
Kuingin satu orang saja yang mau bertahan bersamaku, sampai aku bisa menerima diriku sendiri..
-@bomy-
.
.
.
Suara bel berbunyi lagi, para siswa sudah bersiap untuk pulang. Begitupun Lia dan bestie-nya itu. Tangan Lia sudah mendarat di bahu Alora, rangkulan yang mengajak gadis itu untuk pulang.
Di sisi lain, Mila dengan sengaja menunggu di depan kelasnya, karena kelas Alora di ujung jadi pasti akan lewat sana. Mila masih kesal karena merasa dirinya dipermalukan saat di rumah sakit waktu itu, namun di sisi lain memiliki sedikit penyesalan dalam hati walau tidak mungkin ia ekspos.
Lia yang cerewet itu bercerita panjang lebar sembari berjalan dan si teman di sisinya itu hanya diam mendengarkan. Duo saling melengkapi itu cocok satu sama lain, hal itu juga yang menjadi alasan persahabatan mereka abadi.
Andre mengikuti dari belakang layaknya pengawal, jika biasanya Andre langsung pulang saat Alora bersama Lia, namun kali ini ia tetap mengikuti dan menjaga gadis itu.
Di tempat lain juga terpantau Beni yang melancarkan aksi mata elangnya, pemuda psyco itu terus saja mengawasi dan masih ketagihan makan mie instan sejak ia mencobanya.
Mila menghentikan langkah Alora dengan berdiri di depannya.
"Oi! Gua rasa kita harus selesaikan masalah kita" ucap gadis berpakaian ketat itu.
Alora hanya terdiam begitupun Lia yang memasang raut bingung mendengar kalimat gadis itu.
"Loe harus bersihin nama gua di depan tante Jeni! Gua tau loe sengaja ngadu kan?" Ucap Mila kasar.
Alora masih diam, saat ia mengerti Mila ingin mempermalukannya dengan membuat sebuah insiden rekayasa agar muncul gosip baru tentang keburukan Alora.
Lia yang tidak tahan akan keadilan hendak maju untuk membela, bahkan sudah mengangkat kaki kirinya, namun Alora menghentikan sahabatnya itu dan membuat Lia tenang.
"Kenapa loe diem aja? Berarti bener dong! Loe si pengadu! Jangan sok baik loe!" Mila masih memprovokasi.
Alora tersenyum sinis lalu dan masih santai dengan tuduhan itu.
Setelah beberapa menit Alora hanya diam saja, Mila kehabisan idenya untuk memaki atau menuduh gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa loe diam aja? Serang lagi! Ada lagi? Yang belum tersampaikan mungkin? Atau uneg-uneg loe yang terpendam? Nggak ada?" Tanya Alora tampak mengintimidasi.
"Maaf ya! Gua diam aja tapi loe terpukul sendirian, gua akan terima permintaan maaf loe! Jadi nggak usah khawatir hiduplah dengan tenang" sambung Alora dengan nada tenang.
Mila terlihat bingung dengan jawaban gadis itu.
"Satu lagi! Gua bukannya merebutnya dari loe, tapi dia (Andre) yang milih gua! Mungkin suatu saat sesuatu terjadi, dia bisa aja jadi milik loe!" Alora masih ingin melanjutkan katanya bahkan saat Andre mendengar mereka.
"Dan satu lagi! Gua nggak peduli tentang kehidupan orang lain, loe bisa lakuin apapun sesuka loe, asal jangan bawa-bawa nama gua! Hidup gua udah berat, gua nggak punya waktu ngurusin hidup loe!" Kalimat terakhir Alora.
Gadis yang menjadi incaran tadi mengajak sahabatnya untuk langsung pergi dari sana. Mila masih terlihat shock dengan kalimat Alora yang tepat kena sasarannya. Walau terlihat garang, namun Mila adalah anak yang memiliki hati nurani walau sering tidak ia gunakan.
Andre tadinya hanya diam saja di tempatnya karena ia tahu gadis yang ia jadikan pacar itu tidak suka masalahnya di campuri dan ia bisa mengatasi masalahnya sendiri.
"Karena sudah terlalu biasa sendiri, dia sampe lupa mengkhawatirkan dirinya sendiri" Batin Andre dengan wajah sendu lalu ikut pergi dari tempat itu.
...
Malam dingin disertai hujan sukses membuat selimut terisi. Begitupun Alora yang kedinginan akibat suhu dingin yang ditimbulkan rintik hujan. Ia menutupi seluruh bagian tubuhnya kecuali mukanya, karena ia akan kesulitan bernafas dari balik selimut tebal miliknya.
Ia hanya terdiam dan tidak bisa tidur sambil memikirkan sesuatu dengan kelopak mata yang terus berkedip tiap satu menit.
"Aku kenapa sih? Kenapa nggak bisa tegas pada diri sendiri?"
"Ini salah satu alasan aku benci diriku, selama ini aku hidup tapi tidak sebenci ini pada hidupku, aku kembali merasa nggak berguna dan semuanya sia-sia!"
"Sebenarnya secuil harapan yang aku miliki untuk hidup adalah perasaan kecil yang tidak mampu ku lawan itu, tapi..aku belum bisa menerima sepenuhnya.."
Overthinking selama ber jam-jam mungkin hal biasa baginya, terkadang tubuh lelah ingin beristirahat namun isi hatinya terus berbicara seolah di dalamnya ada dua orang. Kelopak mata telah tertutup karena tidak mampu menopang lagi, namun apadaya saat lubuk hati belum menemukan solusinya.
Bukan hanya bahagia yang sulit, tapi tidur bagi orang yang sedang tertekan jauh lebih sulit.
...
Keesokan paginya, Alora dibangunkan oleh gemerincing suara burung bernyanyi menyempurnakan hari cerah itu. Begitu bangkit dari kasur, ia menuju kamar mandi untuk membasuh wajah lalu menggosok giginya.
Selanjutnya ia membersihkan rumah dan lanjut mencuci pakaiannya. Kemudian ia menyiapkan makan siang karena melewatkan sarapan paginya. Tentu saja menu makan siang terdiri dari nasi, telur rebus dan mie instan yang ia masak dengan sedikit modifikasi dari resep saran penyajian.
__ADS_1
Ia menikmati makanannya dengan lahap lalu tersenyum. Alora menghela berat nafas setelah semuanya.
"Fyuh.. untung gua udah terbiasa! Gua bahkan nggak kangen sama orang tua gua!" Gadis itu mengambil secangkir teh lalu menuju jendela untuk menikmatinya sembari ditiup angin sepoi-sepoi.
Tak lama, ia menuju kamarnya untuk bersiap-siap sebelum dijemput Andre. Ia hanya menggunakan baju seadanya yaitu celana jeans dan hoodie yang di balut kemeja berwarna gelap dan rambutnya yang terurai.
Yang tadinya cerah, cuaca tiba saja berubah mendung. Di sisi lain Andre juga sudah bersiap dan menyiapkan penampilan terbaiknya untuk menemui Alora. Akhirnya ia berangkat dengan motornya di tengah langit mendung dan angin mulai bertiup.
Sesampai di rumah Alora rintik hujan mulai turun, motor di parkir di teras rumah gadis itu, dan pemuda itu langsung meneduh. Alora membuka pintu saat mendengar suara motor.
Menatap Andre yang baru sampai itu membuat keduanya agak canggung. Akhirnya keduanya masuk dan duduk di tepi jendela sambil menikmati hujan yang turun semakin lebat. Dua cangkir teh hangat terletak di meja itu.
"Nggak jadi jalan deh karna hujan!" Ucap Andre ingin mencairkan suasana.
"Iya" Sahut Alora sedanya.
"Loe nggak apa kan? Kemarin loe demam jadi.." Andre mencoba mencari topik.
"Udah biasa kok! Gua demam dalam semalam lalu sembuh sendiri, loe nggak usah khawatir! Sendirian bagi gua bukan apa-apa!" Kata Alora namun batinnya berkata sebaliknya. Ia sering ketakutan dan cemas saat sendirian, walau sudah terbiasa, ia tidak bisa menghilangkan rasa itu yang terkadang muncul.
"Gimana pun juga, kalo loe sakit setidaknya siapin obatnya! Jangan hanya nunggu sembuh sendiri tapi minum obat!" Saran Andre lalu melanjutkan katanya.
"Walau kita merasa diri kita kuat! Tapi jangan menyiksa diri sendiri juga, lakukan sesekali jangan hanya menahan diri!"
Alora hanya diam dan terus menatap ke luar jendela tanpa melirik Andre yang duduk di sisinya sedikitpun.
"Seperti yang akan kulakukan hari iniĀ aku tidak akan menahannya lagi..." Andre menghentikan kalimatnya.
"Apa?" Tanya Alora.
"Maafin gua Al!" Ucap Andre dengan cairan bening membendung di kedua bola matanya.
Kalimat tersebut yang berhasil menyentuh hati kecil Alora hingga ia menoleh menatap pemuda di sisinya itu dengan cairan yang sama di matanya.
.
.
__ADS_1
.
tbc