
Malam yang agak sunyi ditemani suara jangkrik yang melengkapi suasana malam yang dingin itu. Terdengar suara daun pintu menabrak tiang kerangkanya dengan keras. Pemuda itu keluar dari rumahnya dengan wajah merengut dan tidak menoleh ke belakang sedikitpun, walau orang dalam rumah memanggil-manggil namanya.
Pemuda yang baru menginjak bangku SMA itu sepertinya masih mengalami masa pubertas, ia menjadi semakin posesif dan cemburuan. Baru saja ia berdebat dengan ayahnya karena masalah sepele.
"Alora aja teros!" Ucap pemuda itu dengan nada tinggi yang terdengar kesal tepat sebelum ia keluar dari rumah.
"Ali! Ali! Mau ke mana kamu udah malam gini? ALII!" Suara Hilman terdengar jelas keluar, namun ia tidak berhasil membuat anaknya itu kembali.
Alora keluar dari kamarnya saat mendengar suasana semakin panas.
"Pah udah pah! Biar Lora yang susul Ali yaa! Papah tenangin diri papah dulu!"
Hilman menarik nafas panjang lalu menghela berat. Pria paruh baya itu langsung meninggalkan dapur itu dan masuk ke kamarnya agar Alora tidak perlu melihatnya marah.
...
Di sisi lain, Alora menjalankan katanya. Gadis itu keluar untuk mencari adiknya itu. Menyusuri jalan di malam dingin itu, di mana awan hitam menyelimuti seluruh langit hingga tak satupun bintang yang berhasil memamerkan sinarnya.
Gadis itu mengunjungi tempat-tempat kemungkinan Ali berada di sana, namun hampir satu jam berkeliling hasilnya masih nihil. Saat Alora mencoba menelpon Ali, hp pemuda itu sudah lebih dulu di matikan.
Endingnya gadis itu berakhir di Kafe Beni, karena kebetulan ia juga haus sedari tadi. Tak heran di Kafe itu ada orang yang tidak asing yaitu siapa lagi kalau bukan Beni. Saat ini Beni sedang fokus belajar matematika bersama Lia yang menjelaskan padanya di meja sudut Kafe.
Begitu masuk dan baru saja menutup kembali daun pintu Kafe, seorang gadis remaja itu berdiri tepat di depan Alora. Gadis itu menilik dari ujung rambut hingga ujung mata kaki Alora yang hanya tampil sederhana dengan setelan training lalu dibalut hoodie di atasnya.
Alora menatap sebentar lalu melangkahkan kakinya.
"Alora?" Ucap Fathia yang membuat Alira terhenti lalu berbalik.
"Loe manggil gua?" Tanya Alora memastikan, soalnya tadi ia hanya mendengar samar saat fokusnya pada hal yang lain.
Gadis itu hanya diam saja lalu menjawab,
__ADS_1
"Tolong berhenti ninggalin jejak! Telinga gua gatel denger nama loe di mana-mana!" Fathia memasang wajah datar dengan tatap tajam.
"Apaan sih loe? Mohon maaf nih ya! Gua nggak famous dan gua nggak merugikan siapapun! Jangan cari masalah deh, gua males debat!" Sahut Alora lalu keluar lagi dari Kafe itu karena kesal.
Tentu perhatian seseorang tiba saja teralih dan beranjak dari kursinya.
...
Di sisi lain, setelah berjalan dua langkah dari Kafe, akhirnya ia menemukan Ali di bangku depan mini market. Gadis itu mendekat lalu duduk di depan pemuda itu.
"Loe marah sama gua?" Tanya Alora menetapkan tatap pada adiknya itu.
"Apaan sih loe pakek ikutin gua segala, pulang sana!" Sahut Ali masih dengan nada kesal.
Akhirnya Alora hanya duduk diam saja. Namun siasana hening itu terlihat rancu.
"Loe sebenci itu sama gua?" Pertanyaan lain dari Alora. Namun, Ali hanya diam saja di bangkunya.
"Gua minta maaf deh! Gua akan coba perbaiki semua! Tapi seperti yang loe tau gua butuh waktu!" Sambung Alora.
"Apa loe bakal senang kalo gua mati?" Pertanyaan lain dari gadis dengan gelar kakak itu. "Apa loe bahagia kalo gua pergi?"
"Iya! Kenapa loe nggak mati aja? Kenapa loe rebut papah dari gua! Dia ayah gua bukan ayah loe!" Sahut Ali dengan kalimat tajamnya.
"Loe yang buat hidup ayah kembali jadi miskin dan terpuruk gitu! Cuman gara-gara bayarin utang loe, uang les gua nunggak, spp sekolah gua juga nunggak! Gua malu hidup miskin kayak gini!" Ucap Ali yang mengambil separuh dari sifat ibunya yaitu Anita.
"Biar gua yang bayar uang les sama spp sekolah loe! Jadi..." kalimat Alora dipotong Ali.
"Loe sombong banget sih? Loe mau nunjukin kalo loe lebih baik dari gua? Dari dulu loe caper banget sok kerja part time, tapi endingnya nyusahin orang aja!" Ucap Ali lagi.
"Ali!" Bola mata gadis itu sudah berkaca, Alora bangkit dari kursi itu. "Loe harusnya terimakasih ke gua! Gua yang biayain loe di asrama dulu! Gua di rumah kelaparan dan nggak pernah dapat jajan demi loe! Harusnya loe bersyukur sama hidup loe yang sekarang!" Alora sudah tidak bisa menahan emosinya.
__ADS_1
Ali juga bangkit dari kursinya, "Kenapa loe nggak mati aja waktu itu huh? Hidup loe yang penuh masalah itu nyusahin orang lain! Harusnya loe sadar diri!" Ucap Ali lalu pergi.
Tentu saja Alora tidak busa terus diam, gadis itu mengikuti sambil memanggil adiknya dengan kesal.
"Loe bunuh gua aja sekalian! Jangan malah kabur kayak pengecut!"
"Kalo itu mau loe! Gua akan mati buat loe!" Kalimat Alora yang terakhir ini terdengar mengerikan, siapapun tau jika gadis itu bertekad maka akan ia lakukan. Kalimat itu juga berhasil membuat langkah Ali terhenti.
Alora menlangkah mendekat lalu berdiri di samping Ali tanpa menatap pemuda itu dan hanya memandang lurus.
"Gua beri loe waktu tiga hari buat mutusin!" Tiba saja Alora tersenyum dan melanjutkan kalimatnya saat Ali meliriknya.
"Akhirnya gua punya alasan yang kuat! Untuk hal yang gua tunggu-tunggu!" Seringai psyco itu muncul lalu gadis itu pergi.
"Gua harap loe nggak akan menyesal!"
Di sisi lain, Ali tampak menatap serius punggung kakaknya yang kurang kasih sayang itu.
...
Di balik sebuah pohon besar, seseorang yang beranjak dari kursinya tadi tanpa sengaja menguping dan mendengar semuanya. Raut yang tampak khawatir itu terpancar begitu saja. Pemuda tinggi berbadan gagah dan dijuliki psyco itu kehilangan kata-katanya saat menonton drama keluarga beberapa detik lalu.
"Alora, demi satu orang yang tidak menginginkan loe, loe bakal ninggalin semua orang yang sayang sama loe?" Beni memasang raut sendu, di mana ia seolah merasa akan kehilangan gadis itu untuk selamanya.
Setelah Alora pergi, Beni juga menemukan seseorang lainnya yang mendengar perdebatan saudara tidak sekandung itu. Seorang pria paruh baya yang berdiri di balik pohon sisi lain jalan. Pria itu tampaknya tidak mampu menahan cairan bening yang keluar dari bola matanya, walau langsung diusap di setiap cairan itu mengalir. Pria itu adalah Hilman ayah dari Alora dan Ali.
"Kenapa harus Lora yang semakin terluka? Anakku yang malang..." Hilman kembali menghapus cairan yang mengalir dari matanya itu.
.
.
__ADS_1
.
Tbc