
Cuaca pagi yang terlihat agak gelap, akibat awan hitam berkumpul menutupi sang surya untuk bersinar. Namun bagaimanapun saat ini Alora sedang bersiap-siap memilih baju untuk date bersama pacarnya. Sebelum pergi setidaknya ia ingin memberikan peringatan dan moment bagi orang yang ia sayangi.
Beberapa menit kemudian, Alora yang sudah siap dengan style nya yang seperti biasa sedang berdiri di depan cermin.
"Kenapa aku jadi ragu? Ini pilihan yang tepat, aku sudah terlalu banyak menyita kasih sayang yang seharusnya milik Ali seutuhnya. Jika hanya pergi saja tidak akan cukup, aju harus tiada agar orang-orang dengan perlahan melupakan aku!" Batin Alora melihat penampakan dirinya yang menyedihkan itu di cermin.
Saat keluar dari rumah, tanpa sengaja gadis itu bertemu kembali dengan adiknya. Gadis dengan setumpuk duka dalam hatinya menatap Ali lalu tersenyum. Langkah Ali terhenti saat mendapati kakaknya, pemuda itu teringat cerita ayahnya semalam, bagaimana Alora berjuang hidup sendirian. Namun egonya masih terlalu kuat untuk dikalahkan. Lagipun, ia tidak menganggap Alora serius dengan perkataannya.
"Sayang ayo kita berangkat!" Panggil Andre yang sudah di depan pagar menunggu Alora masuk ke mobilnya.
"Iya sayang!" Sahut Alora lalu melangkah menuju mobil itu dan menaikinya.
"Kita mau ke mana dulu nih? Kalo bioskop tiketnya buat jam 3 sore kita punya waktu 5 jam lagi buat jalan-jalan!" Kata Andre namun Alora hanya menjawab,
"Aku ikut ke mana kamu bawa deh!"
"Okeh kalo gitu ayo kita belanja dulu! Aku pengen kita punya barang couple-an!" Sahut pemuda itu lalu menghidupkan mobilnya.
"Okey deh! Lets go!!" Sahut Alora lalu tersenyum.
Setelah beberapa menit, keduanya sampai di sebuah mall.
"Kemana dulu nih?" Tanya Alora.
"Kita main game dulu yuk!" Andre dengan semangat menarik tangan Alora ke arah pusat permainan di Mall itu.
Tentu saja mereka mencoba semua jenis game yang ada, mengingat kesibukan mereka yang jarang bisa bermain sepuasnya. Alora tampak gembira seketika ia melupakan apa yang akan terjadi padanya dalam dua hari lagi.
Namun, yang paling penting adalah Andre juga gembira dengan kebersamaan mereka. Setelah dari sana mereka berkeliling mencari barang yang mereka inginkan.
"Sayang mau di beliin tas?" Tanya Andre saat mereka melewati toko tas.
"Nggak ah, soalnha nggak kepakek juga sayang mubazir aja duitnya!" Sahut Alora yang membuat Andre terkekeh sendiri.
"Kenapa loe ketawa?" Tanya Alora dengan wajah merengut.
"Memang bebeb Al gua beda dari yang lain!" Sahut Andre sembari tersenyum lalu meraih tangan Alora untuk ia genggam.
"Al, loe mau nyobain pakek baju itu nggak?" Tanya Andre saat mendapati baju couple yang tergantung di sana sembari terus berjalan.
"Jangan aneh-aneh deh! Lebay banget!" Sahut Alora memukul-pukul pelan Andre yang terkekeh menahan senyumnya.
"Terus kita beli apa dong biar couple?" Tanya Andre lagi.
"Hmmm... beli ganci aja yok!" Sahut Alora.
"Lah? Jauh-jauh ke mari cuman buat beli gantungan kunci doang?" Andre kembali mengeluh.
"Ganci itu kecil dan bisa di bawa kemana aja! Lagian kalo barangnya terlalu mahal juga kita bakal terlalu waswas dan nggak bisa menikmati keindahannya. Inilah pemikiran seorang cewe miskin tapi anehnya bisa jadi pacar loe!" Jelas Alora lalu melirik sekeliling banyak gadis lain melirik pacarnya.
Kebetulan mereka sedang berada di tempat pajangan topi, Alora mengambil salah satu topi di sana lalu memakainya ke pacarnya.
__ADS_1
"Pakek ini! Lindungin wajah tampan ini buat gua aja! Jangan biarin gadis lain natap wajah loe!" Alora mode cemburu plus ngambek.
Tentu saja, Andre di buat tak karuan oleh gadis itu, jantungnya kembali berdebar oleh perlakuan random pacarnya itu. Andre tersenyum lalu ikut melangkah ke arah Alora yang berjalan di depannya.
"Uwaa! Ini lucu Yang! Kita ambil yang mana?" Tanya Alora pada Andre yang baru tiba setelah membayar topi yang barusan diambil itu. Melirik berbagai macam jenis gantungan cantik dan imut yang terpajang di pajangan itu.
"Hmm.. kita ambil aja boneka kucing ini! Imut banget kayak loe Al!" Ucap Andre lalu lagi-lagi memamerkan senyum tampan itu.
"Jangan yang panda aja? Atau yang macan? Atau kelinci?" Tanya Alora sesukanya.
"Atau kita beli semua aja?" Tanya Andre yang iseng. Alora melirik pacarnya sebentar hendak mengomel karena Andre yang iseng, namun gadis itu malah terdiam lalu berkata,
"Loe? Loe ganteng banget sih? Gua mau marah aja jadi nggak bisa! Yaudah yang kucing aja!" Alora menyerah lalu mengalihkan pandangannya melanjutkan melihat-lihat gantungan kunci lainnya.
Namun Andre dengan keisengan memenuhi ubun-ubunnya, ia melirik kanan kiri yang agak sepi lalu menatap sisi kanan Alora kemudian ia mendekatkan wajahnya dengan segera ke arah Alora danĀ mengecup pipi manis itu dan dengan segera bersikap normal seolah tak terjadi apa-apa.
"Kita ambil yang kucing ini kan? Okey lets go to the next!" Ucap Andre setelah mengambil gantungan boneka kucing lalu pergi ke tempat kasir.
Alora yang masih mematung di tempat menggerakkan pelan tangannya menyentuh pipi yang baru saja di tabrak bibir lembut itu. Gadis itu tersipu dan tersenyum malu-malu lalu melirik Andre dan mendekatinya.
"Sekarang kita ke mana?" Tanya Alora dengan ujung kedua bibirnya naik.
"Yok udah saatnya kita ke bioskop!"
Keduanya menuju bioskop menggunakan mobil. Namun suasana mobil hening seperti biasa, Alora memeringkan kepalanya menatap Andre berpangku tangan di lutut untuk menopang di pipinya.
"Kenapa?" Tanya Andre.
"Pengen lihat loe aja!" Sahut Alora.
"Iya!"
"Jangan-jangan loe mau sama gua karna gua ganteng aja ya? Nggak ada alasan lain gitu?" Andre tampak memasang tampang cemberut.
"Iya!" Sahut Alora tanpa rasa bersalah.
"Huh?" Andre kembali melirik Alora sebentar.
"Iya dong! Cowo gua harus ganteng, yaah walaupun gua jelek setidaknya bisa memperbaiki keturunan dong!" Alora beralasan lalu tersenyum masih menatap Andre.
Andre menghentikan mobil, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Alora yang menatapnya.
"Siapa bilang loe jelek? Loe tuh cantik banget tau!" Andre menyeka rambut Alora yang terurai menutupi pipinya.
"Gini aja loe cantik! Yang paling gua suka dari loe.. loe juga cantik dari dalam! Dan loe cuman ada satu di dunia!" Ucap Andre dengan jarak 5 cm dari wajah Alora. Lalu pemuda ini membuka sabuk pengaman dari Alora dan membukakan pintu dari dalam untuk gadisnya.
"Kita udah sampe? Yok keluar!" Ucap Alora.
Keduanya turun dari mobil lalu membeli popcorn dan setelahnya masuk untuk menonton. Tampak berbeda dari biasanya, Alora terlihat ingin dimanja hari ini, sepanjang film di putar, gadis itu terus memeluk lengan Andre sembari menikmati popcorn mereka.
Mereka menonton film komedi, Andre melirik Alora yang terus tertawa sepanjang film berputar.
__ADS_1
"Gua seneng lihat loe ketawa gini Al!" Batin Andre lalu membelai rambut Alora.
Tiga jam kemudian, keduanya keluar dari bioskop lalu menuju taman untuk menikmati quality time. Di bawah sebuah pohon besar keduanya duduk di atas rumput di mana menyandarkan kepalanya di bahu Andre.
"Gua seneng banget bisa spend time bareng loe gini!" Ucap Andre lalu merangkul Alora dengan tangan kanannya.
"Gua juga!" Sahut Alora.
"Sebenarnya sebulan yang lalu... bukannya loe, gua malah ajak Beni buat ketemu sama Steve! Alasannya karena gua terlalu menyedihkan..." Alora menjadi sendu dan tatapnya seketika berubah.
"Maafin gua kadang gua egois! Dan ..gua merasa gua adalah orang paling terluka di dunia ini! Maafin gua juga.. semua masalah yang menimpa gua... gua selalu mencoba mengakhirinya dengan berpikir untuk mati!"
"Terkadang gua merasa luka gua ini terlalu sepele untuk di ceritakan, orang lain nggak akan mengerti dan kepedulian palsu mereka cuman makin nyakitin hati gua!"
"Gua cuman terlalu berlebihan menoleransi kesedihan. Tapi mau gimana? Luka itu kadang kembali muncul di saat yang nggak tepat!" Alora mengakhiri kalimatnya.
Andre mengelus bahu gadis itu lalu menjawab,
"Luka yang dialami semua orang berbeda-beda, sangat menyakitkan bagi orang lain bagi kita terdengar biasa saja, begitupun sangat menyakitkan bagi kita, bagi orang lain biasa saja! Tidak ada yang bisa mengerti rasa sakit itu kecuali mereka juga mengalaminya."
"Mungkin semua orang di dunia ini pernah merasa ingin menghilang saja dari dunia ini walau hanya sekali. Rasa ingin menyerah... tentu saja kerap kali menghantui. Tapi..."
"Ada satu orang yang ku kenal, dia selalu mengeluh ingin menyerah dalam hidupnya... tapi tetap bertahan dan hidup seolah semuanya baik-baik aja! Padahal gua paham betul, dia merintih di dalam tidurnya."
"Jadi apapun itu, datang ke gua! Gua bakal selesain masalah apapun buat loe! Loe tau kan loe penyemangat hidup gua?" Kalimat Andre di akhiri tanda tanya.
"Kalo gua nggak ada, loe jangan sampe nyerah tuh! Kayak orang yang loe ceritain itu!" Sahut Alora.
"Gua nggak bisa sama yang lain Al! Jangan pernah ninggalin gua ya!" Jawab Andre lalu merangkul lebih erat pacarnya.
"Jangan gitu dong! Kalo sempat kita putus nanti gimana? Masak loe nggak bisa move on sih? Jangan terlalu terpaku sama masa lalu! Masa lalu cuman jadi boomerang yang nyusahin!" Sahut Alora.
"Jangan-jangan loe ada niatan mau mutusin gua?" Andre menatap tajam Alora dengan sikap imut.
"Iya dong! Kalo suatu saat loe udah nggak ganteng lagi, gua bakal ninggalin loe!" Jawab Alora asal.
"Apa?" Sahut Andre agak lebay.
"Oh satu lagi! Kalo loe sering buka topi loe dan tebar pesona ke cewe lain gua juga akan ikhlasin loe buat mereka!" Sekarang malah alora yang mode cemburu.
"Iya sayang! Gua bakal pakek masker plus topi tiap hari biar gua hanya milik loe satu-satunya!" Andre menyeret lembut Alora ke peluknya. Alora juga membalas peluk itu dengan melingkarkan tangannya di pinggang Andre, namun cairan bening membendung di kedua bola matanya.
"Yang gua butuhin cuman loe selalu di samping gua!" Ucap Alora.
"Gua juga!" Sahut Andre.
"Maafin gua Ndre! Gua harus tetap pergi, Ali sepertinya benar-benar menginginkan kematian gua!"
.
.
__ADS_1
.
Tbc