My Secret Alora

My Secret Alora
Rumit


__ADS_3

Suara jangkrik sesekali terdengar tanda sore hari menuju malam. Gadis dengan seragam training berwarna hitam dan rambut panjang yang dikuncir, ia sedang menunggu mie dalam cupnya mengembang di depan minimarket di lingkungan rumahnya. Alora duduk di depan minimarket itu di kursi dan meja yang disediakan.


Tak lama seseorang yang ia kenal juga muncul di sana. Siapa lagi yang langsung tersenyum ketika melihat gadis itu, pemuda tampan bergelar pacarnya, Andre. Pemuda itu langsung menghampiri Alora yang sedang larut dalam pikurannya.


"Hai sayang! Kok loe sendirian di sini? Kenapa nggak ngajak gua sih?" Tanya Andre.


"Huh?" Alora yang baru tersadar dari lamunannya.


"Loe mikirin apa? Kenapa sendirian di sini?" Tanya Andre lagi.


Gadis itu menoleh ke sisi kiri menemukan pemuda lainnya dan hanya menatap kosong. Begitupun Andre yang tergerak kepalanya menemukan Beni yang baru datang.


"Loe ngapain ke sini?" Tanya Andre pada Beni dengan tampang agak jutek.


"Suka-suka gua dong!" Sahut Beni lalu masuk ke dalam minimarket itu. Sedangkan Andre masih berdiri di samping Alora yang duduk.


Tak lama, Beni keluar dari sana dengan mie cup juga lalu menuju meja dan meletakkan mienya yang sudah di isi air panas serta bumbunya. Tanpa sungkan Beni langsung duduk di depan Alora menunggu mienya mengembang.


"Sayang mau mie?" Tanya Alora pada Andre saat membuka cup mie yang sudah mengembang itu.


"Hmm.. sayang makan aja, pasti lapar kan? Gua beli snack aja buat ngemil!" Sahut Andre lalu masuk ke dalam minimarket.


Tentu Alora langsung menyeruput mie nya dengan lahap. Beni dari yang menatap hpnya, kini dia diam-diam melirik gadis di depannya.


Setelah berbelanja, Andre pun keluar dari minimarket itu. Tentu pandangan itu terpampang di depan matanya saat membuka pintu minimarket itu, tampak dua oknum yang lahap menikmati mie milik masing-masing. Dan seperti biasa keduanya hanya saling diam. Andre pun langsung duduk di samping keduanya lalu membuka botol minuman yang ia neli untuk pacarnya.


Alora langsung meraih minuman itu dan meminumnya. Tak lupa pula Andre membeli tisu yang saat ini sedang ia buka lalu mengambil beberapa lembar untuk mengelap bibir Alora yang agak blepotan itu. Andre selalu tersenyum sembari menatap gadis itu, dan tentu saja oknum lain di sana mendapati momen itu sembari menyeruput mienya dan lirikan diam-diam.


"Alora menemukan orang yang tepat, apa gua juga harus nemuin seseorang juga ya?" Batin Beni yang kini kehausan karena lupa membeli minuman.


Tiba saja, sebuah tangan muncul dan meletakkan minuman di depan Beni, tentu itu tangan Andre.


"Buat loe!" Ucap Andre lalu menggeser sedikit tisu yang ia buka tadi di meja itu ke arah Beni, "ini juga ambil aja!" Lalu ia melanjutkan kegiatannya menatap pacarnya.


Dan Beni mengambil minuman itu dan tisu untuk mengelap mulutnya.


"Seneng deh lihat kalian akur gini!" Ucap Alora sembari tersenyum.


"Udah makannya? Lap dulu sini!" Andre melakukan tugasnya sebagai pacar sweet yang perhatian.

__ADS_1


Setelah makan, Alora pulang bersama Andre dan tinggallah Beni yang berakhir sendirian saat matahari semakin gelap. Pemuda itu duduk lebih lama di sana dengan menambah mie untuk cup ketiga. Sepertinya ia belum makan sejak pagi, makanya dirinya kelaparan. Untuk seseorang yang malas makan di rumah, minimarket ini sangat berarti baginya.


Namun, dunia tidak akan mengakhiri begitu saja. Sebuah mobil terparkir di sana dan muncullah Andi yang datang bersama Lia. Beni menoleh sebentar lalu bersikap tak acuh hanya melanjutkan makannya.


Di sisi lain, ada Andi yang melirik penuh amarah akibat perkataan Beni kemarin dan ada Lia yang melirik Beni ingin menyapa namun ia tidak punya alasan setelah disapa hingga ia mengurungkan niatnya, gadis itu hanya terus menatap Beni yang tidak peduli.


"Gua yakin Beni tadi ada lihat gua pas turun, kok dia cuek banget sih?" Batin Lia sembari masuk ke dalam minimarket.


Setelah membeli kebutuhan merekapun keluar, namun ada sepasang mata yang mencari keberadaan Beni dan tampak kecewa mendapati bangku kosong di mana Beni sudah pergi.


***


Hari lain menyapa, kali ini matahari bersembunyi di balik awan hitam yang menyelimutinya. Suasana kampus masih ramai seperti biasanya. Usai kelas, para mahasiswa itupun meluncur ke tujuan masing-masing. Kebanyakan menuju kantin dan sebagian ke perpustakaan, sebagian lainnya ke ruang organisasi dan sebagian lagi pulang ke rumah.


Seperti biasa Beni menuju lapangan basket untuk melampiaskan hobi barunya itu. Namun entah bagaimana Lia juga di sana, gadis itu sedang menemani temannya mengambil beberapa barang dari teman lainnya di sana. Dan takdir kembali mempertemukan kedua pasang bola mata itu yang jatuh pada tatap yang sama.


"Ben!" Panggil Lia.


Beni menghampiri Lia lalu bertanya, "apaan?"


"Temenin gua yuk!" Ucap Lia yang tampak ragu.


"Ke SMA kita, gua harus buat penelitian!" Sahut Lia.


"Ajak pacar loe sana! Atau bestie loe!" Sahut Beni cuek.


"Yaah.. kak Andi sibuk, dan Lora gua nggak mau dia akan kembali mengenang kenangan buruk di sana. Kan kasian dia pasti overthingking lagi nanti! Jadi.. temenin gua yaa!" Lia memasang senyum manisnya sedangkan oknum di depannya hanya berwajah datar dan serius.


"Loe ngerepotin banget sih!" Sahut Beni lalu kembali ke lapangan.


"Loe mau kan? Okeh besok yaa! Siap mata kuliah pertama kita berangkat!" Ucap Lia lalu pergi dengan gembira.


...


Hari esok pun menyapa, sesuai perkataan Lia, usai kelas pertama keduanya pergi menuju SMA. Di sana Lia mewawancarai beberapa siswa yang sesuai dengan penelitiannya lalu pergi setelah usai.


Saat ini keduanya sudah kembali berada di mobil Beni.


"Nih! Buat bensin loe! Dan thanks ya udah nemenin gua!" Ucap Lia menyerahkan amplop berisi uang kepada pemuda itu.

__ADS_1


"Nggak usah! Bensin gua masih full kok!" Sahut Beni.


"Ambil aja! Gua jadi enak kalo loe nolak hahah!" Ucap Lia yang dibalut sedikit candaan. Namun Beni yang memasang raut serius itu tiba saja mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu dan berbisik.


"Kalo enak nikmatin aja!" Beni kembali menjauhkan wajahnya setelah membuat Lia sedikit jantungan dengan sikap random pemuda psyco ini.


"Ganti bensin, traktir gua kopi aja!" Ucap Beni lalu membelok mobilnya menuju Kafe.


...


Mobil itu sudah terparkir di dalah satu Kafe, keduanya turun lalu memesan kopi. Namun tiba saja hal mengejutkan lain masuk ke telinga mereka saat nama Lia tiba saja di sebut salah satu pelanggan di sana.


"Lily udah berubah bro! Gua bisa lihat dia jadi lebih dewasa dari sebelumnya. Dan gua juga nggak bisa bohong sebenarnya gua masih sayang sama dia, setelah gua renungin semuanya, semua terlalu rumit untuk diubah sekarang!" Ucap pemuda yang hanya tampak punggungnya namun style rambutnya terlihat mirip seseorang yang mereka kenal.


"Loe yakin? Trus pacar loe sekarang gimana? Si Lia!" Tanya pemuda berseragam kantor itu.


"Gua sayang sama Lia, tapi entah kenapa rasa sayang gua lebih kayak kakak adik! Tapi gua juga nggak bisa nyakitin hati Lia, dia udah terlalu banyak terluka." Ucap pemuda tadi.


"Trus loe mau gimana sekarang? Selingkuh? Bukannya itu lebih jahat?"


"Nggak! Gua akan tetap sama Lia! Perasaan gua ke Lily akan pudar secara perlahan, lagian dia mantan gua yang paling posesif dulu. Sebaiknya jangan mengulang kesalahan yang sama!" Ucap pemuda itu.


"Tapi loe cintanya sama siapa?" Tanya temannya lagi.


"Gua..." kalimat pemuda itu terhenti saat Lia muncul di depannya.


"Lia?" Bola mata pemuda itu melebar dan tidak percaya. Dan benar pemuda itu adalah Andi yang masih ragu dengan perasaannya.


"Yok pulang kopinya udah siap!" Ucap Beni yang menghampiri Lia lalu ia merangkul bahu Lia dan membawa gadis itu bersamanya.


"Lia tunggu! Lia! Lia..." Ucap Andi yang bangkit dari kursinya mencoba mengejar namun Lia dan Beni sangat cepat, mereka sudah masuk mobil dan langsung berangkat.


"Gimana nih? Lia denger nggak ya?"


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2