My Secret Alora

My Secret Alora
Canggung


__ADS_3

Terlalu banyak pilihan membuatku tidak ingin lagi memilih lalu menagis seharian.


-bomy-


.


.


.


Suara jangkrik mendominasi malam yang kesunyian itu. Hembusan nafas kuat membuat pernafasan tidak teratur, kelopak mata yang terbuka begitu saja dibarengi rasa takut di tengah malam itu. Tampaknya gadis dengan rambut berantakan yang sendirian di rumah itu tidak akan bisa tidur lagi malam ini.


Pagi hari menyapa seperti biasa, sawo matang kecoklatan melingkar di sekitar kelopak mata menjadikan gadis yang saat ini rambutnya di kuncir mirip panda. Wajahnya agak bengkak jadi dia menggunakan kacamata berwarna hitam agar orang-orang tidak menyadarinya.


Namun, Andre yang datang menjemput langsung menyadarinya. Pemuda itu menunggu gadis itu naik ke mobilnya. Begitu gadis itu masuk, ia mendekati lalu menyentuh kunciran rambut Alora dan melepasnya. Bola mata imut yang bertanya mengapa Andre melepasnya.


"Aing? Kenapa?" Alora menurunkan kacamatanya ke hidung.


"Kalo wajah loe bengkak, rambutnya biarkan terurai" sahut Andre sembari merapikan rambut pacarnya. "Nah, gini kan jadi keren cewe gua! Xixi"


Alora yang kebingungan di balik kaca mata yang tadinya di hidung, namun sudah dinaikkan oleh Andre menutupi matanya. Alora memang tampak cantik dan mewah dengan kacamata itu, entah bagaimana sangat cocok untuknya.


Andre yang tersenyum cerah di depannya dan sedekat itu membuat jantung Alora tidak santai. Di sisi lain, Andre menatap Alora yang terlihat berbeda pandangannya mulai teralih ke arah benda berwarna merah pucat di wajah itu.


"Nggak bisa!" Andre menyadarkan dirinya lalu kembali ke kursi kemudinya.


"Kamu pucat gitu, kuta harus sarapan dulu!" Sambung Andre setelah berdeham canggung.


"Aku udah makan kok! Chagiya belum makan?" Tanya Alora juga agak canggung, gadis itu juga teralih fokusnya dan pikirannya melayar ke mana-mana.


...

__ADS_1


Keduanya berpisah saat ingin memasuki kelas masing-masing. Entah kenapa hari ini keduanya menjadi canggung karena yang terjadi di mobil tadi. Kedua tangan yang berpelukan itu terasa enggan untuk dilepas. Keduanya melirik tangan masing-masing dan perlahan sentuhannya menghilang. Senyuman kecil terpancar dari keduanya yang malu-malu.


Alora berjalan lurus menuju kelasnya, tentu banyak pandangan asing mengarah padanya. Apalagi saat tersebar gosip bahwa ia pacar dari mahasiwa baru terganteng angkatan itu. Populer sudah menjadi makanan Andre, seolah ia dilahirkan hanya untuk sumber iri semua orang. Oleh karena itu, Alora juga ikut tersorot karena terlihat sering bersamanya.


Alora memasuki kelas begitu tiba, ia mendapati hampir semua kursi sudah ditempati. Ia melirik Beni yang menarik kursi di sampingnya sebagai kode ia ingin Alora duduk di sisinya. Wajah datar Alora kembali begitu menatap Beni.


Alora berjalan menuju arah Beni, dengan penuh harapan pemuda itu seolah mempersiapkan diri. Namun, Alora berhenti di dua bangku depannya lalu duduk bersama Keysha.


Beni bangkit dari kursinya lalu mengangkut barangnya menuju Meja lain di sisi Alora. Dengan kasar melempar barangnya di meja itu, menutupi barang milik penghuni awal bangku.


"Apaan Loe?" Ucap Dion yang merasa terganggu dengan kelakuan Beni.


"Kita gantian tempat!" Sahut Beni namun bola mata dinginnya mengarah pada Alora yang hanya melirik sebentar karena sudah terbiasa dengan sikap pemuda kasar itu.


"Apaan nggak ah..." kata Dion terhenti, karena Beni menarik badan pemuda itu lalu mendorongnya ke belakang, ia langsung menempati bangku itu. Tentu saja semua pandangan kecuali Alora telah mengarahkan fokus mereka pada Beni dengan tindakan absurdnya.


Tidak berhenti di situ, Beni mengambil buku Dion lalu mengangkat tas Dion lalu melempar ke meja yang dirinya tempati tadinya. Dion kehilangan kata-kata melihat sifat asli teman sekelas yang selama ini belum diketahuinya. Begitupun yang di rasakan semua orang di kelas itu tampak shock tidak menduga pemuda yang mereka anggap tampan sebenarnya titisan gangster.


...


Gadis itu menemukan Andre yang melambai ke arahnya, lalu membalas lambaian itu. Andre tampak mengurangi senyumannya saat mendapati Beni duduk di sisi Alora.


"Sayang, dia ngapain di sini?" Tanya Andre lalu menarik kursi dan duduk di samping pacarnya.


"Entah! Anggap aja tembok Yang!" Alora langsung menggeser bangkunya ke arah Andre. Beni juga nggak kalah, pemuda itu ikut menggeser bangkunya mendekat.


Pandangan langka bagi mahasiswi kampus, dua pemuda tampan duduk di satu meja, walau Alora agak merusak pandangan mereka.


"Itu cewe ngapain di tengah-tengah mereka sih?" Ucap seorang dari sudut kantin.


"Iya tuh, dasar cewe genit! Dua-dua cowo di embat sama dia!" Sahut temannya.

__ADS_1


"Eh! Gua belum pernah lihat cewe itu! Tapi ngapain dia ditengah cogan coba?" Sahut mahasiswi dari meja lainnya.


"Yang paling parah, liat deh baju cewenya! Nggak banget kan? Nggak mungkin mereka (Andre, Beni) tertarik sama cewe itu kan?" Sahut yang lain.


"Iya tuh! Pasti ada apa-apanya ini!"


...


Di sisi lain, tidak ada yang mengerti perasaan Alora berada di antara pengawal kaya nan tampan.


"Jika begini terus, judulnya ganti jadi putri miskin bersama dua pengawal kaya! Gimana gua bayar jasanya??"  Batin Alora yang kesal sendiri sekalgus risih semua orang menatapnya.


"Guys! Nggak bisa! Gua harus pergi!" Alora bangkit dari kursinya. Namun, siapa sangka kedua tangannya langsung di raih oleh kedua pemuda itu. Rasanya seluruh wajahnya mengkerut dan menua seketika karena stress, bagaimana ia akan menghadapi situasi yang konyol ini?


Alora kembali duduk lalu menarik kedua tangannya "Tolong biarin gua pergi dengan tenang! Kalian sadar nggak semua orang liatin kita!"


"Gua nggak sadar, karena gua cuma perhatiin loe dari tadi!" Sahut Beni dengan santai tanpa mengalihkan tatapnya dari Alora.


Sedangkan Andre langsung berdiri saat menyadari pandangan tidak enak mengganggu pacarnya. "Yok kita pergi aja!" Andre meraih tangan Alora dan tangan lainnya mengambil tasnya dan tas Alora lalu pergi dari sana.


Sedangkan pemuda lainnya masih duduk lalu menyeruput minumannya walau akhirnya Beni ikut bangkit dari kursinya. Ia tidak bisa mengekor terus ia harus mencari cara lain. Sorot mata yang teralih dari Alora membuatnya terlihat sedikit menakutkan, sikap angkuhnya mulai ditunjukkan lagi setelah hiatus beberapa bulan.


Di sisi lain, tidak ada yang menyadari seseorang memotret Alora dan orang-orang yang dekat di sekitarnya. Seorang pemuda yang diam-diam memantau lalu tersenyum sini dalam pantauannya.


"Alora? Udah gua duga loe memang Alora yang sama!" Gumam pemuda dengan topi hitam itu.


"Loe nggak akan bisa hidup tenang! Saat ini aja loe masih repot sama kehidupan loe! Gua akan nungguin loe sampe loe siap untuk semuanya!" Senyuman mengerikan yang menunjukkan sederet gigi rapi dengan gigi taring agak menonjol.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2