My Secret Alora

My Secret Alora
Save Yourself


__ADS_3

Burung tampak beterbangan di atas pohon-pohon yang subur, bunga-bunga bermekaran setiap musimnya menyapa, begitupun udara pagi ini yang menyegarkan ketika masuk ke dalam paru-paru.


Seorang pria paruh baya dengan setelan jas-nya menyempatkan diri mampir ke rumah sakit untuk mencari tahu penyakit yang diderita anaknya, walau sebenarnya yang sakit adalah orang lain. Ia tidak menemukan nama mantan istrinya karena bagian nama di struk pembayaran itu robek.


"Apa ada pasien bernama Beni Wijaya berobat di sini?" Tanya Herman pada bagian administrasi rumah sakit.


"Maaf bapak siapanya pasien tersebut?" Tanya petugas administrasi.


"Saya ayahnya Beni Wijaya! Ada yang namanya Beni?" Herman tampak khawatir.


"Mohon maaf pak! Tidak ada yang namanya Beni Wijaya berobat di sini! Sudah saya cek dua kali tapi tetap nggak ada pak!" Ucap petugas itu setelah mengecek di komputernya.


"Coba di cek sekali lagi!" Pria itu tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Mohon maaf pak! Memang tidak pernah ada yang berobat di sini atas nama Beni Wijaya."


"Tapi saya nemuin struk ini! Benar ini dari rumah sakit ini kan?" Herman mengeluarkan struk yang ia temukan lalu diletakkan di atas meja administrasi itu.


"Iya pak! Ini memang dari rumah sakit ini."


"Bisa di cek nggak ini pembayaran untuk apa?"


"Sebentar pak ya!" Petugas itu kembali mengotak-katik keyboard komputernya lalu menemukan sesuatu.


"Itu pembayaran untuk pasien bernama Dwita pak."


"Dwita? Terimakasih ya!" Herman tampak dalam pemikiran yang berat, nama yang tak asing di telinganya.


Pria itu berjalan pelan menuju tempat parkir untuk pulang, namun suara hatinya belum puas, ia lega setidaknya bukan Beni yang sakit, namun apa benar Dwita yang di maksud adalah orang yang ia kenal?


Tanpa sengaja Herman melihat Fathia lewat di depannya menuju kamar rawat inap. Feelingnya terasa lebih kuat dari sebelumnya hingga pria itu memilih mengikuti gadis itu diam-diam, walau sadar betul yang ia lakukan ini tidak pantas.


Namun seolah takdir ingin mempertemukan, akhirnya Herman menemukan Dwita adalah mantan istrinya dan otamatis ia menyadari Fathia adalah anaknya juga. Kenyataan itu datang secara tiba-tiba membuatnya masih tidak bisa menghadapi apa yang baru saja dilihatnya. Pria paruh baya itu langsung kembali ke mobilnya dengan perasaan syok.


"Jadi Beni tau ibunya dirawat di sini, tapi diam saja? Kenapa dia nggak kasih tau ke aku?" Ucap Herman pada dirinya dengan perasaan kesal.


***


Riuh mahasiswa yang kelaparan setelah menghabiskan waktu 4 jam belajar sampai suntuk. Satu-persatu mereka keluar dari beberapa kelas, tak terkecuali Alora yang juga baru selesai kelas diikuti Key yang memeluk lengan Alora serta Beni yang keluar belakangan dari kelas itu.


"Habis ini mau ke mana? Kantin? Atau makan di luar aja? Atau loe udah janjian makan sama pacar loe?" Kalimat itu diakhiri dengan ekspresi cemberut oleh Key.


"Belum tau nih, kayaknya gua langsung pulang deh!" Sahut Alora lalu mendapati sosok pacarnya yang juga baru keluar dari kelas.

__ADS_1


Alora sudah bersiap dengan mengangkat tangannya untuk melambai ke arah Andre dengan senyum cerah saat Andre melihatnya. Namun sayangnya Andre tidak memperhatikan, yang terjadi malah Andre diikuti Ziva yang terlihat mengobrol bersama. Senyum Alora seketika sirna lalu mengambil hpnya dan mendapati notifikasi dari Andre.


"Sayang aku hari ini ada urusan bentar, loe pulang duluan terus ya, jangan tungguin gua! Love you!" Pesan dari Andre.


Alora menghela berat lalu melanjutkan langkahnya.


"Loe kenapa? Itu tadi Andre kan? Mau ke mana dia?" Tanya Key yang kepo.


"Sebenarnya gua nggak perlu jawab pertanyaan tentang pacar gua sama loe! Tapi karna loe udah terlanjur nanya, Andre ada tugas kuliah!" Sahut Alora yang terdengar malas.


"Yaelah loe! Iya deh gua nggak nanya lagi! Puas kan?" Ucap Key lalu tersenyum.


"Yaudah gua pulang dulu ya!" Ucap Alora lalu pergi menuju gerbang kampus.


"Iya! Take care!" Ucap Key.


"You too!" Sahut Alora.


...


Suara ketukan pintu membuat nenek yang sedang makan siang di ruang makan bersama Ina bangkit dari kursinya.


"Mah, biar Ina aja yang bukain pintu! Mamah makan aja ya!" Ucap Ina pada ibunya itu lalu menuju pintu depan.


"Lora? Lora apa kabar? Tante kangen banget," kedua tangannya langsung terbuka lalu meraih tubuh kurus gadis itu dan memeluknya.


"Ayo kita masuk!" Ajak Ina dan mereka pun masuk ke rumah itu.


"Maah lihat deh siapa yang datang?" Ucap Ina lalu Alora muncul membuat nenek juga tersenyum bahagia.


"Ya ampun! Cucu nenek datang!" Wanita tua itu tidak bisa menyembunyikan senyumnya karena merindukan cucunya.


Alora langsung berlari memeluk neneknya. Ternyata Alora tidak pulang ke rumah namun pergi ke rumah neneknya sepulang dari kampus.


"Yaudah Lora ikut makan bareng kita ya!  Ina ambilin piring buat Lora ya!" Nenek tampak antusias.


"Iyah mah! Bentar ya sayang!" Ucap Ina lalu menuju dapur.


Mereka berakhir makan siang bersama dengan senyum merekah di wajah ketiga wanita dengan generasi berbeda itu.


...


Usai makan siang, nenek dan Alora menghabiskan waktu di ruang tamu, sementara Ina sang tante pergi keluar sebentar untuk membeli cemilan. Nenek dan cucunya itu duduk di sofa di mana gadis itu menjatuhkan pelan sisi kanan kepalanya di pangkuan nenek. Nenek menaikkan kedua ujung bibirnya lalu mengelus pelan kepala Alora dan menyeka rambut cucunya yang menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Nenek senang banget Lora ke sini, nenek jadi ingat waktu Lora masih kecil, sering banget tidur di pangkuan nenek dan Lora juga suka banget di gendong kakek." Nenek menatap cucunya penuh haru.


"Lora juga senang nek!" Gadis itu tersenyum lalu mendongak ke arah neneknya. Tak lama, Alora kembali memiringkan kepalanya dengan senyum yang sedikit memudar.


"Lora lagi ada masalah? Cerita sama nenek!" ucap nenek lembut sembari masih membelai rambut gadis itu.


"Sebenarnya Lora kangen sama mama papah kandung Lora! Seperti apa wajah mereka, merasakan peluk hangat mereka, seindah apa senyuman mereka, sebesar apa kasih sayang mereka.. Lora.. terlalu cepat kehilangan mereka." Kalimat sendu itu tentu membuat cairan bening membendung di kedua ujung mata nenek saat mendengarnya.


"Mereka sayaang banget sama Lora! Mama Lora tiap hari siapin susu dan bekal buat Lora dan bukannya marah malah senyum saat Lora merajuk dan marah. Dan papah Lora yang selalu cariin Lora tiap pulang kerja, dan selalu nggak pernah lupa kecup kening Lora pas Lora ketiduran. Mereka nggak pernah lupa memberikan cinta disetiap perlakuan mereka terhadap Lora! Nenek yakin mereka juga kangen sama Lora dan selalu mendoakan yang terbaik buat Lora" kalimat menyentuh itu membuat beberapa tetes mengalir begitu saja di siang menuju sore itu.


"Kenapa mereka pergi begitu cepat nek? Apa semua bakal beda kalo Lora juga ikut pergi sama mereka waktu itu?" Alora juga tidak mampu membendung terlalu lama cairan itu.


"Kalo lora pergi, maka nenek akan sendirian kan! Tidak ada cucu yang menjaga nenek seperti selama ini." Sahut Nenek lalu mengusap cairan asin itu dari wajahnya.


"Berdamailah dengan dirimu nak! Jangan terlalu menyalahkan diri Lora! Dan jangan menyalahkan nak Andre juga, kalian hanyalah korban dari kejamnya dunia ini. Nenek yakin, lebih dari siapapun orang tua Lora yang paling ingin melihat Lora hidup bahagia. Hiduplah bahagia! Berhenti menyalahkan dirimu!"


...


Malamnya, Lora memutuskan untuk pulang walau nenek meminta agar dia menginap bersama nenek.


"Nek! Lora bakal datang lagi pas weekend biar Lora bisa nginap, sekarang Lora harus pulang dulu ya nek!" Ucap Alora lalu mencium tangan naneknya.


"Tunggu sebentar! Lora...ambillah ini!" nenek memberikan sebuah kotak yang terbungkus dengan baik dan rapi.


"Apa ini nek? Lora nggak lagi ultah padahal hehe!" sahut Alora lalu mengambil kotak itu.


"Buka-nya di rumah aja nanti ya! Sekarang cepat Lora pulang dulu, nanti kemalaman sampe rumahnya." Ucap nenek lalu memeluk cucunya itu. Begitupun Ina juga ikut memeluk kedua wanita lain di depannya itu.


"Lora hati-hati ya!" ucap tante Ina saat gadis itu melangkahkan kakinya untuk pergi.


"Lora!" panggil nenek lagi yang membuat Alora menoleh lagi ke belakang.


"Nak, berdamailah dengan dirimu sendiri dan bahagia yaa..!"


Atau dengan kata lain, Save Yourself tidak ada orang lain yang lebih mampu menyelamatkan dirimu kecuali dirimu sendiri.


"Semoga isi kotak itu bisa membuat Lora lebih baik!" ucap nenek sendu lalu Ina merangkul ibunya sembari menatap kepergian gadis penuh luka itu.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2