
Seminggu yang lalu,
Pemuda dengan wajah bak tokoh webtoon itu menuju tempat parkir sekolah untuk mengambil motornya. Saat hendak mengambil motornya, tiba saja lengannya di peluk seorang gadis dengan baju ketat berambut blonde.
"Andre anterin gua dong!" Ucap Mila dengan tingkah genit.
Namun Andre menatap risih sambil menarik lengannya dari sentuhan gadis itu.
"Gua bukan supir loe!" Ucap Andre dengan segera naik ke motornya.
"Gua bilangin tante ni ya!" Ancam Mila lalu mengeluarkan hp dari tasnya.
"Pacar gua ALORA! Dan loe jangan pernah gangguin Alora lagi, atau gua laporin kelakuan buruk loe sama nyokap loe!" Tegas Andre lalu menghidupkan motornya.
"Kenapa semua orang belain Alora sih? Beni juga! Jangan-jangan Alora memang penggoda lekaki" Mila dengan sengaja mengatakan hal tersebut agar Andre mendengarnya.
"Apa maksud loe 'Beni juga'? Sekali lagi loe ngomong gitu gua akan tinggal diam!" Andre mematikan lagi motornya, di sisi lain Mila tersenyum sinis.
"Anterin gua atau Loe bisa tanya aja sendiri sama Beni" gadis itu memberi pilihan dengan tampang angkuh.
Pemuda itu kembali menghidupkan motornya. Mila mendekati motor dan mengangkat kakinya untuk naik ke motor itu, namun Andre malah langsung gas tidak akan membiarkan gadis ngeselin itu naik.
...
Andre ke Kafe Beni, tentu saja mencari oknum itu untuk menuntaskan rasa ingin taunya. Andre dengan sengaja menghampiri pemuda psyco itu lalu mengajak ngobrol di luar Kafe.
"Apaan sih gua sibuk!" Oceh Beni dengan nada kasar khasnya.
"Di mana Alora?" Tanya Andre.
"Mana gua tau, dia kan pacar loe! Kalopun gua tau, gua nggak akan kasih tau loe!" Jawab Beni.
"Apa yang terjadi antara Alora dan Mila?" Tanya Andre lagi.
"Loe sebagai pacar kemana aja? Ngapain aja loe? Harusnya loe lindungin dia tapi..loe bahkan gak tau apa-apa ckckck" Beni mengakhiri kalimatnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Heh bro! Kalo loe nggak sanggup jaga Alora, dia buat gua aja" jawaban Beni malah memprovokasi Andre menjadi kesal.
Tanpa sadar reflek Andre mencengkram kerah baju Beni karena emosi.
__ADS_1
"Jawab pertanyaan gua! Jangan ngelantur loe!" Nada marah yang tertahan keluar dari mulut Andre sembari menatap tajam lawan bicaranya itu.
Pemuda psyco itu tersenyum sinis "Mila mukul Alora dan nyuruh buat jauhin loe!"
Andre melepas kerah Beni lalu pergi begitu saja.
***
Seminggu kemudian.
Rutinitas Alora ke perpustakaan untuk tidur belum berakhir. Setelah memilih satu buku ia langsung ke meja pojok untuk duduk dan merebahkan kepalanya.
Gadis itu beruntung Herman ternyata sudah membayar uang SPP sekolahnya hingga akhir semester sehingga Alora tidak perlu berhenti sekolah karena masalah keuangan.
Saat Alora terlelap, diam-diam Mila meletakkan sebuah roti yang sudah di bubuhi obat sakit perut di samping Alora agar ketika bangun Alora memakannya. Di atas roti itu tertempel catatan bahwa roti itu dari Andre.
Beni melihat semua yang dilakukan Mila, karena sesungguhnya Beni selalu tanpa sengaja mengawasi Alora. Gadis cuek yang bergelar psyco juga itu selalu menarik perhatiannya, tanpa disadarinya bola mata Beni selalu mencari tau keberadaan Alora.
Namun walau tau roti itu diracuni, Beni tetap tidak melakukan apa-apa dan malah pergi.
Saat bel masuk kelas membangunkannya, Alora melirik roti di depannya dan membaca kertas note, namun tidak mengambil rotinya malah langsung masuk ke kelas. Tentu saja bukan karena alasan apapun, Alora hanya malas berurusan dengan hal-hal yang akan membuatnya repot nantinya, makanya ia lebih memilih tidak usah peduli.
Di sisi lain Mila yang sudah menunggu lama sampai Alora terbangun, ia kesal karena Alora tidak masuk jebakannya dan malah menggerutu sendirian hingga dimarahi petugas perpustakaan karena berisik.
...
"Alora?" Suara itu terdengar jelas hingga Alora membalikkan tubuhnya menoleh di lorong menuju kelas.
"Loe bisa kasih ini buat Andre nggak?" Tanya seorang cewe dari kelas 11 dengan kado berbentuk kotak di tangannya. Gadis berkacamata itu tersenyum canggung seolah terpaksa.
"Siapa nama loe?" Tanya Alora dengan wajah datar.
"Gebi!" Sahut gadis itu polos.
"Gebi, Andre itu pacar gua! Masak loe gak tau sih?"
Mulut gadis itu terbuka lalu berkata "ternyata rumor itu bener!"
"Rumor apaan lagi? Gua lintah yang manfaatin Andre? Atau .."
__ADS_1
"Bukan, tapi rumor kalo Alora adalah pacar Andre! Gua nggak percaya ini!"
Alora menghela berat, lalu mengarahkan tangannya pada kado itu untuk mengambilnya sembari berkata
"Ini buat Andre kan? Sini biar gua kasih, tapi gua nggak janji bakalan diterima soalnya dia suka buang barang"
Namun, gadis kacamata itu malah memegangi erat kado itu seolah tidak ingin memberikannya. Alora pun berusaha menariknya lalu tersenyum kesal.
"Loe nggak bakalan ambil hadiahnya buat loe kan? Ngaku aja loe!" Ucap Gebi.
"Yaudah loe kasih sendiri aja!" Alora melepaskan tangannya dari kado itu, lalu melambai ke arah Andre yang datang ke arahnya dengan wajah datar itu sangat berbeda dari Andre yang tersenyum lebar.
"Sayang, dia mau kasih kado buat kamu" ucap Alora kepada Andre begitu ia tiba.
"Huh?" Andre melirik Gebi yang memasang senyum canggung lalu melanjutkan katanya "maaf ya, Al gak suka gua terima barang dari cewe lain, gimana sayang?" Menatap Alora.
Alora menaikkan bahunya sebentar dengan bibir mengerucut seolah mengatakan "terserah". Namun saat Andre mengalihkan pandangan darinya gadis berkedok pacar itu tersenyum sinis.
"Maaf ya!" Ucap Andre pada Gebi, "ke kelas yok!" Sambung Andre pada Alora.
"Aneh, mereka pacaran tapi gak saling pegangan tangan, malah jalan sendiri-sendiri" gumam Gebi.
...
Saat memasuki kelas, tiba saja penghapus papan tulis melayang begitu saja ke arah Andre dan Alora. Andre dengan sigap melangkah untuk melindungi Alora, namun langkahnya dihentikan oleh Alora yang sudah duluan mendorong Andre ke dinding papan tulis, lalu gadis itu memblokir Andre dengan kedua telapak tangan menancap di papan tulis itu. Terlihat seakan memeluk Andre namun tanpa menyentuhnya.
Penghapus yang terbang mengenai bagian punggung Alora dengan tekanan besar hingga tubuhnya sedikit terhempas mengenai Andre yang ada 10 cm darinya.
Gadis itu tampak menahan sakit sebentar lalu mendongakkan kepalanya menatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu.
"Loe nggak apa kan?" Tanya Alora.
Menatap Alora dengan perasaan terharu, entah bagaimana gadis itu terlihat sangat cantik, rambut yang terhempas ditiup angin dan bibir yang bergerak bertanya.
Deg deg..
Detak jantung Andre meningkat dua kali lipat. "Gua kenapa sih?" Batin Andre.
.
__ADS_1
.
tbc