My Secret Alora

My Secret Alora
Persembunyian burik


__ADS_3

Pagi weekend yang cerah, tidak mendung tidak juga terik matahari, cuaca yang pas untuk berlibur dan bersantai. Gadis itu masih mengantuk namun sudah di sungkit ibunya untuk bangun.


"Liaa! Bangun Beliin garam cepetan! Sama tomat juga! Sama..." kalimat yang begitu panjang, namun gadis itu masih menempel dengan kasurnya. Rasanya sulit sekali untuk bangun karena pun ia bergadang semalaman mengerjakan tugasnya.


"Bangun Lia! Cepetan! Bangun! Lia! Lia!" Panggilan yang tiada henti layaknya alarm pagi yang tetap berisik walau sudah dimatikan.


"Iya iya Lia bangun nih!" Gadis itu bangkit dari kasurnya dengan rambut berantakan.


Lia meraih salah satu ikat rambutnya di atas meja lalu menguncir rambut itu seadanya dan terlihat rapi. Ia menarik hoodienya yang tergantung di belakang daun pintu lalu menggunakannya sembari menuju dapur untuk mengambil daftar belanjaan dari ibunya. Tak lupa ia singgah sebentar ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, lalu meraih masker di lemarinya.


"Itu uangnya sama daftar barang yang harus di beli atas meja makan!" Ucap Ibunya Lia saat gadis itu ke dapur lalu memeluk ibunya dari belakang.


"Cepetan pergi! Ibu harus masak nanti siang ada tamu!" Wanita itu tak lelah menceramahi anak gadisnya itu.


Gadis itu berangkat ke supermarket terdekat seperti biasa, namun di tengah jalan masker yang ia gunakan terputus, alhasil wajah baru bangun pagi itu harus terekspos ke dunia.


"Dah lah, mau dadan juga kalo nggak cantik tetap nggak cantik juga!" Batin Lia untuk menstimulasi kepercayaan dirinya, lalu membuang maskernya.


Sedang asik berkeliling mencari barang di daftar belanjaannya, tiba saja ia tanpa sengaja menemukan orang yang ia kenal hingga membuatnya otomatis berbalik lalu menarik tudung belakang hoodienya untuk menutupi wajahnya. Gadis itu berjalan mengendap-endap agar tidak terlihat.


Sulit mencari barang yang ia cari sambil menutupi wajah dan wawas akan ketahuan, akhirnya semesta mengirim seseorang lainnya untuk dijadikan tumbal sebagai tempat begantung. Layaknya benalu, gadis itu langsung menjadikan tubuh pemuda itu sebagai tameng persembunyiannya.


"Apaan nih?" Pemilik suara tak asing itu merasa disentuh seseorang tak dikenal.


"Ben, ini gua Lia! Tolong tutupin gua bentar, ada kak Andi di situ! Dia lagi menuju ke sini!"  Ucap Lia lalu maju ke depan Beni.


Pemuda itu menoleh mencari pemuda lain yang dihindari Lia itu.

__ADS_1


"Tutupin gua! Itu kak Andi mau ke sini!" Bisik gadis itu lalu ia tanpa sengaja menarik kerah leher baju Beni hingga membuat pemuda itu tertarik ke arahnya dengan posisi seolah mereka sedang berpelukan dan kepala Beni sedikit tertunduk agar Andi juga tak mengenalinya. Beni menatap gadis itu yang mengintip Beni di sela-sela ruang antara dirinya dan gadis itu.


"Heh! Andi udah jauh tuh! Bisa lepasin baju gua nggak?" Ucal Beni yang membuat Lia melepas pegangannya lalu menatap Beni yang sedekat itu dengannya. Entah bagaimana Beni terlihat rapi dan keren dengan stylenya hari ini.


Padahal Beni hanya mengenakan setelan training polos lalu melapisinya dengan jaket di atasnya. Makin dilihat Beni semakin tampan saja. Beni masih menatap tajam Lia menunggu penjelasan, tatapnya seolah bertanya, "Apenih? Cepet jelasin!"


"Aah.. gua..gua jelek banget baru bangun tidur, tadi cuci muka langsung ke mari, gua nggak expect bakal ketemu kak Andi di sini! Sorry gua manfaatin loe buat jadi tembok, tapi loe masih mah nolongin gua kan? Bantu gua cari barang belanjaan gua ya, nanti kalo ketemu kak Andi gua langsung sembunyi di belakang loe!" Jelas Lia panjang lebar namun pemuda di depannya masih diam.


"Nggak! Gua nggak mau! Gua udah selesa, gua mau pulang!" Ucap Beni lalu menuju ke tempat kasir.


"Ayo bantuin gua! Gua cuman punya loe yang ngertiin gua!" Lia belum nyerah lalu meraih tangan Beni dan menariknya kembali untuk menemaninya.


Bukannya Beni lemah, hanya saja pemuda itu membiarkan Lia menariknya dan membuat dirinya seolah-olah tertarik akibat aksi gadis itu.


"Harusnya loe nunjukin diri loe ke Andi supaya dia bisa nerima loe apa adanya!" Ucap Beni sembari mengikuti gadis yang menyeretnya.


Setelah selesai bertransaksi kedua oknum itu keluar dari supermarket, namun ternyata Andi masih belum meninggalkan tempat itu, Beni dengan reflek menarik Lia agar bersembunyi di belakangnya. Namun yang mengejutkan oknum yang dijadikan topik itu sedang berbincang dengan seorang gadis. Lia mengintip sedikit dari sisi kanan tubuh Beni ia menyodorkan kepalanya menoleh.


"Gua masih sayang sama loe Ndi! Gua pengen kita balikan kayak dulu! Gua juga kangen banget sama loe!" Gadis itu tiba saja memeluk Andi yang membuat kedua oknum yang menonton itu membelalakkan bola matanya.


Anehnya tidak ada penolakan dari pemuda itu, Andi diam saja hingga gadis itu melepas peluknya.


"Gua menyadari kesalahan gua, gua akan berubah buat loe Ndi!" Ucap gadis itu.


"Kalo mau berubah lakuin buat loe sendiri bukan buat orang lain!" Andi langsung pergi menuju mobilnya lalu pergi meninggalkan gadis itu yang berusaha mengejarnya namun gagal.


...

__ADS_1


Beni melirik Lia yang tampak sedang merenung.


"Loe nggak apa kan? Loe tenang aja, Andi nembak loe dan masih nunggu jawaban, pergi jawab 'iya' sana! Kalo loe nggak mau Andi kembali sama cewe itu!" Ucap Beni lalu duduk di bangku depan supermarket itu lalu membuka plastik roti dan menggigit rotinya.


"Kak Andi kok bisa kemari pagi-pagi gini sih? Biasanya di minimarket dekat sana! Padahal gua sengaja ke supermarket ini biar nggak kebetulan ketemu gitu!" Sahut Lia yang mengalihkan pembicaraan.


Beni hanya diam saja mengunyah rotinya.


"Loe juga ngapain ke market pagi-pagi?" Tanya Lia lagi.


"Buat cari makan lah!" Sahut Beni agak angkuh.


"Kan loe kaya! Bukannya ada ART yang nyiapin saralan buat loe pagi-pagi?" Sepertinya Lia sedang menjelma sebagai reporter.


"Gua nggak suka makan di rumah!" Beni melanjutkan mengunyah potongan terakhir rotinya, lalu bangkit dari bangku itu dan berjalan pulang ke arah rumahnya.


"Loe mau pulang?" Tanya Lia yang baru bangun dari kursi setelah tadi terdiam sebentar untuk berpikir.


"Menurut loe?" Sahut Beni.


"Ke rumah gua yuk! Kita sarapan bareng!" Ajak Lia hingga membuat Beni menoleh.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2