My Secret Alora

My Secret Alora
Jadian Or Not?


__ADS_3

Lia sedang berpikir apakah ia naik taksi saja atau naik bus. Hari sudah semakin gelap tak terasa waktu berlalu dengan cepat.


"Lia!" Panggilan itu membuatnya reflek menoleh ke sisi kanannya.


"Loh kak Andi belum pulang?" Tanya Lia pada pemuda itu karena setau-nya Andi sudah meninggalkan Kafe sejak sore tadi.


"Gua nungguin loe! Bareng gua yuk!" Kalimat itu terdengar agak sendu.


Kedua oknum itu saat ini sudah berada di dalam mobil. Keduanya hanya saling diam menikmati perjalanan. Lia yang biasanya riang dan excited menjadi pendiam karena bagaimanapun Lia mencoba menjaga mentalnya untuk tetap tenang dan tidak lagi mempercayai kata harapan.


"Gimana kesibukan kuliah loe?" Tanya Andi mencoba mencairkan suasana.


"Aman kok kak! Semua berjalan lancar!" Sahut Lia seadanya.


Keduanya kembali terdiam kehilangan topik pembicaraan.


"Kak Andi lagi sedih kah? Karna Lia adalah  pelarian kak Andi, pasti kak Andi mau cerita sesuatu kan?" Tanya Lia lalu melirik pemuda di sisi nya.


"Kok loe bisa langsung paham sih? Ada yang bahkan gua pancing tapi dia nggak paham-paham!" Sahut Andi lalu tersenyum kecil.


"Apa itu kak?" Tanya Lia lagi.


"Huh? Apanya?" Sahut Andi lalu melirik sebentar gadis itu.


"Uneg-uneg kak Andi, atau masalah atau apapun yang mau kakak ceritakan!" Lia mencoba menjadi pendengar yang baik.


"Sebenarnya lebih ke perasaan sih!... Ada satu orang cewe yang gua suka, tapi dia lebih muda dari gua, gua takut dia bakal risih karna umur kami dan kesibukan kami berbeda." Jelas Andi masih membuatnya abu.


"Terus kak?" Sahut Lia ingin mendengar lanjutannya, anehnya dirinya bahkan tidak merasa sedih mendengar pernyataan itu dan ia juga tidak merasa pernyataan itu untuknya. Sepertinya dia sudah menutup hatinya dengan benar.


"Menurut loe apa gua nembak aja dia ya? Untuk melihat reaksinya atau gua pastiin dulu perasaan dia buat gua baru gua nembak! Gimana menurut loe?" Tanya Andi lalu menunggu jawaban gadis itu, jawaban dati Lia juga akan mencerminkan tindakan yang dia lakukan selanjutnya.


"Menurut Lia, kakak langsung nembak aja! Kalo dia suka balik kakak bisa langsung menjalin hubungan kan? Kalo ditolak yaa berarti ada dua hal yang perlu kakak lakuin!" Sahut Lia sesuai ajaran yang Beni katakan padanya dulu.


"Dua hal? Apa itu?" Tanya Andi lagi.


"Pertama biarkan dia dan lupakan dia! Kedua rebut dia dan buat dia suka balik sama kakak!" Memang ajaran Beni bisa dijadikan pengajaran buat orang lain xixi.


"Gitu ya? Loe denger dari mana sarannya? Saran bagus dan ada benarnya, loe pinter deh!" Sahut Andi.

__ADS_1


"Itu saran yang dilakukan Beni, yang masih belum menyerah akan cintanya. Tapi entahlah itu cowo rada aneh dan suka khilaf orang nya dan suka nggak jelas!" Lia malah mengakhiri kalimatnya dengan mengejek sang suhu cinta.


"Mmm.. kalo gitu..." Andi memarkirkan mobilnya di pinggir jalan lalu menatap serius Lia di sampingnya.


"Loh! Kok kakak berhenti di sini? Kan belum sampai, rumah Lia di ujung jalan itu... oh sampe sini juga nggak apa kak, dikit lagi Lia bisa jalan kaki!" Ucap Lia lalu membuka sambuk pengamannya.


Namun Andi meraih tangan gadis itu yang membuatnya menghentikan aktivitasnya saat ini.


"Jangan pergi! Gua mau bilang sesuatu sama loe!" Ucap Andi yang menatap serius.


"Iya kak bilang aja!" Sahut Lia.


"Loe mau nggak jadi pacar gua?" Ucap Andi.


Kalimat itu berhasil membuat bola mata gadis itu melebar, Lia sama sekali tidak menyangka akan mendengarnya dari Andi, bahkan dia sudah melupakan harapan itu.


"Gua senang akhirnya kak Andi resmi nembak gua, tapi kenapa gua merasa kosong ya? Duh Lia kok bisa gini sih?" Batin Lia yang tidak tau harus menjawab apa.


"Maafin gua, waktu itu gua minta loe jadi pelarian gua, sebenarnya gua nggak maksud gitu cuman gua kebawa aja waktu itu, gua belum yakin loe juga beneran suka sama gua!" Jelas Andi namun gadis itu masih diam saja.


"Loe nggak nolak gua kan?" Tanya pemuda itu lagi.


"Nggak apa kok! Coba loe pikirin dulu baik-baik, memang benar ini terlalu tiba-tiba, loe bisa jawab gua saat loe siap kok! Loe cukup tau aja kalo gua suka sama loe!" Ucap Andi lalu melanjutkan katanya.


"Sekarang aku akan antar kamu ya!"


Lia yang tiba-tiba ragu itu perasaannya menjadi tak karuan. Di sisi lain, Andi mengantar gadis itu sampai ke rumahnya. Saat tiba, gadis itu langsung turun dan masuk rumah dengan segera.


"Mungkin Lia belum siap untuk hari ini! Kenapa dia nggak se-riang dulu ya?" Batin Andi lalu membelokkan mobilnya dan pulang.


...


Lia yang baru mendapat pernyataan cinta tadi, saat ini ia sedang kesal pada dirinya.


"Kenapa Lia? Kenapa loe nggak langsung terima? Aduuh bodoh banget sih guaa!" Gadis itu melempar dirinya ke kasur lalu mengambil bantal menutupi kepalanya.


Gadis itu membuka bantal itu dari kepalanya, "duh! Kok gua sebodoh itu? Jantung guaaa tolong pelanin dikit gua capek! Kenapa gua merasa belum siap jadi pacar kak Andi? Padahal gua pengen banget! Gara-gara sarannya Beni nih, gua jadi nggak jelas gini!" Lia berguling-guling di kasurnya saat semakin kesal.


"Aaaaaaaaah... kesel kesel!!!" Sambil menepuk-tepuk kasur.

__ADS_1


***


Pagi-pagi Herman sudah siap berangkat bahkan saat anaknya masih molor di dalam kamarnya. Pria paruh baya itu tampak rapi dengan jasnya lalu memanggil asisten rumah tangganya.


"Bik Niniii!"


"Iya tuan! Saya lagi nyiapin sarapan takut hangus kalo ke sana!" Suara Bibi dari dapur.


"Iya nggak apa! Nanti bibi tolong bangunkan Beni buat kuliah!" Sahut Herman lalu keluar rumah.


"Iya baik tuan!" Teriakan Bibi masih terdengar hingga keluar rumah.


Pria itu menuju ke rumah sakit untuk menemui anak gadisnya. Bagaimanapun Fathia adalah anak yang selama ini ia rindukan. Dan gadis itu pasti di rumah sakit karena mengurus ibunya.


Sesampainya di rumah sakit, Herman langsung menuju ke ruangan inap Dwita. Pria itu mengetuk pintu lalu memasuki ruangan itu. Kedua wanita di dalam ruangan itu membuka lebar matanya da  tidak percaya apa yang mereka lihat, terutama Dwita yang baru melihat lagi mantan suaminya sejak 15 tahun lalu.


"Assalamualaikum!" Ucap Herman.


"Waalaikumsalam!" Sahut kedua wanita itu.


"Silahkan duduk," ucap Dwita menunjuk ke sebuah kursi di samping kanan ranjangnya.


"Nggak apa saya berdiri aja!" Sahut pria itu.


"Saya di sini cuman untuk mengajak Fathia bersama saya!" Ucap Herman Lagi yang membuat kedua oknum lain di sana melebarkan bola matanya.


"Maksud kamu apa Herman?" Tanya Dwita lagi yang tampak khawatir.


"Saya ingin Fathia tinggal bersama saya dan Beni!"


"Apa?"


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2