My Secret Alora

My Secret Alora
Semesta


__ADS_3

Setelah semesta mencurahkan tangisnya sepanjang hari kemarin, akhirnya matahari menemukan kesempatan untuk memancarkan sinarnya kembali hari ini. Pemuda dengan paras menawan, begitu keluar dari kelasnya langsung menuju tujuannya. Sepertinya dia sudah mempersiapkan diri untuk hari ini.


Sejak beberapa hari lalu, Andre mencari tahu tentang jadwal kuliah Steve dan sudah beberapa hari pula ia mengikuti Steve dengan tujuan menemukan kebenaran tentang pacarnya. Walau bagaimanapun ia masih tidak mengerti kenapa Alora harus memaafkan orang yang menyakitinya.


Saat ini Andre berjalan menyusuri halaman kampus yang sangat luas, lalu ia menemukan targetnya. Tentunya karena sudah siap, Andre langsung menghentikan langkah pemuda di depannya itu.


"Apaan lagi sekarang?" Steve menghentikan jalannya lalu melirik Andre.


"Ikut gua!" Ucap Andre dengan wajah datar.


"Apa lagi? Mau ajak gua berantem lagi? Kali ini gua nggak akan diam aja!" Steve dengan tampang kesal-nya.


Andre berangkat dan Steve mengikuti di belakangnya. Mereka menuju ke Kafe dekat Kampus lalu duduk berhadapan.


Dua gelas sudah tertata di atas meja Kafe itu, namun Andre belum juga memulai pertanyaannya, seketika dia merasa ragu.


"Apa cara ini udah bener? Maafin gua Al, tapi gua nggak bisa nunggu terlalu lama agar loe cerita." Batin Andre yang meracau dalam pikirannya.


"Mau berapa lama lagi? Gua sibuk!" Steve akhirnya mengangkat suara.


"Loe jawab jujur! Gua cuma akan nanya sekali, jangan uji kesabaran gua!" Ucap Andre dengan wajah serius yang mengintimidasi.


"Iya iya!"


"Apa hubungan loe sama Alora?" Pertanyaan pertama dari Andre.


"Loe nggak tau? Alora mantan gua! Yaah walau kami harus putus.. karena dia cuman manfaatin gua doang! Tuh cewe nggak tau diri..." kalimat Steve dihentikan Andre dengan pertanyaan berikutnya.


"Apa penyebab kalian putus? Jawab jujur!"


"Ck! Gua pacarin cewe loe karena taruhan, tapi gua nggak nyangka dia buat gua nyaman sambil porotin gua! Tapi dia malah sok jadi korban dan putusin gua pas tau alasan gua pacarin dia!"


"Terus?" Andre dengan wajah datarnya.


"Terus imbalan buat gua apa? Gua buang waktu di sini cuman buat ceritain begituan!" Oceh pemuda dengan alis tebal itu.


"Loe minta ganti rugi, seolah Alora punya hutang sama loe dan malah sebaliknya loe porotin Alora?" Pertanyaan lainnya dari si pewawancara itu.


"Cih! Tuh cewe ngadu sama loe? Jangan-jangan duit yang dia bayar ke gua itu dari loe ya? Gua juga pernah denger katanya dulu loe bayar dia jadi pacar loe? Dan loe malah nyaman dan cewe miskin itu berhasil porotin loe? Dasar bod*h!" Steve menyeringai lalu tertawa kecil.


"Jaga mulut loe!" Andre sontak bangun dari kursinya, "imbalan buat loe, gua akan bayar minuman loe! Loe pasti nggak sanggup bayar kan, sampe harus porotin cewe miskin buat jajanin loe!" Sambung Andre lalu pergi.


...

__ADS_1


Di sisi lain, Alora yang ditinggal sendirian setelah janjian pulang bareng Andre, namun pemuda itu tak kunjung datang. Setelah hampir satu jam menunggu di lobby gedung fakultasnya, gadis itu memutuskan untuk ke kantin karena lapar. Duduk di meja sendirian menikmati mie goreng yang ia pesan, mengingatkannya pada dirinya yang dulu.


Gadis remaja yang selalu kesepian dibalut waktu, disibukkan kerja paruh waktu, jam makan sering terlewatkan begitu saja, kalaupun sempat makan ia hanya sendirian, dan hanya bertemankan isi kepalanya yang tidak pernah istirahat berdebat, selain itu ada tangisan di penghujung hari merenungi nasibnya. Gadis remaja itu saat ini sudah lebih baik, walau masih belajar memaafkan dan menerima diri yang terluka.


"Alora berhenti lah! Sudah cukup bisa-bisa kepala ini pecah!" Batin Alora lalu melanjutkan menghabiskan makanannya.


Siluet seseorang terlihat dari ujung matanya, gadis itu melirik pemuda itu sudah duduk di delannya.


"Loe belum pulang Ben?"  Tanya Alora lalu melirik jam di tangannya.


Tatap serius sekaligus kasihan itu mengarah tepat ke gadis di depannya.


"Loe kenapa belum pulang?" Beni malah balik tanya.


"Tadinya gua nungguin Andre, tapi dia nggak tau ke mana, gua telpon juga nggak diangkat, lagi belajar kelompok keknya!" Jelas Alora sambil tersenyum.


"Loe kenapa sih selalu maksain diri? Coba deh loe jujur sama diri loe sendiri!" Ucap Beni yang tampak kesal. Sebenarnya Beni sengaja belum pulang karena melihat Alira menunggu sendirian sedari satu jam yang lalu.


***


Hari yang terlihat sama dengan pengulangan kegiatan yang sama hanya tanggal yang membedakan keduanya. Pulang kuliah kali ini Alora sendirian lagi. Namun, kali ini ia bertemu Lia karena sudah janjian sebelumnya. Karena perbedaan jurusan keduanya jadi jarang bertemu.


Saat ini keduanya menuju Kafe Beni, karena merasa nyaman sekaligus tempat biasa mereka nongkrong.


...


"Silakan pak! Mau ke ruangan saya aja pak?" Tanya Indra dengan senyuman di bibirnya.


"Saya di luar aja! Oiya saya ingin pegawai baru itu yang melayani, siapa namanya? Fathia? Tapi jangan bilang saya pemilik Kafe! Saya ingin menilai kinerjanya!" Kata Herman pada pegawai kepercayaannya itu.


Sesuai perintah, Indra menyuruh Fathia melayani meja Herman dan gadis itu menurut dengan baik.


"Bapak mau pesan apa pak?" Tanya Fathia lengkap dengan buku catatan di tangannya.


Ketika tatap Herman mengarah pada gadis itu, ia seketika merasa ada hal yang aneh. Seolah ia mengenal gadis itu, namun dia tidak yakin,  wajahnya yang tidak asing baginya membuatnya hanya menatap tanpa sepatah katapun.


"Saya harus cari tau tentang gadis ini! Dan apa hubungannya sampai Beni membawanya ke sini!" Batin Herman.


"Pak! Bapak mau pesan apa?" Fathia kembali bertanya.


"Saya ingin mencoba menu baru yang disiapkan koki, sama minuman biasa bilang sama baristanya ya!" Ucap Herman.


"Baik pak!" Fathia agak bingung dengan pesanan aneh yang baru ia dengar, tapi yasudahlah karena tugasnya hanya melayani.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, pesanannya siap lalu Fathia juga yang mengantar makanan tersebut. Setelah menata makanan di Meja itu, Fathia menerima permintaan lainnya.


"Kamu duduk dulu!" Ucap Herman.


Fathia yang bingung, lalu melirik Indra yang mengangguk ke arahnya. Karena menerima kode anggukan, gadis itu duduk dengan canggung di depan pria paruh baya yang sebenarnya ayahnya itu.


"Makan! Kamu cobain menu baru ini dan kasih review makanan ini gimana menurut kamu!" Ucap Herman lagi.


Gadis itu kembali melirik manajernya dan sekali lagi Indra mengangguk mengiyakan. Akhirnya gadis itu makan dan menjelaskan pendapatnya tentang makanan itu.


"Kamu seperti Alora kedua! Melihat kamu sekarang, saya teringat Alora! Okeh kamu lulus! Silakan kembali bekerja!" Ucap Herman.


"Baik pak? Sebenarnya bapak siapa?" Tanya Fathia.


Saya pemilik Kafe ini, saya kemari untuk mencoba menu baru sekaligus untuk melihat kinerja para pegawai saya."


"Eh! Om Herman!" Panggil Alora yang baru sampai di Kafe.


"Lora?" Herman tampak terkejut karena beberapa detik lalu menyebut nama gadis itu.


Alora dan Lia menyalami Herman satu-persatu.


"Sini duduk bareng om aja!" Ucap pria paruh baya itu.


"Alora?" Gumam Fathia lalu ia kembali ke dapur. Namun kembali lagi saat namanya di panggil.


"Fathia! Buatkan mereka minuman! Dan buat hari ini spesial kalian (Alora dan Lia) nggak usah bayar!"


"Nggak apa om! Kami bayar aja!" Ucap Alora.


"Saya maksa ngasihnya! Kalian nggak boleh nolak! Aloraa Alora kamu memang nggak berubah dari dulu nggak mau nerima tanpa timbal balik!" Herman tampak tersenyum dengan tingkah Alora. Dan Fathia kembali ke dapur.


"Oya saya ada rapat sebentar lagi, saya pergi dulu!" Ucap Herman setelah melirik jam di tangannya.


"Makasih banyak om!" Ucap Lia dan Alora bersaman saat Pria itu bangkit dari kursinya lalu pergi.


...


"Alora? Gua mirip Alora? Alora lagi? Sebenarnya tuh cewe siapa sih?" Ucap Fathia yang berdiri di depan cermin toilet sembari mencuci tangannya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2