My Secret Alora

My Secret Alora
Lora


__ADS_3

Setelah 2 hari menunggu kondisi Andre mulai membaik, begitupun dengan Alora yang telah sadarkan diri lebih dulu dari Andre. Ruang VIP Andre terlihat sibuk karena banyak rekan kerja dari perusahaan ayahnya mengunjungi Andre sebagai salah satu cara main bisnis sekaligus kemanusiaan. Hal ini sangat berbeda dengan Alora yang hanya berdua dengan neneknya di dalam ruangan biasa yang agak sempit.


Di ruangan Alora, gadis itu terbangun akibat mimpi buruk yang sama di pagi itu. Sejak sadarkan diri Alora jadi semakin pendiam dan belum mengatakan apapun.


"Lora sayang udah bangun? Makan dulu nak?" Ucap Nenek membawa makanan dari rumah sakit ke tempat tidur Alora.


Namun tatap Alora kosong, nenek menghela berat nafasnya lalu menghirup ingus yang tidak ada seolah menahan tangisnya.


"Nenek suapin ya sayang!" Suara nenek bergetar lalu menyeka cairan bening yang mengalir begitu saja.


Gadis itu membuka mulutnya ketika suapan kecil itu melayang ke arahnya. Alora kembali ke masa itu, masa gadis kecil kehilangan orang tua sekaligus ingatannya. Sikapnya sama persis, seolah ia dalam dunianya sendiri.


Lia yang baru datang, membuka pintu lalu masuk dan mendapati nenek sedang menyuapi Alora.


"Nek! Biar Lia aja!" Gadis itu berlari lalu menggantikan nenek untuk menyuapi Alora.


"Loraaa! Ini Lia! Kita sahabatan udah lebih dari 7 tahun. Lora yang Lia kenal memang nggak banyak ngomong sih, tapi selalu merespon walaupun cuek sih xixi! Lora cepetan baikan yaa! Biar kita bisa healing sehabis ini!" Kalimat Lia yang terdengar ceria itu namun hanya di dengar oleh angin. Gadis itu melirik nenek yang menggeleng kecil dengan sendu.


"Lora! Jangan cuekin Lia dong! Lia jadi sedih!" Lia akhirnya memeluk bestienya namun Alora masih duduk terdiam dengan tatap kosongnya.


Suara pintu kembali terbuka, Andi masuk ke ruangan itu.


"Gimana keadaan Alora?" Tanya pemuda itu.


"Masih sama nak! Alora kehilangan semangat hidupnya seperti 14 tahun yang lalu," sahut nenek.


"Trus nek, gimana nenek sembuhin Lora dulu?" Tanya Lia.


"Nenek nggak tau nak, Lora kembali membaik setelah dirawat kedua orang tua barunya!"


"Kabar nak Andre gimana?" Tanya nenek lagi.


"Andre udah sadar dan membaik, kondisinya stabil dan dia dalam masa penyembuhan nek!" Jawab Andi.


"Syukurlah!"


Andi melirik Lia yang menatapnya, namun saat Andi membalas tatap itu Lia membuang muka seolah menatap Alora.


...

__ADS_1


Beni sebagai pejuang cinta, tidak bosan datang untuk menjenguk Alora. Namun ketika hampir sampai di gerbang rumah sakit dengan mobilnya, ia mendapati seorang gadis SMA sedang di rudung temannya. Namun bukan Beni jika turun dan menolong. Pemuda itu melanjutkan mobilnya lalu memarkir dengan baik.


...


"Dasar pengecut!" Kata itu keluar dari seorang pemuda tampan, tinggi namun Kasar, iyap Beni.


Ketiga gadis itu menoleh saat kalinat serangan itu masuk ke telinga mereka, dua di antaranya membuka mulut karena pemandangan indah di depan mereka. Namun Fathia yang menjadi korban itu hanya diam saja dengan tatap dinginnya.


"Jangan ganggu adik gua! Pergi kalian!" Ucap Beni pada kedua gadis itu.


"Tapi Thia harus bayar hutangnya dulu! Repot-repot kita kemari karena dia nggak pernah masuk sekolah!" Ucap salah satu gadis itu.


Beni melirik Fathia dengan tatap dingin lalu berkata, "berapa hutangnya?"


"Loe nggak perlu bayarin hutang gua!" Teriak Fathia.


"Heh! Kalo nggak mampu bayar jangan sombong! Songong banget loe!" Gadis itu tidak bisa menahan tangannya yang menunjuk ke arah Fathia dengan kasar.


Beni menggenggam kuat pergelangan tangan yang menunjuk kasar ke arah Fathia lalu melempar kasar, sesuai gelar psyconya. Ia juga mengambil beberapa lembar dari dompetnya lalu melempar ke arah gadis itu. Tak lupa ia meraih tangan adiknya itu menyeretnya bersamanya.


"Ya ampun! Adik sama kakaknya sama aja!" Gumam gadis itu sambil mengumpulkan uang yang berserakan di tanah.


"Mau kemana loe?" Tanya Beni dengan deep voice yang menekan itu.


"Gu..a mau beli cemilan kesukaan Lora, loe mau nitip?" Sahut Lia yang agak tergagap itu.


Beni tidak menjawab, pemuda itu hanya melanjutkan apa yang sedang dilakukannya.


"Apa itu? Dia nolongin tapi juga.. entahlah terserah dia!" Gumam Lia lalu melanjutkan jalannya.


***


Andre yang duduk di atas kursi roda dengan perban di kepalanya, berhasil mendapatkan keinginannya untuk bertemu Alora setelah beberapa hari mencoba. Karena Jeni tidak akan mengizinkannya pergi ke mana-mana sebelum Andre sembuh total. Namun peluangnya tiba, saat Jeni akhirnya meninggalkan rumah sakit, Andi membawa adiknya itu untuk menjenguk Alora.


Seperti yang kita ketahui, Alora masih sama dengan tatap kosong itu. Gadis itu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari bayangan kejadian itu mengitari isi otaknya.


"Al! Loe ngak apa kan?" Tanya Andre pelan, tentu saja jangankan menjawab, membalas tatap Andre saja tidak.


"Al! Ini gua Andre! Tolong lihat gua sekali aja!" Ucap Andre sembari meraih tangan Alora.

__ADS_1


"Semua ini salah gua! Maafin gua Al nggak bisa lindungin loe!"


"Loe tenang aja kita akan cari cara sembuhin Alora." Andi menenangkan adiknya.


Tiba saja suara dentaman kuat pintu yang menabrak dinding membuat Alora menoleh, suara pertama yang berhasil menyadarkan Alora saat melihat seorang pria tersenyum kepadanya. Sudut bibir Alora naik, ukiran indah itu kembali.


Gadis itu langsung melepaskan tangannya dari Andre, lalu turun dari ranjangnya berlari ke arah pria itu.


"Ayaaaaah!" Alora tampak seperti gadis kecil yang bertemu ayahnya.


Pria itu memeluk anak gadisnya dengan mata yang berbinar begitupun Alora. Nenek yang hanya duduk di sudut pun berdiri melihat cucunya akhirnya beraksi setelah hampir seminggu.


"Alora sayang! Ini ayah nak kamu nggak apa-apa kan?" Tanya sang ayah dalam peluk itu.


"Jangan tinggalin Lora ayah! Lora nggak mau sendirian lagi!" Ucap gadis itu memeluk erat ayahnya.


Akhirnya peluk itu terlepas saat nenek berdiri di samping Alora. Gadis itu menoleh lalu memeluk neneknya.


"Nenek makasih banyak udah sabar sama Lora!" Ucap gadis itu dalam peluknya.


"Iya sayang! Yang penting Lora baik-baik aja, nenek udah senang!"


Di tengah kabar baik yang terpampang di depan mata, ada seseorang yang bahagia namun juga sedih, Alora yang berpaling dari genggamannya dan tidak menotice-nya sama sekali. Melihat Alora tertawa merangkul ayahnya seolah menjadi seseorang yang baru.


"Al?" Panggil Andre dari kursi rodanya. Perhatian gadis itu teralih padanya.


"Loe kenal gua kan?" Tanya Andre yang penuh harap, ia takut Alora kehilangan ingatannya tentang kenangan mereka.


Gadis itu melirik kanan kiri lalu mendapati tatap Andi yang mengangguk meyakinkan gadis itu. Akhirnya Alora menjawab dengan anggukan saat menatap kembali Andre dengan wajah datar. Namun momen itu tidak bertahan lama, Alora kembali tersenyum saat ayahnya berbicara padanya dan Lia yang datang membawa cemilan kesuakaannya.


Di sisi lain Andre terlihat sedih diabaikan gadis itu. "Alora! Apa loe marah sama gua? Apa loe bener-bener ingat gua?" Batin Andre yang keluar dari ruang itu.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2