My Secret Alora

My Secret Alora
Ini Caraku (Andre Pov)


__ADS_3

Rumput hijau yang tumbuh subur di lapangan kampus, saat ini sedang di injak seorang pemuda angkuh menuju pemuda lainnya yang menunggu di tengah lapangan itu.


"Kenapa loe panggil gua kemari?" Tanya Beni dengab gaya berdiri kedua tangan di saku depan layaknya seorang model angkuh sedang berpose.


"Ada yang mau gua tanyain sama loe!" Sahut Andre yang sudah menunggu sekitar 5 menit.


"Sebelum itu, gua tanya duluan! Dari mana loe dapat nomor hp gua?" Tanya Beni lalu melempar tatap tajam.


"Gua rasa itu memang patut dipertanyakan, gua repot banget nyari nomor loe, gua hubungin semua teman SMA termasuk Lia tapi mereka nggak punya! Gua bahkan... sebentar! Bukan ini tujuan gua!" Andre yang hampir terbawa suasana karena perjuangan mencari nomor Beni hingga ia harus diam-diam mengambil ponsel pacarnya untuk memeriksa.


"Gua pengen loe kasih tau gua tentang Alora dan siapa yang sering mengusik Alora belakangan ini!" Lanjut Andre dengan segala harapan pemuda di depannya akan menjawab rasa penasarannya.


"Loe tanya sendiri aja ke orangnya!" Beni yang santai melanjutkan kalimatnya, "loe kan pacarnya!" Dibumbui dengan sedikit senyum sinis.


"Sudah kuduga ini bakal sia-sia! Kalo gitu gua mau buat kesepakatan sama loe!" Andre tampak sudah bertekad.


"Apaan?" Sahut Beni.


"Ayo kita bersaing secara sehat! Gua tau loe selalu ngincar cewe gua, tapi karena gua percaya diri Alora akan selalu bersama gua..."


"Nggak usah bertele-tele langsung ke intinya gua sibuk!"


"Tolong loe jagain Alora saat gua nggak ada! Dari pada loe ngekor-in kami pacaran, mending loe manfaatin waktu yang tepat ya nggak?" Kalimat Andre sedikit membingungkan Beni yang kemudian kembali memasang senyum sinis.


"Cowo yang nyerahin pacarnya ke orang lain? Loe yakin nggak akan nyesal?"


"Gua nggak pernah nyerahin Alora, jangan salah artikan! Gimanapun gua harus lakukan apapun asal pacar gua baik-baik aja!" Andre tampak bertekad.


"Okeh!" Sahut Beni seolah enggan.


"Tapi syaratnya loe nggak boleh kasarin Alora! Jaga etika dan tahan sisi psyco loe!" Andre yang tidak bisa percaya sepenuhnya pada pemuda di depannya.


"Gimana ya? Itu nggak sesuai style gua!" Beni tampak tak acuh.


"Mohon kerja samanya!" Tegas Andre lalu menjulurkan tangannya ke arah Beni. Tentu pemuda angkuh itu menjabat tangan Andre dengan senyuman sinis yang yang tidak hilang dari wajahnya.


"Al, apapun yang terjadi gua bakalan bantuin loe! Tunggu gua!" Batin Andre yang sudah bertekad.


***


.


.


Pagi lainnya menyapa, kelas yang paling enak buat fokus adalah kelas pagi dan yang paling buat ngantuk juga kelas pagi, apalagi bagi mahasiswa titisan kelelawar. Kali ini Alora datang lebih awal karena jadwal piket. Helaan berat terdengar begitu saja.

__ADS_1


"Kenapa loe?" Tanya Rina salah satu mahasiswi di kelas yang sama.


"Kayaknya hari ini bakalan berat buat gua!" Sahut Alora sembari menyiapkan proyektor agar memudahkan dosen melakukan presentasi materi kuliah.


"Loh kenapa?" Tanya gadis berambut pendek itu.


"Karena ini hari kamis!" Alora yang lesu selesai memasang proyektor lalu kembali ke kursinya.


...


Seorang pemuda masuk ke kelas, pandangannya langsung menemukan target yang selalu ia incar. Pemuda bernama Steve itu langsung menuju kursi di samping Alora. Karena Alora merasa risih, gadis itu mengangkat barangnya ke meja di sebelah untuk menjauh. Ketika hendak bangun dari kursinya, kedua bahunya dicekam.


"Loe mau kemana? Di sini aja, maka hidup loe pun akan lebih mudah!" Bisikan di balut senyuman mengerikan itu terlihat dari ujung mata Alora yang melirik pemuda itu.


Alora memindahkan kedua tangan asing di bahunya itu tanpa sepatah katapun. Ia hanya mampu menarik tasnya lagi agar tidak mendapat masalah lainnya jika melawan.


"Loe harus secepatnya lunasin hutang loe! Supaya kita sama-sama enak! Atau loe mau kayak dulu lagi?" Suara bercampur nafas itu masih berbisik di telinga Alora.


Gadis itu hanya diam saja layaknya seorang penurut seolah bukan dirinya.


"Atau loe mau jadi pelayan gua?" Kalimat tanya yang membuat gadis itu menoleh karena rasa tidak percaya, bagaimana seorang manusia terlahir seperti itu.


Dari jauh, terlihat jelas Alora sangat tidak nyaman. Si pengamat sudah beberapa menit berdiri di pinti kelas memantau pergerakan aneh Steve. Kini saatnya ia melancarkan aksinya.


Meski tatap bingung yang dipasang Alora, namun ia sangat bersyukur Beni melakukan sikap kasarnya kali ini. Tidak berhenti di situ Beni mengangkat kursi yang di duduki Alora ke meja di mana tasnya di lempar. Tidak lupa bumbu kasar lainnya menyapa, kursi asal di meja itu di tendang agar ia bisa meletakkan kursi Alora di belakang meja itu. Dan dengan percaya diri dia mengambil kursi lain lalu duduk di samping Steve agar lebih mudah mengontrol gerak-gerik pemuda aneh itu. Tidak lupa pula sorot tajam yang ia lempar ke arah teman sebangkunya selama tiga detik.


"Apaan nih? Berani dia ganggu rencana gua!" Batin Steve lalu tersenyun tak percaya.


"Jangan macam-macam sama calon pacar gua!" Batin Beni dalam sorot tajam itu.


Adegan itupun diakhiri oleh masuknya dosen pengajar bersama asistennya.


...


Jam istirahat, Beni yang keren tadi kembali menjadi dirinya. Pemuda itu lagi-lagi mengekor kemana Alora pergi, namun kali ini ia berjalan berdampingan dengan gadis itu. Bagaimanapun Alora mulai terusik karena cara menolong yang tidak biasa itu.


Andre juga datang, kantin itu kembali heboh saat dua pemuda itu berkumpul di satu meja. Tentu banyak gosip yang menyatakan keduanya bersiteru, namun ketika melihat mereka bersama gosip tadi terdengar hanya hoax saja, padahal memang benar.


Alora yang pintar kali ia memakai kaca mata hitam agar ia tidak perlu menatap mata orang-orang yang melempar lirikan kesal padanya. Namun ia dikejutkan oleh seorang gadis yang datang langsung duduk di depan Andre dan Beni di sampingnya. Tentu gadis itu adalah gadis seksi yang juga populer di angkatan itu karena parasnya dan juga kekayaannya, siapa lagi kalau bukan Ziva.


"Hai Andre!" Sapa gadis itu seolah hanya Andre yang terlihat di matanya.


Dua pasang mata lainnya hanya menyorot bingung gadis itu.


"Alora! Boleh gua duduk di sini kan? Lagian kalian nggak lagi berduaan, ada cowo ini di sini!" Ziva berbincang seolah Alora sudah sangat dekat dengannya.

__ADS_1


"Ah iya!" Alora dengan segala kecanggungannya.


"Ngapain loe di sini? Ganggu aja!" Beni dengan segala kebajikannya.


Ziva akhirnya melirik pemuda di sampingnya itu.


"Jangan ikut campur! Ketika loe yang paling mengganggu di sini!" Sahut Ziva.


Tak lama, Key muncul dan langsung menuju meja Alora saat mendapatinya bersama tiga oknum lainnya.


"Hai Al!" Sapa Key dan langsung duduk di sebelah Alora. "Nggak apa kan gua duduk di sini? Ada Beni juga!" Tanya Key dengan senyum cerah itu.


"Yaah.." Alora mengangguk pelan.


"Ini pasti Andre! Pacar loe kan?" Key yang semangat menunjuk ke arah Andre lalu menjulurkan tangannya agar di jabat Andre.


"Kenalin, gua Keysha! Panggil aja Key!"


"Andre!" Sahut Andre lalu menjabat sebentar tangan Key.


Tak lama, dua orang lagi datang, untung meja itu panjang jadi semua muat dalam satu meja. Lia dan Dian yang baru selesai kelas, ke kantin bersama untuk memenuhi kewajibannya sebagai majikan dari cacing dalam perut mereka.


"Lora? Rame banget ya? Boleh kita gabung?" Tanya Dian sembari menganalisis semua orang yang ada di meja itu.


"Silakan!" Sahut Andre yang sudah pasrah.


Lia duduk di samping kiri Beni dan di susul Dian. Lia paham betul sahabatnya sangat tidak nyaman dengan situasi ini. Semua terjadi begitu saja, meja yang penuh orang baru membuat mereka hanya diam dan canggung satu sama lain.


"Jadi udah berapa lama kalian pacaran?" Tanya Ziva lalu menyeruput minumannya.


...


Pulang kuliah, Andre bersemangat bertemu dengan pacarnya setelah moment mereka di rusak tadi.


"Kita kemana nih yang?" Tanya Andre yang sudah di dalam mobil itu bersama Alora.


"Kita ke Kafe aja! Ada yang mau aku omongin sama kamu!" Kata itu terdengar sendu.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2