
Sore itu, berbaring di kasur miliknya dan tangan kiri yang dijadikan tambahan bantal, Andre tiba saja menghela berat nafasnya. Ia tampak merenungkan apa yang Alora katakan tadi di bawah hujan.
"Siapa ya? Siapa yang harus aku cari? Apa yang Alora larang gua cari? Makin gua ingat makin sakit kepala gua! Duh kacau deh gua!" Andre dengan ke-buntu-an otaknya.
"Gua harus mulai cari tau dari mana? Apa yang dulu pengen gua cari tapi Alora larang?"
"Mari kita ingat satu persatu!" Andre seolah memaksakan kinerja ingatannya. Dengan mata yang tertutup dan alis yang mengkerut, jika dilihat dari jauh dia hanya terlihat sedang tertidur dengan mimpi buruk.
Andi membuka pintu kamar adiknya lalu dengan segera melempar diriny ke arah Andre yang tidur secara diagonal itu.
"Loe apaan sih bang?" Andre tampak kesal karena diganggu ketika lagi fokus berpikir namun Andi malah desak-desakan ikut berbaring.
"Loe kenapa sih? Lagi mikir apa? Serius banget gua lihat!" Tanya Andi mencoba menghibur adiknya itu.
"Bukan urusan loe! Ini masalah pribadi gua!" Sahut Andre si gengsian itu.
"Ciaelah! Gua kira ada masalah sama Alora yang bisa gua bantu!" Sahut Andi lalu bangkit dan duduk di atas kasur empuk itu.
"Karena memang banyak yang terjadi di antara kalian berdua. Dan mami bilang dia pacar loe juga kan?"
"Bentar, banyak yang terjadi? Apa maksud loe?" Andre bangkit dari tidurnya dan ikutan duduk.
"Loe pacarnya dia, terus tanpa sengaja gua nabrak dia yang buat gua juga kenal sama dia, dan dia yang nyelamatin hidup loe, banyak kan?"
Andre masih tidak puas dengan jawaban abangnya, seolah tidak meyakinkan dan ada yang disembunyikan. Dan bagaimanapun juga Andre akan mencari taunya.
...
Di sisi lain, Beni yang juga mengalami perubahan dari sifatnya yang dulu saat ini sedang menjaga di Kafe milik ayahnya. Walaupun Alora sudah tidak bekerja, namun Andre masih sering datang dan membantu operasional Kafe.
Dengan seragam Kafe, ia tetap melayani pelanggan namun dengan wajah suram tanpa senyuman atau sapaan, ia memberi menu dan menjawab seadanya jika ada yang bertanya.
Meskipun begitu, karena ia merasa dirinya anak bos, dia datang sesuka hatinya kapanpun yang dia mau. Meski begitu dia datang hampir tiap hari seolah Kafe membutuhkan kehadirannya.
Usai melayani beberapa tamu, Beni masuk ke ruang Indra sang manajer. Pemuda itu langsung duduk di sofa empuk dan menyenderkan tubuhnya.
__ADS_1
"Wah anak bos makin rajin aja! Mantap!" Ucap Indra yang sedang sibuk dengan berkas di mejanya.
"Apaan sih loe?" Sahut Beni malas.
"Loe sadar nggak? Alora berhasil merubah sedikit dari pemikiran loe! Buktinya yang dulu loe nggak mau bantuin Kafe sekarang loe datang tanpa disuruh kan!" Indra menjelaskan namun masih sibuk dengan berkasnya.
Si yang bergelar psyco itu tampak merenungkan perkataan Indra lalu tanpa sadar sedikit menaikkan sudut bibirnya. Walau hanya tersenyum kecil, Beni seolah membayangkan yang ia alami bersama Alora adalah hal yang menarik.
"Alora ya?" Ucap Beni.
"Alora..dia anak yang rajin, sayang ya kehilangan pegawai kayak dia" Indra akhirnya ikut merenung beberapa detik lalu melanjutkan kerja.
Beni bangkit dari sofa lalu keluar ruangan dan pulang. Seperti biasa anak bos mah babas ya nggak?
Beni mengendarai mobilnya perlahan lalu belok kiri, ini bukan jalan arah rumahnya namun itu menuju daerah lingkungan Alora tinggal. Setelah memarkirkan mobilnya di mini market terdekat, lalu ia lengkap dengan jaket tudung berwarna hitam dan topi hitam untuk menyembunyikan wajahnya.
Ia duduk di halte dekat rumah Alora setelah beberapa saat, ia menuju jalan lorong rumah gadis itu. Outfit serba hitam yang ia kenakan dan akhirnya melengkapinya dengan menggunakan masker hitam pula, membuat pemuda itu benar-benar tampak seperti seorang psycopath dari drama korea yang sedang mengintai targetnya.
Setelah beberapa saat berjalan, ia menemukan targetnya, iyap bener! Alora. Gadis itu baru keluar dari rumahnya menuju minimarket dengan setelan training dan hoodie ber tudung yang ia gunakan untuk menutupi rambutnya yang berantakan.
Namun, Beni yang datang dengan tampang aneh itu masih saja menyamar dan bahkan ikut membeli satu dari masing-masing jenis makanan yang di beli Alora. Dan seperti biasa Alora masih saja membeli mie instan.
Saat tiba di rak mie instan, tangan gadis itu tiba saya menghentikan aktivitasnya untuk mengambil beberapa bungkus mie. Entah bagaimana nasehat Andre tiba saja berputar di kepalanya. Di mana Andre mengatakan bahwa mie tidak sehat.
"Lain kali ajak aku aja kalo mau belanja, biar aku beliin makanan sehat buat kamu!" Ingatan Alora bahkan menggambarkan senyuman pemuda tampan memehang gelar pacarnya.
Alora cepat tersadar saat seseorang tak sengaja menabraknya.
"Maaf ya mbak!" Ucap wanita yang menabrak Alora.
"Ah iya nggak apa mbak!" Sahut Alora lalu tersenyum sebentar.
Gadis itu melanjutkan belanjanya lalu mengambil beberapa mie dengan varian rasa. Beni yang sedang menguntit juga ikut mengambil berbagai varian mie.
Akhirnya Alora membayar dan pulang, sedangkan Beni membayar lalu kembali ke mobilnya. Pemuda itu melepas setelan hitam yang digunakan untuk penyamaran, lalu menatap makanan yang ia belanjakan kemudian membelokkan setir mobil dan pulang ke rumahnya.
__ADS_1
...
Baru kali ini, seorang pemuda keras kepala terlihat di dapur rumahnya sedang memegang panci sambil membaca petunjuk pembuatan mie di belakang bungkusan mie.
Entah bagaimana, setelah mandi dan hari sudah gelap, Beni melirik belanjaan tadi sore yang ia taruh di atas meja kamarnya lalu berpikir untuk memasaknya. Seperti yang kita tahu, dia mulai menuangkan air kedalam panci sembari menakar sesuai petunjuk, lalu menghidupkan kompor dan langsung memasukkan mie dan bumbunya lalu ia tutup panci hingga airnya mendidih.
Begitu mienya terlihat mengembang, ia mematikan kompor lalu mengangkatnya ke meja makan. Walau tidak pernah terlihat di dapur, tapi ia cukup handal dan tidak rusuh jika harus berhadapan dengan kompor dan panci.
Ia mencoba suapan pertama, bola matanya membulat lalu melanjutkan suapan kedua dan mengerang karena rasanya enak. Suapan lainnya menyusul dan ia terlihat sangat menikmatinya.
"Enak juga ya? Dari mana tu cewe tau kalo makanan instan beginian enak?" Pertanyaan yang muncul saat mie yang ia lahap hampir habis.
...
Herman yang baru pulang mencium aroma makanan dari arah dapur. Setelah meletakkan barang bawaannya di sofa ruang tamu, pria itu menuju dapur untuk mengecek, ia pikir bibi yang bersihin rumah belum pulang, namun ia dikejutkan oleh putranya yang sedang melanjutkan ronde kedua memasak mie dengan varian rasa lainnya.
Herman hanya terdiam melihat putranya antusias hingga mengangkat panci ke meja makan. Akhirnya Beni menyadari ayahnya sedang mengawasinya.
"Papi mau?" Tanya Beni setelah berdeham canggung.
"Boleh, sisain buat papi ya! Papi ganti baju bentar!" Herman menuju kamarnya lalu kembali lagi.
Beni tampak berpikir sebentar, hingga pria berhelar ayah itu kembali.
"Waah papi nggak sabar makan buatan anak papi!" Herman tampak bersemangat setelah mengambil piring dan menaruh sebagian mie di piringnya.
Keharmonisan yang tidak terlihat hampir 11 tahun terwujudkan. Sejak menginjak remaja Beni menjadi anak pembangkang dan tidak pernah lagi duduk makan se-meja dengan ayahnya. Alora tanpa tahu apapun, namun dia berhasil menciptakan kenangan manis antara ayah dan anak yang terpisahkan oleh ego masing-masing itu berkat belanja mie instan.
.
.
.
Tbc
__ADS_1