My Secret Alora

My Secret Alora
Mimpi


__ADS_3

'Terdengar teriakan dan jerit dari seluruh gedung Kafe mewah yang sedang menggelar acara ulang tahun seorang anak laki-laki. Terlihat samar anak laki-laki itu karena asap mulai menyebar dan seorang wanita yang berlari menyelamatkan anak itu tepat di depan kobaran api yang semakin besar.


Hiasan lampu besar di atap mulai bergetar, kulihat ke atas lalu lampu itu jatuh ke atas ku'


"Aaaaaaaaaaaa" jeritan Alora terdengar hingga keluar rumah dengan mata yang terbuka lebar dan kesulitan mengatur nafasnya, jantungnya pun berpacu luar biasa.


Gadis yang baru saja mengalami mimpi buruk itu masih larut dalam pikirannya. Di tengah malam itu hanya sendirian di rumahnya ia bahkan tidak berani bergerak karena ketakutan.


"Kenapa mimpi seperti itu datang lagi? Sebenarnya siapa orang-orang dalam mimpiku" batinnya terus bertanya di balik tubuh yang seakan membeku itu.


***


Burung mengeluarkan bunyi melencing dari kerongkongan nya, menandakan pagi lainnya sudah tiba. Alora masih terbaring di tempat tidur dengan mata terbuka dan uapan yang datang berkali-kali. Ia enggan bangun, namun harus sekolah.


Beberapa menit kemudian setelah mengenakan seragam, mengambil tas lalu memakai sepatu gadis itu menarik nafas panjang saat berdiri di depan pintu rumah yang sudah ia kunci lalu menguap.


Seperti yang kita ketahui bersama hubungan Alora dan Andre hanya hubungan bisnis yang mutualisme, setelah sebulan lebih menjalankan sandiwara keduanya mulai lelah dan tidak merepotkan satu sama lain, itu artinya tidak ada lagi jemputan untuk Alora tiap ke sekolah.


Jalan kaki adalah satu-satunya pilihan yang Alora punya walau sebenarnya ia sangat lelah apalagi semalam ia tidak bisa tidur lagi setelah bermimpi. Mimpi yang sudah lama hilang tiba saja kembali menyapa, apa artinya?


Suara klakson mobil mengejutkan gadis berambut panjang itu yang masih terngiang mimpi semalam di kepalanya. Ia melirik le arah mobil di sampingnya.


"Alora! Yok naik biar aku antar!" Ucap pemuda tampan yang tampak manis dengan lesung pipi di setiap senyumnya.


Alora hanya berpikir tanpa menjawab.


"Ayo! Nanti kamu telat loh! Lagian kita searah" Tambah Andi mencoba meyakinkan gadis yang tampak seperti robot itu.


Karena robot mengikuti perintah, Alora naik ke mobil dan berangkat. Matanya terbuka namun juga seperti tertidur, sebenarnya sudah seminggu sejak ia mengetahui orang tua angkatnya, Alora sering kedatangan mimpi yang sama.


Andi menaikkan ujung bibir tampannya tampak gemas melihat Alora yang tampak mengantuk duduk di sampingnya yang sedang mengemudikan mobil itu.


"Dia pasti tipe pekerja keras, kerja bagus!" Ucap Andi pada Alora yang hanya di dengar oleh angin.


Sesampainya di sekolah, Alora turun dan berkata


"Makasih banyak kak Andi lain kali Lora yang bakal nolongin kak Andi" Ucap gadis itu setengah sadar lalu masuk menuju kelasnya.


...

__ADS_1


Jam istirahat, Alora menolak ajakan Lia ke kantin namun malah ke perpustakaan dengan perut kosong untuk tidur. Tampaknya Alora selalu tidak menyadari saat ada orang yang mengikutinya.


Setelah memilih buku, ia menempatkan diri di meja kosong paling belakang lalu merebahkan kepalanya dan kelopak mata yang otomatis tertutup.


"Loe ke perpus bukannya belajar malah tidur!" Suara seorang pemuda tembus ke dalam telinganya membuat gadis itu terpaksa membuka mata yang seperti ter-lem itu.


Alora mendapati sosok wajah tampan yang  juga merebahkan kepala di meja itu menatap ke arahnya. Otaknya eror men-search nama pemuda yang tidak asing baginya.


Jika menyangkut wajah tampan unrealistis tentu saja itu Andre sang pacar.


"Kalo mau tidur kenapa gak ke uks aja?" Pertanyaan tiba-tiba itu menyadarkan Alora.


"Loe bener, tapi..." kata Alora terhenti saat kedua kelopak matanya kembali menutup karena sangat mengantuk.


Andre terlihat tersenyum kecil lalu mengangkat kepalanya dari meja itu tanpa melepas tatapnya dari Alora.


"Padahal gua pengen loe terbuka sama gua, gak bisa apa loe ceritain masalah loe? Gua pengen banget bantuin loe!" Kata Andre pelan.


Kening Alora mengkerut, kegelisahan terlihat jelas di wajah mungil itu.


"Maa.. ma..Lo..ra..sa..kit..." Suara gadis itu terdengar samar bersamaan henbusan nafas.


Andre menepuk bahu Alora beberapa kali dan terus memanggil, namun gadis itu tidak bangun juga.


Di sisi lain Alora seperti mendengar suara orang memanggilnya dari jauh, namun ia tidak berdaya.


Andre yang panik, memutuskan untuk menggendong Alora di punggungnya lalu berlari ke UKS. Setelah mendapatkan penanganan pertama dari dokter sekolah, Lia sang bestie pun datang saat mendengar kabar, gadis setia itu bahkan meninggalkan makanan yang baru ia pesan langsung berlari ke UKS.


Pelan tapi pasti, mata Alora terbuka setelah kurang lebih 30 menit pingsan.


"Loraa loe nggak apa-apa kan?" Tanya Lia yang sangat khawatir sudah menunggu dari tadi.


Setetes cairan bening mengalir begitu saja dari ujung mata gadis yang masih berbaring itu. Mulut Alora bergerak ingin menjawab,  tapi ia tidak bisa lagi mengatakan dirinya baik-baik saja dan ia juga tidak bisa bilang ia sedang terluka sangat dalam saat sorot matanya juga menemukan sosok lainnya di ruang itu yang masih setia menunggu.


"Alora kecapean, dan juga kurang gizi dan stress adalah pemicu terbesar nya" Ucap bu Dwi, dokter sekolah yang menangani Alora.


"Maksud dokter?" Tanya Lia.


"Stres memang pemicu nggak nafsu makan dan juga membuat tubuh mudah kelelahan, jadi jangan paksakan diri buat kerja yang berat dulu ya, dan satu lagi walaupun gak mau makan harus tetap makan" jelas dokter Dwi.

__ADS_1


Andre sampai saat ini belum memindahkan sorot mata itu dari gadis bergelar pacar itu.


" satu lagi! Seberat apapun masalahnya, kamu pasti bisa laluin itu semua, jadi jangan terlalu banyak berpikir yang enggak perlu, karna hidup kamu milik kamu, pikirkan saja apa yang membuat kamu bahagia" saran dokter Dwi lalu kembali ke ruangannya.


"Ekhemm..." seseorang yang berdeham canggung mengundang perhatian semua orang menoleh ke arah pintu.


Tampilan langka itu bahkan membuat Lia hampir membuka lebar mulutnya. Beni dengan kotak bekal makanan di tangannya, lalu mendekat ke arah Alora.


Pemuda psyco itu meletakkan bekal makanan di kasur Alora dengan canggung namun masih dengan tampang cool nya.


"Makan! Itu kata bokap gua" Ucapnya lalu keluar dari UKS, kedua gadis itu masih menatap tidak percaya dan sedikit curiga.


Berbeda dengan Andre, yang tatapnya sudah berubah saat Beni masuk, ia pun ikut keluar. Alora tampak menatap sendu punggung Andre yang meninggalkannya.


"Uwaaa gua gak tau si Beni so sweet gitu xixi" Ucap Lia cengengesan.


"Bokapnya yang nyuruh, loe gak denger? Beni gak akan pernah bisa berhati lembut" Sahut Alora setelah bangun dan membuka kotak bekal.


"Oya, loe gak bilang terimakasih sama Andre?" Tanya Lia yang baru teringat.


"Kenapa?"


"Loe gak tau dia yang bawa loe ke UKS? Satu sekolah heboh tau! Dia lari sambil gendongin loe di punggungnya, dramatis banget kayak drakor ajah hihi"


"Huh?" Alora tampak mengaitkan Alisnya entah apa yang ia pikirkan.


...


Epilog


Andre tampak kelelahan berlari sambil menggendong seorang Alora dipunggungnya, namun tetap bertahan hingga beberapa langkah sebelum sampai UKS ia berhenti karena mendengar


"Andre!" Terdengar seakan hanya hembusan nafas dari mulut Alora.


"All, loe gak apa? Loe baik-baik aja kan?" Tanya Andre.


"Andre...ja..ngan..per..gi..." Suara yang bercampur nafas itu jernih terdengar karena wajah Alora di bahu Andre.


"Loe tenang aja kita udah sampai nih!" Ucap Andre lalu berlari masuk ke UKS.

__ADS_1


__ADS_2