
Begitu usai mata kuliah, Alora langsung meninggalkan kelas lalu menuju kantin untuk bertemu bestienya. Tentu saja Lia sudah duduk di salah satu bangku kantin menunggu sahabatnya datang. Begitu tiba, Alora langsung duduk di depan Lia.
"Kok loe duduk di situ? Nggak mau di samping gua?" Tanya Lia.
"Katanya Andre mau ke sini juga siap kelasnya," sahut Alora.
"Oh.. si bucin ini rupanya, jadi loe biarin gua duduk sendirian karna nggak mau pacar loe datang duduk sendiri?" Sahut Lia dengan nada mengejek lalu tertawa.
"Loe telpon pacar loe juga dong! Biar ada yang nemenin hahah!" Balas Alora sambil terus menertawakan humor mereka.
"Eh tapi,... kak Andi sering sibuk jadi gua agak kesepian gitu sih!" Ucap Lia usai menyelesaikan tawanya.
"Iya.. karena kak Andi lagi kerja juga kan? Itu tanggung jawabnya!" Jawab Alora berusaha menghibur.
"Iya sih! Masak sih gua harus keluar malam mulu kalo mau ketemuan? Kan cape Lora! Gua pengen istirahat malamnya! Dan gua juga merasa ada yang kurang gitu, rasanya beda dari saat sebelum gua jadian!" Lia masih belum dapat menjelaskan detail perasaannya.
"Karna waktu itu kak Andi belum jadi milik loe kali! Sekarang keinginan loe udah terkabul jadi rasanya lebih mudah dari sebelumnya!" Sahut Alora.
"Loe bener juga sih!"
"Yaudah loe sabar aja! Loe kan bisa ketemuan di hari libur juga kan?" Alora mengakhirinya dengan pertanyaan.
Lia hanya mengangguk, lalu mendapati sosok Andre datang dan menyapa.
"Tuh cowo loe datang!" Ucap Lia.
Alora melambai lalu di balas Andre. Seperti yang direncanakan, Andre duduk bersama Alora dan Lia duduk sendirian sambil menikmati makanan yang telah ia pesan.
"Sayang kamu mau pesan apa?" Tanya Alora.
"Gua udah pesan kok! Tunggu diantar aja!" Sahut Andre.
"Loe kenapa manyun gitu mukanya Lia?" Tanya Andre.
"Kakak loe tuh sibuk banget! Gua pengen juga rasain romansa kampus kayak kalian! Tapu yaudahlah ya!" Sahut Lia yang membuat Andre sedikit tersenyum.
"Namanya juga kerjaan! Pasti bakal nyita waktu dan bakal ada orang terabaikan dalam prosesnya!" Ucal Andre yang tampak sangat paham rasanya.
__ADS_1
Tak lama usai percakapan itu, seseorang yang mereka kenal pun ikut nongkrong. Begitu datang, pemuda itu langsung duduk di samping lainnya Alora yang membuat ketiga oknum yang sudah duduk dari tadi melirik pemuda itu bingung.
"Wait wait! Ngapain loe duduk di situ? Loe nggak lihat dia bareng pacarnya?" Cetos Lia yang sudah tak asing dengan aksi random pemuuda itu.
"Iya gua tau! Kan lebih baik di sini! Dari pada gua duduk di samping cewe yang punya pacar tapi pacarnya nggak ada di sini, nanti timbul fitnah! Mending gua duduk di samping yang ada pacarnya di sini ya nggak? Jadi aman kan?" Jelas Beni dengan 1001 alasannya.
"Loe jahat banget sih? Trus loe buat gua duduk sendiri di antara cinta segitiga loe gini? Sini pindah cepetan!" Lia versi ngamvek sedikit mengerikan, soalnya dia hampir tidak pernah marah.
Beni dengan segala ke-mageran-nya tetap pindah bangku lalu memanggil pelayan dan memesan makananya.
"Ck ck dasar psyco emang! Saking ngertinya gua bahkan nggak bisa marah sama loe!" Sahut Andre sembari menggeleng kepalanya. Sedangkan Alora diam saja menikmati makanannya.
Tiba saja teman sekelas Lia datang menyapa.
"Hai Lia! Ini pacar loe?" Gadis itu me-notice Beni yang duduk di samping Lia, karena mereka terlihat seperti sedang double date namun tanpa romansa sedikitpun.
"Aah.. bukan! Pacar gua.." kalimat Lia langsung dipotong gadis itu, dan ia langsung menarik kursi duduk di samping Beni.
"Kalo gitu kenalin gua Tiara!" Gadis itu menjulurkan tangannya ke arah Beni.
Namun Beni hanya diam saja karena tidak tertarik, hingga Lia meliriknya lalu terpaksa menjawab.
"Oya loe cowo yang di lapangan basket itu ya?" Tanya Tiara namun lagi-lagi Beni hanya diam.
"Iya itu gua! Dan loe bisa pergi nggak? Gua mau makan loe ganggu!" Ucap Beni setelah beberapa detik.
"Apaan sih sombong banget!" Tiara bangun karena agak kesal.
"Tiara sorry ya! Dia emang agak gitu orangnya..." lagi-lagi kalimat Lia langsung ditebas.
"Iya! Gua pergi dulu!" Gadis itu akhirnya pergi.
Lia melirik Beni tajam dan kesal, tapi ia bisa apa karakter itu tidak bisa diperbaiki hingga orang di sekitarnya menghela nafas berat. Beni tidak akan peduli jika ia tidak tertarik dengan orang tersebut, sungguh sikap yang baik bukan?
Setelah menyelesaikan makan, Alora hendak pergi dengan Andre.
"Lia! Kita mau pergi dulu! Loe ikut nggak?" Tanya Alora.
__ADS_1
"Nggak ah! Yang ada gua bakal jadi nyamuk kalian pacaran!" Ucap Lia lalu tersenyum.
"Yaudah kami pergi dulu ya!" Ucap Alora lalu pergi bersama kekasihnya.
"Loe pergi aja! Lagian gua udah biasa sendiri kok!" Ucap Beni lalu menyeruput minumanya.
"Gua yang nggak biasa sendiri!" Sahut Lia lagi.
"Kenapa lagi loe? Cowo loe sibuk? Nggak ada waktu buat loe?" Ucap Beni hanya menebak. Namun lirikan Lia menyatakan segalanya.
"Terus kapan gua bisa lepas dari loe? Tempelin pacar loe sana! Ke kantornya kek apa kek! Biarin gua nikmatin jomblo gua!" Beni dengan nada agak kasar yang biasa ia gunakan.
Lia memanyunkan bibirnya karena kesal, lalu ia menjawab dengan nada yang sama dengan Beni.
"Suka suka gua! Loe kan temen gua gimana sih?"
Beni agak terkejut dengan nada tinggi itu. "Loe siapa ngajarin bentak gua gitu?" Tanya Beni.
"Pakek nayak lagi! Loe lah! Nggak sadar?" Sahut Lia yang semakin keras menghadapi pemuda bad boy satu ini.
Beni hanya melirik sekilas, lalu bergegas menyelesaikan makannya. Setelah makan dan melunasi tagihannya ia bangkit untuk pulang.
"Gua nebeng loe!" Ucap Lian.
"Nggak bisa! Gua harus ke tempat lain nggak langsung pulang! Telpon pacar loe suruh jemput!" Sahut Beni lalu melangkah menuju parkir.
"Loe mau ke mana emang? Perasaan loe nggak punya tempat tujuan selain Kafe rumah, market sama kampus!" Tanya Lia yang penasaran.
"Itu cuma perasaan bukan kenyataan! Kepo banget! Tau apa loe tentang hidup gua?" Ucap Beni lalu pergi.
"Iya memang gua nggak tau apa-apa tentang loe Ben!" Gumam Lia lalu membalikkan arah jalannya menuju gerbang keluar kampus untuk menunggu di halte depan. Wajah Lia tampak sendu dan terus memeras otaknya sembari berjalan.
"Gimana cara benar-benar masuk ke hidup loe sih Ben? Gua pengen banget bantuin loe!" Setelah mempelajari psikologi, Lia menjadi tau tentang hal-hal yang selama ini tak dapat terlihat namun dapat di rasa.
.
.
__ADS_1
.
Tbc