My Secret Alora

My Secret Alora
Kecelakaan kedua kalinya


__ADS_3

Seorang gadis dengan baju pasien terbaring di salah satu ruangan rumah sakit itu. Bagian dahinya di perban dan terpasang infus di tangannya.


Mata yang tertutup itu perlahan mulai terbuka. Gadis itu mengerutkan dahinya karena kepalanya terasa sakit. Akhirnya ia tersadar saat melirik infus yang terpasang di tangannya, bahwa ia ada di rumah sakit.


Jam yang terajang di dinding cukup menjelaskan dia sudah terlambat untuk bekerja. Gadis itu mencoba duduk lalu  bangun dan hendak berdiri, namun sekali lagi dia menyadari lututnya sakit dan sulit di gerakkan. Setelah memeriksanya ternyata memar hampir di seluruh kakinya dan yang paling parah bagian lututnya.


Gadis itu menghela berat sembari duduk di ranjang itu dengan wajah sendu. "Kenapa aku tidak langsung mati saja?" Batinnya.


Suara detakan sepatu pantofel menyentuh lantai. Sumber suara semakin mendekat hingga terdengar suara pintu yang terbuka membuat gadis itu menoleh.


"Alora udah sadar?" Tanya pemuda yang lengkap dengan setelan jas nya.


"Kak Andi kok bisa di sini?" Tanya Alora.


Andi mendekati ranjang Alora lalu duduk di kursi di sisi ranjang itu. Pemuda itu langsung menyentuh tangan Alora dengan kedua tangannya dan berkata


"Maafin aku ya, aku nggak sengaja nabrak kamu!"


Tiba saja kepala Alora berdenyut dan terasa sakit hingga Alora mengernyit. Andi langsung bangun dari kursi itu untuk memastikan Alora tidak apa-apa.


"Sakit? Perlu panggil dokter?" Andi tampak panik dan khawatir.


"Gak apa kak, Lora okey kok!"


"Harusnya aku hati-hati gausah ngebut tadi."


"Tapi salah Lora juga kak, yang tiba-tiba di tengah jalan padahal lampunya masih hijau"


"Kamu sadar lampunya hijau? Terus ngapain kamu berdiri di situ"


"Mungkin aku memang ditakdirkan hidup begini ya kak?"


"Maafin aku juga ya, harusnya aku nggak biarin kamu kecelakaan lagi seperti ini"


"Iya, tapi maksud kak Andi apa? Kecelakaan lagi?"


"Kamu masih belum ingat? Semoga ini waktu yang tepat untuk ngasih tau kebenarannya, kamu juga sudah dewasa. Tepatnya tanggal hari ini kamu kehilangan kedua orangtua dan ingatan kamu saat usia sekitar 6/7 tahunan"


"Kak Andi tau dari mana?"


"Jadi kamu udah ingat semuanya?"


"Hanya sebagian dan ingatannya masih pudar dan acak. Tolong ceritain kak, Alora harus tau kan?"


"Kamu yakin mau mengingat kejadian menyakitkan itu? Tapi..." kata Andi terpotong saat Lia berteriak setelah membuka pintu.

__ADS_1


"Loraa loe nggak apa kan?" Gadis itu langsung berlari memeluk Alora dengan wajah khawatir, lanjut di susul nenek dan tante Ina.


"Tadi aku nelpon Lia" ucap Andi.


"Aku kebetulan di rumah nenek jadi kami berangkat sama-sama"


"Alora kok bisa sampe kecelakaan?" Tanya tante yang berdiri di sisi ranjang dan nenek yang sudah ikut duduk di sisi Alora di ranjang itu.


***


Di sisi lain, oknum bermana Beni masih menunggu kedatangan Alora ke Kafe. Beni tampak bekerja namun juga tidak, ada saat-saat ia hanya duduk diam, dan beberapa saat juga dia hanya mengantarkan pesanan pelanggan. Namun bola matanya tak henti menyorot pintu depan Kafe.


"Ck.. Tuh cewe kemana sih? Kok gak datang hari ini?" Gumannya yang terlihat kesal.


"Apa dia mau main-main sama gua?" Batin Beni hampir meledak karena marah.


Pemuda psyco itu mengambil Hp dari sakunya, namun harga dirinya tidak mengizinkannya untuk menelpon Alora. Beni sungguh ingin tahu alasan Alora menolak dirinya, sebenarnya gadis itu kenapa sangat plin-plan menurutnya.


Namun, tanpa mengetahui yang terjadi, Beni menyimpulkan sesuka hatinya.


...


Di sisi lain lagi, Andre sedang berdebat dengan ibunya tentang study-nya yang dinginkan tidak sesuai dengan keinginan ibunya.


"Mah, apa nggak ada kesempatan buat Aku milih sendiri apa yang aku suka?"


"Gak ada! Kamu harus ikutin keputusan mama, titik!" Wanita paruh baya itu melipat tangannya di bawah dada bersikap angkuh, lalu melqnjutkan ocehannya.


"Sama satu lagi, jangan abaikan Mila! Papahnya itu mitra perusahaan papah loh, kamu harus ambil hatinya agar kondisi kedua perusahaan terus berlanjut baik"


"Apa hubungannya anak sama bisnis mah?" Andre membantah karena kesal mendengarnya.


"Sebagai anak kamu harus mendukung bisnis papah kamu dong!"


"Dan sebagai ibu, mamah harusnya tau keinginan anaknya. Anak bukan barang yang bisa dilelang dalam bisnis mah!" Andre terlalu kesal untuk melanjutkan kata-katanya.


Hari weekend yang harusnya dinikmati, berubah menjadi hari salah satu hari buruk yang ingin dilupakan.


Walau terasa seakan bukan apa-apa, namun itu luka bagi orang lain. Kehidupan ini tidak bisa ditebak kemana arahnya, kisah sedih akan menyapa dan bahagia akan terus bersembunyi di baliknya.


...


Malamnya, Andi pulang ke rumah sesudah mengurusi administrasi rumah sakit. Pemuda itu mendapati adiknya yang duduk di meja belajarnya sambil menulis.


Andi memasuki kamar Adiknya itu lalu menepuk punggung Andre yang membuat Andre berdecak kesal. Andre membalikkan tubuhnya untuk menoleh dan mendapati abangnya itu membaringkan diri di kasur milik Andre.

__ADS_1


"Loe ngapain? Ke kamar loe sana!" Perintah Andre yang tidak ingin Andi mengganggunya.


"Gua capek banget hari ini!" Sahut Andi lalu menghela berat.


"Loe kan nggak kerja hari ini, kenapa loe? Habis ngapain?"


"Gua nabrak Alora tadi!"


"Nabrak apaan maksud loe?" Andre mulai panik dan khawatir.


"Gua nabrak Alora yang berdiri di tengah zebra cross pake mobil, yang gua nggak ngerti kenapa dia berdiri di tengah jalan kalo tau lampunya hijau? Alora punya masalah ya?"


Segera setelah mendengar penjelasan Abangnya itu, Andre langsung memakai jaket dan mengambil kunci motornya.


"Loe mau kemana tengah malam begini?" Tanya Andi sembari tergerak untuk bangun melihat tindakan Andre.


"Rumah sakit mana?" Tanya Andre.


"Tengah malam begini loe mau ke rumah sakit? Jam besuknya udah habis, besok aja loe jenguk teman loe"


"Alora pacar gua! Rumah sakit mana?"


"Medika utama" sahut Andi yang masih syok mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut adiknya itu.


"Pacar?" Mulut Andi masih terbuka.


Seperti yang terlihat, saat ini Andre sudah menaiki motornya dan melangsungkan gas hingga motornya melaju kencang.


Sesampainya di rumah sakit, memang benar kata Andi, pemuda itu tidak diizinkan masuk karena bukan lagi jam besuk, pasien harus beristirahat. Namun Andre tidak pantang menyerah, dia tetap memohon agar bisa dibolehkan masuk.


Akhirnya Andre hanya di izinkan melihat dari luar ruangan agar tidak mengganggu pasien dan keluarganya yang sedang beristirahat. Tampak Alora yang tertidur dengan perban di kepalanya dari balik kaca pintu.


Tatapan pemuda itu tampak sangat dalam, namun ia juga terlihat lega sekaligus khawatir. Setidaknya dia memastikan Alora bisa tidur dengan baik malam ini.


Setelah hampir satu jam sendirian di balik ruangan Alora, pemuda itu akhirnya kembali pulang seakan enggan.


*Sebesar itukah perasaan yang tumbuh tanpa mereka sadar**i*?


.


.


.


tbc

__ADS_1


__ADS_2