
Mahasiswa terlihat Lalu lalang menuju tujuan masing-masing. Kehidupan kampus yang dari jauh terlihat sangat menyenangkan, canda tawa yang terukir bersama kenangan menjadikannya abadi kisah remaja perlahan memahami arti kata dewasa.
Pemuda yang ke manapun ia pergi mengundang pandangan, siapa lagi kalau bukan Andre yang sungguh disayangkan jika melewatkan pemandangan indah itu. Andre tampak menilik pemuda lainnya yang menganggu pikirannya sejak kemarin. Sekumpulan pemuda yang membentuk kelompok tampak sedang berunding lalu berpisah menuju tujuan masing-masing.
Andre mendapati kesempatannya, ia menghampiri pemuda yang diincarnya sejak tadi.
"Tunggu! Gua mau nanyak sesuatu sama loe!" Andre menghadang Steve.
Seperti biasa, Steve memindai penampilan Andre dan menyimpulkan sesukanya.
"Mau ngomong apa? Mau gabung ke circle pertemanan gua? Dilihat dari penampilan loe sih okey! Trus.. good looking! Jaket loe.. branded! Gua suka! Akan gua pertimbangkan loe buat gabung!" Steve yang hanya menilai penampilan tidak bisa membuang kebiasaan buruk itu.
"Bukan itu! Gua nggak tertarik!" Sahut Andre.
"Trus?"
"Punya masalah apa loe sama Alora?" Andre memulainya dengan baik-baik.
Steve menyeringai lalu tertawa terbahak-bahak, "lucu banget pertanyaan loe sumpah!"
"Aah! Gua inget, loe yang nonjok gua kemaren kan di perpustakaan? Siapa? Pacarnya cewe miskin itu? Hahahahahh!" Steve larut dalam dunianya.
"Gua serius!" Sahut Andre.
"Loe mau tau? Kenapa nggak tanyak cewe loe? Kenapa? Loe cemburu gua deket-deket tu cewe? Gua kasih tau ya! Alora itu lintah, dia nempel karena ada maunya! Loe jangan mau dibodohin sama dia!"
"Jaga bicara loe ya! Gua tanya apa masalah loe sama dia?"
"Yaah walaupun malu-maluin, Alora mantan gua! Dia punya hutang sama gua! Itu aja sih untuk saat ini!"
"Apa?" Andre tampak tidak percaya.
"Kenapa? Aneh kan? Alora terus nempel sama cowo-cowo kaya supaya bisa manfaatin mereka! Loe lihat aja sendiri!"
Andre sangat berusaha menahan rasa kesalnya, setiap kata yang dikeluarkan Steve dari mulut itu hanyalah hinaan, hingga rasanya ingin sekali ia melayangkan pukulan di mulut yang bergerak-gerak itu. Sampai saat ini masih banyak kata tidak pantas yang terdengar, Andre langsung meninggalkan Steve.
"Heh! Gimana sih loe? Tadi nanyak! Alora itu g***!" Teriak Steve dengan seribu akal bulusnya.
"Kita lihat aja loe bakalan putus lagi Alora! Akan gua buat tu cowo ninggalin loe!" Batin Steve sembari menyeringai.
...
Di sisi lain, tidak ada yang menyadari Dian sedang menguping dan mendengar semuanya. Saat tontonannya berakhir, ia kembali ke kantin untuk menemui Lia.
"Loe kemana aja? Gua cariin dari tadi!" Ucap Lia yang duduk di bangku kantin sendirian.
__ADS_1
"Sorry! Panggilan alam tadi!" Sahut Dian lalu melirik arah perpustakaan. Tampak Alora bersama Key yang bersikap lebay merangkul tangan Alora dan terus mengoceh.
"Tuh bestie loe! Bareng bestie barunya!" Ucap Dian pada Lia menunjuk ke arah Alora yang menuju kantin juga.
Lia tampak menatap Key dengan penuh kecurigaan. Namun, gadis itu langsung tersenyum saat Alora tiba. Alora langsung menarik tangannya dari rangkulan Key dan duduk di sisi Lia.
"Hai!" Dian menyapa Key dengan senyuman. Tentu saja sapaan itu langsung dibalas gadis tomboy yang tidak bisa tenang itu.
"Kok gua nggak lihat Beni ya hari ini? Dia biasanya pasti terlihat di mana ada Alora!" Tanya Dian yang membuat semua orang terdiam.
"Maksud loe apa? Di mana ada Lora ada Beni??" Tanya Lia yang kesal mendengarnya.
"Apa gua salah? Gua lebih sering lihat Alora bareng Beni dari pada bareng pacarnya!" Sahut Dian.
"Emang loe tiap hari ketemu mereka? Enggak khan? Jangan suka menyimpulkan hal yang bener! Gua sering lihat Andre nganterin Lora dan nemenin Lora kerja! Lambang cowo setia banget nggak sih!" Cetos Key.
"Kok loe tau Andre sering nemenin Lora kerja" tanya Lia denga alis tertaut.
"Yaah.. karena gua sering ke Kafe itu! Kos-an gua dekat situ, makanya gua nongkrong di situ!" Key menjawab denga percaya diri.
"Oohh.. kirain..!" Sahut Lia.
"Kirain apa?" Tanya Key lagi.
"Udahlah guys! Berenti ngomongin orang di depannya! Gimana sih kalian gua di sini kalian malah gosipin gua! Ngomong di belakang aja udah!" Sahut Alora lalu tersenyum ke arah Lia. Gadis itupun ikut tersenyum seolah ada hal lucu lain yang sama-sama terputar di kepala mereka.
***
Pagi cerah membangunkan pemuda yang masih sangat mengantuk itu. Menguap berkali-kali bahkan setelah dia siap berangkat. Namun, dia tidak membawa tas yang biasa ia bawa ke kampus, seolah tujuannya bukan ke kampus.
Ternyata memang benar, Beni kembali menuju rumah sakit untuk menjenguk wanita yang ia enggan dipanggilnya "Ibu." Namun bagaimanapun nalurinya sebagai seorang anak terus mendesaknya untuk datang. Begitu sampai ia langsung membuka pintu itu dan tentu saja sebuah keluarga kecil terpampang di depan matanya seolah pedang yang menodong ke arah jantungnya.
"Beni?" Ucap wanita dengan seragam pasien bernama Dwita itu.
"Sayang kenalin! Itu Beni anak pertamaku!" Ucap Dwita pada suami dan anak-anaknya.
"Beni kemarilah! Mama kangen sama kamu!" Suara lemas dan lembut itu tidak terdengar seperti suara ibu yang ada diingatan Beni.
Namun, Beni dengan sejuta tempramental-nya tidak akan pernah mematuhi perintah orang padanya.
"Aku datang cuman buat mastiin anda masih hidup!" Ucap Beni lalu meletakkan sebuah kotak kue di meja dan melangkah pergi.
"Tunggu Ben!" Kata yang berhasil menghentikan langkah pemuda itu. Beni membalikkan kembali tubuhnya, untuk menemukan sumber suara. Suami Dwita menuju ke arah Beni lalu berkata.
"Kami dengar hidup kalian sudah jauh lebih baik! Karena Dwita juga ibu kamu! Jadi.. " kata pria paruh baya itu terhenti saat Dwita memanggilnya "Mas! Jangan.." Dwita menggelengkan pelan kepalanya seolah menghentikan suaminya melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Uang? Karna hidup kami lebih baik kami punya lebih banyak uang, itu memang benar! Chih!" Beni memasang senyum sinis.
"Setidaknya kamu punya hati nurani kan? Tolong bantu ibu kamu!" Ucap sang suami pelan.
"Sayang ya? Kalo aja anda nggak sakit, anda pasti udah minta cerai sama orang ini lalu cari orang yang lebih kaya!" Beni tidak bisa menahan diri saat jiwa psyconya terpancing.
"Beni! Jaga bicara Loe!" Ucap pemuda lain di sana, yaitu anak keduanya Dwita.
"Kenapa loe sakit hati dengarnya?" Beni malah semakin menjadi.
"Ben! Tolong maafin mama! Mama.. akan beribah lebih baik. Lagi pula semua udah berlalu kita..." kalimat Dwita yang terdengar lembut itu dihentikan Beni.
"Semua berlalu? Tapi kenapa rasa sakitnya masih ada? Semua baik-baik aja bagi anda karna anda yang pergi bukan yang ditinggalkan." Kalimat terakhir Beni yang mengandung separuh dari luka jiwanya. Beni langsung meninggalkan ruang itu, tanpa berpikir.
...
Tanpa sadar, seorang gadis mengejar di belakang Beni lalu meraih tangan abangnya.
"Kak Beni!" Panggilnya.
Dengan terpaksa Beni kembali menghentikan langkahnya dan menatap tajam gadis itu.
"Aku Fathia! Anaknya..."
"Gua tau! Cepetan mau ngomong apa?" Beni menghentikan kalimat gadis itu seolah enggan mendengarnya.
"Aku nggak tau seberapa dalam luka itu! Seberapa buruk mama dulu, tapi.. mama yang sekarang berbeda! Mama yang sekarang adalah seorang ibu yang baik.. jadi tolong maafin mama ya kak!" Kata gadis itu lalu cairan bening mengalir begitu saja dari matanya.
Setelah mendengarkan Beni kembali melanjutkan langkahnya lalu pergi dengan mobilnya.
.
.
.
Tbc
Epilog:
Beni sedang menyetirkan mobilnya sembari melamun, namun ia tersadar saat suara klakson mobil lain terus berbunyi karena pemuda itu hampir menabrak lalu menepi dan menghentikan mobilnya. Di ujung jalan ia mendapati Alora yang sedang berjalan sambil menangis lalu menyeka air matanya saat ada orang lewat. Namun, gadis itu sedang memandangi sebuah foto dan begitu saja air matanya mengalir.
Beni menyadarinya, Alora yang menangis merindukan kedua orangtuanya. Beni tidak ingin kehilangan ibunya walau tidak bisa memaafkannya. Pemuda itu memutar balikkan mobilnya lalu kembali ke rumah sakit untuk membayar biaya rumah sakit secara anonim agar tidak ada yang tau dirinya yang melakukannya. Setelah dari rumah sakit, Beni kembali ke jalan itu untuk menemui Alora, namun saat ini Gadis itu dengan senyuman di bibirnya bersama pacarnya.
"Gua sadar! Alora selalu menderita sendirian!" Ucap Beni lalu menghela berat.
__ADS_1