahari pagi, begitupun burung sesekali bersiul memanggil kawanannya untuk merantau mencari nafkah. Mungkin karena hari libur, lapangan ramai penghuninya. Salah satu penghuni lapangan ialah Andi yang sedang duduk mengemil es krim yang telah ia beli sebelumnya bersama Lia yang duduk di sisinya.
Lia melirik ke arah Andi di sisinya lalu tersenyum dan melanjutkan menjilati es kream nya. Begitupun beberapa detik kemudian giliran Andi yang melirik gemas Lia dengan es kreamnya.
"Loe seneng?" Tanya Andi pada Lia.
"Iya hehe!" Sahut Lia yang agak canggung dan malu.
"Loe seneng karna kita jogging di lapangan atau loe seneng karna bareng gua?" Pertanyaan random lainnya dari pemuda itu.
"Lia seneng karna bareng kak Andi lah!" Sahut Lia antusias lalu tersadar untuk menjaga image ia harus tetap stay calm dan tidak boleh berekspresi berlebihan.
Apalagi karena terlalu banyak kecewa, ia tidak boleh mengharap lebih. Semua yang terjadi hanya sesaat, ia harus menceramahi dirinya agar tidak berlebihan dan kembali stres. Tiba saja gadis itu menarik nafas panjang lalu menghela berat lalu mengangguk kecil untuk meyakinkan diri.
"Loe ngapain barusan?" Tanya Andi sambil tersenyum.
"Aa..itu.. Lia cuman mau rileks aja haha apalagi udaranya segar gini! Setelah melalui satu semester yang banyak banget culture shocknya Lia harus siapin diri buat semester selanjutnya!"
"Hmm.. kehidupan kuliah emang gitu! Ada aja pemicu stres-nya. Tapi.. aku iri sama Lia, Lia masih di usia muda dan masih nikmatin masa muda, masa-masa paling indah itu!" Ucap Andi sembari sedikit bernostalgia dalam ingatannya.
"Kak Andi juga masih muda kok, kita hanya beda 4 tahun!" Ucap Lia.
Andi tersenyum mendengar pernyataan Lia. "Kamu bener Lia! Kira-kira mungkin nggak ya, aku dapat pacar yang lebih muda dari aku?" Pertanyaan iseng itu seolah memancing gadis di sampingnya.
"Hmm.. semua tergantung kakak juga sih! Kalo menurut Lia..." gadis itu tampak membutuhkan waktu lama untuk melanjutkan kalimatnya.
"Menurut Lia?" Andi yang masih menunggu jawaban sambil menatap Lia.
"Nggak jadi deh!" Lanjut Lia.
"Lah? Kok nggak jadi?" Tanya Andi lagi.
"Lia nggak berhak menasehati mereka yang lebih tua dari Lia! Pasti kak Andi lebih tau dari Lia."
"Hmm.. kalo gitu aku tanya yang lain deh!" Andi bersiap memberi pertanyaan, ia menatap gadis itu dan memastikan ia siap dengan pertanyaan itu.
"Lia udah maafin Steve?"
Tentu saja pertanyaan itu mengundang kenangan di mana luka masih tergores dalam. Tatap Lia seketika berubah sendu, gadis itu kehilangan fokus hingga hampir menjatuhkan es kream di tangannya.
"Kenapa kak Andi nanya yang itu? Sampai Lia bisa maafin diri-sendiri dan berhenti ketakutan sendirian, sampai Lia nggak perlu khawatir Alora akan pergi lagi, sampai Lia bisa ... tapi Lia belum bisa! Alora masih sering menangis tiap malam ketika bermimpi..." bola mata gadis itu agak berkaca.
"Lia baik banget sih? Sini!" Andi membuang es kream-nya lalu memeluk Lia untuk menenangkannya agar Lia tidak berpikir berlebihan hingga penyakitnya kambuh.
"Tapi aku belum ngerti kenapa Alora mau memaafkan Steve!" Ucap Andi masih memeluk Lia dan mengelus punggung Lia.
__ADS_1
"Karna Alora tidak mau berurusan dengan manusia itu lagi! Alora bukan tipe yang suka cari masalah, dia suka hidup damai.. tapi dia malah mengubur semua kesedihannya sendirian!" Lia melepas peluk itu namun Andi masih melingkarkan lengannya di tubuh mungil Lia.
"Aku juga gitu!" Kalimat Andi terdengar samar.
"Lia kamu mau nggak jadi pelarian aku?" Ucap Andi serius lalu melepas peluknya.
"Apa? Pelarian?" Lia tampak terkejut dengan pertanyaan itu.
"Bukannya pacar tapi pelarian?" Batin Lia menggerutu, namun anehnya mulutnya menjawab,
"Kalo kakak butuh Lia, iya kak! Kak Andi boleh anggap Lia apa aja!" Namun tatap sendu itu sulit untuk disembunyikan. Alternatif paling efektif adalah memasang bibir melengkung agar terlihat tersenyum.
...
Alora tiba di lapangan bersama Andre.
"Liaa!" Ucap Alora lalu berlari duduk di sisi bestie-nya. Dan Andre mengikuti di belakangnya lalu duduk di sisi lain Alora.
"Loe kenapa nggak nungguin gua? Hai kak Andi!" Alora bertanya sambil menyapa.
"Tadi gua kebawa sendiri kemari, ya begitulah!" Lia menjawab pasrah.
...
Di sisi lain, Beni yang kehilangan targetnya gara-gara Key, pemuda itu kembali ke minimarket namun gadis yang tertidur itu sudah tidak ada. Ia mengambil barang miliknya yang ia beli lalu pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya, masih pagi tapi Lia sudah duduk di pojokan Kafe dengan segelas kopi hangat di mejanya. Wajahnya tampak murung seolah Lia yang ceria udah direnggut kebahagiaannya. Sesekali ia menyeruput kopi dari gelasnya, lalu kembali menatap keluar melalui dinding bening itu.
"Maaf kak! Mau pesan apa?" Kalimat itu masuk ke telinganya hingga tersadar dari lamunannya.
"Saya udah pesan! Oh?.." tepat saat Lia menoleh ia merasa mengenal gadis berseragam pelayan Kafe ini.
"Ah maaf kak, saya pikir belum!" Mata Fathia menuju gelas kopi di atas meja itu, "tadi saya nggak lihat udah ada gelas kopi rupanya! Saya permisi."
"Tunggu bentar!" Lia menghentikan gadis itu.
"Iya?" Sahut Fathia.
"Kamu baru ya di sini?" Tanya Lia.
"Iya!"
"Kamu kenal Beni? Beni udah datang belum?" Tanya Lia lagi.
"Kenapa kakak cari cowo kayak gitu? Cari yang lain aja kak, cowo begituan nggak baik buat mental!" Cetos Fathia lalu membalikkan tubuhnya untuk kembali ke dapur.
__ADS_1
Namun, Beni sudah berdiri di belakangnya dan tentu saja mendengar kalimat gadis itu. Namun, Beni mengabaikannya kali ini lalu menarik kursi untuk duduk di depan Lia.
"Kenapa loe cari gua?" Tanya Beni pada Lia. Sedangkan Fathia bergegas kembali ke dapur dengan perasaan tidak enak.
"Enggak ada! Gua cuman basa-basi aja sama anak baru itu!" Sahut Lia dengan bola mata yang melirik kanan kiri.
Beni mengeluarkan hp dari kantung celananya dan hanya fokus pada hpnya.
"Mumpung loe ada di sini... gua.. mau.." Lia menatap Beni dan masih ragu menyampaikan kalimatnya.
Beni mengarahkan sorot matanya ke arah gadis itu tanpa berkedip, tentu saja terlihat menakutkan hingga Lia sontak menutup mulutnya dengan tangan.
"Mata loe! Kalo mau lihat gua ngedip dulu, jangan kek psyco beneran deh!" Lia berkata sembari perasaan takut pemuda ini akan menyeretnya seperti dulu.
"Loe mau ngomong apa tadi?" Suara berat dan agak serak itu terdengar dengan nada yang lebih hangat.
"Ini cerita temen gua sih! Jadi ada cowo yang dia suka tapi cowo itu.. minta cewenya buat jadi tempat pelariannya dia!" Lia tampak serius.
"Gausah mau! Berarti loe itu yang kedua!" Sahut Beni santai lalu kembali sibuk dengan hp nya.
"Tapi saat ini dia jomblo kok! Alasannya apa ya?" Lia tampak kembali murung.
"Andi jomblo? Berarti dia baru putus dari pacarnya? Dan minta loe buat jadi tempat pelariannya? (Beni tersenyum sinis) lalu jawaban loe apa?" Pemuda ini hanya fokus pada hpnya.
"Gua ... eh!.. bukan kisah gua, ini kisah temen gua! Katanya dia jawab mau tanpa sadar."
"Loe gila? Ngapain mau? Harusnya loe tarik ukur dong! Bilang! 'Gua nggak mau jadi pelarian tapi pacar loe!' Gitu kan bisa? Loe bod*h? Jangan mau dipermainkan cowo!" Nada Beni yang jiwa psyco-nya terpancing meninggi begitu saja.
"Iya gua salah! Jangan bentak gua gitu juga! Gua jadi makin sedih!" Lia menciut dan semakin sendu.
Fathia yang melihat dari jauh bergumam, "memang tuh cowo nggak ada pengertian sama sekali!" Lalu menggelengkan kepalanya.
"Kalo gitu jadian sama gua aja! Kita buat dia cemburu!" Sorot mata tajam Beni tampak serius ke arah Lia.
"Nggak bisa dong! Kalo gua jadian sama loe, nanti kak Andi malah jauhin gua!" Sahut Lia.
"Terus mau loe apa?" Pertanyaan yang dibarengi emosi.
"Kenapa jatuh cinta sesulit ini sih? Harusnya aku sukanya sama yang lain aja... jangan dia!" Tatap sendu Lia yang tampak sangat terbebani dengan perasaannya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc