My Secret Alora

My Secret Alora
Pulang


__ADS_3

Dosen keluar dari kelas itu, tak lama beberapa mahasiswa pun menyusul keluar satu persatu. Di tengah-tengah itu ada seorang gadis yqng tampak lesu memungut barangnya di atas meja lalu memasukkan ke dalam tasnya. Ia juga tampak tak bersemangat keluar kelas, seolah sesuatu dari dirinya di renggut.


Iyap gadis itu Lia, gadis yang biasa ceria namun kali ini dengan wajah datar. Ia teringat akan apa yang ia dengar kamarin di Kafe Shop itu.


"Gua harus apa ya? Kak Andi cuman anggap gua adiknya. Apa gua terlalu kekanak-kanakan? Apa gua gagal jadi pacar ya? Trus gimana dong?" Batin Lia sembari menyusuri jalanan kampus.


"Gua seburuk itu ya? Kalo memang kak Andi nggak suka sama gua, kenapa dipertahanin? Apa gua selemah itu di mata kak Andi? Jangan-jangan selama ini kak Andi cuman kasian sama gua, makanya dia mau jadi pacar gua. Harusnya gua sadar lebih awal, kalo sekarang gua harus gimana? Gimana cara gua hadapin kak Andi sekarang?" Lia masih membatin lalu tanpa sadar bola matanya terlempar ke arah seorang pemuda yang berjalan sendirian dengan earphone di kedua telinganya.


"Beni? Apa gua sapa aja? Gua heran, tiap gua dapat masalah, selalu gua nemuin Beni yang selalu berhasil pecahin masalah gua! Kadang-kadang gua juga deg-degan kalo deket sama dia! Dia kasar tapi baik! Sikap randomnya selalu berhasil buat orang ..." Lia masih ribut dengan batinnya.


"But wait! Kok gua jadi mikirin Beni? Duh kacau deh gua!" Lia terhenti di jalan itu sambil menatap Beni.


"Gua pulang aja deh! Ke Mini market dulu aja kali ya? Ah jangan kalo di sana nanti gua suka ketemu sama Kak Andi. Mending gua ke Supermaket aja biar agak jauhan dikit!" Batin Lia lalu menuju halte Bis.


Gadis itu naik bis setelah menunggu hampir 30 menit, lalu ia pergi sesuai dengan rencananya. Tak lupa menatap sisi tepi jalan yang terlihat damai, jalan yang biasa dilewati sering dilupakan keindahannya. Sembari larut dalam pikirannya dengan wajah sendu.


Setibanya di sana Lia langsung masuk ke Supermarket untuk membeli kebutuhannya. Ia mengambil tisu, beberapa cemilan, dan beberapa produk lainnya. Namun tiba saja ia melihat sosok yang ingin ia hindari, iyap Andi. Gadis itu sontak berbalik badan lalu berjalan cepat ke rak yang lain.


"Loh kok bisa di sini sih?" Batin Lia dengan wajah mengernyit lalu tanpa sengaja sorot matanya menemukan oknum lain yang lengkap dengan topinya di rak aneka mie instan.


"Lah? Kok pada di sini semua sih?" Lia tanpa pikir panjang langsung menuju pemuda dengan topi itu lalu berdiri di samping pemuda itu agak mengendap-endap untuk dijadikan tempat persembunyian.


Pemuda itu sontak menoleh dan mendapati wajah yang tak asing ini.


"Ngapain loe?" Tanya pemuda bertopi.


"Eh Beni? Gua mau belanja! Loe kok di sini? Kenapa nggak belanja di Minimarket lingkungan kita aja? Kan lebih deket!" Ucap Lia basa-basi biar apa gitu.


"Di sana mie rasa favorit gua habis! Loe kenapa aneh gitu gerak-gerik loe?" Beni lalu melanjutkan aktivitasnya memilih rasa mie favoritnya.


Lia yang celingak-celinguk menemukan Andi yang menuju arah dirinya berdiri.


"Ben! Bantuin gua ya! Di sana ada kak Andi, gua ... belum siap nemuin kak Andi, loe tau sendiri kan kemaren..." kalimat Lia dihentikan pemuda di sampingnya.

__ADS_1


"Harusnya loe hadapin bukannya sembunyi gini!" Beni tampak lelah.


"Jujur aja! Loe juga lari dari masalah loe kan?" Pertanyaan random Lia membuat Beni kembali meliriknya.


"Apaan sih?" Kalimat andalan Beni meluncur.


"Sampai saat ini loe belum bisa hadapin nyokap loe dengan benar! Yaah gua nggak tau cerita lengkapnya, jadi jangan tanya! Gua nggak sengaja dengar dan tau, sama kayak loe!" Kalimat Lia mengenai sasaran yang tepat, pemuda itu tampak melempar sorot yang semakin tajam.


Andi semakin mendekati arah mereka, tiba saja Beni menarik Lia ke peluknya, tak lupa ia menarik topinya ke depan agar wajahnya tersembunyi. Jantung Lia berdetak cepat lagi tiap bersentuhan tanpa sengaja seperti ini. Namun terasa aneh kali ini, pelukan Beni terasa semakin erat tiap detik berlalu. Setelah hampir satu menit berlalu, Lia yang memeluk tubuhnya sendiri merasa sesak di dekapan Beni yang semakin erat.


"Udah jauh belum? Kalo udah lepasin gua! Gua bisa keram kalo loe jepit kayak gini!" Ucap Lia.


Beni langsung melepas peluk itu, sepertinya sesaat jiwa psyconya menyerang, jiwa Beni terguncang saat Lia menyebutkan tentang ibunya, walaupun ia tidak menunjukkannya tapi tubuhnya tanpa sadar bereaksi melampiaskan. Lia menatap Beni yang kini melepas topinya lalu menancapkan topi itu di kepala Lia.


"Selamatin diri loe sendiri!" Ucap Beni lalu mengambil keranjangnya yang berisi mie, kemudian ia menuju meja kasir dan membayar.


Begitupun Lia yang mengekor dengan topi yang ditarik ke depan untuk menutupi wajahnya agar tidak dikenal. Ia juga membayar belanjaannya lalu keluar bersama Beni.


Setelah beberapa langkah dari pintu Supermarket itu, Beni menghentikan langkahnya yang membuat Lia ikut terhenti. Pemuda itu menarik topi miliknya dari kepala gadis itu lalu berkata,


"Huh?" Liia masih bingung.


"Loe nggak akan bantuin gua lagi setelah ini? Kenapa? Salah gua apa?" Ucap Lia namun Beni membalikkan tubuhnya lalu melangkahkan kakinya pulang.


"Lia!" Suara itu menembus telinga Lia yang membuatnya langsung mengernyit dalam diam lalu berbalik dengan memasang ekspresi datar. Gadis itu juga menemukan Andre yang berjalan di sisi Andi melambai ke arahnya. Lia hanyaembalasnya dengan senyum tipis yang agak canggung.


"Gua mau ngobrol sama Lia, loe pulang duluan aja ya!" Ucap Andi pada adiknya itu.


"Trus gua jalan kaki gitu?" Andre sedikit memberontak.


"Yaudah loe tunggu di mobil! Jangan ngeluh kalo lama! Bawa nih barang loe!" Andi sedikit kesal lalu mengajak Lia ke tempat lebih tenang.


"Sayang! Kamu pas di Kafe kemaren..." kalimat Andi langsung dipotong Lia.

__ADS_1


"Ah itu? Maafin ya sayang kemarin Lia udah telat masuk kelas makanya nggak jadi nyapa kakak, Lia malah ikut Beni ya? Soalnya kalo Lia minta Kak Andi antar pasti nggak bisa karna sibuk, jadi Lia ikut Beni aja biar sekalian ke kampusnya!" Senyum canggung Lia terpasang sempurna, walau dalam hatinya bertanya, "duh gua ngomong apa?"


"Ah nggak apa kok sayang! Kamu ada dengar sesuatu kemarin?" Tanya Andi.


"Sesuatu apa sayang?" Lia balik bertanya.


"Ah itu, Aku ngobrol soal dinas di luar kota! Jadi aku nggak pengen sayang tau dari orang lain, aku pengen ngasih tau sendiri!" Ucap Andi yang menyembunyikan fakta dengan informasi baru.


"Apa nih? Kak Andi bohong? Demi apa? Yaudah deh, Lia pura-pura nggak denger aja yang kemarin!" Batin Lia, lalu ia menjawab Andi.


"Dinas luar kota? Berapa lama kak?"


"5 bulan atau bisa lebih! Soalnya perusahaan ingin mengembangkan produknya di daerah sana jadi..." jelas Andi.


"Cewe itu ikut nggak kak? Mantan kak Andi!" Tanya Lia.


"Lily maksud kamu? Iya dia juga harus ikut soalnya kami satu tim di pengembangan produk itu!"


"Yaudah deh kak!" Sahutan Lia yang terakhir terdengar sangat pasrah.


"Huh?" Andi yang sedikit terkejut dengan respon Lia.


"Lia pulang dulu ya kak! Andre juga udah lama nunggu tuh!" Gadis itu lalu membalikkan tubuhnya.


"Lah! Nggak ikut bareng kami aja, biar aku anterin ke rumah!" Ucap Andi.


"Lia lagi pengen sendirian kak!" Ucap Lia lalu melangkah pulang. Andi hanya mampu memandangi punggung Lia yang perlahan menjauh darinya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2