
Rintisan air dari langit belum melepas rindunya terhadap bumi. Alora hanya duduk sendirian di ruang tamu rumah Beni. Tanpa perencanaan lagi-lagi gadis itu berakhir di rumah itu. Gadis itu tampak masih memikirkan Beni pasti sangat terpukul dengan kabar tentang ibunya.
"Nak Alora!" Panggilan seorang wanita yang tampak agak tua mengenakan seragam asisten rumah tangga. Alora menoleh ketika mendengar namanya di sebut.
"Ikut bibi yok! Kita makan dulu banyak makanan lebih jadi sayang kalo dibuang kan?" Bibi langsung membawa Alora ke meja makan yang memang penuh dengan beberapa jenis makanan.
Memang tadinya Alora keluar rumah untuk beli makanan karena lapar, dan cacing perutnya juga sempat beberapa kali menagih jatah mereka sejak duduk sendirian di ruang tamu tadi.
"Oya bibi! Jas hujan sama payung Lora di mana? Tadi langsung bibi ambil soalnya.."
"Ada di belakang! Makan aja dulu siap makan baru boleh pulang!"
Alora tentu tidak akan menyiakan apa yang ada di depannya, mumpung pemilik rumah tidak ada ia mencoba setiap menu yang tersedia dan melahap makanannya seolah sangat kelaparan.
"Memang jadi kaya beda! Kalo di rumah Lora cuman bisa nikmatin mie rebus satu bungkus kadang pengen makan nasi aja harus numpang di rumah Lia!" Gumam Alora sembari mengunyah makanannya bersamaan.
"Pilih salah satu! Ngomong atau makan!" Ucap Beni yang baru keluar dari kamarnya, pemuda itu mengganti pakaiannya karena basah kuyup tadi. Beni menarik kursi di depan Alora lalu mendudukinya.
"Loe nggak makan?" Tanya Alora yang masih mengunyah makanannya.
"Gua udah makan! Nggak apa habisin aja! Loe laper banget keknya!" Sahut Beni menatap gadis di depannya itu.
"Gua memang lapar! Gua tadinya mau beli mie, eh malah loe tiba-tiba... ya gitu deh" sesuap lagi masuk ke mulut Alora.
"Cepetan makan gua mau nanyak!" Beni kembali memasang raut dinginnya.
"Tanya aja! Gua bisa denger dan jawab sambil makan!"
"Gua yang nggak bisa!" Beni menatap Alora yang asik makan.
...
Di teras dekat kolam renang rumah Beni, setelah melirik kanan kiri, Beni memantapkan pikirannya lalu bertanya.
"Karna loe satu-satunya teman gua..."
__ADS_1
Alora mengangguk mendengarkan, gadis yang duduk di kursi depan Beni di mana meja di tengah mereka dengan dua kopi cangkir kopi hangat di tengah hujan itu.
"Wanita yang melahirkan gua lagi sakit keras saat ini! Dia juga wanita yang sama, yang nggak pernah peduli sama gua! Dan dia juga orang yang kuanggap ibu tapi ninggalin gua bahkan nggak pernah noleh sekalipun!" Tatap Beni terlihat sendu sangat berbeda dari biasanya.
"Tapi gua nggak pernah lupa ekspresi wanita itu pas ngomel. Cuman kemarahannya gua inget! Jadi pertanyaan gua.. apa perlu gua jengukin dia ke rumah sakit?"
"Gua rasa dia nggak bakalan senang lihat gua di sana! Dan gua juga malas ketemu sama dia!" Akhirnya Beni menyelesaikan kalimatnya, saat ini sorot mata itu mengarah ke Alora menunggu jawaban.
"Hmm.." Alora berpikir keras bagaimanapun itu situasi serius. "Loe kangen nggak sama nyokap loe?" Pertanyaan itu kembali berhasil mengusik isi pikiran Beni.
"Bagaimanapun wanita itu nyokap loe! Yaah.. dengan segala kekurangan akan lebih baik dari pada nggak punya kan?" Alora memaksakan senyum dengan bola mata agak berkaca.
"Loe masih nggak ngerti situasinya? Dia ninggalin gua gitu aja! Nggak ada kabar dan nggak pernah jengukin gua! Gua bahkan nggak pernah lihat dia senang dan senyum saat ketemu gua!" Beni yang emosi langsung melancarkan nada tinggi.
"Menurut gua... terserah sama loe! Loe juga nggak aka menerima pendapat gua! Tapi saran gua... sebelum loe akan lebih sakit karena kehilangan, sebaiknya loe berusaha memaafkan dan menghadapinya! Karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan, mungkin semuanya akan lebih baik saat loe ngehadapin dan mencoba," Alora belum menyelesaikan kalimatnya, kini ia bangkit dari kursi itu.
"Tidak punya itu menyedihkan!" Alora melangkahkan kakinya menuju dapur mengambil jas hujan dan payungnya lalu pulang di tengah hujan itu.
...
Gadis yang berjalan di tengah hujan di jalanan itu tampak sendu karena teringat pada orangtuanya sendiri.
"Al! Loe dari mana aja?" Andre tampak melambai dari depan Alora sekitar 10 meter. Pemuda itu langsung mendekat.
"Gua ke rumah loe tapi terkunci! Tapi kenapa gua lihat loe keluar dari lagar rumah itu? Loe nggak kerja sampingan sebagai ART kan?" Pertanyaan bertubi dari pemuda itu.
"Itu rumah Beni!" Sahut Alora.
"Apa?" Andre tampak terkejut.
"Dia butuh saran gua, tapi nggak mau nerima pendapat gua!" Sambung Alora.
Andre mendapati wajah sendu Alora membuatnya tidak ingin bertanya lebih lanjut walau sangat penasaran.
"Loe mau ke mana lagi sekarang? Kita pulang yok!" Ajak Andre.
__ADS_1
"Gua harus belanja dulu!"
"Pas banget! Kalo gitu gua bakal ngajarin loe beli makanan sehat selain mie instan! Hehe" Andre tampak bersemangat agar Alora juga tertawa.
Kedua remaja yang baru menginjak usia dewasa itu tampak bersemangat dipalik payung itu. Seperti katanya Andre memilih banyak makanan sehat, ia bahkan membaca hampir semua komposisi makanan instan yang ia sentuh.
Keduanya tampak bercanda dan bersenang-senang terlihat dari tawa yang terdengar. Alora tidak pernah sebahagia ini saat berbelanja, ini juga kali pertama ia berkeliling supermarket, biasanya ia hanya menuju rak mie instan lalu pulang. Andre berhasil mencerahkan wajah datar yang sering terlihat murung itu.
Usai belanja, Andre menjinjing bungkusan besar yang tentu saja Andre yang membayar semuanya. Setelah keluar dari supermarket itu hujan sudah reda.
"Itu berat! Biar gua pegang sebagian!" Ucap Alora lalu meraih plastik belanjaan itu.
"No! Jangan! Gua cowo! Biar gua aja!" Andre dengan tampang lucunya.
Alora tersenyum lalu menjawab "iya deh pacarku!"
Gadis itu kemudian merangkul lengan pacarnya dan berkata "ayo pulang sayang!"
Tingkah manis Alora juga berhasil membuat Andre makin gemas dengan pesona pacarnya. Kedua remaja itu tampak menikmati waktu mereka dibawah langit mendung dengan tetes hujan ikut menemani mereka.
...
Hari hujan lainnya menyapa, siang minggu saatnya Alora berangkat kerja. Sudah lama menunggu namun hujan masih lebat di sertai halilintar dan kilat. Angin juga bertiup kencang membuat lengkap siang yang terasa sore itu menyedihkan. Jujur sendirian di rumah sangat menakutkan di saat begini.
Alora mengambil ponsel lalu mematikannya setelah mengabari Andre. Gadis itu juga kembali ke kamar untuk mengambil selimut lalu duduk di sofa kecil di ruang tamu dan menyembunyikan seluruh tubuhnya dalam selimut.
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya hujan reda. Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Alora berlari ke pintu karena mengira Andre pasti sudah datang, karena mereka sudah janjian Andre akan mengantar Alora ke Kafe.
Dengan senyum cerah menyambut pacarnya, Alora malah di kejutkan oleh Beni yang muncul di depannya. Tak lama sebuah mobil datang lalu terparkir di jalan depan rumah Alora.
Beni dengan wajah sendu itu menghela berat setelah menetapkan sorot mata itu pada gadis ini. Tubuh Beni seolah tak terhentikan, ia memeluk Alora saat sadar Andre yang baru turun dari mobil menyaksikan mereka.
.
.
__ADS_1
.
tbv