
Cuaca di luar sangat cerah, namun apa boleh buat gadis dengan seragam waiter dan topi di kepalanya itu hanya duduk di belakang meja kasir sembari mengerjakan tugas sekolahnya.
Beni yang sedari tadi mengarahkan sorot tajam matanya ke arah Alora mulai memikirkan cara mengganggu gadis itu. Hanya ada tiga meja pelanggan yang terisi, membuat Kafe terlihat sepi.
Beni mendekati Alora dengan buku tebal di tangannya lalu melemparnya ke meja Alora hingga gadis itu sedikit terkejut.
"Kerjain PR gua!" Ucap Beni dengan muka datarnya.
"Loe kan bisa ngerjain sendiri, atau gak minta Lia ngajarin, selama ini Lia ngajarin loe gak sia-sia kan?" Kata Alora juga memasang wajah datar sembari menulis beberapa kata di bukunya.
"Peringkat loe gak naik?" Tambah Alora masih dengan muka datar yang membuat Beni kesal.
"Loe nggak mau kerjain?" Tanya Beni dengan sorot mata psyco.
"Gak ah, gua lagi ribet sama tugas gua" Alora masih fokus lalu menggaruk kepalanya yang agak gatal.
Beni memukul keras meja yang di tempati Alora lalu mendekatkan wajahnya sedekat mungkin dengan wajah gadis itu dengan kedua tangan yang menopang di meja.
"Loe makin berani sama gua? Karena loe dekat sama bokap gua iya?" Suara bisikan Beni mengintimidasi terdengar sangat menakutkan.
Alora yang menatap sorot tajam di depan wajahnya itu menelan ludahnya. "Loe!" Alora tersedak ludahnya hingga batuk.
"Loe ganteng banget ukhuk ukhuk.."
Lontaran pujian yang tiba-tiba lalu di akhiri batuk dari mulut Alora membuat tatap pemuda yang sekitar 10 cm dari wajahnya itu berubah menjadi tatapan biasa dengan bola mata linglung bingung. Entah bagaimana sisi psyco-nya memudar, pemuda yang baru saja di puji tampan itu pun kembali berdiri tegak.
Gadis yang menjadi lawan aksi itu akhirnya bisa bernafas setelah oknum yang mengintimidasi namun tampan itu sempat membuat nafasnya tertahan. Beni yang agak salah tingkah itu mengalihkan pandangannya dari Alora namun tetap menjaga image cool-nya lalu pergi begitu saja.
"Itu orang kenapa?" Gumam Alora lalu mengambil bukunya yang di lempar Beni tadi ke arahnya. Setelah di buka ternyata itu hanya buku kosong.
"Di mana soalnya? Gimana ngerjain nya? Gajelas banget! Mentang-mentang anak bos, bisa sesukanya" Alora memasang wajah kecut dengan bibir di tekuk.
***
Di tengah terik matahari, Andre baru saja menopang motornya setelah sampai rumah.
"Duh! Ck musibah nih!" Gumam pemuda yang masih dengan seragam sekolah dilapisi jaket kulit.
Seorang gadis dengan gaya rambut soft bangs sedang menunggunya di kursi depan rumah. Tidak lain gadis itu adalah Mila yang sedang melempar senyum pada Andre dan langsung berlari memeluk lengan pemuda itu begitu ia melihatnya.
"Lepasin!" Andre terlihat sangat risih dan berusaha melepas pelukan gadis itu dari tangan kanannya.
"Bisa lepas gak?" Andre sedikit menaikkan suaranya karena kesal dan berhasil menyingkirkan belunggu bernafas itu.
Tiba saja ibunya Andre keluar karena mendengar teriakan Andre "ada apa sih? Kok ribut-ribut?" Tanya wanita paruh baya bernama Herwita itu.
"Andre tante, dia bentak Mila" gadis rubah itu memeluk lengan Herwita sambil bersikap manja.
__ADS_1
"Andre tolong jaga sikap kamu, Mila anak kawan mama, kamu juga tau itu! Mama gak mau hubungan mama sama mamanya Mila rusak" jelas wanita bergelar ibu itu.
Andre menghela berat nafas melalui mulutnya karena lelah melihat tingkah Mila.
"Sekarang kamu anterin Mila pulang! Udah dari tadi dia nungguin kamu!" Perintah Hereita pada anak bungsunya.
"Kenapa gak pulang sendiri aja? Salah sendiri ngapain ke sini bukannya pulang" kata Andre menunjukan penolakan.
"Andre!" Herwita sedikit menaikkan suaranya.
"Kawan mama itu urusan mama, gak ada hubungannya sama aku! Aku nggak mau lagi diperalat buat anterin ni cewe" ucap Andre kesal lalu melangkah mendekat ke telinga Mila dan berkata "sorry gua bukan sopir loe!"
Andre langsung masuk setelah menyelesaikan katanya. Tampak ibunya memanggil beberapa kali.
"Itu anak kenapa jadi gini sih?" Kata Herwita.
"Gara-gara Alora tante!" Hasut Mila.
"Alora? Siapa dia?" Tanya Herwita
Mila tersenyum sinis dan melanjutkan bualan fitnah yang ia siapkan untuk memisahkan Alora dan Andre.
Setelah berganti baju, Andre kembali keluar menuju motornya.
"Tuhkan Andre cuma pura-pura nggak peduli, padahal peduli banget sama aku!" Ucap Mila pada Herwita sambil cengingisan dan sangat percaya diri Andre akan mengantarnya pulang.
Wajah Mila yang tadinya kegirangan sekarang tampak shock dengan mulut terbuka. "Andre! Emang bener-bener nyebelin!"
...
Pemuda tampan yang baru membuka helm itu mengundang perhatian para gadis yang lewat di tempat parkir. Setelah turun dari motor ia langsung masuk ke Kafe tempat Alora bekerja.
Jam menunjukkan pukul 4 sore, pelanggan Kafe semakin ramai. Andre yang hanya mencari satu orang setelah duduk itu tiba saja dikejutkan oleh Beni yang sudah berada di depannya.
"Mau pesan apa?" Tanya Beni dengan wajah datar.
"Bisa loe panggil Alora aja? Gua mau dia aja yang ..." kata Andre langsung dipotong pemuda tampan lain di depannya.
"Alora sibuk! Mau apa loe?"
"Entar aja gua pesan pas Aloranya ada"
"Yaudah keluar! Nanti aja loe masuk lagi, bikin semak Kafe gua aja!" Beni melotot agar Andre terintimidasi karena niat Beni sebenarnya ia tidak mau Andre bertemu dan ngobrol sama Alora.
"Yaudah deh terserah loe aja! Minuman yang paling populer di sini deh!" Akhirnya Andre menyerah karena tidak tahan tatapan oknum di depannya dan Beni pun pergi ke belakang.
Tidak berapa lama Beni kembali dengan pesanan Andre di tangannya. Pemuda itu meletakkan minuman itu secara kasar dengan sedikit menggantukkan gelas ke meja.
__ADS_1
Andre melirik sebentar oknum aneh berkedok waiter itu, lalu bola matanya melanjutkan mencari keberadaan Alora. Setelah dari dapur, Alora menuju menuju meja kasir sebentar untuk mengambil bukunya tadi.
Saat menemukan Alora, Andre otomatis mengangkat tangannya melambai ke arah Alora, namun Beni dengan sigap menutupi pandangan Andre dengan berdiri di depannya. Andre menggeser tubuhnya agar dapat melihat Alora dan memanggilnya, namun pemuda psyco itu masih mencoba menutupi agar Alora tidak melihat Andre.
Andre mulai kesal dan masih mencoba, jika ketiga kalinya oknum ini masih mengganggu berarti ia ingin mencari masalah.
"Loe punya masalah hidup apa huh?" Tanya Andre kesal.
"Gak ada!" Sahut Beni santai.
Andre menarik nafas panjang lalu menghela sambil menutup matanya. Ketika membuka matanya, si pemilik julukan psyco telah hilang dari pandangannya.
"Manusia aneh!" Gumam Andre sembari celingak-celinguk agar tidak ketahuan oknum yang ia ejek.
Setelah beberapa menit akhirnya Alora melihat dan menghampiri Andre saat di panggil.
"Kenapa?" Tanya Alora dengan muka datarnya begitu sampai di meja pemuda itu.
"Loh? Kok kenapa? Pacar loe datang malah loe tanya kenapa? Duduk dulu deh!" Pemuda tampan itu meletakkan tangannya di dahi menunjukkan betapa frustasinya ia dengan gadis yang tidak peka di depannya.
"Terus gua harus apa?" Tanya Alora dengan polosnya.
Andre akhirnya tersenyum setelah hari melelahkan dimulai dari Mila yang bagai pengantin hingga si psyco yang gabut membuatnya kesal.
"Gak tau! Gua juga gak tau harus apa xixi" Sahut Andre.
"Loe kangen sama gua?" Lempar Alora tiba-tiba.
"Huh?" Wajah Andre bingung.
"Gak mungkin, atau loe butuh bantuan gua?" Alora masih berpikir saat pemuda itu tidak menunjukkan reaksi "atau loe lagi ada masalah?"
"Gua lagi butuh loe aja, jadi tolong duduk di sini bentar ya" jawab Andre lembut sembari tersenyum.
Saat keheningan di antara mereka menyapa, gadis dengan seragam waiter dan topi di atas rambut yang kuncir itu tiba saja terlarut dalam pikirannya. Di sisi lain Andre terus saja menatap Alora, seakan ada yang ingin ia katakan namun juga tidak.
Terasa tangan hangat itu di genggam lalu di tarik. Lagi dan lagi Beni menarik Alora sesukanya. Dan lagi dengan sigap Andre bergerak menghentikan langkah Beni dengan berdiri di depan Beni.
"Lepasin pacar gua!" Ucap Andre.
"Pacar?" Beni tampak tidak peduli.
Andre mencoba melepas genggaman Beni dari pergelangan Alora hingga terlepas.
"Loe mau tau fakta menarik?" Beni melangkah mendekat dan berdiri sangat dekat di depan Andre.
"Kalo Alora lagi di Kafe dia pacar gua!" Kata Beni sembari menatap tajam Andre.
__ADS_1
...